← Back to list

Perihal Lusa: Apa Boleh Buat?

(Bukan) Refleksi Tahunan Biasa

Rakean Radya Al Barra · 2024-12-27 03:01 · 203 claps · 5.2 min read
#lusa #esok #2024 #2025 #tahun
Open on Medium ↗
Wiki topics: SAF · Safety & Alignment

Perihal Lusa: Apa Boleh Buat?

(Bukan) Refleksi Tahunan Biasa

Photo by Katja Anokhina on Unsplash

Photo by Katja Anokhina on Unsplash

Oleh karena itu, Rakean Radya, pikirkan sekali lagi, kesan “baik” apa yang akan kamu beri pada masing-masing kesempatan yang (mungkin) nggak akan kamu jumpai lagi?

Lusa mengandung makna keesokan yang sudah cukup dekat untuk dirasakan, tetapi juga masih terlampau jauh untuk diutamakan. Kepada kepekatan kabutnya, kami berkata —“apa boleh buat?”

Setelah sekian purnama, malam itu kami kembali berbagi kisah — tentang menjelamakan bingkai syukur dalam apresiasi indrawi, tentang meraih ulang kemampuan merekacipta kehangatan, juga tentang meluluhlantakkan segala yakin pada ketulusan diri.

Ternyata, dari akumulasi cerita catch-up, semua konvergen pada semacam titik monoton. Dan monoton tak selalu buruk.

Aku dan Arsyad dan Rajji saling bercerita mengenai lalu dan kini dan esok — juga sedikit menyinggung lusa. Yang kuirikan dari mereka berdua adalah suatu ketenangan, kepasrahan, bukan — ketundukan — pada takdir yang rasanya amat mewah dan ingin kumiliki juga.

Meracaulah aku mengenai keikhlasan dan betapa aku kira aku tak benar-benar memiliki hal-hal baik yang orang sering pasangkan labelnya padaku. Hal ini juga yang berujung pada ragu yang ditujukan pada mimpi-mimpi, karena telah menihilkan segala keasliannya. Kalau semua gelagatku di panggung-panggung kelak hanyalah sandiwara, untuk apa pilih-pilih panggung? Kuterima saja panggilan panggung yang datang dan berdansa dengan melelahkan tanpa arti!

Begitulah bisikan jahatku yang kucoba keluarkan dari kandangnya untuk ditelaah kedua rekanku itu.

Bolehkah beda antara pengakuan dan perasaan?

Boleh, kata mereka, sebab itu titik berhenti.

Boleh, kata Ustadz Salim, sebab cinta adalah pekerjaan.

Dan Rakean masih berpikir.

Kami selesaikan pertemuan hangat itu dengan keliling kota di malam hari menggunakan Odyssey Rajji yang bernuansa tua itu dan aku bersyukur telah berteman selama ini dengan mereka yang tampaknya begitu paham dengan kerumitanku.

Tapi apakah aku relieved? Tidak.

Gir masih semangat berputar. Awan hitam masih melekat.

Am I calm? Am I satisfied? No. I just am.

Jadi kubebankan itu semua pada mantra Arsyad yang sering ia ulangi, sebab sejauh ini baru itu yang bisa kulakukan. Apa boleh buat?

Dan Rakean masih berpikir.

Old Year Old Me

Aku tiduran pada sprei putih kasurku di sudut kamar dengan kepala yang luar biasa pening dan pinggul sebelah kiri berisikan pegal yang bandel tanpa asal muasal jelas. Porsi hariku cukup banyak dalam posisi ini dan memikirkannya pun membuatku lelah. Aku tak begitu peduli apa ini pagi, siang, sore, atau tengah malam karena semuanya sama-sama saja akhir-akhir ini.

Telah kututup layar si laptop yang manjanya minta ampun akhir-akhir ini — dari speaker ke kipas ke casan telah kuladeni. Di situ bertenggerlah lautan tabs sumber rasa bersalahku, kesempatan-kesempatan yang tak benar-benar kuberi sepenuhnya. Tapi belum cukup energiku untuk menghadapi mereka. Not now, setidaknya.

Begitu terus setiap harinya.

Alih-alih menghadapinya, aku menunda dengan memikirkan hal yang lebih mengasyikkan. Apapun yang lebih tidak urgen sepertinya lebih mengasyikkan. Tugas akhirku bahkan menjadi sangat asyik dalam lensa itu. Aku pun membersihkan kamar (lagi), menonton video YouTube tanpa ujung, atau mengganggu teman di WhatsApp dengan kecaperan khasku (ssstt aku gengsi mengakuinya).

Merinding, aku herankan dingin yang menggigit lengan dan kakiku. Padahal selimut corak andalanku sudah terpasang. Padahal jendela yang biasa kubiarkan terbuka itu sudah ditutup rapat. Padahal sekeliling kepalaku terasa begitu panas.

What’s happened to me? Mana mungkin seasonal affective disorder ?kayak yang ngerasain winter aja. Jadi kutertawakan saja diri sendiri dan downfall akhir tahun ini.

Pada Q1, aku terbawa oleh arus angin dan dituntut untuk mengkalibrasi ulang kompas hidup. Pada Q2, aku menaikkan momentum melalui tantangan dan pengalaman baru. Pada Q3, aku serap energi baik sekelilingku untuk bertumbuh-bermekar.

Pada Q4, aku ragukan itu semua dan temukan diri menggelinding ke lembah penuh kabut.

Photo by Wilfried Santer on Unsplash

Photo by Wilfried Santer on Unsplash

Berusaha Jernih Memandang Tahun

Sebagai upaya untuk lebih objektif memandang tahun dan memerdekakan diri dari segala recency bias yang dapat menodai pandanganku terhadap hal-hal yang sebetulnya patut disyukuri, aku luangkan waktu untuk merefleksikan kembali apa saja yang telah kulakukan di 2024.

Untungnya, ia well-documented.

Dan maksudku bukan hanya sebatas tangkapan visual dari pelbagai peristiwanya, tetapi juga segala kecamuk rumit yang ada di baliknya. Toh setiap pekannya aku telah konsisten mengeluarkan (minimal) satu tulisan.

Dengan begitu, aku susun kompilasi foto-fotoku dan juga menyusun ulang judul-judul signifikan dari tulisan-tulisan Medium-ku di 2024 ini sebagai exercise melirik kembali jejak-jejak diri. (Jika tertarik, enam tulisan inilah yang paling kena).

Aku memandang tulisan-tulisanku dengan penuh hormat terhadap diri sendiri, seolah sedang berinteraksi dengan diri versi dahulu yang lebih ringan memandang dunia. Begitu banyak highlights tahun ini. Dan meminjam istilah Kak Finny, begitu pula lowlights-nya. Aku tertawai diri sendiri karena sebetulnya masalahku dari dulu sama-sama saja — hanya berbeda sudut atau intensitas. Aku separuh kaget bahwa diriku ternyata begitu optimis. Juga sedikit cringe dengan ke-moody-an-nya.

Kurasa kuharus tepikan bisikan-bisikan terlalu kritis diri karena ternyata tampaknya I’ve had a good run.

Terus sekarang kok jadi payah gini maneh, Rak?

Ah, barangkali sedang di lampu merah saja.

Tertinggallah sudah aku Oleh rekan-rekan ku Tersusullah sudah aku Dengan yang mulai setelah aku

Tapi ku berada di lampu merah Kuharap kau sabar untuk menunggu aku di sana Walau ku berada di lampu merah Ku yakin semua ini hanyalah hambatan sementara

  • The Lantis

Tahun lalu, telah kubahas esok dan Hari Esok — sebuah pengingat untuk mengatur-atur diri guna mempersiapkan keesokan yang begitu dekat.

Kini, kusorot lusa.

Ada apa dengan lusa?

Lusa serasa terlalu jauh untuk punya kuasa apa-apa mengenainya. Apapun bisa terjadi sebelum lusa. Dan memang begitu adanya. Maka *be prepared to be surprised*.

Sebetulnya, esok pun demikian. Namun, kurasa kita terlalu merasa punya kontrol atas esok. Dan ilusi kontrol itu melenakan. Sebab, ketika hal-hal ternyata tak sesuai ekspektasi, jemari pun tertunjuk pada sang diri yang mengakui punya kontrol itu. Dan lama-lama itu melelahkan.

Dan itu membawakan kita pada keberserahan— apa boleh buat?

Apa boleh buat? Jika diri tak kunjung optimis untuk menggunakan segala fasilitas prasangka baik miliknya sebagai senjata ampuh menghadapi kelusaan, itulah satu-satu simpulan logis yang masih bisa diterima.

Apa boleh buat? Meski diri tak kunjung merasa ditenangkan sepenuhnya olehnya, setidaknya dengannya diri mengakui posisinya.

Apa boleh buat? Ketika diri bertanya-tanya mengapa bisa berpikir begitu panjang dan tak perlu dan mengapa seolah didesain unik untuk kerapuhan, itulah afirmasi realita.

Apa boleh buat?

Di titik ini, aku teringat pada sebuah kutipan dari film Tenet karya Christopher Nolan. Tokoh Neil berkata:

What’s happened, happened. Which is an expression of faith in the mechanics of the world. It’s not an excuse to do nothing.

Pula what will happen, will happen. Ialah ekspresi beriman pada Ketetapan. Tapi bukan kemalasan berkedok keberserahan. Ataupun keputusasaan berkedok kelegowoan.

Yang kupelajari dari menulis ini dan menyerahkan ekspektasi kontrol di akhir tahun ini adalah bahwa satu tahun penuh tak semata didefinisikan oleh lowlights-nya — bahkan ia tak didefinisikan oleh highlights-nya. Ia didefinisikan oleh arahnya. Dan barangkali jalur pegunungan ini memang naik-turun, terkadang thrilling dan terkadang tidak begitu. Jadi semua ini memang wajar dan baik selama arahnya masih menuju puncak.

Lagipula, tahun hanyalah definisi waktu arbitrer. Hidup tak didefinisikan dari satu tahun. Aku bahkan tak yakin kita bisa benar-benar mendefinisikannya menjadi satu kesimpulan atau satu rasa atau satu kesan.

Kemarin sudah tertinggal jauh, sementara esok sedang kita sambut, dan lusa belum kunjung datang. Yang penting hari ini tak lupa berlari, berjalan, ataupun merangkak setengah lumpuh. Semua boleh-boleh saja. Dan jika usaha baik tak kunjung sesuai keinginan dan ke-baik-an maupun ke-usaha-annya mulai kau ragukan, ya, apa boleh buat?

penyair, pemadat, penyublim

penyair, pemadat, penyublim


메타데이터
post_id
91eddbd7e09e
slug
perihal-lusa-apa-boleh-buat-91eddbd7e09e
url
https://medium.com/@rakeanradya/perihal-lusa-apa-boleh-buat-91eddbd7e09e
canonical_url
https://medium.com/@rakeanradya/perihal-lusa-apa-boleh-buat-91eddbd7e09e
author_url
https://medium.com/@rakeanradya
status
ok
fetched_at
2026-06-26 21:52:29