Momen Keseketikaan dan Pagelaran Hancur Lebur
Pengalaman pertama kali menyaksikan Enola
Momen Keseketikaan dan Pagelaran Hancur Lebur
Pengalaman pertama kali menyaksikan Enola

Dokumentasi Pribadi
Ada niatan, tapi tak ada dana. Sial. Harapan tersebut menggampar saya ketika tidak bisa membeli tiket Enola karena saya harus hemat.
Kerja belum dapat, sisa beasiswa masih dibuat keperluan sehari-hari. Mau tidak mau, duit dipakai seperlunya dan secermatnya.
Seorang teman, Si Ray, dua kali menawari tiket dengan harga yang menarik. Karena tempatnya bekerja adalah salah satu tempat pembelian tiket. Dengan sopan saya tolak.
Padahal, beberapa kali setiap Enola akan menggelar acara, saya selalu sebut ini kabupaten.
Dan secara mengejutkan, tiba-tiba Jember masuk pada titik awal-awal tour. Kejutan.
Namun, keinginan tersebut harus saya relakan. Ikhlas dan saya pikir ya sudah lah.
Siang hari, seorang kawan baik, Aka, menelpon. Saya masih terlelap.
Ketika sore saya lihat, tak ada keinginan untuk membalas.
Dia beberapa kali selalu menawari free pass. Namun, selalu saya tolak. Kolektif tidak akan hidup dari banyaknya free pass yang dikasih.
Entah berapa kali saya menonton kolektif ini dan selalu menolak free pass dari Si Aka.
Sore hari, ia menelpon lagi. Suara sengau, khas. Saya disuruh ke sana. Ah sial pikir saya. Padahal saya mau move on.
Awalnya saya tolak, secara halus, agak halus, dan akhirnya saya luluh. Ada sebuah rincian insiden yang tidak bisa diceritakan.
Saya masih ragu, jam saya mundurkan sejauh yang saya bisa.
“Abis Isya? Gimana?”
“Uhmmmm….”
Dalam hati saya, oke ini tidak bisa. Tidak jadi pun tak ada masalah bagi saya.
“Oke diusahakan.”
Ia adalah salah satu penampil, jadinya pasti akan ribet. Saya tahu pasti.
Secara mengejutkan, setelah Isya, saya diharuskan ke sana.
Mengingat sebuah insiden yang dialami kawan baik saya tersebut. Entah saya harus sedih atau senang.
Ternyata, saya tidak mendapatkan free pass, melainkan menggantikan seseorang yang berhalangan hadir.
Saya mengiakan, pakai baju seadanya yang ada di gantungan, pakai celana bekas interview kemarin, pakai sepatu, dan berangkat.
Ketika motor menyala, saya sadar, pakaian saya sangat gothic. Serba hitam, padahal tak ada niatan juga menyesuaikan tema Shoegaze.
Jalanan saya terabas. Sedikit macet menjelang akhir pekan. Melodi klakson adalah makanan harian.
Santai, bung. Klaksonmu kan kutelan.
Venue acara terlampau jauh. Perlu sekitar 20–30 menit, 3 lampu merah, dan orang-orang yang menyambut akhir pekan.
Saya tak memantau line-up dengan seksama. Toh awalnya saya juga tidak ada niatan menonton.
Setelah sampai, dari jauh terlihat kawan saya tersebut. Saya menyalami kawan saya tersebut. Tak berubah, makin berjambang.
Baru saja merebahkan bokong saya pada kursi minimarket, segerombolan manusia berbaju hitam keluar. Teman-teman saya, satu domisili. Ada wajah baru, ada wajah asing.
Nongkrong setelah sekian lama dengan kawan-kawan lama adalah esensi utama dari gigs, festival, showcase, dan lain sebagainya.
Pentas dimulai. Semua diharuskan masuk. Di gerbang, saya bertemu Si Ray. Kami berjabat tangan dan saya mengungkapkan perasaan tidak enak saya. Dan menjelaskan kronologi singkat.
Masuk venue, tempatnya sangat proper ternyata untuk intimate gigs.
Enola mulai, tangan saya seperti biasa, bersedekap dan nunduk, mencoba khidmat.
Ah sial, saya lupa lirik lagu pertama. Kemudian berlanjut pada lagu selanjutnya. I Will Not Recover juga dibawakan pada acara ini.
Dan. Lagu favorit saya, Blue Waves dibawakan. Ya tuhan.
Entah siapa orang di sebelah saya. Mungkin anda melihat saya sedikit mewek, sorry kalau mengganggu. Saat itu saya terlalu melankolis.
Ketika Blue Waves digonjreng, walahi, hati mana yang tak gentar.
Mata saya berkaca-kaca, meskipun masih ngangguk-ngangguk dan tangan masih dalam posisi memeluk dada saya lekat-lekat.
Blue Waves cukup berarti bagi saya. Lagu tersebut membuka banyak jalan bagi saya dalam menulis dan membaca perihal tulisan musik.
Setiap mendengar lagu tersebut, saya selalu teringat Zine RSJ Akbar Kurniawan. Salah satu zine kumpulan puisi terbaik.
Jujur, saya lupa akun X Akbar Kurniawan, tapi semoga anda sehat di manapun anda berada.
Ditambah lagi sewaktu mendengarkan Blue Waves waktu itu saya masih mempertanyakan eksistensi diri saya.
Memori baik perihal hari-hari kemarin.
Enola sebagai guest star menutup pagelaran dengan Does Anyone Else. Dan usai sudah.
Tak lengkap rasanya kalau tidak berkenalan dengan kawan baru. Saya melipir, izin duduk pada dua orang pria asing.
Sebelum itu, saya sempat bertemu Rosalinda, tapi sayangnya saya tak sempat menonton band-nya, Grey Castle. Semoga lain waktu bisa bersua. Karena saya hanya nonton sekali sewaktu debutnya saja.
Berlanjut pada kenalan orang baru.
Setelah duduk, kami bersalaman, memperkenalkan diri satu sama lain. Satu pria tinggi besar bernama Iqbal dan satu lagi sorry bray lupa namanya soalnya berisik.
Seperti biasa, saya selalu membuka dengan penilaian terhadap gigs ini. Kami berbicara cukup lama, mungkin 20 menit. Sebelum saya memutuskan untuk cabut. Ngantuk. Garapanku masih se-gunung.
Dan begitulah rangkaian menonton Enola secara live untuk pertama kali. Keren mampus.
Sekian. Free Palestine!
메타데이터
- post_id
- 8ffebf928e2d
- slug
- momen-keseketikaan-dan-pagelaran-hancur-lebur-8ffebf928e2d
- url
- https://medium.com/@ridhoismail/momen-keseketikaan-dan-pagelaran-hancur-lebur-8ffebf928e2d
- canonical_url
- https://medium.com/@ridhoismail/momen-keseketikaan-dan-pagelaran-hancur-lebur-8ffebf928e2d
- author_url
- https://medium.com/@ridhoismail
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-25 16:53:31