Cig’s Kiss (SHOKO-KENTO JJK AU) PART 1
Light my cigarettes and make a wish.
Cig’s Kiss (SHOKO-KENTO JJK AU) PART 1

- All of the characters belongs to Gege Akutami
- This story is for entertaiment only! Minors DNI⛔️
- Kindly please do not plagiarize or copy this au
- Ieri Shoko×Nanami Kento
- CW and Tags: NSFW, kissing, dirty talk, french kiss
Lampu temaram dengan suara ketikan laptop serta aroma tembakau yang memenuhi tiap sudut ruang kerja perempuan itu membuat Kento sedikit terbatuk ketika membukanya. Bisa ia lihat bahwa saat ini Shoko mungkin sedang suntuk, terlihat dari kedua alisnya yang berkerut-kerut.
Sudah ada beberapa puntung rokok yang tergeletak di atas asbak. Jemari milik Kento merengut lintingan tembakau itu dan mencampakkannya pada asbak merah yang seketika membuat Shoko semakin mengerutkan alisnya.
"You look tensed, want some hot chocolate?" tawarnya seraya melingkarkan lengannya di sekeliling bahu milik Shoko, membuatnya tenggelam dalam kungkungan bahunya, "What’s that?" tanyanya dengan menajamkam penglihatannya karena tidak memakai kacamata baca.
"Coretax..." jawab Shoko dengan helaan nafas "Why should we bother to report our tax? That's their fucking job to calculate how much I paid for my tax" umpatnya.
Lelaki berambut pirang itu terkekeh, "Unfair, isn't it? Makanya aku minta kamu buat pindah ke Denmark but, you loved your gulai tunjang too much"
"Denmark rokoknya mahal."
"You know that I'd buy everything that you want, Shoko... now, should I make you some hot choco and help you with that coretax's ass or-?"
Shoko menyeringai, "Or?"
"Or do you want some marshmallow?" lanjut pria itu menggoda yang langsung dibalas pukulan oleh Shoko. "Ouch! I thought doctor wouldn’t hurt their patients, huh?" ujarnya sembari mengecup pelipis perempuan itu.
"Fuck you, Kento" umpatnya.
"Later, darling... aku bikin cokelat panas dulu buat kamu." jawab lelaki itu dan mencuri beberapa kecupan dipipinya.
Sepuluh menit berselang, Kento datang dengan membawa dua gelas cokelat panas yang asapnya masih mengepul. Dapat Shoko lihat bahwa ia menambahkan beberapa marshmallow di dalam gelas miliknya.
Ia mengenal lelaki itu sewaktu ia menjadi murid pindahan disekolahnya dahulu. Penampilannya yang berbeda dan bahasa Indonesianya yang tidak fasih membuatnya terkucilkan. Bersama dengan Satoru dan Suguru, mereka adalah orang-orang yang bersedia untuk menjadi temannya. Dua tahun berselang, ia kembali ke Denmark, namun keakraban mereka tidak berkurang sekalipun walaupun Kento hanya satu tahun sekali pulang ke negara ini.
Tujuh tahun berselang, ia memutuskan untuk menetap pada saat Shoko menjalani masa residensinya. Entah bagaimana permulaannya, kedua orang itu memutuskan untuk berkencan, awalnya untuk efisiensi anggaran apartemen. Tetapi, Shoko tahu betul itu hanyalah alibi belaka karena temannya itu kaya. Ia bisa saja membeli apartemen itu.
Shoko hendak mengambil rokok lagi kalau saja Kento tidak menggenggam dan mengecup punggung tangannya, "It's five already, Shoko." ucapnya memperingati.
"Four and a half if you didn't snatch the last one, isn't it? I just wanna get the other half, am I wrong?" tanyanya seraya menaikkan sebelah alisnya.
Kento tersenyum, "You're technically right, doc. Go on, then..."
Tangan pria itu menyulut korek api untuk batang rokok yang kini sudah di apit pada kedua bilah bibir milik Shoko. Kento dengan lamat mengamati bagaimana perempuan itu menghirup lalu menghembuskan kepulan asap putih dengan perlahan, seolah semua kekhawatiran yang ada di dalam dirinya ikut keluar bersamaan dengan asapnya.
Kento ikut mengisap rokok itu. Merasai bagaimana nikotin serta tar memenuhi tenggorokannya sebelum akhirnya bercakal pada paru-parunya. Ternyata ada sensasi dingin menthol yang tertinggal pada permukaan bibirnya.
"You're not a smoker, Kento." ujar Shoko memperingati.
Kento menggedikkan bahunya tak acuh, "Just want to taste your lips tho..."
Perempuan itu tertawa kecil, "How about you help me with this shit and I'll make one of your wish come true?"
Pria itu tertantang, "Sounds great, I’m down." kedua lengan milik Kento secara otomatis melingkar pada pinggang milik Shoko dan mengangkatnya dengan mudah sebelum mendudukkannya di atas pangkuannya.
Pekerjaannya sebagai seorang dokter forensik membuatnya tidak terbiasa dengan hal-hal administrasi seperti ini, apalagi di tambah dengan fakta bahwa aplikasi buatan badan pajak milik negaranya itu memang payah. Berbeda dengan Kento yang terbiasa dengan komputer dibandingkan dengan scalpel seperti dirinya, ia dengan lihai mengisi deretan kolom-kolom itu sembari menyocokkannya dengan lembaran dokumen kepunyaan Shoko.
"You’re fast." pujinya.
Kento tersenyum kecil, "Yeah, you know that I'm good with my fingers..."
Shoko mengeratkan pelukannya, lalu memejamkan matanya barang sejenak, "Flirty bastard..."
"My pleasure, doc."
Tidak perlu waktu begitu lama untuk Kento menyelesaikan semuanya dan menutup laman situs web yang membikin pusing kepala milik Shoko "All done, doc. Now, you have to grant one of my wishes." tagihnya.
Shoko tersenyum lalu mengelus rahang milik pria itu, jemarinya yang selalu dingin itu bertemu dengan permukaan kasar dagu Kento yang baru bercukur pagi tadi. Ia mengecup pelipisnya sebelum mendaratkan bibirnya.
Ciuman itu berlangsung perlahan sebelum Shoko mengundang Kento untuk menjelajahi rongga mulutnya. Lidah milik mereka bertautan. Kento kini sudah terbiasa dengan rasa tembakau yang selalu bisa ia cecap dari saliva milik Shoko. Rasa manis dari cokelat panas yang ia minum dan pahit yang tertinggal dari rokok yang Shoko isap kini memenuhi keseluruhan indera perasanya.
Tangannya menahan jemari milik Shoko yang kini berupaya untuk menanggalkan kaos birunya. Tindakannya itu mendapatkan kernyitan dahi, "So, we're fucked with clothes on this time? Interesting..." ujar Shoko dengan seringaian. Ia hendak menciumnya lagi kalau Kento tidak menahan rahangnya.
Pria itu terkekeh, "You didn't even bother to ask what my wish was..."
Shoko menaikkan salah satu alisnya seraya menyeringai, "Really? I know who you are, Ken..."
Kento mengusap wajahnya dengan tawa, "You're not wrong but actually-" ia menggendong Shoko yang masih berada di dalam pelukannya dan membawanya ke dalam kamar mereka lalu mendudukkannya di atas ranjang. Selepas itu, ia menyalakan lampu nakas dengan bentuk jamur yang ia beli atas kemauan Shoko dan membuka lacinya.
Di dalam genggaman tangannya saat ini, Shoko dapat melihat sebuah kotak kecil dengan bahan seperti beludru. Ia tidak ingin berasumsi maupun berekspetasi apa-apa karena pada dasarnya hubungan mereka tidak akan mengarah ke sana. Tidak sekalipun dapat ia ingat selintas percakapan mereka tentang altar pernikahan selepas tinggal bersama selama tiga tahun lebih.
"Actually, I really want you to grant this wish. Shoko Ieri, may I have the opportunities to be your husband?" ucapnya.
Cincin itu sama seperti apa yang ia bayangkan kalau ia berkesempatan untuk menikah. Emas putih polos dengan mutiara di tengahnya. Shoko tidak tahu bagaimana Kento bisa membaca pikirannya. Saat ini ia masih membeku, tercengang, karena ini sangat tidak terduga.
"Kento..."
"I've been thinking about this a thousand times. Trust me, I truly want to be your snob-ass husband who's gonna introduced you to all of my clients and said 'meet my wife, Shoko' with a grin that you always said was annoying..."
Shoko tertawa terbahak-bahak. Ia bahkan baru sadar kalau dirinya menangis saat Kento menyapu permukaan pipinya, "My ring finger looks a little bit lonely, isn't it? Why don't you fix it, husband?"
Kento menerjangnya dalam pelukan erat. Ia dapat mendengar lelaki itu membisikkan kalimat 'I love you' berkali-kali yang Shoko balas berkali-kali pula.
Perempuan itu masih memandangi cincin yang kini melingkari jari manisnya. Baik Shoko maupun Kento masih merasa tidak percaya. Kento yang tidak menyangka bahwa lamarannya diterima dan Shoko yang tidak percaya bahwa mereka akan memulai babak baru di dalam hubungan romansanya.
"How did you know?" tanyanya penasaran "Maksudku, aku enggak pernah pakai aksesori apapun. Kita bahkan enggak pernah bahas ini, kan?"
"I noticed that you look at this ring on your phone a little bit longer than usual." ucap Kento.
"Gimana kalau itu cuma aku yang doomscrolling? You never knew, right?”
Kento tertawa kecil, "You've never doomscrolling, silly! Kamu lebih suka nonton channel natgeo atau netflix because you rarely had any free time to do that. Makanya aku bisa tahu kalau itu model cincin yang kamu suka..." balasnya sembari menjawil hidung bangir milik Shoko.
"That’s impressive. Apa kamu terbiasa mantengin kebiasaan klien ya? Makanya bisa tahu sedetail itu?"
"Not really but, yeah... it does. Perhaps it's because I adore you that much?"
Shoko mendengus lalu kembali mengambil rokoknya dan meminta pria itu untuk menyulutkan apinya,
"Light my cigarettes and make a wish"
"Oh, so this is a new birthday candle, huh?" ujar Kento tersenyum kecil "Well then, in that case, I hope you'll reduce to smoke on this thing and used my lips instead." pintanya.
Shoko ternyum lalu menghela nafasnya, "Fuck you, Kento..."
"Yeah, I wish on that too" ucapnya sembari mengecup sudut bibir milik Shoko
"Fine, I’ll try to reduce it... so, shall we?"
메타데이터
- post_id
- 910a62d3dd2d
- slug
- cigs-kiss-shoko-kento-jjk-au-part-1-910a62d3dd2d
- url
- https://medium.com/@hikarudesu_47351/cigs-kiss-shoko-kento-jjk-au-part-1-910a62d3dd2d
- canonical_url
- https://medium.com/@hikarudesu_47351/cigs-kiss-shoko-kento-jjk-au-part-1-910a62d3dd2d
- author_url
- https://medium.com/@hikarudesu_47351
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-25 16:53:31