← Back to list

Keparat … Bajingan … dan Qoulan Layyinan

Hari itu, aku ikut kajian yang judulnya Lisan yang Menghancurkan. Dan jujur saja, untuk masa-masa kini yang dar der dor, apalagi setelah…

Nungcha · 2026-08-15 21:03 · 21 claps · 3.2 min read
#jason-ranti #qoulan-layyina #nabi-musa #firaun #ustadz-asep-sobari
Open on Medium ↗

Keparat … Bajingan … dan Qoulan Layyinan

Hari itu, aku ikut kajian yang judulnya Lisan yang Menghancurkan. Dan jujur saja, untuk masa-masa kini yang dar der dor, apalagi setelah mendengar pidato yang mulia dan pernyataan-pernyataan dayang-dayangnya, duh, tidak mengumpat itu berat banget. Rasanya lagu Jason Ranti yang Keparat… Bajingan… Harusnya kamu masuk neraka itu terasa satisfy banget untuk disenandungkan, sambil membayangkan … ah, sudahlah.

Kajiannya bagus. Aku semangat sampai di bagian akhir, saat ada yang bertanya, bagaimana dengan demo yang mengkritik pemerintah?

Aku langsung nyengir. Aku sudah menduga apa nanti jawabannya. Harus qaulan layyinan. Nabi Musa yang buronan dan penggembala itu bisa menasihati Firaun dengan kata-kata yang lemah lembut — jadi berdemo tidak akan menyelesaikan masalah. Itu jawaban yang biasa aku dengar sebenarnya.

Tapi oh tetapi, ternyata, melihat ceramah di youtube atau membaca tulisan dengan jawaban yang sama itu beda efeknya kalau didengar langsung.

Refleks aku menghela napas. Mendengus, bahkan. Darah tiba-tiba mengalir deras ke kepala.

Aku rasa sepertinya enggak gitu, deh.

Sepulang kajian itu, aku jadi penasaran berat. Dan jadi malah muncul banyak pertanyaan.

Apa sebenarnya definisi qaulan layyinan? Lemah lembut? Kepada siapa? Apakah pesannya juga harus selembut itu? Atau cara menyampaikannya saja yang lembut? Lemah lembutnya harus selembut apa? Sampai selembut bubur?

Menurutku yang sering sering dilupakan ketika orang berbicara tentang qaulan layyinan adalah siapakah Musa?

Musa adalah pangeran Mesir. Dia tumbuh dan besar di istana. Semua orang tahu Musa adalah anak angkat Firaun. Allah sendiri menyebut di Surah Thaha 20:39 bahwa Dia melimpahkan kasih sayang kepada Musa — yang oleh para mufassir dipahami mencakup hati orang-orang di sekitarnya, termasuk Firaun. Istri Firaun berkata kepada suaminya di Surah Al-Qasas 28:9: “Dia menjadi penyejuk mata bagiku dan bagimu.” Kata bagimu itu bukan hiasan. Firaun punya rasa sayang kepada Musa. Sayangnya, ketika membahas kritik kepada pemimpin, konteks itu jarang disertakan.

Nah, kalau kita jeli dan memperhatikan, qaulan layyinan, kata layyinan tidak berdiri sendiri. Sebelum layyinan ada qaulan. Orang sering fokus pada layyinannya, padahal qaulan itu juga bagian pentingnya. Jangan dikira qaulan cuma “bicara” kaleng-kaleng. Itu ucapan beneran, bukan omon-omon. Ada isi, ada target. Allah perintahkan dengan tegas: sampaikan! Baru layyinan hadir — bukan untuk menghaluskan pesan, tapi agar kebenarannya tidak langsung membuat pendengarnya alergi.

Substansinya ada di qaulan. Caranya ada di layyinan.

Bisa dibayangkan di aula istana bersama para pembesarnya, Firaun berhadapan Musa. Bayi Bani Israil yang dibesarkannya di istana, dulunya harmless, sekarang jadi musuh yang nyata. Dalam kisah yang banyak beredar, Firaun bermimpi ada bayi dari Bani Israil yang akan membunuhnya. Dan there he is — berdiri tegak di hadapannya, membawa pesan yang Firaun tahu itu benar, tapi dia menolaknya.

Pesan yang Allah diktekan kepada Nabi Musa dan Nabi Harun di Surah Thaha ayat 47–48 itu sangat tegas: “Sesungguhnya kami berdua adalah utusan Tuhanmu, maka lepaskanlah Bani Israil bersama kami dan janganlah engkau menyiksa mereka…” Itu hard message.

Menyampaikannya jelas bukan tugas yang ringan. Firaun adalah manipulator ulung. Propagandanya berlapis-lapis. Barangkali memang begitu cara tirani bekerja — tidak selalu berdiri di atas kebohongan, tapi di atas keyakinan bahwa dirinya sedang melakukan yang benar.

Propaganda tidak selalu bekerja dengan kebohongan. Kadang ia bekerja dengan pembenaran. Penguasa tidak harus merasa dirinya zalim. Cukup merasa sedang menjaga ketertiban, mempertahankan stabilitas, atau menyelamatkan negara. Karena itu, kritik jadi lebih mudah diberi label ancaman daripada peringatan.

Buktinya nyata. Ketika tidak bisa mematahkan pesan Musa, Firaun tidak menjawab tuntutannya — dia menggeser pembicaraan. Mengungkit utang budi. Membuka kesalahan lama. Ketika itu belum cukup, dia bunuh karakter Musa di depan para pembesar istana. Saat semua gagal, keluarlah ancaman penjara. Firaun tidak takut kepada Musa — dia gentar pada kebenaran yang tak bisa ia bantah.

Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menyebut qaulan layyinan sebagai siasat. Langkah pertama. Bukan satu-satunya. Allah memerintahkan Nabi Musa memulai dengan kelembutan — bukan berhenti di sana.

Firaun mengejek. “Bukankah kami yang membesarkanmu?” Kartu utang budi. Musa tidak mundur. Firaun menuduh. Musa bergeming. Firaun mengancam penjara. Musa tetap maju.

Firaun jual? Allah beli tantangannya melalui Musa.

Nah, dari sini balik ke pertanyaan di kajian tadi. Kalau qaulan layyinan itu siasat dan bisa eskalasi sampai Firaun hancur — kenapa hari ini ia justru sering dipakai untuk melarang orang mengkritik?

Pertanyaan yang menggelayuti kepalaku itu rupanya dijawab oleh Ustaz Asep Sobari dalam podcastnya tentang sirah. Kesimpulannya tegas: mengkritik itu bukan sekadar boleh — kalau ada yang salah, mengkritik itu wajib. Objek kritik adalah masalahnya, bukan orangnya. Dan fakta bahwa hari ini masih ramai diperdebatkan soal boleh tidaknya mengkritik pemimpin, menurut Ustaz Asep, sudah jadi konfirmasi sendiri: kalau tidak ada masalah, tidak akan ada perdebatan.

Musa tidak pergi ke Firaun untuk melampiaskan amarah. Dia pergi karena ada tuntutan yang harus disampaikan. Bukan karena benci — tapi karena tidak sanggup diam melihat kezaliman yang terus berjalan.

Balik lagi ke lagu Jason Ranti.

Keparat. Bajingan. Harusnya kamu masuk neraka.

Masih terasa satisfy? Jujur — iya. Tapi sekarang aku tahu itu bukan qaulan layyinan. Itu juga bukan strategi. Itu hawa nafsu yang minta divalidasi.

Qaulan layyinan bukan soal perasaanku. Dia soal pesannya sampai atau tidak. Nabi Musa tidak mengubah pesannya untuk membuat Firaun lebih nyaman. Yang dilembutkan adalah caranya, bukan tuntutannya.


메타데이터
post_id
90bd91de5bb1
slug
keparat-bajingan-dan-qoulan-layyinan-90bd91de5bb1
url
https://medium.com/@nungcha/keparat-bajingan-dan-qoulan-layyinan-90bd91de5bb1
canonical_url
https://medium.com/@nungcha/keparat-bajingan-dan-qoulan-layyinan-90bd91de5bb1
author_url
https://medium.com/@nungcha
status
ok
fetched_at
2026-08-24 19:53:45