← Back to list

“Orang dewasa tidak membuat pilihan, aku mau semuanya” katamu.

#sebuahdialog

Angsa Hitam · 2026-05-30 19:56 · 0 claps · 3.9 min read
#dialog #hidup #percakapan
Open on Medium ↗

“Orang dewasa tidak membuat pilihan, aku mau semuanya” katamu.

#sebuahdialog

Kolaseku

Kolaseku

“Aku mau semuanya,” katamu.

“Tidak bisa.”

“Kenapa?”

“Karena hidup bekerja dengan cara memilih.”

“Kau terdengar seperti buku petunjuk mesin cuci.”

“Kau terdengar seperti anak kecil yang belum pernah membayar tagihan listrik.”

“Kau sudah dewasa terlalu lama.”

“Dan kau belum cukup lama.”

Kita duduk berhadapan di sebuah kafe yang jendelanya menghadap ke laut. Atau mungkin gurun. Sulit memastikan. Di luar, ombak bergulung seperti bukit pasir, dan pasir bergerak seperti air.

“Aku serius,” katamu. “Kenapa orang selalu bilang kedewasaan adalah kemampuan memilih?”

“Karena waktu terbatas.”

“Waktu tidak terbatas.”

“Apa?”

“Waktu cuma berpura-pura terbatas supaya merasa penting.”

Aku tertawa.

“Kau menertawakanku.”

“Aku menikmati usahamu berdebat dengan hukum fisika.”

“Hukum fisika juga terlalu percaya diri.”

Pelayan datang membawa dua cangkir kopi. Satu berisi kopi hitam. Satu lagi berisi langit senja.

“Pilih,” kata pelayan.

“Aku mau dua-duanya.”

Pelayan menghela napas panjang lalu pergi.

“Kau lihat?” katamu sambil menunjuk ke arahnya. “Semua orang ingin aku memilih.”

“Karena itu fungsi pilihan.”

“Tidak. Itu fungsi kekurangan imajinasi.”

“Kau menganggap setiap batas adalah kegagalan.”

“Dan kau menganggap setiap batas adalah kebijaksanaan.”

“Karena beberapa batas memang bijaksana.”

“Contohnya?”

“Kalau kau berdiri di tepi jurang, kau tidak melangkah maju.”

“Mungkin jurangnya yang harus mundur.”

Aku menggosok wajah.

“Kau melelahkan.”

“Kau membosankan.”

Di luar jendela, seekor paus terbang melewati langit. Tak seorang pun selain kita yang tampak menyadarinya.

“Dengar,” kataku. “Saat kau memilih satu jalan, bukan berarti jalan lain tidak berharga.”

“Tetapi jalan lain hilang.”

“Tidak hilang.”

“Lalu ke mana perginya?”

Aku terdiam.

Kau tersenyum tipis.

“Nah.”

“Baiklah,” kataku. “Mungkin sebagian memang hilang.”

“Sebagian?”

“Banyak.”

“Banyak sekali.”

“Ya.”

“Jadi aku benar.”

“Tidak.”

“Kenapa?”

“Karena kehilangan adalah harga dari keberadaan.”

“Kalimat yang sangat dewasa.”

“Terima kasih.”

“Itu bukan pujian.”

Angin masuk melalui jendela yang tidak ada. Tirai-tirai berkibar meski ruangan itu sebenarnya tidak memiliki tirai.

“Aku pernah ingin menjadi pelukis,” katamu tiba-tiba.

“Kau tidak pernah cerita.”

“Aku juga pernah ingin menjadi astronom.”

“Dan?”

“Penyelam.”

“Dan?”

“Penulis.”

“Dan?”

“Pembuat roti.”

“Dan?”

“Pemburu badai.”

“Dan?”

“Penjaga mercusuar.”

“Dan?”

“Orang yang menemukan nama untuk warna-warna baru.”

Aku tersenyum.

“Itu pekerjaan yang bagus.”

“Kan?”

“Tapi kau tidak bisa menjadi semuanya.”

“Kenapa tidak?”

“Karena hidup hanya satu.”

Kau memandangi cangkir kopi yang berisi senja.

“Siapa yang memutuskan hidup hanya satu?”

“Aku tidak sedang melayani krisis metafisika hari ini.”

“Kau menghindar.”

“Kau mengada-ada.”

“Kau takut.”

“Takut apa?”

“Bahwa aku benar.”

Aku menatapmu cukup lama.

Lalu aku berkata pelan, “Mungkin aku memang takut.”

Kau berkedip.

Untuk pertama kalinya malam itu, kau tidak langsung membalas.

“Takut apa?”

Aku melihat ke luar.

Paus itu kini tidur di antara awan.

“Takut pada semua versi diriku yang tidak pernah ada.”

Wajahmu berubah.

Sedikit saja.

Tapi aku melihatnya.

“Versi dirimu?”

“Ya.”

“Yang mana?”

“Yang pergi saat aku tinggal.”

“Yang tinggal saat aku pergi.”

“Yang jatuh cinta pada orang berbeda.”

“Yang memilih kota berbeda.”

“Yang mengambil pekerjaan berbeda.”

“Yang berani.”

“Yang bodoh.”

“Yang bahagia.”

“Yang hancur.”

Kau diam.

Untuk pertama kalinya, aku melihat matamu kehilangan sebagian kecerobohannya.

“Jadi selama ini…” katamu.

“Ya.”

“Setiap pilihan adalah pemakaman kecil.”

Aku mengangguk.

Ruangan mendadak sunyi.

Jam di dinding melepaskan dirinya sendiri lalu berjalan keluar melalui pintu.

Tak ada yang memperhatikan.

“Kedengarannya menyedihkan.”

“Kadang memang.”

“Lalu bagaimana kau hidup dengan itu?”

Aku memikirkan pertanyaanmu cukup lama.

Lalu menjawab:

“Aku tidak hidup dengan itu.”

“Apa maksudmu?”

“Aku hidup meski ada itu.”

Kau memandangi wajahku seperti sedang mencoba membaca tulisan yang tersembunyi di bawah kulit.

“Masih terdengar menyedihkan.”

“Mungkin.”

“Aku tidak suka.”

“Aku tahu.”

“Aku tetap mau semuanya.”

“Tentu saja.”

“Semuanya.”

“Ya.”

“Seluruh kemungkinan.”

“Ya.”

“Seluruh masa depan.”

“Ya.”

“Seluruh kehidupan.”

Aku tertawa kecil.

“Dan itulah alasan kau tidak akan pernah mendapatkannya.”

Kau menyipitkan mata.

“Kenapa?”

Karena saat itu, sesuatu yang aneh terjadi.

Pelayan kembali.

Membawa sebuah koper tua.

Ia meletakkannya di meja kita.

“Pesanan Anda,” katanya.

“Aku tidak memesan apa pun.”

“Semua orang memesan ini cepat atau lambat.”

Pelayan pergi.

Kita membuka koper itu bersama-sama.

Di dalamnya ada ribuan kehidupan.

Versi dirimu sebagai pelukis.

Versi dirimu sebagai astronom.

Versi dirimu sebagai penyelam.

Versi dirimu sebagai pembuat roti.

Versi dirimu sebagai orang yang menamai warna-warna baru.

Mereka semua bergerak, bernapas, tertawa.

Mereka semua tampak nyata.

Mereka semua tampak bahagia.

Kau menatap mereka dengan mata membesar.

“Nah,” kataku. “Ambillah semuanya.”

“Aku bisa?”

“Tentu.”

Kau mengulurkan tangan.

Dan seketika ribuan versi dirimu ikut mengulurkan tangan.

Masing-masing menarik ke arah berbeda.

Tubuhmu bergeser.

Retak.

Terbelah.

Terdorong ke seribu arah sekaligus.

Wajahmu berubah panik.

“Apa yang terjadi?”

“Mereka semua ingin hidup.”

“Tentu mereka ingin hidup!”

“Dan mereka semua tidak bisa hidup bersamaan.”

“Tolong hentikan!”

“Aku tidak bisa.”

“Aku mau semuanya!”

“Itulah masalahnya.”

Retakan-retakan cahaya menjalar di sekujur tubuhmu.

Seribu kehidupan memanggil namamu sekaligus.

Seribu masa depan berebut tempat di dalam satu dada.

Kau berteriak.

Lalu koper itu tertutup sendiri.

Sunyi.

Kau terengah-engah.

Keringat di dahimu berkilau seperti bintang yang hampir padam.

Setelah lama sekali, kau berbisik:

“Jadi itu sebabnya.”

“Ya.”

“Bukan karena orang dewasa berhenti menginginkan semuanya.”

“Bukan.”

“Bukan karena mereka kehilangan mimpi.”

“Bukan.”

“Melainkan karena satu tubuh tidak cukup besar untuk menampung seluruh kemungkinan.”

Aku mengangguk.

Kau menatap kedua tanganmu.

Lama.

Sangat lama.

Kemudian kau tersenyum.

Senyum yang aneh.

“Kalau begitu,” katamu.

“Kalau begitu apa?”

“Aku tetap mau semuanya.”

Aku tertawa keras.

“Kau tidak belajar apa-apa rupanya.”

“Tidak.”

“Kau baru saja melihat alasannya.”

“Aku tahu.”

“Lalu?”

Kau mengangkat cangkir yang berisi senja.

Matamu memantulkan warna jingga, biru, dan sesuatu yang belum punya nama.

“Aku tahu aku tidak bisa memiliki semuanya.”

“Bagus.”

“Tapi aku tetap ingin mencintai semuanya.”

Aku terdiam.

Di luar jendela, laut kembali menjadi laut.

Gurun kembali menjadi gurun.

Paus di langit perlahan menghilang.

“Orang dewasa tidak membuat pilihan, aku mau semuanya” katamu.

Dan untuk pertama kalinya, kau terdengar lebih dewasa daripada siapa pun yang pernah kutemui.

“Aku tidak mau memiliki seluruh kemungkinan,” katamu pelan.

“Aku hanya tidak mau berhenti merindukannya.”


메타데이터
post_id
8ea89ced7efd
slug
orang-dewasa-tidak-membuat-pilihan-aku-mau-semuanya-katamu-8ea89ced7efd
url
https://medium.com/@angsahitam/orang-dewasa-tidak-membuat-pilihan-aku-mau-semuanya-katamu-8ea89ced7efd
canonical_url
https://medium.com/@angsahitam/orang-dewasa-tidak-membuat-pilihan-aku-mau-semuanya-katamu-8ea89ced7efd
author_url
https://medium.com/@angsahitam
status
ok
fetched_at
2026-07-10 08:43:10