6 | Good Luck, Kejora!
“You can kiss a hundred boys in bars, shoot another shot just to stop the feeling.”
6 | Good Luck, Kejora!

“Belum confess udah ditolak? Yah, kasihan!” ledek Ash sambil tertawa puas. Pria itu duduk di ruang tamu, puas meledek Aurora yang kini tampak kesal.
“Setidaknya tidak putus sama mantan sampai dilarang ketemu lagi,” cibir Aurora. “Aku juga tidak berharap apa-apa.”
Tawa Ash berhenti. Kini, pria itu menatap Aurora intens. Setelah beberapa hari ia bergumul dengan perasaan pribadinya, akhirnya ia berani berbicara dengan Aurora seperti ini.
Pria itu sudah mulai menerima kalau adiknya mungkin saja sama seperti dirinya.
“Aurora,” pria itu berbicara serius. “Maaf, yang tadi cuma bercanda.”
“Gak dimaafin,” ujar Aurora dingin. Namun tak sampai beberapa detik, gadis itu kini menoleh. Ash tampak benar-benar serius.
“Lo tahu kan keluarga, sekolah, negara, bahkan Tuhan kita sendiri melarang hubungan sesama jenis?” ujar Ash sembari menatapnya dalam. Suaranya kini bergetar seiring dengan matanya yang mulai berkaca-kaca.
“Gue tahu kita tidak bisa membohongi perasaan sendiri, tetapi…dunia tak menyukai kejujuran, Ra.”
“Ash…”
“Lo tahu arti dari perkataan Kejora?” tanya Ash intens. Pria itu berbicara dengan nada datar dan rendah, membuat Aurora tak terbiasa dengan situasi ini.
“Kejora tak ingin hubungan kalian lebih dari teman. Kejora tak ingin seseorang yang sempurna sepertimu harus dikeluarkan dari sekolah hanya karena perasaanmu, Aurora.”
Tubuh Aurora menegang. Ia tak pernah terpikir akan ini.
“Lo tau kenapa Raka tidak pernah terlihat?” Ash nyaris terisak, walau ia berusaha untuk menyembunyikannya. “Raka dikeluarkan dari sekolah, bukan dipindahkan secara paksa oleh keluarganya. Sejak hari itu, ada satu fakta yang baru gue ketahui dengan orang tua kita. Raka…tidak punya keluarga.”
Ash menitikkan air mata, “Raka berasal dari panti asuhan. Setelah kejadian itu, ia benar-benar hilang tanpa kabar. Mungkin saja, Raka sudah dipindahkan ke panti asuhan lain.”
Aurora terdiam. Selama ini, ia juga tak pernah mendengar apa-apa mengenai keluarga Kejora. Sebenarnya, siapa gadis itu? Mengapa segala hal tentangnya terasa begitu misterius?
“Gue khawatir, Ra. Lo itu adik kandung. Segala perubahan sikapmu itu sangat terasa, Ra. Kejora itu benar-benar sosok yang misterius. Apakah lo yakin dengan memaksakan perasaanmu, lo tidak akan menyakitinya suatu hari nanti?”
Aurora tak tahu. Gadis itu benar-benar tidak tahu. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan.
“Kak…” Aurora bangkit dan menatap Ash. “Kakak kenal…Kejora?”
Ash menggeleng pelan, “Gue tidak tahu. Segala hal tentangnya terasa sangat familiar. Seolah ada jiwa Raka dalam dirinya…”
“Kejora bukan Kak Raka,” ujar Aurora pelan.
“Gue tahu, tapi situasi kita sama. Gue tak mau hal ini berdampak buruk pada lo ataupun Kejora,” ujar Ash.
“Kak, percayalah. Aku akan baik-baik saja,” Aurora tersenyum tipis. “Aku paham, aku tidak akan menyukainya lebih dari ini.”
Ash spontan terdiam. Hatinya yang semula gusar kini merasa tenang karenanya.
Gadis itu melangkah menyusuri lorong kelas, memperhatikan setiap jengkal dari lorong. Tampak anak berseragam SMP yang sedang mengobrol seru, beberapa anak kelas 7 yang berlarian di lorong serta siswa laki-laki yang tampaknya sedang bermain pesawat kertas. Gadis itu merapikan poninya, kemudian melangkah dengan anggun melewati mereka semua.
Dialah Aurora Amisha Krueger, gadis anggun yang disegani. Nilainya sempurna, dirinya juga berprestasi dan berbakat secara akademik maupun non-akademik. Gadis yang sangat sempurna.
Sangat sempurna hingga kalian mengetahui rahasia besar yang ia sembunyikan.
“Rora!” sapa Chloe, gadis dengan logat Perancis yang kental itu. Aurora tersenyum simpul, kemudian lanjut melangkah.
“Sebentar lagi pemilihan ketua osis, ya? Udah keluar belum daftar kandidatnya?” ia mendengar pembicaraan para murid.
“Gue dengar salah satu calonnya itu Aurora dari kelas 8–1, ya?”
“Hah? Beneran, nih? Anak berprestasi yang juara 1 umum itu?”
Sudah biasa, batin Aurora. Setelah serangkaian kejadian yang terjadi belakangan ini, ia merasakan sesuatu yang aneh. Gadis itu merasa canggung tiap berpapasan dengan Kejora, bahkan saling menyapa pun tidak.
Padahal, Kejora hanya menyebutnya sebagai sahabat terbaik. Mengapa rasanya begitu sakit?
“Kejora!” samar-samar, ia mendengar suara Bumi. “Lo kelihatan lemas banget.”
Kejora tertawa pelan, “Aman, Bumi. Gue tadi malam kurang tidur aja.”
“Melukis lagi?”
“Iya,” ujar gadis itu pelan. Kantung matanya tampak menebal. Gadis itu tampak lelah.
“Istirahat,” tegur Bumi. “Jangan melukis terus, lo juga butuh tidur.”
“Gue gak bisa tidur,” ujar Kejora singkat. “Kepalaku serasa mau meledak, Bumi.”
Aurora hanya bisa memperhatikan dari kejauhan. Sekali lagi, ia tak bisa berbuat apa-apa. Gadis itu hanyalah bayang-bayang.
“Kenapa, Kejora?” tanya Bumi lembut. “Did something bad happened?”
“Tidak apa-apa,” ujar gadis itu lemas. “Thanks for asking.”
“Masalah rumah lagi?”
Kejora mengangguk lemah. Bumi menggenggam jemarinya, mengelusnya pelan seiring dengan napas gadis itu yang memburu.
“I’m here for you, maaf kalau gue terkadang agak bajingan. Gue sayang kok sama lo, asli gak bohong.”
Kejora bersandar pada bahu Bumi, sesuatu yang jarang dilihat oleh Aurora. Gadis itu terdiam. Ia tak mengerti apa yang terjadi. Gadis itu seolah membangun jarak dengannya.
Aurora merasa asing, seolah Kejora tak pernah mengenalnya. Gadis itu ingin mendekat, namun sesuatu tampak berusaha menahannya.
Sesuatu yang tak terlihat. Ketakutannya sendiri akan berbagai kemungkinan yang terjadi. Apa Aurora berbuat salah terhadapnya? Gadis itu hendak menghampirinya, sebelum bel tiba-tiba saja berbunyi. Gadis itu spontan duduk di tempatnya, jauh dari tempat dimana Kejora berada.
Gadis itu termenung. Netra yang biasa bersinar kini meredup.
“Baiklah, sekarang buka halaman…”
Suara guru yang sedang menerangkan seolah memantul begitu saja. Aurora tak bisa fokus. Gadis itu tak bisa menangkap apapun penjelasan guru. Semuanya terasa janggal.
Tanpa sadar, guratan pensil di buku tulisnya mulai membentuk gambar Kejora. Gadis berambut pendek yang tersenyum cerah di bawah sinar matahari. Coretan itu terbentuk tepat menimpa kertas coretan soal matematika yang baru saja ia kerjakan. Gadis itu sibuk dengan dunianya, mengabaikan apa yang terjadi di kelas. Penjelasan mengenai soal demi soal yang diselingi oleh ocehan ringan dari murid, nama siswa yang dipanggil satu persatu untuk maju dan menjawab pertanyaan. Suasana kelas yang saat ini terasa asing bagi Aurora.
“Aurora, tolong jawab soal Ibu di depan.”
Gadis itu tersentak, kaget ketika mendapati seisi kelas yang kini melirik ke arahnya. Gadis itu menatap Bu Hana yang kini berdiri di samping papan, menunggu respon dari gadis itu. Dengan ragu, ia berdiri dan maju. Ia dapat melihat seisi kelas yang kini memperhatikannya, berbagai arti tersirat dari setiap tatapan.
Tatapan penuh kagum, iri dengki, dan juga…
Kejora bahkan tak melihatnya. Bagi Aurora, hal itu jauh lebih menyakitkan daripada tatapan penuh kebencian dari seseorang.
“Jawab dan jelaskan ke teman-teman semua, tampaknya mereka belum paham,” Bu Hana tersenyum kepada Aurora. Dengan pelan, gadis itu mengambil spidol dan mulai menuliskan jawaban di papan. Ia merasa mengantuk dan sangat yakin ia salah menghitung jawaban, namun…
Di luar dugaan, jawaban Aurora benar.
Bu Hana tersenyum bangga, “Kamu memang cerdas, Aurora. Murid seperti ini yang Ibu suka, pintar dan berprestasi. Ibu ingin kalian semua mencontoh Aurora, ya.”
Gadis itu tersenyum tipis, menyembunyikan rasa tidak sukanya akan kalimat itu. Entah mengapa, gadis itu merasa tak nyaman. Kalimat itu seolah menyiratkan bahwa…ia tidak boleh melakukan kesalahan sedikitpun karena Aurora adalah sosok yang sempurna.
Aurora melirik Kejora, mendapati tatapan kosong dari gadis itu.
Kejora? Apa yang terjadi dengan gadis ceria itu?
“Lo mau kemana?” tanya Paula, gadis berambut sebahu yang terus mengenakan jaket kulitnya di area sekolah.
Ash, pria jangkung itu meringis, “Duh, kepo aja. Gue mau ketemu adik tersayang gue yang katanya bentar lagi nyalon jadi ketua OSIS itu.”
“Cih,” cibir Paula. “Lo beda banget sama Aurora. Adiknya cantik, pintar, berprestasi, anak organisasi juga. Abangnya? Sibuk genjreng sana sini tapi nilai naik turun kayak tangga nada.”
“Jahat!” ketus Ash kesal. “Kenapa sih, lo? Gak suka sama gue?”
“Boti,” ujar Paula. Gadis itu sudah lelah dengan kedramatisan Ash. Pria itu berdecak kesal.
“Kurang ajar, dah gue mau pergi dulu. Gak usah ganggu,” ketus Ash. Pria itu melangkah, kemudian berhenti. Ia merasakan sosok ‘mungil’ yang mengekorinya. Merasa janggal, ia berbalik badan.
Pria itu spontan menunjukkan raut wajah masam, “Ada apa lagi, Paul? Kangen sama gue ya makanya lo ngikut?”
Paula berdecak kesal, kemudian berucap sembari memalingkan wajah, “Gue mau ketemu Aurora…”
“Lo naksir adek gue?”
“Ngaco,” ujarnya kesal seiring dengan wajahnya yang memerah. “Cuma pengen nyapa aja.”
Ash tertawa mengejek, “C’mon, Paul. I know you. Lo bukan tipe yang suka tiba-tiba samperin anak orang meski tidak pernah mengobrol.”
Paula berdecak, “Iya deh, adek lo manis. Puas?”
Ash terkekeh pelan, “Nah gitu dong jujur.”
Jujur saja, pria itu tidak kaget. Sejak dahulu, ia sudah mendengar banyak sekali pria yang mengincar Aurora. Namun, mereka semua takut pada Ash sehingga memilih untuk memendam perasaannya masing-masing.
Padahal, Ash bukanlah tantangan utamanya. Yang utama adalah…
Apakah gadis itu juga tertarik pada mereka?
“Sudah sejak kapan?” Tanya Ash penasaran. Paula terdiam, berusaha menyembunyikan rona merah di wajahnya.
“Sejak…” gadis itu terdiam sejenak, sebelum akhirnya melanjutkan kalimatnya. “Sejak lo antar dia ke sekolah. Gadis itu terlihat sangat rapi dan cantik, Ash.”
Ash tersenyum tipis. Seandainya gadis maskulin itu tahu akan hal yang terjadi pada Aurora. Pria itu menepuk pundak Paula pelan.
“Well, semangat ya. Saran gue, jangan terlalu berusaha buat dapetin dia. Anaknya cuek kalau soal percintaan.”
Perkataan yang sangat kontradiktif. Aurora tidak secuek yang dikatakan orang lain. Gadis itu sangatlah perasa, hanya saja ia tak memiliki seorangpun yang dapat menampung setiap ceritanya.
Kecuali gadis itu. Gadis berambut pendek dengan kulit sawo matang. Netra yang terus bersinar setiap ia berbicara.
Kejora Arsyana Diatmika.
Aurora melambai, kemudian tersenyum hangat saat mendapati Kejora yang menoleh ke arahnya. Namun, tatapan gadis itu terasa…dingin. Tidak seperti Kejora yang biasanya.
“Kejora! Nanti malam mau belajar bareng tidak — ”
Gadis itu terdiam saat ia melihat siluet yang menghampiri gadis itu. Tampak sosok pria dengan rambut berantakan beserta jaket kuning miliknya yang serasi dengan milik Kejora. Pria itu merangkul Kejora, mengatakan sesuatu yang membuat Kejora tertawa lebar.
Seketika memadamkan sinar bulan milik Aurora. Dengan perlahan, ia menurunkan tangannya dan mengepalkannya. Apa yang salah dengan dirinya? Gadis itu hanya menghilang sejenak untuk mengurus pemilihan ketua OSIS. Mengapa sekarang Kejora terasa begitu asing?
Apa karena Kejora merasa kurang diperhatikan? Tidak mungkin. Aurora selalu berusaha peduli padanya terlepas dari kesibukan yang ia alami.
Lantas, apa kesalahan yang diperbuat Aurora?
Pemilihan Ketua OSIS akan tiba sebentar lagi. Gadis itu kini mengacak rambutnya, mulai frustasi. Banyak hal yang harus ia persiapkan, namun sulit baginya untuk fokus kepada satu hal. Pikirannya selalu saja terpecah belah.
“Kau tidak apa-apa, Rora?” gadis itu menoleh, mendapati seorang pria jangkung yang kini menjulurkan tangannya.
Gadis itu hanya tersenyum tipis, tak berniat untuk menanggapi lebih lanjut.
“Terima kasih atas perhatiannya, Avan.”
Pria itu tersenyum tipis, “Sama-sama. Sudah menjadi kewajibanku untuk memastikan bahwa calon wakilku baik-baik saja.”
Aurora tak merespon. Gadis itu kini sibuk dengan berkas yang sedang ia persiapkan.
“Visi misi…program unggulan yang ingin dijalankan…” di bawah netra indahnya, terlihat jelas kantung mata tebal yang disembunyikan oleh bulu mata lentik miliknya. Gadis itu nyaris tidak tidur selama beberapa hari ini.
“Avan…” ujar Aurora pelan. “Kamu tidak gugup?”
Pria jangkung itu menoleh, “Gugup? Tentunya tidak. Kita sudah mempersiapkan ini dari jauh hari dan aku sangat yakin bahwa kita akan menang.”
“Hm…” Gadis itu bergumam sembari mencermati setiap kalimat di berkas kertas yang ia pegang. “Aku merasa kurang yakin dengan visi misi kita.”
Dengan lembut, Avan menggenggam jemari Aurora, “Tidak usah merasa gugup. Dengan kepintaranmu dan kemampuan public speaking yang kumiliki, aku sangat yakin kita akan menang.”
“Begitu ya…” Aurora tersenyum tipis sembari memainkan jarinya. Gadis itu melirik ke ujung tirai, kemudian terkesima.
Ia dapat melihat seluruh siswa dari berbagai angkatan berkumpul bersama, tampak sedang menunggu sesuatu. Aurora merasakan jantungnya yang berdegup kencang.
Ya Tuhan, dimanakah Kejora berada? Mengapa gadis itu tak menyapanya selama beberapa hari ini? Atau mungkin…menyemangatinya?
Apa yang terjadi dengan gadis itu?
“Pada pagi hari ini, kita akan memulai kampanye dari kandidat kita yang pertama. Maka dari itu, kami persilahkan kandidat pertama untuk maju ke panggung!”
Dengan langkah pelan namun tegap, Aurora berjalan di samping Avan. Ia dapat mendengar berbagai sorakan dari murid. Ada juga beberapa yang tampak berbisik saat melihat Aurora.
Walau samar, Aurora dapat mendengar sekilas apa yang sedang mereka bicarakan.
“Aurora cantik banget ya, Avan juga ganteng. Mereka benar-benar terlihat seperti Dewa Matahari dan Dewi Bulan yang disatukan.”
Di saat yang bersamaan, gadis itu melihat tatapan Kejora yang tertuju padanya. Gadis itu tetap diam, namun…
Aurora benci menjadi gadis yang terlalu peka. Ia benci menyadari segalanya, namun tak bisa mengungkapkannya.
Ia benci jika harus mengakui fakta bahwa Kejora tidak melihatnya seperti ia melihat gadis itu.
Kejora tidak menyayanginya sama seperti cara Aurora menyayangi Kejora. Hal itu bertepatan dengan Kejora yang segera memalingkan muka, kini menghadap Bumi sembari tertawa pelan.
“Rora,” Avan menepuk pundaknya ketika menyadari perubahan ekspresi Aurora yang tidak biasa. Gadis itu menoleh, kini menghadap Avan.
“Semangat ya, kita sudah mempersiapkan diri dengan baik selama ini.”
Aurora berusaha tersenyum di depan para murid terlepas hatinya yang kini hancur berkeping-keping.
메타데이터
- post_id
- 90cc2d1ec0a2
- slug
- 6-good-luck-kejora-90cc2d1ec0a2
- url
- https://medium.com/@amescent/6-good-luck-kejora-90cc2d1ec0a2
- canonical_url
- https://medium.com/@amescent/6-good-luck-kejora-90cc2d1ec0a2
- author_url
- https://medium.com/@amescent
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-17 08:20:12