← Back to list

Eps 23 : Jatuh Cinta dengan Kaderisasi

Cerita tentang awal mula suka mengembangkan manusia

Kata Pudin · 2024-04-11 01:20 · 3 claps · 7.2 min read
#ramadhan #ngide #kaderisasi
Open on Medium ↗

Eps 23 : Jatuh Cinta dengan Kaderisasi

Cerita tentang awal mula suka mengembangkan manusia

#Challenge Ramadhan Ngide 23/29

Sumber : Pinterest

Sumber : Pinterest

Beberapa temanku di kuliah mungkin mengenal aku sebagai orang yang cukup kritis dan pemikir (atau kadang kebanyakan mikir). Ada juga yang mengenal aku sebagai seseorang yang cukup senang mengurusi kaderisasi atau bahasa di kuliah sering disebut sebagai mamet (materi dan metode). Apalagi di ITB yang hampir setiap kaderisasi di kampus selalu memiliki alur logika yang cukup bisa diterima dan sistem yang terancang dan terjadwal dengan baik, menjadi sebuah lingkungan baru pada titik ini.

Awal Mula Jatuh Cinta dengan Kaderisasi

Berawal dari masuk di Smala (SMA Negeri 5 Surabaya). Aku yang mulai memiliki keteratarikan pada dunia organisasi setelah SMP aku menjadi Ketua OSIS, aku berusaha mencari SMA yang masih cukup baik reputasinya, tetapi tidak mengecewakan pengalaman berorganisasinya. Aku berharap, aku bisa mendapatkan experience lebih tentang cara mengelola organisasi karena mostly SMA-SMA di Surabaya sendiri sudah bisa mengadakan acara dengan skala Nasional, minimal seperti Open Air.

Awalnya, aku ragu masuk Smala karena sebagai sekolah paling bagus di Surabaya (asek, dulu sih gitu ya, sekarang gatau :v). Sebab, dulu pikirku biasanya sekolah yang isinya anak pintar, organisasinya tidak bagus karena mereka terlalu kaku dan serius hidupnya hanya belajar saja. Namun, setelah mempertimbangkan satu dan lain hal untuk peluang masa depan, aku memilih untuk tetap masuk ke Smala.

Road to Smala. Sumber : Pinterest

Road to Smala. Sumber : Pinterest

Pada titik ini, aku bersyukur atas keputusan itu. Aku tidak menyesal pernah masuk Smala.

Berawal dari MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah) yang dinamai PELITA (Pengenalan Lingkungan Almamater Lima), aku sangat takjub dengan keseriusan mbak mas menyambut kami. Mereka sungguh ditanamkan jiwa “untuk menyambut Smalane” sehingga MPLS yang aku dan teman-teman ku rasakan cukup jauh berbeda daripada MPLS di sekolah lain. Tidak ada tugas yang sifatnya perpeloncoan, tidak ada juga tugas yang diberi hanya karena “biar ada tugas aja”, dan tidak ada juga tugas yang tidak ada esensinya. Semua bisa dirasionalisasi dan memiliki esensi. Bahkan, aku pun masih ingat salam pembuka yang selalu sengaja diulang-ulang oleh mbak mas, siapapun :

Selamat datang generasi pembaharu, Pembelajar cerdas, Berakhlak mulia, Calon pemimpin peradaban.

Salam seperti tagline ini selalu dilontarkan oleh mbak mas hampir selalu beriringan dengan salam “assalamualaikum” atau “selamat pagi”. Jadi, aku pun tidak menghitung lagi berapa banyak kalimat ini diulang dalam satu hari dan ini berlangsung selama seminggu. Luar biasa!

Pengalaman di MPLS yang cukup mengesankanku ini, akhirnya mendorongku untuk penasaran dan mengikuti banyak “wadah berproses” (frasa klise anak Smala banget, wkwk), salah satunya adalah LDKMS (Latihan Dasar Kepemimpinan dan Manajemen Siswa) V.

Hal pertama yang mengesankanku dari LDKMS ini adalah, biasanya LDKMS ini diadakan khusus untuk mereka yang akan bergabung di kepengurusan OSIS/MPK atau bahkan sudah terseleksi. Jadi, kesannya memang agenda yang eksklusif. Namun, di Smala hal ini justru diputar 180 derajat. LDKMS diciptakan untuk BISA diikuti oleh SEMUA SISWA. Sifatnya memang opsional, tetapi semua siswa bisa ikut TANPA HARUS ada keinginan menjadi pengurus OSIS/MPK.

Mereka berlandaskan alasan bahwa wadah berproses (seperti LDKMS ini) jangan dibuat eksklusif. LDKMS perlu diciptakan untuk memberikan peningkatan pengalaman dan kemampuan bagi semua warga sekolah (khususnya siswa). Ilmu-ilmu di LDKMS ini harus diciptakan bagi kebermanfaat semua orang, jadi bukan hanya yang ingin menjadi pengurus OSIS/MPK saja. Dengan materi yang disusun sedemikian rupa, aku nyatanya juga antusias mengikuti LDKMS yang agenda nya sering diadakan sepulang sekolah hingga menjelang Maghrib.

Dengan berbagai metode yang diberikan, aku merasa ada yang cukup berbeda. Mindset ku tentang LDKMS ini sedari SMP selalu berorientasi pada sebuah pelatihan kepemimpinan yang selalu identik dengan “marah-marah” dan ajang senior mencari kesalahan pada junior. Namun, di LDKMS V, stigma ini berhasil terpatahkan.

LDKMS menjadi ajang untuk benar-benar meningkatkan profesionalitas diriku. Sesekali mbak mas tegas (aku lebih merasa tegas bukan marah), tetapi tidak pernah mencari-cari kesalahan yang tidak diada-adakan. Jika salah dipertanyakan, jika berhasil diapresiasi. Fair play kaderisasi. Apalagi, aku banyak bertemu dengan sosok-sosok yang membuatku tidak menyangka jika belajar kepemimpinan itu tidak hanya dari fafifu subjektif kakak kelas saja, tetapi ada teorinya. Menurut bang Aji Suradika (Mantan CEO Pemimpin.id), kepemimpinan bisa dipelajari :

  • 70% melalui pengalaman
  • 20% melalui mentoring/berbagi kisah
  • 10% melalui membaca

Aku bertemu contohnya sosok seperti Cak Ye yang dengan antusiasmenya membaca buku-buku self-development, bahkan lebih suka membaca itu daripada mengikuti pelajaran di kelas. Walaupun begitu, beliau berhasil tembus ke FK saat kuliah, keren! Ditambah dengan teman-teman diskusi yang sangat keren seperti Andra, Elang, Ardy, dll. aku merasa ada teman “berpikir” yang sefrekuensi untuk membahas hal-hal yang orang anggap, “Wah bahasannya berat ini.” Dari sini, aku mulai menyukai proses mengembangkan orang lain.

Apa yang aku dapatkan?

Setelah masuk Smala, aku mempelajari banyak hal. Pada kelas X, aku mulai mengenal tentang nilai-nilai fundamental Smala :

Rumah Smala. Sumber : Arsip Smala

Rumah Smala. Sumber : Arsip Smala

Ini adalah nilai-nilai yang diharus dimiliki oleh Smalane saat masuk Smala. Jika dianalogikan di ITB, ini seperti profil kader. Bedanya, dulu kami tidak terlalu rinci untuk menilai profil seperti yang banyak Unit/HMJ lakukan di ITB dan mostly nilai yang kami bawakan di Smala cukup simpel dan jelas sehingga berbeda dengan profil di ITB yang mungkin lebih spesifik dan butuh parameter yang lebih komprehensif.

Pada kelas XI, aku mulai belajar tentang Pengaderan dan demokrasi. Bahkan, aku belajar tentang makna PELITA yang bukan hanya sebagai ajang memberikan pengenalan Smalane baru tentang sekolahnya, tetapi juga wadah penyambutan. Ibarat berkunjung ke sebuah kantor, siapa sih yang tidak butuh untuk disambut? Bisa dibayangkan akan sebingung apa jika orang baru itu tidak disambut, bukan?

Pada kelas XII, aku akhirnya berhenti karena harus fokus masuk PTN. Namun, setidaknya kami belajar untuk menyerahkan kepemimpinan dan membuat “kontribusi terakhir” kepada Smala. Walaupun harus online, tetapi oke lah setidaknya pengalaman tadi cukup menyenangkan.

Smala Shaping Me

Smala membuka mataku tentang sebuah kondisi ideal. Aku jadi semakin yakin bahwa kondisi tempat berproses atau negara yang ideal itu sebenarnya BISA TERWUJUD. Namun, memang dengan probabilitas dan skala usaha yang nyaris mendekati kemustahilan. Namun, poin pentingnya lagi-lagi bukan terletak pada skala probabilitas dan usaha.

Pengalaman di Smala ini memberikan harapan optimis bahwa kondisi ideal/lingkungan yang lebih baik itu layak untuk diperjuangkan.

Beberapa contoh kondisi ideal yang aku sebut tadi sebagai berikut. Smala cukup membanggakan karena gap antara kakak dan adik kelas tidak terlalu jauh bahkan sangat akrab. Tidak ada senioritas di sini. Hal ini sangat membangun dan mengangkat banyak potensi sekolah. Misalnya saja seperti larangan untuk memanggil “kak”, tetapi “mbak/mas” agar lebih akrab, setiap organisasi baru dibentuk/LDKMS selalu ada tugas wawancara kepada mbak/mas sebelumnya, dan betapa banyaknya mbak/mas yang membagikan catatan/buku bekas perjuangannya di UTBK untuk adik kelas yang di bawahnya. Tidak sedikit juga yang mau dan sukarela untuk ditanya-tanya tentang ini dan itu. Menurutku, ini kondisi yang cukup ideal jika dibandingkan dengan kondisi si SMA lain waktu itu secara subjektifku pribadi yang masih ada senioritas dan terkadang kesempatan bertukar pengalaman antar tingkat generasi tidak berjalan dengan lancar.

Kami juga dulu menganut sebuah analogi bintang bersinar yang kurang lebih isinya begini.

Making Stars. Sumber : Pinterest

Making Stars. Sumber : Pinterest

“Tahu ga, kenapa bintang di malam hari itu banyak bertebaran, tapi pas siang yang tersisa cuma 1? Jawabannya bukan karena bintang itu menghilang. Semua bintang itu masih ada di sana, tetapi cahayanya tertutupi oleh satu bintang yang bersinar paling terang.”

Analogi ini menjadi salah satu alasan yang aku pahami tentang kenapa begitu sulit mencari potensi penerus atau orang-orang di bidang ini itu. Padahal, jumlah kita sangat banyak di sekolah. Alasannya memang masalah potensi yang bersinar dan tertutupi oleh sinar lain.

Shock Culture ITB

Ketika masuk ITB, aku benar-benar cukup mengalami culture shock tentang proses kaderisasinya. Entah memang karena kaderisasinya yang berbeda budaya atau karena aku masuk dalam kondisi online, jadi memang vibes kuliah tidak terlalu terasa. Kaderisasi ITB, terutama OSKM yang menjadi gerbang pertama, memang penekanannya tidak kepada nilai-nilai seperti PELITA saat aku di Smala. Penekanannya terletak pada konteks intelektualitas yang “dipaksa” untuk dikembangkan.

Sumber : Pinterest

Sumber : Pinterest

Maksudnya, salah satu perbedaan mahasiswa dengan siswa adalah cara mereka melihat berbagai konteks persoalan. Kita dituntut untuk kritis dan “tidak biasa” dalam melihat berbagai persoalan. Jika di sekolah kita hanya bisa mengklasifikasi masalah global itu, seperti pemanasan global dan kemiskinan, di kuliah kita bisa mendobraknya menjadi hal-hal spesifik, seperti peningkatan emisi karbon, konsekuensi terdidik adalah mendidik, dan demokrasi yang “terbeli”.

Selain itu, ada kisah unik juga ketika aku mengikuti kaderisasi unit Skhole ITB. Singkat cerita, unit ini adalah unit pengmas yang berfokus pada mengajar anak-anak di rumah belajar yang dimiliki oleh Skhole. Waktu itu aku merasa kecewa karena harus tercoret dengan alasan nilai yang kurang mencukupi untuk masuk ke tahap berikutnya. Sekadar informasi, di ITB sangat wajar terjadi coret-mencoret peserta saat proses masuk unit karena keterbatasan kuota biasanya dan ingin menyaring orang-orang yang berkomitmen.

Aku merasa kecewa karena nilai kurang ku itu terletak pada kurang seringnya aku berargumen. Padahal, bukannya aku tidak mau atau bahkan tidak berani berargumen, tetapi karena memang aku ingin memberi kesempatan pada teman lain yang belum berargumen. Yah, tetapi lagi-lagi kita tidak bisa memaksakan prinsip yang kita pegang akan dipegang oleh orang lain juga. Analogi bintang tidak bekerja di sini. Namun, setelah beberapa waktu berlalu aku pun memahami kenapa analogi ini tidak bekerja di lingkungan ITB.

Aku akhirnya belajar dan mendapatkan hikmah.

Kita tidak bisa memaksakan dan mengasumsikan prinsip yang sama kepada orang lain di lingkungan yang berbeda.

Pandangan kondisi idealku di Smala kemarin memang tidak akan hilang hanya karena kejadian ini. Namun, justru kejadian ini meyakinkanku bahwa ITB adalah sebuah tempat yang “unik”. Aku sendiri menganggap ini adalah tempat dimana heterogenitas sangat terjadi dan melihat warna-warni kaderisasi yang beragam di setiap niche himpunan/unit masing-masing tentu menjadi kisah tersendiri untuk diceritakan nanti.

Key Takeaways

Kembali lagi, tulisan ini membahas tentang asal usul aku bisa menyukai dunia kaderisasi. Begitulah sejarahnya dan pahit manisnya. Melihat perbedaan cara kaderisasi di ITB dan SMA tentu menjadi faktor tingkat intelektualitas (karena ITB levelnya kuliah dan SMA hanya sekolah), faktor budaya (tanah Bandung dan Surabaya tentu beda), serta faktor-faktor pengaruh lainnya.

Tidak ada kaderisasi yang sama. Setiap organisasi memiliki budaya, sejarah, dan faktor lain yang membuatnya berbeda-beda. Namun, kaderisasi yang berhasil adalah yang bisa menyampaikan nilai dan pesan untuk setiap generasi dengan tepat. Kita harus bisa menyesuaikan diri dan kondisi dalam setiap perbedaan.

Jadi, bagaimana kalau menurut kalian? Apa pengalaman yang cukup memengaruhi hidup kalian tentang kaderisasi?


메타데이터
post_id
910342fcd2d9
slug
eps-23-jatuh-cinta-dengan-kaderisasi-910342fcd2d9
url
https://medium.com/@katapudin/eps-23-jatuh-cinta-dengan-kaderisasi-910342fcd2d9
canonical_url
https://medium.com/@katapudin/eps-23-jatuh-cinta-dengan-kaderisasi-910342fcd2d9
author_url
https://medium.com/@katapudin
status
ok
fetched_at
2026-06-28 04:42:08