← Back to list

Menemukan Kasih Tuhan melalui Lagu Dunia yang Menyelamatkan

Ketika Idgitaf dan Hindia menjadi terapis spiritual melalui lagu yang sangat memberkati.

grace rode lanitaman · 2026-05-28 13:49 · 0 claps · 5.8 min read
#lagu #refleksi #spiritual
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🧘 · Spirituality

Menemukan Kasih Tuhan melalui Lagu Dunia yang Menyelamatkan

Ketika Idgitaf dan Hindia menjadi terapis spiritual melalui lagu yang sangat memberkati.

sumber: Spotify

sumber: Spotify

Barangkali, Tuhan tidak selalu menemui anak-anak-Nya melalui hal-hal yang dianggap suci. Malam ini, saya menemukan Tuhan tidak dalam sesuatu yang megah. Bukan dalam sebuah khotbah panjang romo, ataupun dalam sebuah kidung Puji Syukur yang meriah.

Saya menyaksikan kasih Tuhan melalui sebuah lagu sekuler yang kebetulan saya dengarkan sambil lewat. Masih Ada Cahaya yang dinyanyikan oleh Idgitaf dan Hindia.

Awalnya, lagu itu tidak terdengar seperti sesuatu yang rohani. Saya hanya jatuh cinta pada melodinya yang menggubah ketenangan. Lagu sentimental itu sama sekali tidak mengandung ajakan untuk berdoa, tidak juga kalimat-kalimat besar tentang keselamatan, apalagi penebusan.

Namun, sebuah penggalan lirik terasa dekat. Terlalu dekat, bahkan, sampai saya merasa seperti sedang mendengar isi kepala sendiri diperdengarkan kembali.

“Tapi terang bercahaya dalam gelap dan gelap tak dapat menguasainya.”

Kalimat itu langsung mengingatkan saya pada Yohanes 1:5. Sebuah ayat yang pertama kali saya dengar ketika disebutkan oleh Romo Angga Indraswara sebagai ayat favoritnya.

sumber: Youversion

sumber: Youversion

Namun malam ini, melalui lagu yang kini saya dengarkan hampir seharian, ayat tersebut terdengar berbeda. Lebih lembut. Lebih manusiawi. Seolah Tuhan tidak sedang berbicara dari mimbar yang tinggi atau dari Takhta Suci-Nya, melainkan duduk di samping saya sebagai seseorang yang tahu bagaimana rasanya hidup dengan luka yang tidak pernah benar-benar selesai.

Mungkin, karena saya terlalu memahami bagian “gelap” dalam lagu itu. Begitu akrab, seakan kegelapan, dalam maknanya yang tidak literal, merupakan satu kesatuan dengan saya.

Saya tumbuh tanpa benar-benar merasakan peran seorang ayah. Yang saya miliki hanya ibu saya, dan itu pun tidak berarti hidup kami berjalan mudah. Kami memiliki badai dan luka masing-masing. Ada begitu banyak hal yang tidak pernah sempat dibicarakan dengan tuntas, tetapi diam-diam tinggal di dalam tubuh dan kepala kami selama bertahun-tahun. Mungkin, ini jadi alasan kenapa meskipun kami saling menyayangi, tidak pernah ada masalah yang pernah kami bicarakan. Ketika saya memiliki kesulitan, saya pendam. Begitu pula dengan ibu. Kami terbiasa tidak berbagai kesedihan, entah karena tidak ingin merepotkan yang lain atau karena jika kami membicarakannya, rasa sakit itu menjadi nyata.

Saya rasa, orang-orang yang tumbuh dalam keluarga yang retak akan mengerti bagaimana rasanya rumah bisa tetap berdiri, tetapi tidak selalu terasa aman.

Ketika melihat music video lagu ini, saya merasa sesak. Ada seorang anak yang menyaksikan ayahnya melakukan kekerasan pada ibunya. Ada ibu yang terluka. Ada rumah yang dipenuhi ketakutan. Ada anak yang tubuhnya penuh lebam dan batinnya penuh luka.

Dan, di tengah semua itu, mereka pergi ke gereja. Mereka berdoa. Rosario tergenggam erat dalam dekapan tangan. Air mata terus mengalir. Mereka mencari sesuatu yang mungkin bahkan tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata: penghiburan. Harapan. Sedikit cahaya agar hidup tidak terasa terlalu gelap untuk dijalani.

Saya tidak mengalami cerita yang persis sama, tetapi ada bagian dari diri saya yang merasa sangat dekat dengan anak itu. Trauma akan suara keras. Perasaan bahwa kita harus bertumbuh terlalu cepat. Bahwa kita belajar memahami luka bahkan sebelum cukup umur untuk mengerti dunia. Bahwa terkadang, kita tidak punya pilihan selain bertahan hidup.

Lahir dari bola api. Dan air mata yang dihindari. Mungkin caramu bertahan hidup sejak dini.

Lirik pembuka itu menghantam saya keras sekali.

Jika dipikir-pikir kembali, sering kali, orang — bahkan saya sendiri — hanya melihat hasil dari luka seseorang tanpa benar-benar memahami dari mana luka itu berasal. Seorang pemabuk, seorang gila, seorang pemarah.

Mereka melihat seseorang yang tertutup, terlalu sensitif, mudah marah, sulit percaya pada orang lain, atau terlalu takut ditinggalkan. Namun, mereka tidak melihat bagaimana orang itu harus belajar bertahan hidup sejak kecil. Tidak melihat bagaimana seorang anak kecil diam-diam membangun mekanisme pertahanan supaya dirinya tidak hancur.

Saya rasa, banyak dari kita tumbuh sambil membawa “cara bertahan hidup” masing-masing. Ada yang menjadi terlalu diam. Ada yang menjadi people pleaser. Ada yang sulit percaya pada cinta. Ada yang terus merasa dirinya tidak cukup baik. Ada yang selalu terlalu untuk menutupi luka. Dan sering kali, semua itu lahir bukan karena kita ingin menjadi seperti itu, tetapi karena suatu waktu dalam hidup, itulah satu-satunya cara agar kita bisa tetap hidup.

Hal yang paling menyentuh dari lagu ini bagi saya adalah: lagu ini tidak menghakimi kegelapan itu.

Ia tidak berkata bahwa luka harus segera hilang. Tidak memaksa seseorang untuk langsung kuat. Tidak juga berpura-pura bahwa hidup akan selalu baik-baik saja setelah berdoa. Lagu ini hanya mengingatkan bahwa bahkan di tengah mendung hati seseorang, masih ada cahaya. Kecil, mungkin. Samar. Tetapi ada.

Dan saya rasa, itu juga cara Tuhan bekerja dalam hidup saya selama ini.

Bukan melalui mukjizat besar yang langsung menyelesaikan semua masalah. Bukan melalui hidup yang tiba-tiba sempurna. Bukan dengan mengubah pribadi ayah saya menjadi sosok kepala keluarga yang baik — toh, hingga akhir hayatnya, tidak ada satu pun kata maaf yang ayah saya ucapkan.

Pekerjaan Tuhan dapat saya saksikan melalui kemampuan kecil untuk tetap bangun keesokan harinya. Melalui ibu saya yang tetap bertahan meskipun hidup berkali-kali melukainya. Melalui orang-orang yang datang pada waktu yang tepat. Melalui lagu-lagu yang menemani malam-malam ketika kepala terasa terlalu penuh untuk diajak berdoa. Melalui percobaan-percobaan bunuh diri yang selalu gagal.

Dulu, saya sering berpikir bahwa iman berarti harus selalu kuat. Bahwa “dekat dengan Tuhan” berarti tidak boleh marah, kecewa, atau mempertanyakan hidup. Namun semakin dewasa, saya justru merasa bahwa Tuhan tidak pernah benar-benar meminta kita menjadi manusia tanpa luka.

Mungkin, Tuhan hanya ingin kita jujur.

Jujur bahwa kita lelah. Jujur bahwa kita takut. Jujur bahwa ada bagian dalam diri kita yang masih sakit sampai hari ini.

Dan mungkin karena itu pula, saya sangat menyukai bagian ini:

Tapi terang tak berguna tanpa gelap dan gelap juga tempat-Nya bekerja.

Kalimat itu terasa begitu personal bagi saya. Karena selama ini, saya selalu menganggap sisi gelap hidup saya sebagai sesuatu yang harus disembunyikan. Saya malu dengan luka saya sendiri. Malu dengan keluarga saya yang tidak utuh. Malu karena merasa hidup saya berbeda dari orang lain yang tampak memiliki rumah lebih hangat dan lebih lengkap.

Namun, lagu ini membuat saya berpikir ulang: bagaimana jika Tuhan memang hadir justru di tempat-tempat paling gelap dalam hidup manusia?

Bagaimana jika Tuhan tidak menjauh ketika seseorang hancur? Bagaimana jika Ia justru tinggal paling dekat di sana?

Mungkin, karena cahaya memang paling terlihat ketika keadaan gelap. Seperti El-Roi yang mengindahkan ratapan Hagar yang sendirian melarikan diri ke padang gurun.

Saya teringat banyak malam ketika saya merasa hidup terlalu berat untuk dijalani. Malam-malam ketika saya merasa sendirian meskipun ada banyak orang di sekitar saya. Malam ketika saya mempertanyakan nilai diri saya sendiri. Dan anehnya, di momen-momen seperti itu, penghiburan sering datang dari hal-hal kecil: sebuah lagu, pesan singkat yang lucu dari teman-teman dekat, atau bahkan kemampuan untuk menangis setelah lama mati rasa hanya karena mendengarkan sebuah lagu sederhana berdurasi tidak sampai 3 menit.

Dulu saya menganggap itu kebetulan. Sekarang, saya mulai percaya bahwa mungkin itu adalah bentuk kasih Tuhan juga. Karena, kasih Tuhan ternyata tidak selalu datang dengan suara menggelegar. Kadang ia hadir sangat pelan, sampai-sampai kita nyaris tidak menyadarinya. Ia hadir dalam hal-hal kecil yang membuat seseorang memilih bertahan satu hari lagi.

Lagu ini juga membuat saya sadar bahwa luka tidak selalu harus diwariskan. Anak dalam video musik itu menyaksikan kekerasan. Ia hidup di tengah kemarahan dan ketakutan. Namun pada akhirnya, ada cahaya yang ia temukan. Ada ibunya yang tidak ingin luka itu diturunkan dan dilampiaskan untuk membentuk luka yang lain. Dan saya rasa, itu adalah harapan terbesar bagi orang-orang yang tumbuh dari keluarga penuh luka: bahwa kita tidak harus menjadi salinan dari rasa sakit yang membesarkan kita.

Kita boleh terluka, tetapi kita tidak harus selamanya tinggal di sana.

Mungkin prosesnya panjang. Mungkin sampai bertahun-tahun. Mungkin ada luka yang tidak akan pernah benar-benar hilang. Namun selama masih ada sedikit cahaya, saya rasa manusia akan selalu punya alasan untuk bertahan.

Saya tidak tahu apakah lagu ini memang dimaksudkan sebagai lagu tentang Tuhan. Mungkin tidak. Namun bukankah itu yang menarik? Bahwa Tuhan bisa memakai sesuatu yang tidak religius untuk menyentuh seseorang secara rohani.

Malam ini, saya belajar bahwa iman tidak selalu tumbuh di tempat-tempat yang steril dan suci. Kadang, iman tumbuh di kamar yang gelap. Di kepala yang penuh kecemasan. Di keluarga yang tidak baik-baik saja. Di hati seseorang yang nyaris menyerah tetapi diam-diam masih berharap hidupnya bisa membaik.

Dan mungkin, itulah mengapa lagu ini terasa begitu indah bagi saya. Karena di tengah dunia yang sering membuat manusia merasa rusak, lagu ini tidak datang untuk menghakimi luka kita. Ia hanya berbisik pelan:

“Di balik mendung hatimu, masih ada cahaya.”

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, saya ingin mempercayai hal itu.


메타데이터
post_id
901ed596f7ef
slug
menemukan-kasih-tuhan-melalui-lagu-dunia-yang-menyelamatkan-901ed596f7ef
url
https://medium.com/@gracerodee/menemukan-kasih-tuhan-melalui-lagu-dunia-yang-menyelamatkan-901ed596f7ef
canonical_url
https://medium.com/@gracerodee/menemukan-kasih-tuhan-melalui-lagu-dunia-yang-menyelamatkan-901ed596f7ef
author_url
https://medium.com/@gracerodee
status
ok
fetched_at
2026-06-18 07:02:39