← Back to list

Paradoks Kebaikan

“Apakah kamu percaya kalau semua hal pasti berpasangan?” Tanyaku pada seseorang.

Achrory23 in Meja Sajak · 2025-08-24 07:20 · 31 claps · 2.2 min read
#keseimbangan #kebaikan #paradoks #kopi #orang
Open on Medium ↗

Paradoks Kebaikan

Jadi hitam saja

Jadi hitam saja

“Apakah kamu percaya kalau semua hal pasti berpasangan?” Tanyaku pada seseorang.

Dia mengangguk cepat, “Ya, tentu saja aku percaya. Manusia suka banget sama ide 'segala sesuatu ada pasangannya'. Siang-malam, laki-laki-perempuan, kopi-susu, sandal kanan-sandal kiri. Iya, kan?” Ucapannya sambil mengangkat bahu, berlagak seperti orang yang sudah tahu inti kehidupan sejak lama.

Aku tersenyum miring. “Emang. Konsep berpasangan itu keliatannya rapi, seimbang, dan masuk akal,” tambahku.

Ia mengangguk lagi, lalu melanjutkan, “Konsep berpasangan lebih filosofis daripada praktis. Ada di banyak tradisi: yin-yang di Tiongkok, siang-malam dalam agama, bahkan sains pun suka dengan dualitas partikel-gelombang, positif-negatif. Tidak ada yang salah dengan konsep ini. Memangnya kenapa?” tanyanya kemudian.

"Ha ha. Nggak ada, sih. Lucu saja. Kalau orang-orang percaya sama konsep pasangan, mereka jadi idiot dengan sengaja, tapi nggak sadar." Aku memelankan suaraku. Tapi itu cukup membuat orang di depanku melonjak seperti mendengar petir.

“Apa maksudmu!!?”

"Seharusnya, kalau semua hal dipercaya berpasangan, berarti masing-masing elemen dari setiap hal itu harus berpasangan. Kalau ada malam, ya harus ada siang. Kalau ada kaya, maka harus ada miskin. Kalau ada baik, tentunya jahat harus ada juga. Jadi, ya itu..." Aku menyesap kopi, sengaja menggantung kalimatku.

"Lahh, kan memang begitu. Terus kenapa kamu bilang, orang yang percaya konsep pasangan ini sengaja idiot tapi gak sadar?" Ia tak sabaran mengejar.

Aku memasang ekspresi sinis lagi. "Semua orang ingin yang baik-baik. Mereka ingin dirinya menjadi orang baik. Meskipun banyak hal telah mengalihkan kenyataan dari idealitas, tapi yang jelas, pikiran manusia hanya fokus di bagian 'menjadi baik' saja."

Dia masih diam. Tampak memahami dan mengira-ngira arah pembicaraanku.

"Jika kehidupan adalah panggung dunia, di atasnya ada dua kelompok pemain. Satu pemain putih — baik, dan satu lainnya pemain hitam — buruk. Tapi semua orang ingin menjadi pemain baik. Pertanyaannya, mengapa kamu tidak memilih menjadi pemain hitam saja?"

Angin sepoi-sepoi melewati gazebo yang kami duduki. Membela kulit kami. Tampak seolah-olah angin ikut menikmati, bermain-main di sekitar kami dan menunggu respons dia.

"Pemain hitam akan mendapatkan kegelapan. Pemain putih akan mendapatkan cahaya. Dan manusia lebih menyukai kehidupan terang. Jadi wajar kalau ingin menjadi pemain putih, dong." jawabnya.

"Ya. Itulah kenapa aku bilang orang-orang menjadi idiot dengan sengaja tapi tidak sadar. Di satu sisi, mereka percaya semua pasangan. Tapi di sisi lain mereka hanya mengakui kebaikan, tidak keburukan. Mereka berpikir keburukan harus ditumpas. Mereka lupa bahwa kebaikan tidak pernah menjadi kebaikan kecuali dengan adanya keburukan. Sikap-sikap seperti itu melontarkan seperti menyentuh kepala sendiri. Idiot."

Dia hanya diam, memandangi asap kopi yang semakin tipis, setipis kesadaran manusia. Asap itu melayang-layang sebentar di atas cangkir kemudian hilang. Mudah sekali kesadaran itu hilang.

"Jadi ya begitulah. Mereka percaya semua harus berpasangan… kecuali pas membalikkan dirinya sendiri. Manusia pengennya terang, tapi tetap butuh gelap buat kelihatan. Ironis kan? Mereka lari dari setengah hidupnya sendiri." Aku melanjutkan isi kepalaku. Sementara dia terus meratapi asap yang selalu menghilang setelah muncul.

Aku meraih cangkir. Meniupnya lembut. Membuyarkan tarian halus asap-asapnya.

“Mereka sibuk jadi 'pemain putih' seolah itu pilihan mulia. Padahal tanpa pemain hitam, panggungnya kosong. Dan kalau panggung kosong, siapa sebenarnya yang mereka tipu selain dirinya sendiri?”

Aku menyeruput kopi di lagi. Asapnya kini benar-benar telah hilang.


메타데이터
post_id
90b5ffcfee08
slug
paradoks-kebaikan-90b5ffcfee08
url
https://medium.com/meja-sajak/paradoks-kebaikan-90b5ffcfee08
canonical_url
https://medium.com/meja-sajak/paradoks-kebaikan-90b5ffcfee08
author_url
https://medium.com/@achrory23
status
ok
fetched_at
2026-06-27 07:40:21