Wild Robot: Belajar Manusiawi dari Animasi
Kindess is a survival skill
Wild Robot: Belajar Manusiawi dari Animasi
Kindess is a survival skill

imdb
Yang pertama-tama saya syukuri adalah, baru menonton Film Wild Robot ini setelah menikmati Jumbo; jika tidak mungkin saya akan kufur nikmat dan menganggap Jumbo adalah animasi yang biasa saja, yang terlalu diglorifikasi atas nama nasionalisme.
Cukuplah dikatakan, Jumbo tetap membanggakan dan ada di kelas yang berbeda saja. Jika saya analogikan dengan tinju, kita tetap sangat bangga dengan pencapaian Elyas Pical tapi tentu saja tak bisa ditandingkan dengan Mike Tyson, misalnya. (maaf referensinya jadul, yang bingung harap googling saja).
Seperti halnya Coco dan Inside Out ini adalah film animasi yang membuat saya meneteskan air mata. Akan halnya Jumbo, sempat terharu sedikit saat lirik lagu Selalu Ada di Nadimu menyengat perasaan saya sebagai orangtua.
Wild Robot adalah animasi yang paripurna, gambar dan kisahnya menunjukkan kehangatan, kesedihan, kelucuan dan keseruan dengan porsi yang seimbang.
Premisnya, sebuah Robot yang terdampar di hutan ingin kembali ke ‘markasnya’, tapi dia harus mengurus anak angsa yang tak sengaja dibuatnya sebatang kara.
Maka dia pun terpaksa beradaptasi dengan penghuni hutan yang menganggapnya MONSTER logam yang jahat.
Menyaksikan kisah ini layaknya menyaksikan kisah Tarzan atau Mowgli. Hanya saja anak manusianya diganti anak angsa dan peran hewan pengasuh diganti Robot.
Dinamika si Robot sebagai IBU (Roz), angsa sebagai ANAK (Brightbill), serigala oportunis (Fink) sebagai TUTOR serta seluruh penghuni hutan sebagai penonton memuat kisah berjalan tak monoton. Celetukan cerdas dan nyinyir disuarakan menanggapi keluhan robot kita akan susahnya mengurus anak, seperti percakapan ini:
Robot: Aku tak diprogram untuk menjadi IBU!
Binatang beranak banyak: Tak pernah ada yang diprogram jadi IBU, jalani saja!
Hubungan dengan Fink yang licik dan Roz yang naif juga memunculkan sindiran Fink, karena si Robot yang terlalu baik pada sekitar yang tak suka padanya. “Kindness is not a survival skill”. Ah, pahit dan saya merasakan ada nuansa kenyataan hidup pada kalimat tersebut.
Film yang berjalan (hampir) tanpa melibatkan tokoh manusia ini malah amat manusiawi pada perjalanan kisahnya. Ada kisah tanggung jawab, pengorbanan, pencarian dan penerimaan jati diri hingga kerja sama dalam perbedaan.
Singkatnya ini adalah film yang mengajarkan nilai-nilai Pancasila tapi tanpa rasa bosan seperti saat mengikuti penataran P4 (Ah, lagi-lagi referensi yang ketuaan, yang ini tidak googling pun gak masalah)
Yah, sebagai penonton yang (terlalu) banyak mau, ada sedkit ganjalan yang memang khas ada dalam film keluarga: pidato berkepanjangan sebagai kesimpulan. Sebuah hal yang amat normal sebenarnya untuk film jenis ini.
Yang pasti, layaknya film yang dibuat dengan formula yang baik dan benar, nyata sekali ada perubahan karakter pada tiap tokohnya. Hingga kata-kata Fink yang nyinyir memandang kebaikan (kindness) bisa berubah jadi seperti dalam sub judul tulisan ini.
Selamat menangisi animasi…
메타데이터
- post_id
- 906f1a2f3cda
- slug
- wild-robot-belajar-manusiawi-dari-animasi-906f1a2f3cda
- url
- https://medium.com/maratonton/wild-robot-belajar-manusiawi-dari-animasi-906f1a2f3cda
- canonical_url
- https://medium.com/maratonton/wild-robot-belajar-manusiawi-dari-animasi-906f1a2f3cda
- author_url
- https://medium.com/@kianbumi2017
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-08-03 00:32:08