Ketika Kesalehan Dikontestasikan dalam Fiksi Islami Indonesia Pasca-Reformasi (Tinjauan Eagleton)
Fiksi Islami populer tidak homogen secara ideologis, melainkan menjadi ruang negosiasi.
Kontestasi Kesalehan dalam Fiksi Islami Indonesia Pasca-Reformasi (CPU dan CPS dalam Kerangka Berpikir Eagleton)

Ilustrasi perempuan dengan atribut yang saleh (Foto: Pinterest/Sanjida)
Ketika mengamati bentuk kesalehan perempuan muslim yang dikonstruksikan dalam novel Abidah El Khalieqy dan Habiburrahman El Shirazy, apakah kamu menemukan perbedaan di dalamnya?
Misalnya, ketika kita membandingkan antara Geni Jora dengan Ayat-Ayat Cinta. Kedua novel ini sama-sama lahir pasca-Reformasi, mengusung tema seputar agensi perempuan yang berlatar belakang kehidupan lingkungan yang religius, dan menceritakan kultur pesantren.
Namun, apakah kamu menyadari bahwa Abidah dan Habiburrahman, tidak menampilkan identitas kesalehan yang sama, walaupun kedua novel tersebut mengambil setting dari kehidupan dengan norma agama yang kuat?
Persoalan ini bisa kita pecahkan dengan mengadopsi pemikiran Terry Eagleton, seorang teoritikus sastra Inggris, kritikus, dan intelektual publik. Saat ini beliau adalah Profesor Emeritus Sastra Inggris di Universitas Lancaster.
Menurut Eagleton, karya sastra tidak pernah bersifat netral, melainkan merupakan praktik ideologis yang diproduksi dalam relasi dialektis dengan struktur sosial di luar teks yang dipengaruhi oleh Corak Produksi Umum (CPU), Corak Produksi Sastra (CPS), Ideologi Umum (IU), Ideologi Kepengarangan (IK), dan Ideologi Estetis (IE).
Sementara itu, aspek internalnya adalah Ideologi Teks (IT), yakni konfigurasi nilai dan posisi ideologis yang termanifestasi dalam struktur naratif, karakterisasi, konflik, serta penyelesaian cerita.
Eagleton menjelaskan bahwa sejarah memproduksi teks-teks sastra yang memiliki pengaruh signifikan terhadap kesadaran sosial, dan sumber produksi tersebut adalah ideologi yang bekerja dalam batas-batas historis tertentu.
Dengan demikian, teks sastra tidak hanya dipandang sebagai refleksi sejarah, tetapi sebagai praktik yang turut memproduksi ideologi melalui cara yang khas dan berbeda dari bentuk produksi kultural lainnya.
Pada esai pendek ini, saya akan membahas dua istilah yang dicetuskan oleh Eagleton, yakni Corak Produksi Umum (CPU) dan Corak Produksi Sastra (CPS).
Dalam pemikiran materialistik Eagleton, kesadaran manusia sebagai produsen–dalam hal ini pengarang–lahir dari sejarah dan kondisi sosial tertentu, termasuk kepentingan kelas yang menjadi dasar pembentukan ideologi dan narasi yang dibangunnya.
Novel Ayat-Ayat Cinta dan Geni Jora dipahami bukan sekadar teks religius-romantik, melainkan sebagai arena produksi ideologi yang beroperasi dalam relasi kuasa tertentu.
Kedua novel tersebut bertransformasi dari produk sastra menjadi produk ideologis yang berpotensi memengaruhi struktur kesadaran pembaca, khususnya dalam membentuk konstruksi kesalehan perempuan.
Corak Produksi Umum (CPU) menurut Eagleton merupakan kekuatan dalam hubungan formasi sosial yang berasal dari kondisi material, termasuk hubungan sosial, politik, ekonomi, dan budaya yang berada di luar teks tetapi menentukan kondisi produksinya.
CPU bukan sekadar latar; ia merupakan struktur yang memungkinkan lahirnya narasi tertentu dalam karya sastra.
Dalam konteks fiksi Islami Indonesia, periode pasca-Reformasi 1998 menjadi medan produksi material yang menentukan arah penyebaran wacana religius dalam budaya populer.
Reformasi membuka ruang lebih luas bagi kebebasan berekspresi publik, termasuk ekspresi keagamaan dalam media massa dan industri budaya.
Perubahan ini tidak dapat dipisahkan dari lahirnya gagasan pluralisme, kebebasan berserikat, dan kebebasan berpikir yang diperkuat melalui kebijakan negara setelah tahun 1998.
Religiusitas yang meluas dan menjadi bagian dari konsumsi budaya di kalangan kelas menengah Muslim urban ini turut membentuk medan produksi fiksi Islami populer.
Dalam CPU pasca-Reformasi, representasi perempuan salehah sering dikaitkan dengan harmoni keluarga, stabilitas moral, serta peran domestik yang ideal.
Agensi perempuan sering digambarkan dalam konteks pengabdian pada keluarga dan nilai-nilai religius yang dominan.
Misalnya, dalam diskursus budaya populer kelas menengah Muslim, mungkin terlihat narasi bahwa “kesalehan perempuan adalah pondasi rumah tangga yang stabil,” yang diproduksi melalui buku, seminar, pengajian, hingga konten media sosial.
Ini menjadi bagian dari ideologi umum yang memengaruhi bagaimana pembaca mengonsumsi teks fiksi Islami.
Novel seperti Ayat-Ayat Cinta muncul dalam situasi produksi ini. Keduanya menampilkan perempuan Muslim sebagai figur moral yang ideal, berpendidikan, namun tetap menjalankan perannya dalam struktur keluarga heteronormatif.
Di lain pihak, Geni Jora muncul dalam formasi yang sama tetapi menawarkan artikulasi kesalehan perempuan yang lebih reflektif, mempertanyakan relasi kuasa dalam keluarga dan komunitas religius sebagai wacana dominan.
Selanjutnya, saya ingin membahas mengenai Corak Produksi Sastra (CPS). Corak Produksi Sastra (CPS) tidak sekadar menunjuk pada penerbit sebagai percetakan, melainkan sebagai institusi ideologis yang beroperasi dalam relasi ekonomi, politik, dan kultural tertentu.
Penerbit adalah bagian dari aparatus produksi budaya yang menentukan bagaimana teks diposisikan, dikemas, dan dilegitimasi di hadapan publik.
Ayat-Ayat Cinta diterbitkan oleh Republika Penerbit, yang lahir dari ekosistem media Islam modern dan memiliki afiliasi historis dengan wacana Islam perkotaan pasca-Reformasi.
Republika bukan sekadar penerbit buku, melainkan bagian dari jaringan media yang membentuk opini dan selera kelas menengah Muslim urban.
Republika merupakan surat kabar nasional yang lahir dari inisiatif komunitas Muslim untuk masyarakat Indonesia. Media ini didirikan pada tahun 1992 dan mulai terbit secara resmi pada 4 Januari 1993 di bawah naungan Yayasan Abdi Bangsa dengan dukungan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI).
Kehadiran Republika merupakan hasil dari proses panjang perjuangan kalangan umat Islam, terutama para jurnalis profesional muda yang telah melakukan berbagai upaya untuk mewujudkan media tersebut
Dalam konteks CPS, Republika beroperasi dalam logika yang dapat disebut sebagai kapitalisme religius, yakni produksi komoditas budaya berbasis nilai Islam yang dipasarkan kepada segmen pembaca yang sedang mengalami kebangkitan identitas religius.
Sejak awal 2000-an, kelas menengah Muslim menunjukkan peningkatan konsumsi simbol kesalehan, seperti busana syar’i, kajian keislaman, sekolah Islam terpadu, hingga produk literasi religi. Novel Islami populer menjadi bagian dari ekosistem tersebut.
Karakter CPS Republika dapat dibaca melalui beberapa ciri struktural, yakni segmentasi ideologis yang jelas, yaitu pembaca Muslim urban, terdidik, dan aspiratif.
Pada aspek strategi legitimasi religius, teks diposisikan sebagai inspiratif, mendidik, dan sesuai syariat. Ekspansi lintas media dalam Republika yakni seputar pada adaptasi film, promosi melalui media massa Islam, dan jaringan komunitas dakwah.
Beralih ke Geni Jora. Geni Jora diterbitkan oleh Penerbit Matahari yang berdiri di Yogyakarta pada tahun 2004.
Dalam CPS semacam ini, terdapat beberapa substansi yang bisa ditarik, yakni 1) medan ideologisnya relatif lebih cair karena tidak dibatasi oleh segmentasi religius yang ketat, 2) ketiadaan positioning sebagai “penerbit Islami populer” membuka kemungkinan artikulasi ideologis yang lebih beragam, 3) teks tidak sepenuhnya dibingkai sebagai produk dakwah atau inspirasi moral, sehingga representasi perempuan dapat tampil lebih problematis, ambigu, atau bahkan lebih konfrontatif terhadap norma patriarki.
Secara struktural, CPS Matahari dapat dipahami sebagai 1) tidak berbasis pada kapitalisme religius yang eksplisit, sehingga tekanan moral pasar lebih fleksibel, 2) Matahari juga lebih mengandalkan legitimasi estetik atau tematik, bukan semata legitimasi kesalehan, 3) Tidak terikat kuat pada jaringan media Islam arus utama, sehingga distribusi ideologinya tidak sepenuhnya diarahkan pada satu segmen homogen.
Dalam kondisi ini, teks memiliki ruang lebih luas untuk memperlihatkan konflik batin perempuan, resistensi yang lebih tajam, atau bahkan kegagalan sistem moral yang mapan.
Perbedaan CPS antara Republika dan Matahari menunjukkan bahwa produksi sastra tidak netral. Penerbit berfungsi sebagai mediator ideologi antara pengarang dan pembaca.
Dalam CPS Republika, teks bergerak dalam logika moderasi dan kompatibilitas pasar religius; sedangkan dalam CPS Matahari, ruang negosiasinya lebih terbuka dan tidak sepenuhnya ditentukan oleh ekonomi kesalehan.
Dengan demikian, kedua novel ini dianalisis dalam kerangka Eagleton, perbedaan intensitas negosiasi gender dan representasi kesalehan perempuan tidak dapat dilepaskan dari medan produksi institusionalnya. CPS menjadi faktor struktural yang membatasi sekaligus memungkinkan artikulasi ideologis dalam teks.
Dengan menggunakan kerangka Terry Eagleton, terlihat bahwa Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy merepresentasikan kesalehan sebagai kepatuhan dan agensi dalam kehidupan domestik keluarga, sedangkan Geni Jora karya Abidah El Khalieqy menghadirkan kesalehan sebagai kesadaran reflektif dan otonomi spiritual.
Pada Ayat-Ayat Cinta, kesalehan perempuan diproduksi melalui narasi kepatuhan, pengorbanan, dan penerimaan terhadap struktur patriarki religius.
Tokoh perempuan seperti Aisha dan Maria tidak menggugat relasi kuasa, melainkan meneguhkan harmoni melalui kesabaran, pengorbanan, dan pengabdian dalam relasi pernikahan.
Sebaliknya, Geni Jora membangun kesalehan dalam kerangka yang lebih reflektif dan kritis. Tokoh Jora tidak sekadar taat, tetapi berpikir dan mempertanyakan.
Ketika menghadapi ancaman seksual, relasi kuasa, bahkan ketakutan metafisik, ia mengaktifkan kesadarannya sendiri dengan mengkritisi situasi. Kesalehan dalam teks ini tidak identik dengan kepatuhan, melainkan dengan keberanian, otonomi, dan kesadaran diri.
Dengan demikian, fiksi Islami populer tidak homogen secara ideologis, melainkan menjadi ruang negosiasi antara reproduksi dan resistensi terhadap struktur kuasa gender.
메타데이터
- post_id
- 8f2ecfa8f73f
- slug
- ketika-kesalehan-dikontestasikan-dalam-fiksi-islami-indonesia-pasca-reformasi-tinjauan-eagleton-8f2ecfa8f73f
- url
- https://medium.com/@selviaputri/ketika-kesalehan-dikontestasikan-dalam-fiksi-islami-indonesia-pasca-reformasi-tinjauan-eagleton-8f2ecfa8f73f
- canonical_url
- https://medium.com/@selviaputri/ketika-kesalehan-dikontestasikan-dalam-fiksi-islami-indonesia-pasca-reformasi-tinjauan-eagleton-8f2ecfa8f73f
- author_url
- https://medium.com/@selviaputri
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-11 20:25:18