Kenapa Begini?
Awalnya kita tidak pernah benar-benar akur.
Kenapa Begini?

Awalnya kita tidak pernah benar-benar akur.
Setiap kali bertemu, selalu ada saja yang diperdebatkan. Hal kecil bisa menjadi bahan perang panjang — soal film, soal warna kesukaan, bahkan soal hal sepele seperti siapa yang lebih dulu mengirim pesan. Teman-teman kami sering bilang hubungan kami mirip Tom dan Jerry, kami benar-benar tidak cocok : ribut, saling mengejar, tapi tak pernah benar-benar menjauh.
Dan jujur saja, aku juga sempat berpikir begitu.
Sampai suatu hari aku sadar, aku mulai menunggu dia.
Menunggu balasannya. Menunggu dia menyela pendapatku. Menunggu notifikasi dengan namanya muncul di layar.
Awalnya kupikir itu hanya kebiasaan. Tapi semakin lama, semakin sulit bagiku untuk menganggapnya biasa. Dia bukan hanya lawan debat lagi. Dia jadi seseorang yang kucari tanpa sadar.
Dia masih sama — cepat membantah, cepat menyindir, seolah selalu ingin menang. Tapi di sela-sela itu, ada perhatian kecil yang tak bisa kuabaikan. Dia mulai bertanya tentang hariku. Dia ingat hal-hal yang bahkan aku sendiri lupa pernah kuceritakan.
Kami sempat dekat.
Obrolan tak lagi sekadar adu argumen. Ada malam-malam panjang yang diisi cerita yang lebih jujur. Ada tawa yang tidak dibuat-buat. Ada jeda hening yang terasa nyaman.
Aku hampir percaya ini akan menjadi sesuatu.
Lalu dia berubah.
Balasannya mulai lama. Pesannya tak lagi sepanjang dulu. Ia jarang memulai percakapan. Perdebatan kecil kami menghilang begitu saja.
Awalnya aku kesal. Apa aku salah bicara? Lalu aku mulai merasa kehilangan. Kenapa jadi sepi begini?
Aku menyadari jarak itu. Aku tahu dia sedang menjauh. Dan anehnya, justru di situ aku semakin sadar bahwa aku tidak ingin kehilangannya.
Aku hampir bertanya langsung. Hampir mengirim pesan panjang yang sudah kuketik berkali-kali. Tapi setiap kali hendak menekan “kirim”, ada sesuatu yang menahanku.
Bagaimana kalau ternyata hanya aku yang merasa? Bagaimana kalau aku terlihat terlalu butuh?
Aku gengsi.
Aku tidak ingin terlihat seperti laki-laki yang mengejar seseorang yang mungkin memang sedang ingin pergi. Jadi aku memilih menyesuaikan diri dengan jaraknya. Ia menjauh, aku ikut mundur sedikit. Ia diam, aku ikut diam.
Kupikir dia akan kembali. Kupikir ini hanya fase.
Tapi ternyata, diam bisa menjadi kebiasaan.
Semakin lama, percakapan kami berubah jadi formal. Dari formal menjadi jarang. Dari jarang menjadi tidak ada sama sekali. Tidak pernah ada pertengkaran besar. Tidak pernah ada kata “kita selesai”. Hanya dua orang yang sama-sama menunggu, sama-sama merasa, tapi terlalu keras menjaga harga diri.
Sekarang, ketika melihat namanya muncul di layar, rasanya berbeda. Tidak lagi hangat, tidak lagi gaduh. Hanya ada jarak yang terasa nyata.
Kadang aku ingin kembali ke masa ketika kami masih ribut soal hal-hal tidak penting. Saat semuanya terasa ringan. Saat aku belum terlalu takut untuk jujur.
Karena pada akhirnya, yang membuat kami asing bukanlah ketidakcocokan.
Melainkan dua orang yang sebenarnya saling suka, tapi sama-sama berpura-pura tidak peduli.
Akhirnya, kami benar-benar menjadi seperti yang dulu kami mainkan, dua orang yang tampak bermusuhan, padahal sebenarnya hanya takut mengaku bahwa kami saling menginginkan.
Dan mungkin yang paling menyakitkan adalah menyadari bahwa semuanya bisa saja berbeda — jika saja waktu itu aku cukup berani untuk berkata, “Aku tidak ingin kehilangan kamu.”
메타데이터
- post_id
- 90c357cb59cc
- slug
- kenapa-begini-90c357cb59cc
- url
- https://medium.com/@Mikhaelllsetiadi/kenapa-begini-90c357cb59cc
- canonical_url
- https://medium.com/@Mikhaelllsetiadi/kenapa-begini-90c357cb59cc
- author_url
- https://medium.com/@Mikhaelllsetiadi
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-13 06:23:13