← Back to list

Puisi dari POV Politis: Antara New York dan Jakarta, Ketika “Batas” Cinta Bisa Ditembus Rangga?

Ravivaldi Permana · 2025-02-16 02:55 · 5 claps · 4.2 min read
#aadc2 #puisi #sastra #politik
Open on Medium ↗

Puisi dari POV Politis: Antara New York dan Jakarta, Ketika “Batas” Cinta Bisa Ditembus Rangga?

Ada yang masih ingat film Ada Apa Dengan Cinta ? Film ini menceritakan sepasang anak SMA yakni Cinta dan Rangga, yang saling jatuh cinta karena sastra. Namun di akhir film pertamanya, Rangga terpaksa harus meninggalkan Cinta di Jakarta, untuk ikut sang Ayah pergi ke New York. Pada film kedua, Rangga diceritakan menyudahi hubungan asmara mereka, namun dengan rasa sesal, Ia berusaha kembali ke Jakarta untuk mempertanyakan lagi “cinta” yang mana tersirat dalam puisi berjudul “Batas”.

Semua perihal diciptakan sebagai batas

Membelah sesuatu dari sesuatu yang lain

Hari ini membelah membatasi besok dan kemarin

Besok batas hari ini dan lusa

Jalan-jalan memisahkan deretan toko dan perpustakaan kota

Bilik penjara, dan kantor walikota,

Juga rumahku, dan seluruh tempat dimana pernah ada kita

Bandara dan udara memisahkan New York dan Jakarta

Resah di dadaku dan rahasia yang menanti di jantung puisi dipisahkan kata

Begitu pula rindu

Antar pulau dan seorang petualang yang gila

Seperti penjahat dan kebaikan dihalang ruang dan undang-undang

Seorang ayah membelah anak dan ibunya dan sebaliknya

Persis segelas kopi tanpa gula pejamkan mimpi dari tidur

Apa kabar hari ini?

Lihat tanda tanya itu

Jurang antara kebodohan dan keinginanku

Memilikimu sekali lagi

Puisi Batas bukan sekadar elegi percintaan, tetapi juga sebuah kontemplasi tentang struktur ruang dan batasan yang mengatur kehidupan manusia, baik secara fisik, emosional, maupun eksistensial. M. Aan Mansyur (Penulis “Batas”) melalui diksi yang tajam dan repetisi yang penuh makna, membangun gagasan bahwa dunia ini disusun oleh pemisahan yang tak terhindarkan. Namun, di balik struktur tersebut, terdapat satu motif yang menyelinap dalam ruang-ruang kosongnya: ego seorang lelaki yang menginginkan kembali sesuatu yang telah berjarak.

Batas sebagai Struktur Kekuasaan: Eksistensi yang Dipisahkan

Dari awal, puisi ini menggambarkan bagaimana batas bukan hanya fenomena fisik, tetapi juga konsep yang membentuk realitas sosial dan personal.

“Semua perihal diciptakan sebagai batas / Membelah sesuatu dari sesuatu yang lain”

Dalam perspektif filsafat, khususnya dalam pemikiran Derrida (1967) tentang différance, batas bukan hanya sekadar pemisahan, tetapi juga struktur yang menciptakan makna. Kita memahami hari ini karena ada kemarin dan besok. Kita memahami Jakarta karena ada New York. Begitu pula, kita memahami rindu karena ada kehilangan.

Namun, di balik semua itu, ada kesadaran bahwa batas juga diciptakan oleh kekuasaan. Ia membelah penjahat dan kebaikan melalui ruang hukum dan negara. Ia membelah ayah dan ibu melalui norma sosial. Bahkan segelas kopi tanpa gula menjadi batas antara terjaga dan tidur, yang mengingatkan kita bahwa batas juga adalah kendali terhadap tubuh manusia.

New York dan Jakarta: Diaspora, Nostalgia, dan Identitas yang Terpecah

“Bandara dan udara memisahkan New York dan Jakarta”

New York dan Jakarta bukan sekadar dua kota, melainkan dua kutub eksistensial yang melambangkan keterasingan dan akar. New York, kota di mana tokoh dalam puisi ini (Rangga dalam AADC2) tinggal, adalah lambang keterpisahan dan kemungkinan baru. Sebaliknya, Jakarta adalah memori, nostalgia, dan sejarah yang enggan ia lepaskan.

Dalam perspektif Edward Said (2022) tentang diaspora, batas antara dua kota ini menggambarkan ambivalensi identitas. Rangga (atau tokoh dalam puisi ini) tidak benar-benar milik New York, tetapi Jakarta juga bukan lagi miliknya. Ada kesenjangan antara identitas yang Ia tinggalkan dan yang Ia coba bentuk.

Bandara, sebagai simbol perbatasan, menunjukkan bahwa kepulangan bukan sekadar soal fisik, tetapi juga psikologis. Kembali ke Jakarta tidak menjamin bahwa Ia masih memiliki Cinta, begitu pula menetap di New York tidak berarti Ia telah benar-benar melupakan Jakarta.

Ego dalam Cinta: Hasrat untuk Memiliki Sekali Lagi

“Apa kabar hari ini? / Lihat tanda tanya itu / Jurang antara kebodohan dan keinginanku / Memilikimu sekali lagi”

Di sini, kita melihat bagaimana batas juga beroperasi dalam relasi interpersonal. Keinginan untuk memiliki Cinta kembali adalah manifestasi egoistis, yang dalam psikoanalisis Lacanian disebut sebagai keinginan untuk menguasai sesuatu yang tak bisa dikuasai.

Tanda tanya yang Ia sebutkan bukan hanya sekadar bentuk pertanyaan, tetapi jurang, kesadaran akan keterpisahan yang bukan sekadar ruang, tetapi juga waktu, keadaan, dan keputusan yang telah dibuat.

Keinginan Rangga untuk memiliki Cinta sekali lagi adalah ambisi yang secara fundamental mustahil, karena cinta tidak bekerja dengan prinsip repeatability (pengulangan). Cinta bukan rekonstruksi, Ia adalah peristiwa yang tidak bisa kembali ke bentuk yang sama.

Dalam film Ada Apa dengan Cinta? 2, meskipun batas-batas ruang, waktu, dan perasaan telah membentang di antara mereka, Cinta akhirnya tetap memilih Rangga. Ini menunjukkan bahwa batas, sebagaimana digambarkan dalam puisi Batas, tidak selalu menjadi penghalang yang absolut, tetapi juga dapat dinegosiasikan ulang oleh keinginan dan keputusan manusia.

Pilihan Cinta untuk kembali kepada Rangga bukan sekadar tentang nostalgia atau keterikatan masa lalu, tetapi juga afirmasi bahwa hubungan mereka masih memiliki ruang untuk tumbuh di luar sekadar kenangan. Ini membalikkan premis awal puisi yang penuh keterpisahan, memperlihatkan bahwa tidak semua batas harus berujung pada kehilangan; Ada yang bisa dijembatani, bukan dengan mengulang masa lalu, tetapi dengan membuka kemungkinan baru bagi masa depan.

Puisi ini adalah sebuah perenungan tentang batas sebagai realitas eksistensial dan politis. Tidak ada yang benar-benar milik kita karena dunia ini diatur oleh pemisahan: waktu, ruang, hukum, norma, bahkan cinta.

Pada akhirnya, batas bukan hanya penghalang, tetapi juga pengingat bahwa tidak semua yang diinginkan bisa didapatkan kembali. Ego Rangga yang ingin memiliki Cinta sekali lagi adalah sebuah perjuangan melawan waktu yang sudah tidak memberinya tempat — sebuah perjuangan yang, seperti cinta yang telah berlalu, sudah ditakdirkan untuk kalah.


메타데이터
post_id
8fac4d152ab2
slug
puisi-dari-pov-politis-antara-new-york-dan-jakarta-ketika-batas-cinta-bisa-ditembus-rangga-8fac4d152ab2
url
https://medium.com/@ravivaldi.permanaa/puisi-dari-pov-politis-antara-new-york-dan-jakarta-ketika-batas-cinta-bisa-ditembus-rangga-8fac4d152ab2
canonical_url
https://medium.com/@ravivaldi.permanaa/puisi-dari-pov-politis-antara-new-york-dan-jakarta-ketika-batas-cinta-bisa-ditembus-rangga-8fac4d152ab2
author_url
https://medium.com/@ravivaldi.permanaa
status
ok
fetched_at
2026-07-20 23:28:45