← Back to list

THE LAST BLUE JUNE

CHAPTER 14 : SENYUM MENCURIGAKAN GREEN

greenyiee · 2026-06-08 09:36 · 0 claps · 4.3 min read
#elio #lovers
Open on Medium ↗
Wiki topics: 💑 · Relationships

THE LAST BLUE JUNE

CHAPTER 14 : SENYUM MENCURIGAKAN GREEN

Roda waktu terus berputar di semester akhir kelas 12, membawa kembali ritme kehidupan, yang sempat tertunda. Setelah berhari-hari bergelut dengan demam tinggi dan menghabiskan waktu di atas ranjang, Arkan June Mahendra akhirnya dinyatakan sembuh total. Pagi itu menjadi momen yang teramat dinantikan oleh Julio, karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama, mereka bisa berangkat ke sekolah lagi bersama-sama menggunakan motor matic seperti biasa.

Kehadiran June di atas jok motor, membelah jalanan pagi itu seolah mengembalikan seluruh pasokan energi positif, yang sempat menguap dari dalam dada Julio. Langkah kaki mereka saat melewati gerbang sekolah terasa jauh lebih ringan dan dipenuhi tawa renyah yang saling bersahutan di sepanjang koridor taman. Julio tidak bisa menyembunyikan binar kebahagiaan di matanya yang teduh, menyadari bahwa dunianya kembali lengkap dengan pulihnya sang sahabat.

Namun, waktu kebersamaan di pagi hari itu harus terjeda ketika bel masuk berbunyi dan memaksa mereka untuk kembali terpisah ke ruang kelas masing-masing. Julio melangkah masuk ke kelasnya dengan suasana hati yang luar biasa ceria, membuat Any, Kai, dan Jevan yang menyapanya menyadari perubahan mood yang drastis itu. Julio melewati jam-jam pelajaran pertama dengan fokus yang terjaga baik, didorong oleh semangat baru, yang membara di dadanya.

Hingga akhirnya, bunyi nyaring bel tanda jam istirahat siang menggema, dengan sangat merdu di seluruh penjuru lorong gedung sekolah kelas 12. Di dalam ruang kelas yang mulai riuh oleh suara murid yang berkemas, Julio berjalan santai menuju barisan depan ruangan. Dia mengambil posisi duduk santai di atas meja guru, tempat favorit andalannya, untuk bersantai sembari melempar candaan konyol, dengan teman-teman sekelasnya.

Dari arah koridor luar, siluet tubuhjune yang sangat familiar tampak berjalan, dengan langkah lebar dan terburu-buru menuju kelasnya julio. June yang baru saja keluar dari kelasnya sendiri, langsung mengarahkan pandangan matanya ke arah kaca jendela kelas Julio, yang sedikit berdebu. Dari balik kaca pembatas itu, sepasang netra June langsung menangkap sosok berwajah teduh, yang sedang tertawa lepas di atas meja kayu milik guru.

Niat usil dan luapan rasa rindu yang sudah menumpuk, selama berhari-hari sakit seketika membubung tinggi di dalam dada june. Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, June langsung mendobrak cepat pintu kelas Julio, hingga menimbulkan bunyi debuman yang cukup keras di ambang pintu. Kebiasaan barbar June, yang selalu masuk tanpa permisi itu spontan membuat beberapa murid di dalam ruangan menengok terkejut.

“Juliooo!” sapa June dengan suara beratnya yang lantang dan menggelegar ke seisi penjuru ruangan kelas pojok yang sedang ramai.

June melangkah lebar, memangkas jarak di antara mereka, mengabaikan tatapan mata dari murid-murid lain, yang mulai memperhatikan pergerakannya dengan rasa penasaran. Sebelum Julio sempat menghentikan gerakannya atau turun dari atas meja, June sudah berada tepat di hadapannya dan tanpa aba-aba langsung memeluknya erat-erat dengan penuh rasa gemas, yang luar biasa.

Aksi pelukan spontan dan hangat dari June itu, dilakukan secara terang-terangan di depan banyak siswa-siswi di kelas, yang masih berkumpul. Mengingat posisi Julio yang sedang duduk di atas meja guru, posisi mereka berdua saat itu benar-benar menjadi pusat perhatian, yang sangat mencolok dan tidak mungkin bisa diabaikan, oleh siapa pun yang berada di dalam ruangan.

Mendapatkan serangan pelukan mendadak, yang terlampau dekat dan intens di depan publik, benteng pertahanan Julio seketika runtuh tanpa sisa. Dia langsung salah tingkah ‘salting’ parah, merasakan seluruh permukaan wajah dan kedua belah daun telinganya mendadak memanas, berubah warna menjadi sedikit memerah padam, akibat debaran jantungnya yang mendadak melompat menggila.

“Eh Jun, kenapa?” jawab Julio dengan nada suara yang sedikit terbata-bata dan bergetar gugup, mencoba melepaskan diri dari dekapan tangan June, yang masih melingkar erat di bahunya.

Julio berusaha menormalkan kembali napasnya, yang sempat tercekat sembari mengedarkan pandangan matanya ke sekeliling ruangan, untuk memeriksa situasi sosial di sekitarnya. Namun, saat sepasang netranya bergerak ke arah barisan bangku nomor dua, Julio tak sengaja menangkap basah mata Green, yang sejak tadi ternyata diam-diam sedang memperhatikan kedekatan fisik mereka berdua.

Gadis yang terkenal cuek dan pelit kata itu kini sedang menopang dagunya dengan satu tangan, menatap ke arah meja guru sembari mengulas sebuah senyum yang mencurigakan. Senyuman tipis yang sarat akan makna terselubung dan godaan itu, seketika membuat Julio tambah merasa malu setengah mati, menyadari bahwa rahasia getaran aneh di antara dirinya dan June mulai terendus oleh sang sahabat baru.

Julio yang merasa terpojok dan gemas, karena terus ditatap seperti itu, langsung melemparkan teguran ketus andalannya, ke arah bangku itu, dengan tawa kecil yang dipaksakan.

“Apa lihat-lihat, Green?” tanya Julio, mencoba memecah kecanggungan yang mulai merayap naik di sela-sela kulit wajahnya, yang masih memerah hangat.

June yang mendengar teguran dari mulut Julio otomatis ikut memutar tubuhnya menghadap ke arah meja Green di barisan dua. Menyadari ekspresi mencurigakan, dari mantan teman SMP-nya itu, jiwa tengil dan jahil June seketika terpancing kembali, untuk meneruskan dan memanaskan situasi di depan teman-teman kelas Julio.

“Lihat kami ya, Green?” tanya June meneruskan pertanyaan Julio, dengan nada suara yang sengaja dibuat jenaka dan penuh rasa percaya diri yang tinggi.

“Hehehe,” Green tertawa kecil, mendengarkan kekompakan dua cowok berzodiak Cancer di depannya itu.

Tawa renyah itu terus mengalir dari sela bibir Green, sampai tanpa ia sadari, mukanya sendiri ikut memerah padam seperti tomat hidup akibat gemas melihat kedekatan dan interaksi manis yang tersaji nyata, di depan matanya. Green yang memiliki kulit sensitif, memang selalu memerah saat merespons situasi emosional yang menggelitik hatinya.

Green menggelengkan kepalanya pelan, lalu mengangkat kedua tangannya di udara, sebagai tanda menyerah dan tidak ingin memperpanjang kecurigaan, yang membuat Julio semakin salah tingkah.

“Nggak, nggak lihat apa-apa kok,” ucap Green dengan nada suara yang sengaja dibuat misterius, menyembunyikan fakta bahwa dirinya sudah membaca ada sesuatu yang berbeda, di antara kedua sahabat itu.

Gadis itu lebih memilih untuk kembali menundukkan kepalanya, mengabaikan eksistensi June dan Julio, demi melanjutkan kesibukannya yang sempat tertunda itu.

Melihat Green yang sudah kembali fokus pada dunianya sendiri dan tidak lagi memancarkan senyum mencurigakan, Julio mengembuskan napas lega, yang panjang di atas meja guru. Dia dan June memutuskan untuk melanjutkan ngobrol santai, mengenai materi ujian TKA berikutnya dan tak berniat untuk mengganggu kedamaian meja Green lagi, di sisa waktu istirahat siang itu.

Di tengah riuhnya suasana kelas yang mulai kembali normal, June dan Julio terus bertukar cerita dengan posisi yang masih terhitung dekat. Kehadiran June di kelas siang itu, sukses mengunci seluruh perhatian Julio, menyisakan seulas senyum manis yang diam-diam terukir di bibir sang murid pintar, menyadari bahwa frekuensi kedekatan mereka di kelas 12 ini tetap kokoh, menghadapi badai kelulusan.

Next…


메타데이터
post_id
8f324a37d76d
slug
the-last-blue-june-8f324a37d76d
url
https://medium.com/@fallinlovee/the-last-blue-june-8f324a37d76d
canonical_url
https://medium.com/@fallinlovee/the-last-blue-june-8f324a37d76d
author_url
https://medium.com/@fallinlovee
status
ok
fetched_at
2026-06-16 19:09:56