← Back to list

Diamnya Kesederhanaan Ibu

“Walaupun anak-anak saya sudah besar dan sudah punya keluarga sendiri. Ketika anak-anak kuliah makan di warung ibu, ibu anggap anak-anak…

Meutiannisamitsluna · 2025-07-03 04:47 · 1 claps · 2.4 min read
#ibu #warteg #anak #sederhana #makan
Open on Medium ↗

Diamnya Kesederhanaan Ibu

“Walaupun anak-anak saya sudah besar dan sudah punya keluarga sendiri. Ketika anak-anak kuliah makan di warung ibu, ibu anggap anak-anak yang makan di sini seperti ibu sedang memasak untuk anak-anak ibu sendiri,” harapan dan pandangan seorang ibu memang nyata, lewat perantara pun bisa menemukan kebahagiaan yang begitu sederhana. Setiap hari bangun lebih awal untuk menyiapkan bahan-bahan masak bersama suaminya yang membantu untuk membeli bahan-bahan masakan. Ia tinggal berdua dengan suami sambil menjalankan usaha kecilnya yaitu warteg. Rasa rindu kepada anak-anak bisa terobati ketika melihat anak-anak kuliah yang selalu datang ke warung ibu, selalu suka dengan masakan apa saja yang hari ini ia masak. Meski tubuhnya tak sekuat dulu, namun semangat tetap menyala untuk mencari nafkah lewat usaha kecilnya bersama suaminya. Karena di dalam hatinya terdapat harapan agar usaha kecilnya laris.

Begitu lembut parasnya, layaknya seorang ibu menyiapkan makanan untuk anaknya setelah pulang dari sekolah. Menjaga anak-anaknya lewat makanan yang ia siapkan walaupun bukan anak sendiri. Selalu menyambut dengan ramah kepada anak-anaknya yang sudah sering berkunjung dan makan di warung kecilnya itu. Semua disama ratakan agar dapat semua lauk dan pauk. Walau anak masih bisa berkunjung, bagaimana dengan anak ibu lainnya yang tidak bisa berkunjung? Rasa bersyukurnya yang tinggi dan kesabaranya yang Ikhlas, ketika melihat anak-anak kuliah dengan senang memakan masakan-masakan ibu, itulah obat bagi ibu.

Menurutnya, kebahagiaan itu sederhana asal tidak punya hati yang iri dan dengki. Kebahagiaan itu sederhana, contohnya ibu yang sedang rindu dengan anaknya, melihat anak-anak kuliah berdatangan untuk membeli makanan di warung ibu. Kebahagiaan itu tidak perlu di takar oleh kemewahan ataupun hati, tapi cukup dengan rasa syukur yang terus di jaga. Saat anak kuliah duduk dan makan di meja warteg, mereka sambil tertawa, bercanda bahkan mengerjakan tugas bersama. Semuanya menghidupkan rumahnya yang sepi itu. Ia diam-diam mendengarkan, merasa di temani, seolah kesepiannya tak sepenuhnya sendiri. Rasa rindu terhadap anak-anaknya terpenuhi secara tidak langsung. Baginya hidup itu harus di Jalani, harus di syukuri apa adanya, di nikmati. Kalau ada sedih, kecewa, harapan dan kejutan, itu merupkan bagian dari hidup. Tiap detiknya, tidak menitnya bahkan tiap jamnya aka nada makna. Terkadang kita lupa kalau di kasih ujian, justru yang membuat kita semakin kuat dan terbentuk, itu merupakan bagian proses dalam kehidupan. Biarlah hidup mengalir dengan hati yang terbuka, Ikhlas dan belajr menerima.

Jika di beri kesempatan untuk mengulang momen-momen yang tak terlupakan, ibu ingin kembali pada masa ke 3 anak ibu masih kecil. Kita masih bisa berkumpul untuk makan bersama dan berangkat sekolah bersama. Itu momen yang begitu dalam bagi ibu karena bisa melihat tumbuh kembang anaknya sendiri. Sekarang ke 3 anaknya sudah besar, ada yang sudah menikah dan pastinya tidak bisa tetap tinggal di rumahnya. setiap ujung minggu pasti datang menjenguk walaupun terkadang ke 3 anaknya ada yang berhalangan hadir. Tapi jarak tidak akan memutus hubungan antara ibu dan anak, bisa menelfon ataupun mengirim pesan agar saling tau kondisi ibu dan anak. Ia belajar menerima meski anaknya jauh, ia masih menjadi ibu, setidaknya bagi mereka yang bisa singgah sebentar di warungnya itu.

Meskipun warungnya terkesan kecil, tapi di sanalah makna kebahagiaan tumbuh dari hal-hal sederhana. Seorang ibu yang rindu, ibu yang merindukan anak-anaknya. ia tidak pernah meminta apa-apa, selain bisa terus merasa berguna meski hanya dengan menyambut orang-orang yang singgah sejenak dalam hidupnya. Semua di buktikan bahwa bahagia itu sederhana, tidak harus megah dan mewah. Cukup hati yang tulus, tangan yang memberi dan keyakinan bahwa kebaikan sekecil apa pun.


메타데이터
post_id
92265047c1d2
slug
diamnya-kesederhanaan-ibu-92265047c1d2
url
https://medium.com/@meutiannisamitsluna23/diamnya-kesederhanaan-ibu-92265047c1d2
canonical_url
https://medium.com/@meutiannisamitsluna23/diamnya-kesederhanaan-ibu-92265047c1d2
author_url
https://medium.com/@meutiannisamitsluna23
status
ok
fetched_at
2026-06-25 12:15:08