← Back to list

Rintik di Pukul Tiga

18 Juli 2026, dalam kepala yang sibuk bertikai.

asa · 2026-07-18 13:37 · 2 claps · 5.4 min read
#taehyun #beomgyu #alternate-universe #txt #bxb
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🔭 · Astronomy & Space

Rintik di Pukul Tiga

18 Juli 2026, dalam kepala yang sibuk bertikai.

note: italic = flashback

Malam ini suhu lebih rendah dari biasanya, pesan konyol yang biasa bersahutan di layar ponsel tiba-tiba sunyi senyap. Terakhir kali adalah sedikit lebih dari dua minggu yang lalu, tepat ketika yang dirindukan menamatkan perjalanannya dalam dunia pendidikan. Silih setelah itu, minggu depan adalah gilirannya, harinya memperingati satu lagi bab hidupnya rampung ditulis. Namun, bahkan sekadar sapaan hangat seolah tak bisa dirinya harapkan yang terkasih untuk datang.

Pukul sepuluh lebih empat belas menit, laki-laki itu keluar rumah dengan ponsel di tangan kirinya dan kunci mobil di tangan kanan. Pergerakannya terlampau halus untuk dicerna otak. Bak robot dengan pengaturan tetap, dia berjalan ke arah mobil yang terparkir di pekarangan rumah tanpa atap. Merasa persetan dengan rintik hujan yang membabi-buta turun dari awan di atas kepala.

Mesin menyala, membelah sunyi di sekitar dan bersahutan dengan suara air yang mengetuk-ngetuk kaca mobil. Taqi, dengan pandangan kosong yang menerawang jauh kedepan, menusuk tiap-tiap bayangan malam yang bertemu tatap dengannya, menjalankan mobilnya entah kemana.

Pikirannya melanglang buana, kesana kemari, tanpa kehendaknya memainkan seni peran tentang apa yang sudah dan belum terjadi di hidupnya, soal apa yang mungkin dan bahkan tidak mungkin dilaluinya. Gelap. Hanya itu satu kata yang bisa menggambarkan isi kepalanya saat ini.

“Naka, apa kabarnya?”

Penggalan lagu tentang jok kiri mobil yang kosong tak berpenumpang, serta rute perjalanan harian yang tiba-tiba terlihat memuakkan, seolah menyindirnya. Masih ada di memori Taqi, potongan kejadian tentang Naka yang dengan ledekannya menyombongkan SIM barunya.

“Taqiii, aku udah ada SIM, kamu kapan bikin? Ya kali gak buat SIM mobil?”

“Lah kenapa emang? Anehhh.”

Ujung-ujung bibirnya sedikit terangkat ketika mengingat rasa di telapak tangannya kala membelai surai hitam itu, belaian yang dibalas dengusan setelahnya.

Taqi terus menginjak pedal gas mobilnya. Setirnya di putar ke kanan dan ke kiri mengikuti arah jalan, berputar-putar di sepinya malam, di pinggir kota. Entah akan berujung kemana ia pergi.

“Tujuan pertama abis kamu dapet SIM, harus rumahku.”

“Dih, pengen banget?”

“Ga juga, tapi sebagai bukti aja apakah seorang Taqi SIMnya hasil nembak atau bukan.” kalimat dari sang kasih sukses membuat perutnya tergelitik kala itu. Padahal jika disuruh memilih, mungkin tiga porsi nasi di rumah makan Padang lebih menjanjikan, ketimbang membayar mahal untuk satu lempeng plastik.

“Aku ke rumah kamu, terus kita jalan?”

“Jalan kemana?” dengan senyum manisnya Taqi menatap lamat Naka, yang melempar pandangnya ke segala arah dengan sebelah pipi menggembung. Berpikir keras ke mana mereka bisa menghabiskan waktu berdua, “Gemes …” lirih keluar dari mulut Taqi yang senyumnya lembut menunggu jawaban Naka.

Yang lebih tua, jelas tak menangkap gelombang melodi puji itu, “Ke … keliling kota?” jawaban yang lebih terdengar seperti pertanyaan — butuh validasi.

Pekik kecil persetujuan di dalam kepalanya melunturkan senyum yang sedari tadi terpatri. Memori berganti pada hari ketika dirinya mendengar kalimat yang selalu berusaha ia tepis dari benaknya.

“Kita … udahan, ya?”

Terlalu banyak ‘Karena’ di pundaknya, membuat ‘Kenapa?’ di bibirnya tertahan. Asumsi tentang diri yang, “Ah … dia menemukan yang lebih baik.” membawanya pada anggukan setuju. Angguk patah yang diberikan secara terpaksa, karena bahkan sakit di dada tak bisa diungkap oleh penolakan pada lidah. Payah berpura setuju, seakan isi kepala mengerti tentang alasan yang terlontar dari Naka.

Taqi tidak mengerti.

Dia tak ingin mengerti. “Anything that makes you happy.” Lelaki itu hanya ingin menangis dan menenggelamkan pikir dengan beribu hujatan pada diri sendiri.

Mobil melaju tak tentu arah, dibawa tak tau ke mana. Ke tempat apa saja yang bukan ‘tempat mereka’. Napas yang terputus, tubuh yang bergetar. Tak jelas apakah sebab dimakan dingin atau karena isi kepala yang dijejalkan fakta menyedihkan.

“Dua tahun gak pulang, aku masih inget jalan ini, Naka. Pertigaan yang paling kamu kenal.”

Taqi tau, saat ini Naka sedang dekat dengan kakak tingkatnya. Laki-laki jangkung berperawakan rapi dengan — berdasarkan cerita 30 detik media sosial Naka — bunga dan hadiah-hadiah kecil di hari tak terduga. Satu dua hal sederhana yang menenggelamkan Taqi dalam genangan penyesalan, dalam kubangan yang membuat dirinya kian terpuruk dimakan rendah diri.

“Kalau tadi aku ke sana, apa kita bisa ketemu lagi? Atau jalan-jalan kesukaanmu itu bukan lagi punya kita? Sekarang cuma ada namanya di sepanjang cerita rute favoritmu, ya, Na?”

Dunia yang paling mengerikan sejatinya ada di dalam kepala tiap-tiap orang. Menyusun skenario pahit setiap jam dua malam, membentuk mimpi buruk paling mengerikan bagi yang masih terjaga. Over thinking kata mereka, hanya ada di pikiran, cuma ketakutan biasa. Itu yang keluar dari kerongkongan mereka.

Tapi mengapa seluruh bayang bodoh itu menjadi kenyataan untuknya? Kenyataan tentang Naka yang memilih pergi dari dunianya. Baru tahun ini Taqi tidak merayakan hari penting Naka, setelah entah untuk berapa lama mereka bersama. Ah, jelas benar Naka bersama laki-laki itu di hari bahagianya. Tak apa, lagi pula sekarang ini … Taqi siapa?

Pedal gasnya dilepas. Tuas rem tangan ditarik seolah sengaja menempatkan mobilnya di tengah jalan. Hujan yang semakin deras beradu suara dengan lagu di radio mobil. Taqi berhenti tepat di lampu merah, rintik hujan yang tidak disapu dari kaca depan dengan pasti membuat jarak pandangannya terhadap jalan menjadi kabur.

Karena air di kaca, atau di matanya?

Lampu merah berubah menjadi kuning, tidak lama berganti hijau. Namun, Taqi tetap bergeming. Cahaya di sudut kanan matanya kembali pada warna merah, tapi siapa peduli? Tidak ada satu pun kendaraan di sana selain miliknya. Ini hampir pukul tiga pagi, jalanan dan hawa sendu seakan miliknya.

“Na, inget waktu kamu bilang mau dijemput? Tadi aku lewat depan rumah kamu, tapi kenapa sakit ya, Na?”

Taqi memejamkan mata, “Kenapa perih liat ada mobil asing keparkir depan pagar kamu?” Lelaki itu membanting kepalanya ke belakang untuk bersandar. Masih di lampu merah, mobil hitamnya terparkir.

“Minggu lalu aku dapet SIMku, Na. Aku mau pamer, ajak kamu jalan-jalan keliling kota rayain thesismu yang rampung. S2mu yang selesai. Tapi tiba-tiba kamu bilang mau nyanyiin lagu kita ke pacar baru ….”

Tawanya keluar dari mulut. Terlalu hambar untuk dirasakan lucunya, terlalu perih untuk dilihat bahagianya.

“Bukannya kamu bilang itu lagu untuk aku ya, Na? Yang katanya bakal selamanya? Oh … atau waktu itu cuma guyon? Hahahah … hahah ….”

Lalu teriakan dengan lantang memenuhi isi mobil setelah tawa hambarnya menipis, mungkin perihnya sedikit terdengar dari luar. Napasnya terputus, tanpa petunjuk mengapa oksigen seolah enggan masuk ke dalam rongga dada. Sesak, kain yang menutup dada kirinya diremas kuat, seolah meminta pertolongan pada siapa saja untuk menghentikan kegelisahan yang seakan ingin membunuhnya.

Tangan kanannya berpindah, dengan tak karuan memukul-mukul setir mobil, geraknya seolah menutup isakan yang dapat kapan saja keluar dari mulut. Air di pelupuk mata tak lagi dapat dibendung, satu kali mata terpejam dan —

“Brengsek!!!” Air mata Taqi terjatuh.

“Na … aku masih sayang ….” Lucu. Bahkan akal sehatnya dulu tidak mampu mengatakan itu di depan wajah sang kasih. Sekarang getir suaranya memohon untuk dapat berbisik lirih pada dunia dan seisinya, betapa diri ingin kembali.

Taqi ingin Naka kembali.

Rintik malam tersenyum atas kemenangannya, berhasil menetap lebih lama. Ada rangkuman tentang aku dalam rangkulmu. Semua buku cerita tentang kita terbakar hangus oleh entah salah siapa. Denganmu, kekal bahagiaku. Maaf aku bukan alasan bahagiamu.

“Naka … aku lagi di pinggir kota. Jalan-jalan setelah dapet SIM. Tapi aneh, biasanya tiap menit, tiap langkah, semua punya warna masing-masing. Kenapa sekarang cuma abu-abu ya, Na?”

Saat itu, terlukis jelas bagi Taqi tentang kesamaan malam dengan jok kiri mobil.

“Aku ganti cat mobil, Na. Kamu bilang lebih suka mobil hitam, ‘kan?” matanya masih terpejam dengan kepala yang dibawa menunduk, keningnya beradu dengan setir bersama tangan yang masih memeluk benda itu erat. Dipeluk erat setelah tanpa perasaan memukulnya membabi-buta.

“Kamu mirip buku yang kebuka, Na. Aku bisa baca kamu dengan jelas, aku paham tata bahasa yang kamu tulis. Tapi temen-temenku gak kenal kamu.”

Persamaan itu terlihat jelas. Kosongnya jalan dalam dinginnya gelap malam, juga isi mobil dengan jok kulit tak berpenumpang, yang dimakan dingin.

“Lagu kita yang waktu itu belum rampung, sekarang udah sempurna dan jadi punya dia, ya? Naka … maaf, dan selamat untuk ketulusannya,” kalimatnya menutup malam, tersampaikan walau hanya pada kalung yang tergantung di spion depan. Kalung yang entah apa kabar setengah liontinnya.

Persamaan itu tampak jelas. Air yang jatuh dari langit, juga dari pelupuk mata—sama derasnya.


메타데이터
post_id
91dfd3ece20d
slug
rintik-di-pukul-tiga-91dfd3ece20d
url
https://medium.com/@itsdailynsanity/rintik-di-pukul-tiga-91dfd3ece20d
canonical_url
https://medium.com/@itsdailynsanity/rintik-di-pukul-tiga-91dfd3ece20d
author_url
https://medium.com/@itsdailynsanity
status
ok
fetched_at
2026-08-15 08:59:40