Dari yang terkasih, untuk yang terkasih.
Suara langkah yang terburu-buru terdengar menggema di lorong sebuah apartement mewah. Tergesa menuruni anak tangga, si pemilik langkah…
Dari yang terkasih, untuk yang terkasih.

Suara langkah yang terburu-buru terdengar menggema di lorong sebuah apartement mewah. Tergesa menuruni anak tangga, si pemilik langkah melupakan bahwa ia bisa turun melalui lift. Langkahnya tak terdengar berhenti, terus berlari hingga tiba di basement.
Dengan nafas yang tersengal, Ayu — si pemilik langkah, berhenti di mobil SUV hitam mewah, membuka pintu dengan tak santai dan bersiap mengomeli sang pria yang duduk di kursi pengemudi. “Kamu ya, kalau mau ngajak jalan tuh bilang dari pagi. Jangan dadakan!!!” Omel Ayu begitu pintu tertutup.
Sedangkan yang diomeli hanya mampu menyengir lebar, memamerkan deretan giginya. “Ya maaf, sayang. Jadwal aku dibatalin dadakan, jadinya aku text kamu juga dadakan.” Bela pria yang memasangkan seatbelt pada tubuh Ayu.
“Dibatalin ‘kan pasti dari 3 jam sebelumnya, Masgi sayang. Kamu ngasih tau dad —” Ucapan Ayu terputus takkala benda kenyal menempel di bibirnya. “Sudah ngomelnya? Bisa jalan sekarang?”
“Iya.” Jawab Ayu dengan cepat dan segera menatap ke luar jendela. Enggan melihat kekasihnya, menyembunyikan semburat merah yang memenuhi wajahnya.
Tawa ringan Gideon terdengar, sebelum ia menarik rem tangan dan mulai menjalankan mobil. Dengan sesekali melirik ke arah Ayu yang masih enggan menatap wajahnya. Tangannya bergerak berusaha meraih benda yang ia simpan di kursi belakang. Setelah mendapatkannya, ia menaruhnya pada pangkuan sang gadis.
Membuat gadis cantik itu sedikit tersentak, sekaligus kaget dengan apa yang ia dapatkan di pangkuannya. “Ini apa, mas? Tiba-tiba banget?” Tanyanya dengan penuh keterkejutan.
“Bucket, sayang. Yang kamu pengenin kemarin.” Jawab Gideon santai.
“Aku gak ada ngomong ke kamu?” Ayu menatap heran ke arah kekasihnya. Dengan cepat pandangannya pada sebucket bunga di pangkuannya. Perpaduan warna biru dan pink yang menjadi kesukaan.
Kekehan pelan terdengar dari pemilik bibir tebal itu, melirik sejenak ke arah Ayu yang asik menatap binar bucket bunga. “Kamu lupa? Notif semua sosmed kamu selalu aku nyalain? Ga heran aku bisa tau apa yang kamu pengen. Termasuk bucket bunga ini.”
Bukannya menjawab, Ayu malah mencondongkan tubuhnya dan mengecup pipi yang lebih tua. “Terima kasih, masku sayang.” Ujarnya lembut. Dan kembali duduk di tempatnya, tak lupa memandang bucket di genggamannya.
Di dalam lubuk hatinya, Ayu sungguh terharu dengan apapun yang kekasihnya lakukan. Gideon selalu menyempatkan untuk mengecek kondisi Ayu di sela-sela kesibukannya. Ayu selalu menunggu kepulangan kekasihnya, dan mengadu betapa lelahnya kegiatan yang Gideon lalui.
Mobil SUV hitam berhenti di sebuah pantai dengan menempuh berpuluh-puluh kilometer untuk sampai. Mereka sempat berhenti beberapakali, guna mengisi perut karena Gideon tak membawa persediaan makanan yang cukup dan itulah yang membuatnya mendapat omelan dari Ayu.
Mood gadis itu sepertinya sedang naik turun, yang tadinya kesal dan secara tiba-tiba berubah menjadi ceria kembali. Seperti sekarang, senyuman lebar terbit di wajah cantiknya begitu mendapati pemandangan indah di depan matanya.
Dengan cepat, Ayu segera turun dan berlari di hamparan pasir putih yang nampak menggoda untuk diinjak. Tak lupa, Ayu menaruh bucket bunga pada kursinya dan langsung berlari, berhambur di atas pasir putih. Tanpa sadar, tawanya menggelegar. Bak nyanyian indah, kalau kata Gideon.
Gideon segera turun, namun enggan bergabung dengan kekasihnya. Ia sibuk memandangi Ayu yang asik pada kegiatannya, melupakan keberadaan Gideon.
Begitu Ayu mendapati keberadaan pacarnya yang tak jauh darinya, Ia segera berlari dan menubruk, memeluk erat tubuh besar Gideon. “Terima kasih, mas sayang. Adek seneng banget. Adek sayang banget sama mas sayang.”
Lengan kekar Gideon melingkar apik di pinggang ramping Ayu, menariknya dengan lembut untuk memangkas jarak di antara mereka. “Apapun untuk sayangnya mas. Don’t leave me, okay? Sama mas aja di sini terus. I love you, adek.” Ujarnya dengan begitu lirih.
“Ga akan pernah, aku bakal terus di sini sama mas, di sisinya mas. Nemenin mas gimanapun keadaannya. Don’t worry, sayangku. I love you more, mas.” Balas Ayu dengan begitu lembut, seraya mengelus lembut rambut belakang pujaannya.
Tubuh mereka kian merapat, menatap satu sama lain dengan penuh cinta dan puja. Terhanyut akan suasana romantis yang mereka buat. Sang mentari yang perlahan tenggelam, mulai memancarkan sinar jingga dengan begitu indah, memukau siapapun yang melihatnya. Berhasil mengalihkan pandangan dua insan.
Dengan gerakan halus, Gideon membawa kekasihnya tuk duduk di atas hamparan pasir, menikmati sang mentari yang mulai tenggelam. Menggengam tangan lembut Ayu seraya memasangkan sebuah cincin, yang entah kapan ia siapkan.
Hal tersebut tentu saja membuat Ayu terkejut, ia segera menarik tangannya, namun dapat di tahan dengan cepat. Matanya perlahan mengeluarkan bulir bening yang sejak tadi ia tahan. Sepertinya tidak berhenti membuatnya terkejut dengan segala kejutannya.
“Ada lagi gak? Biar sekalian aku kagetnya.” Tutur Ayu dengan penuh haru, tak lupa air matanya membasahi wajah cantik.
Kekehan Gideon melontarkan melihat betapa manisnya perempuan didepannya. Hidung dan wajahnya yang memerah, dengan mata yang terus mengeluarkan bulir beningnya. Betapa lucu miliknya. Tangannya terangkat, mengusap pipi lembut Ayu dan berusaha menghapus jejak air mata di wajah gadis cantik itu. “Ga ada lagi, sayang. Udah dong, jangan nangis lagi.” Ucapnya berusaha menenangkan Ayu.
Dibawanya tubuh kecil Ayu pada dekapannya. Seperti sudah terbiasa, tangan Ayu dengan cepat melingkar pada pinggang lebar Gideon, menaruh kepalanya tepat di dada bidang kekasihnya.
“Aku sayang banget sama kamu. Ga mau jauh dari kamu. Maaf aku ga ngasih kamu apa-apa malah, aku lupa bawanya. Kamu nyuruh buru-buru, sih.” Ujarnya tak lupa dengan omelan.
“Iya iya, maafin mas, sayangku. Kamu ga perlu ngasih apa-apa, cukup di sampingku aja.” Ungkapnya.
“Mana bisa! Nanti nginep di apartement ku, unboxing kado buat kamu.” Timpalnya.
Nada tegas terdengar jelas di ucapan perempuan manis itu, membuat Gideon hanya mengangguk, menurut. Membiarkan kekasihnya mengaturnya, ia akan menurut dan mengikuti semua rencana Ayu dengan senang hati.
Semakin larut, semakin genggaman tangan mereka kian mengerat. Seolah ada lem yang menempel, takkan terlepas, meski hujan badai datang. Kepala Ayu menyender pada bahu lebar Gideon, matanya tak lepas menatap sang mentari yang sebentar lagi akan menghilang.
“Selamat tanggal 19 lagi, sayang.” Tutur Gideon sembari mengecup pucuk kepala Ayu.
“Selamat tanggal 19 juga, mas sayang.” Balas Ayu dengan penuh ketulusan.
메타데이터
- post_id
- 8f23c27fefb1
- slug
- dari-yang-terkasih-untuk-yang-terkasih-8f23c27fefb1
- url
- https://medium.com/@Pyrimadona/dari-yang-terkasih-untuk-yang-terkasih-8f23c27fefb1
- canonical_url
- https://medium.com/@Pyrimadona/dari-yang-terkasih-untuk-yang-terkasih-8f23c27fefb1
- author_url
- https://medium.com/@Pyrimadona
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-22 12:16:40