Jelita?
Sekali aku katakan, dan kau akan mengingatnya selamanya.
Jelita?
Photo by Sarah Lee on Unsplash
Sekali aku katakan, dan kau akan mengingatnya selamanya.
Di mataku, kau selalu terlihat indah. Bukan berarti tak ada yang lebih menawan di dunia ini, tetapi hanya kau yang mampu membuat segalanya terasa lebih hidup — kau yang ingin kudekap dalam setiap langkahku. Aku bukan seseorang yang pandai merangkai pujian, tapi kalau ada satu hal yang pasti, itu adalah bagaimana aku melihatmu dengan cara yang mungkin orang lain tak bisa.
“Kamu tahu,” kataku sambil menatapmu yang sibuk mengikat rambut. “Aku selalu bilang kau cantik, kan?”
Kau mendesah pelan, setengah malas menanggapinya. “Dan aku selalu bilang aku benci dipuji cantik.”
Aku tersenyum, sudah bisa menebak reaksi itu. “Iya, iya, aku tahu. Makanya aku tidak sekadar mengatakan kau cantik. Aku hanya ingin kau tahu, aku tidak mencintaimu karena kecantikanmu. Justru karena aku mencintaimu, setiap sisi dirimu selalu tampak cantik di mataku.”
Kau berhenti sejenak, menatapku dengan alis sedikit terangkat. “Gombal.”
Aku tertawa. “Bukan gombal, ini fakta ilmiah. Sudah diteliti, kalau seseorang jatuh cinta, otaknya cenderung melihat orang yang dicintainya lebih menarik dibanding penilaian objektif orang lain.”
Kau mengerjapkan mata, berusaha menahan senyum. “Jadi aku sebenarnya biasa aja?”
Aku menggeleng cepat. “Nggak, maksudku, kau itu luar biasa. Dan makin luar biasa karena aku yang melihatmu.”
Kau terdiam, lalu akhirnya tertawa kecil, wajahmu sedikit memerah. “Kenapa kalau kamu yang bilang, aku malah jadi malu, ya?”
Aku mengangkat bahu santai. “Karena aku tidak sekadar memuji. Aku hanya menyampaikan apa yang kurasakan.”
Kau menggeleng pelan, tapi aku tahu kau tersenyum. Dan bagiku, senyum itu selalu memberi ketenangan, seakan menghapus semua keraguan dan menggantinya dengan rasa nyaman yang tak terucapkan.
Lalu aku menatapmu dan berbisik pelan, “Kamu mungkin benci dipuji cantik, tapi aku akan terus melakukannya, karena bagiku, kamu adalah definisi dari keindahan yang tidak perlu diperdebatkan.”
Dan jika semua ini harus kutuliskan, jawabannya tetap berakhir pada deretan kata yang tak akan pernah menemui titik di penghujung cerita. Karena bagiku, mencintaimu adalah puisi terindah yang tak akan pernah ingin aku hentikan di setiap baitnya. Kau adalah kisah yang tak ingin kutamatkan, dan di antara banyaknya kata yang pernah ada, hanya namamulah yang ingin kutuliskan berulang-ulang, selamanya.
Aku ingin kamu.
메타데이터
- post_id
- 907fb8422d41
- slug
- jelita-907fb8422d41
- url
- https://medium.com/@anriza/jelita-907fb8422d41
- canonical_url
- https://medium.com/@anriza/jelita-907fb8422d41
- author_url
- https://medium.com/@anriza
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-20 14:10:22