← Back to list

Mengulik Trend “Sepakat” melalui Perspektif Gender

“Di balik kata ‘sepakat’, apakah semua suara benar-benar didengar?”

Girl Up UI Indonesia · 2026-06-21 08:52 · 151 claps · 5.6 min read
#gender-equality #sepakat #gender-equity
Open on Medium ↗
Wiki topics: ✊ · Equality & Identity

Mengulik Trend “Sepakat” melalui Perspektif Gender

Ayo simak cuplikan video berikut di sini

Ayo simak cuplikan video berikut di sini

“Di balik kata ‘sepakat’, apakah semua suara benar-benar didengar?”

Penulis: Rachelin Miyuki Hendratmo dan Gaisha Nadira

Penyunting: Alya Lubna Khairani, Nadra Syafaziel, dan Yasyfa Nadhira

Ada Apa dengan Tren “Sepakat”

[embed]

Cuplikan sebelumnya berasal dari siniar Najwa Shihab yang membahas tantangan menjadi perempuan bersama beberapa tamu acaranya, di antaranya Ge Pamungkas dan David Nurbianto. Potongan percakapan tersebut kemudian ramai dibagikan di media sosial dan memunculkan berbagai respons dari masyarakat. Terlebih, kejadian itu terasa familiar karena banyak yang pernah berada di posisi tersebut.

Dua Pandangan tentang “Sepakat”

Di satu sisi, “sepakat” dipandang sebagai bentuk pengabaian terhadap suara perempuan karena perempuan dianggap “rumit” saat menyampaikan pendapat mereka.

Namun di sisi lain, banyak yang memandang penggunaan kata “sepakat” sebagai respons cepat untuk menghindari perdebatan, terutama karena beberapa pernyataan dianggap “terlalu menyederhanakan pengalaman laki-laki”.

Ternyata ada dinamika sosial dan perspektif gender yang menarik dibalik tren ini, lho! Let’s find out!

Tentang Suara Perempuan

Suara perempuan bukanlah sekadar opini yang hadir untuk didengar sesaat. Ia adalah bentuk pengalaman, keberanian, dan hak untuk menentukan pilihan atas diri sendiri.

Penelitian tahun 2024 berjudul Mitigating Gender Inequality in Women’s Voices yang dipublikasikan oleh Cambridge University Press menemukan bahwa dalam ruang diskusi publik, opini perempuan lebih sering mengalami bias dan kurang ditoleransi dibanding laki-laki.

Sebagai contoh, fenomena ini sering terlihat di media sosial ketika perempuan yang menyampaikan opini tentang politik, karir, atau isu sosial justru lebih sering menerima komentar bernada meremehkan, serangan personal, hingga hate speech. Sementara itu, laki-laki yang membahas topik serupa cenderung lebih mudah dianggap kredibel atau “wajar” dalam menyampaikan pendapatnya.

Hal ini menunjukkan bahwa gender sering kali memengaruhi bagaimana sebuah pendapat dinilai — bukan dari isi pendapatnya, tetapi dari siapa yang menyampaikannya.

Lebih Besar dari Sekadar Kata “Sepakat”

Bila digali lebih dalam, budaya patriarki menempatkan laki-laki sebagai pihak yang lebih dominan dalam pengambilan keputusan, sementara perempuan diarahkan untuk patuh dan menjaga harmoni sosial. Pola ini terus diwariskan lewat keluarga, lingkungan, media, bahkan candaan sehari-hari.

Data UN Women (2026) menjelaskan bahwa norma sosial yang diskriminatif terhadap perempuan masih tertanam dalam institusi sosial dan budaya sehingga memengaruhi bagaimana suara perempuan dipandang di masyarakat.

Sederhananya, sejak jaman dulu, ruang gerak perempuan sengaja dibatasi lewat aturan tak tertulis. Kita pasti akrab dengan stigma “Perempuan nggak usah sekolah tinggi-tinggi, ujung-ujungnya ke dapur juga.” Perempuan dianggap tidak perlu berpendidikan dan pada akhirnya dilarang membangun karir mandiri. Kondisi ini turut mereproduksi relasi ketergantungan ekonomi yang menempatkan perempuan pada posisi yang lebih rentan terhadap laki-laki. Saat perempuan tidak punya kekuatan ekonomi, hak mereka untuk berbicara atau mengambil keputusan jadi hilang. Kebiasaan inilah yang diturunkan selama berabad-abad, sampai akhirnya masyarakat menganggap keterbatasan perempuan ini sebagai “hal yang biasa” dan suara perempuan pun jarang dianggap sama pentingnya dengan laki-laki.

Di era digital, pembungkaman perempuan sering hadir dalam bentuk yang lebih halus, seperti tren “sepakat” yang menunjukkan bahwa pengalaman perempuan kerap direspons secara simbolis tanpa benar-benar didengar atau ditanggapi secara serius.

Tentang suara Laki-Laki

Ada beberapa kemungkinan yang dapat menjadi penyebab kata “sepakat” keluar dari mulut seorang laki-laki, mulai dari bentuk penghindaran diskusi yang cenderung menyepelekan dan merendahkan, hingga timbulnya rasa ketidaknyamanan ketika menghadapi topik gender. Namun, di balik itu, “sepakat” juga dapat muncul karena adanya keterbatasan literasi emosional yang dibentuk oleh norma maskulinitas.

Dalam komunikasi, ada situasi ketika seseorang memilih menunda respons (defer) karena belum siap mengolah pikirannya. Namun, tantangannya adalah respons yang terlalu singkat juga dapat terbaca sebagai pengabaian (dismiss). Menariknya, kadang publik lebih fokus pada kata dismiss daripada defer itu sendiri.

Maka dari itu, kata “sepakat” menjadi cara seseorang untuk memproses tuntutan respons emosional yang tidak biasa mereka berikan. Sebab, kebanyakan laki-laki tidak dibekali cara untuk meresponsnya. Movember Institute menekankan bahwa literasi emosional yaitu kemampuan mengenali apa yang dirasakan dan mengungkapkannya adalah keterampilan yang harus secara aktif diajarkan, bukan sesuatu yang datang dengan sendirinya (Movember Institute, 2025). Meski demikian, memahami latar belakang seseorang tidak berarti mengabaikan dampak dari respons yang mereka berikan. Bagi lawan bicara, kata seperti “sepakat” dapat menutup ruang diskusi atau bahkan mereduksi makna percakapan yang sedang berlangsung.

Sebenarnya, ketidaktahuan adalah hal manusiawi — yang menjadi masalah ialah ketika ketidaktahuan itu berhenti di kata “sepakat”. Coba dengarkan terlebih dahulu, lalu belajarlah untuk memahami. Hal tersebut lebih baik daripada mengakhiri diskusi dengan kata sepihak yang tidak tahu ujungnya di mana.

Di balik “Jadilah Laki-Laki”

Perlu diingat bahwa mengkritik patriarki bukan berarti membenci laki-laki. Akan tetapi, di ruang publik garis itu seringkali menjadi kabur — mereka yang bersuara paling keras, terutama perempuan, berujung dilabeli sebagai “man hater” atau “pembenci laki-laki”. Kritik terhadap sistem dibaca sebagai serangan personal, dan dari situlah kata “sepakat” hadir sebagai jawaban untuk mengakhiri percakapan yang mereka anggap sebagai awal dari suatu perdebatan.

Ironisnya, patriarki tidak hanya membatasi perempuan. Sistem yang sama juga membentuk ekspektasi yang sempit terhadap laki-laki. The Lancet Public Health (2021) mencatat bahwa norma maskulinitas yang dominan justru membawa risiko kesehatan mental bagi laki-laki — termasuk angka bunuh diri, penyalahgunaan zat, dan perilaku berisiko yang jauh lebih tinggi. Dengan kata lain, sistem yang memberi laki-laki privilese dalam banyak aspek juga dapat membebani mereka dengan tuntutan yang sulit dipenuhi.

Contohnya:

  • Laki-laki yang menangis sering dianggap lemah — patriarki.
  • Laki-laki yang mengajukan split bill saat berkencan pun tidak jarang dicap “mokondo” — patriarki.
  • Laki-laki yang tidak mampu menjadi pencari nafkah utama dianggap gagal menjalankan perannya — itu juga patriarki, yang sejak lama menanamkan bahwa laki-laki harus menjadi provider.

Sebuah studi dari PNAS (2025) menegaskan bahwa meskipun laki-laki secara struktural diuntungkan oleh sistem gender yang ada, posisi itu justru menjebak mereka dalam peran-peran yang membatasi, memaksa mereka untuk terus mendahulukan dominasi di atas segalanya. Bahkan istilah seperti “mokondo” digunakan untuk menyindir laki-laki yang tidak punya kontribusi nyata dalam hubungan, khususnya secara finansial, lahir dari tekanan standar maskulinitas yang sudah lama bekerja dalam diam.

Patriarki merugikan perempuan dengan menempatkan mereka di posisi yang lebih rendah secara sistematis. Namun, patriarki juga merugikan laki laki dengan mencabut legitimasi emosionalnya dalam berhubungan. Justru karena itu, pembahasan ini bukan membawa kita ke “siapa yang paling menderita” tetapi bagaimana caranya untuk sama-sama keluar dari sistem yang sudah lama mengurung kita di dalamnya.

Penutup

Perdebatan yang sering muncul di media sosial tentang kesetaraan gender pada akhirnya akan berujung pada penyerangan secara personal. Kondisi ini menunjukan bahwa hal tersebut bukanlah sesuatu yang produktif untuk dilakukan karena dampaknya tidak hanya membuat suasana panas, tetapi justru mengalihkan perhatian dari isu gender yang sebenarnya ke pertengkaran antar pihak, yang berujung mengancam kemajuan kesetaraan gender itu sendiri (CHI Conference, 2024).

Satu hal yang terkadang sering disalahpahami adalah bahwa setiap kali perempuan berbicara mengenai isu gender, mereka bukan sedang menyerang laki-laki sebagai individu. Mereka sedang mengkritik sistem yang selama ini menciptakan ketimpangan, membatasi, dan membebani banyak orang, termasuk laki-laki itu sendiri. Penelitian dari Springer Nature (2024) menunjukkan bahwa ketika laki-laki memahami penderitaan yang mereka alami akibat stereotip gender, mereka cenderung akan lebih terbuka untuk terlibat dalam upaya mendorong kesetaraan. Artinya, pintu untuk dialog yang lebih sehat dimulai dari kesediaan untuk mendengar dan memahami terlebih dahulu sebelum bereaksi.

Mungkin laki-laki akan tetap menjawab “sepakat”, tetapi kali ini bukan karena ingin mengakhiri percakapan. Namun, karena mereka benar-benar mendengarkan, memahami, dan merefleksikan pengalaman yang sebelumnya tidak pernah mereka lihat dari sudut pandang yang sama. Perbedaan antara dua “sepakat” itu dimulai dari satu hal yang sederhana: kemauan untuk memahami.

Referensi


메타데이터
post_id
8efde5c79bdc
slug
mengulik-trend-sepakat-melalui-perspektif-gender-8efde5c79bdc
url
https://medium.com/@girlupui-id/mengulik-trend-sepakat-melalui-perspektif-gender-8efde5c79bdc
canonical_url
https://medium.com/@girlupui-id/mengulik-trend-sepakat-melalui-perspektif-gender-8efde5c79bdc
author_url
https://medium.com/@girlupui-id
status
ok
fetched_at
2026-06-27 10:07:59