← Back to list

Menilik Kehidupan Orang-Orang Biasa dari Kursi Belakang Bus Antarkota

Selalu ada kisah menarik dari kursi belakang dan dari balik jendela bus antarkota

Rahmah Maulida · 2026-05-23 06:10 · 103 claps · 10.4 min read
#kisah #cerita #pengalaman
Open on Medium ↗
Wiki topics: SAF · Safety & Alignment

Menilik Kehidupan Orang-Orang Biasa dari Kursi Belakang Bus Antarkota

Selalu ada kisah menarik dari kursi belakang dan dari balik jendela bus antarkota

Bus jurusan Solo-Semarang itu kembali melaju sesaat setelah kaki saya melangkah ke dalamnya. Sembari sedikit kehilangan keseimbangan, saya bergerak menemukan kursi kosong. Tentu saja, kursi dekat jendela adalah tahta favorit ketika melakukan sebuah perjalanan dengan transportasi darat satu ini. Namun, sayang hampir semua kursi dekat jendela terisi oleh para penumpang. Agaknya spot tersebut memang menjadi kegemaran banyak orang. Akhirnya, saya memutuskan memilih kursi paling belakang. Dekat jendela dan pintu keluar. Tempat di mana kernet bus senang berdiri demi menyambut kedatangan atau melepas kepergian penumpang bus.

Kursi belakang bus tersebut menjadi penuh sekaligus genap selepas saya duduki. Di sebelah kanan saya tampak tiga bapak-bapak. Seorang mengantuk dan dua lainnya sedang asyik berbincang. Kemudian, saya mulai duduk dan repot membenarkan posisi barang bawaan saya yang lumayan banyak. Satu tas gendong super gendut, sedang tangan menjinjing tas kecil yang sarat muatan. Sejenak, mata saya memandang keluar. Seolah memberi salam perpisahan kepada halte Kerten Surakarta, karena selama 24 jam ke depan saya akan pergi jauh.

Bus berjenama P.O Muncul tersebut mengantarkan kerinduan saya akan sebuah tempat yang selalu memiliki ruang khusus di hati, Tembalang. Mengingat, terakhir kali saya ke sana adalah ketika momen wisuda sekitar 2 tahun silam. Kangen sekali rasanya. Dan memang tepat, jika celengan rindu saya ini dipecahkan pada Minggu, 10 Mei 2026 hingga Senin esoknya. Senin itu menjadi hari besar bagi sahabat saya. Ia akhirnya sidang skripsi setelah berbagai jalan terjal ia lalui. Hari istimewa itu pun sepatutnya dirayakan. Saya memutuskan untuk menemaninya menginap selama satu malam di sana.

Rasanya aneh campur bahagia. Tidak hanya Tembalang yang mengandung banyak kerinduan dan kenangan. Namun, sepanjang jalan Solo-Semarang laksana karpet merah memorabilia yang tergelar panjang. Kanan dan kirinya merupakan kepingan-kepingan memori yang akan selamanya menimbulkan rasa trenyuh bagi saya pribadi. Teringat masa-masa pertama kali ke Semarang, masa pulang kampung sewaktu kuliah, dan masa perjuangan nglaju Solo-Semarang via motor demi menyelesaikan tugas akhir.

Selalu senang melewati Pasar Sunggingan Boyolali, merasa bahagia melewati Jalan Osamaliki Salatiga, terlebih ketika pohon tabebuya pada bermekaran. Menikmati sejuknya daerah Ungaran, hingga bibir tersenyum ketika sudah dekat di bilangan Banyumanik. Setiap jalannya mengandung kenangan masa muda. Masa yang senantiasa ingin saya putar kembali.

Lamunan saya akan jalan Solo-Semarang pun buyar bersamaan dengan sebuah pertanyaan yang terlontar dari seorang bapak di sebelah kanan saya.

Mbak’e mandhap pundi?” (Mbaknya turun di mana?)

Saya tersenyum dan menjawab, “Banyumanik, Semarang Pak. Lha njenengan?”

Tak dinyana, sebaris kalimat tersebut menjadi menu pembuka obrolan saya dan bapak-bapak yang kelak saya ketahui namanya sebagai Pak Tris itu. Makin lama percakapan makin mengalir deras bak air terjun. Pak Tris mengenalkan dirinya sebagai orang asli Purwodadi. Namun, kiranya beliau menjunjung tinggi falsafah suami-suami takut istri, maka tak heran beliau ikut istrinya orang asli Semarang.

Pak Tris masih saja bersemangat menceritakan kehidupannya ketika bus mulai memasuki Kartasura. Beliau berceloteh tentang perjalanannya semalam mengantar putrinya balik ke kos, karena berkuliah di UNS. Dapat dinilai dari kalimat-kalimatnya, bahwa pria paruh baya ini amat membanggakan putrinya. Bagaimana tidak, putrinya kuliah di UNS di Fakultas Kedokteran, jurusan perawat. Kini anaknya tengah menjalani koas di salah satu rumah sakit besar di Solo. Dengar punya dengar, putrinya itu juga sudah dapat tawaran pekerjaan dari berbagai instansi dan yayasan.

Yo alhamdulillah, Mbak. Anakku kui jan pinter. Ora koyo bapakke naming lulusan SD.” ujar beliau merendah.

Saya hanya mengangguk-angguk dan tersenyum. Diam-diam turut bangga dengan orang tua macam Pak Tris ini. Orang tua yang dulunya hanya tamat pendidikan dasar bahkan sama sekali tidak mengenyam bangku sekolah, tetapi memprioritaskan pendidikan bagi anak-anaknya.

Pada obrolan lain, Pak Tris juga bercerita bahwa beliau bangga menjadi sopir PT Indofood di Semarang selama bertahun-tahun. Beliau menjadi kepercayaan orang-orang penting di sana, disenangi banyak teman, dan disegani pegawai-pegawai baru. Beliau bercerita dengan jujur dan apa adanya. Jauh dari kata sombong. Karena, intensi ayah dua anak ini hanyalah berbagi asam manisnya dunia.

Saya sendiri senang-senang saja diajak cuap-cuap oleh orang lain di dalam bus. Hitung-hitung dapat mengenal berbagai macam karakter dan cerita orang. Lebih-lebih dapat membuat perjalanan menjadi lebih ramai. Lebih berkesan.

Tipe-tipe seperti Pak Tris, saya yakin sering bahkan selalu ada di setiap bus-bus antarkota. Orang yang selamanya punya kisah. Orang yang ingin berbagi dan butuh telinga. Orang yang menyemarakkan bus dengan percakapan-percakapan sederhana perkara hidup.

Di setiap perjalanan yang saya tempuh, entah mengapa saya suka ‘membaca’ orang-orang. Saya senang mengamati sekitar. Sebut saja seperti para penumpang dengan tujuannya masing-masing, melihat pengendara motor dari balik jendela bus, para pedagang, pohon-pohon, kegiatan orang-orang, bangunan-bangunan ikonik, dan segala hal yang dapat saya tangkap dengan indera penglihatan.

Semuanya terlihat menarik untuk diamati. Utamanya orang-orang biasa. Orang-orang yang suaranya bahkan tidak membawa pengaruh besar atau tidak terdengar. Orang-orang yang hanya tahu bahwa uang yang didapat hari ini, juga uang yang digunakan untuk makan hari ini.

Salah satu hal yang amat sayang jikalau terlewat dari pengamatan adalah pedagang asongan. Bus antarkota ataupun antarprovinsi tentu saja tidak lepas dari bayang-bayang pedagang asongan. Tak terkecuali bus yang saya tumpangi ini. Di sepanjang perjalanan, ada titik-titik bus ngetem sebentar demi menambah jumlah penumpang. Sebut saja seperti di pasar Ampel, Boyolali. Sopir berhenti sejenak memberi ruang untuk penumpang naik dan tentu saja pedagang asongan ‘mengambil alih’ bus.

Seketika dua tiga pedagang asongan segera membajingloncat masuk dalam bus. Mereka meneriakkan dagangan dengan lantang, berlomba dengan deru mesin bus. Dalam sekejap, bus menjadi hiruk pikuk seperti pasar.

Pedagang tahu baso dan kripik usus dengan cekatan menyodor-nyodorkan produk mereka. Cara unik yang mereka lakukan adalah dengan meninggalkan barang dagangan mereka di pangkuan para penumpang. Mereka seakan menyediakan waktu bagi calon pembeli untuk mencermati barang tersebut, lantas tertarik untuk membeli. Namun, sekian detik berlalu tampak tiada seorang penumpang pun hendak berbelanja. Kemudian, dengan gesitnya — seperti sudah terbiasa menghadapi situasi tersebut — , pengasong tersebut ‘menarik’ kembali barang dagangannya. Turun dari bus. Dan, mungkin saja mengumpat dalam hati.

Saya diam saja sembari masih mengamati gerak-gerik para pencari nafkah itu. Saya pribadi memutuskan tidak membeli apapun. Sebab, pertama uang yang saya bawa adalah uang besar dan takut jika mereka tidak punya kembalian. Kedua, saya sudah membawa banyak penganan dari rumah. Sebagai gantinya, saya memanjatkan doa-doa kecil untuk mereka, Semoga dilancarkan rezekinya, semoga laris manis semua dagangannya, aamiin.

Sopir kembali duduk di belakang kemudi bersamaan dengan kernet yang menutup pintu belakang bus. Besi panjang dan beroda ini kembali bergerak maju, meninggalkan Boyolali. Terdengar Pak Tris rintang berbincang dengan putrinya via telepon. Saya pun khusyuk melihat lalu-lalang kehidupan di luar jendela bus.

Percayalah, selalu ada hal menarik yang dapat kamu jumpai dari balik jendela bus antarkota. Hal-hal kecil nan sederhana. Hal sepele yang terkadang menggugah hati. Mengamati apa kegiatan yang dilakukan oleh orang-orang, menerka-nerka kesibukan orang lain, menilai estetika deretan bangunan, mengagumi pohon-pohon besar nan rindang senantiasa menjadi hal memikat bagi saya.

Dari kursi belakang dan jendela bus tersebut, saya menyaksikan berbagai macam kegiatan manusia. Ada satu dua hal yang mengesankan. Saya melihat di depan sebuah pasar, ada seorang ayah tengah duduk di jok motornya. Anaknya yang masih balita duduk di jok bagian depan. Anak lanang itu jingkrak-jingkrak girang ketika bus kami lewat tepat di depan mereka. Tawanya yang polos menyiratkan kebahagiaan. Sang ayah juga tak henti-hentinya tersenyum. Ia puas karena berhasil menghibur anaknya, sesederhana mengajaknya melihat bus besar melaju kencang. Tentu saja hati saya langsung hangat melihat pemandangan anak beranak itu.

Kali lain, ketika melewati daerah Salatiga saya kembali melihat romantisme, hanya dari balik jendela bus. Sebuah keluarga kecil tengah menepi di pinggir jalan. Suami, istri, dan seorang anak lucu. Sepertinya sang istri hendak bepergian jauh. Saya melihat sang suami mencium pipi kanan, pipi kiri, kening, dan bibir istrinya. Seperti hendak melepasnya berhari-hari. Atau mungkin itu sudah menjadi rutinitas keseharian keluarga kecil tersebut ketika mengantarkan kepergian. Duh, bibir tidak bisa tidak tersenyum melihat bentuk cinta dan kasih sayang seperti itu.

Kembali pandangan mata saya menyisir ke dalam bus. Sudah banyak penumpang yang naik dan makin menambah riuhnya bus. Dari kursi belakang ini, saya dapat melihat kepala orang-orang. Ada yang diam melamun, setengah mengantuk, meringkuk tertidur pulas, berbincang dengan kawan, atau yang sibuk menunduk menuhankan ponsel.

Namun, senyum saya kembali mengembang ketika baru saja masuk seorang bapak dan anaknya — yang sepertinya masih kelas satu SD. Mereka duduk tak jauh dari tempat saya memandang. Lantaran keterbatasan kursi kosong, anak beranak tersebut terpaksa duduk secara terpisah. Bapak duduk di sebelah kanan dekat lorong jalan, sedangkan anaknya berada di serong kanan tak jauh dari bapaknya. Anak itu bersikap santai saja, tidak rewel. Saya terkesan. Sepertinya dia memang sudah terbiasa diajak bapaknya ‘bermobilisasi’ via bus.

Selang beberapa menit ia duduk, anak lanang itu mengeluarkan sesuatu dari tas kecilnya. Kudapan ringan. Ia membukanya dengan hati-hati, menyuap beberapa keping makanan. Samar-samar saya juga melihat dia menawarkan camilannya itu kepada orang dewasa di sebelah kanannya. Elok nian tabiat anak itu.

Hati saya kembali menghangat. Bus pun kembali menghabiskan bahan bakarnya menuju kota Lunpia tersebut. Lagi, saya lemparkan pandangan menuju luar jendela. Sesekali melihat layar TV gantung yang mendendangkan tembang lawas 90’an. Adakalanya menyambung obrolan dengan Pak Tris.

Sampai akhirnya, bus mendekati Banyumanik. Saya mempersiapkan diri untuk turun. Ada satu kalimat dari Pak Tris yang mengantarkan kepergian saya. Beliau meminta saya untuk menjaga diri baik berangkat, ketika, ataupun pulang dari Semarang nanti.

Sing ngati-ati nggih, Mbak.”

….

Izinkan saya mengatakan bahwa, salah satu cara unik menilik kehidupan orang-orang biasa — tentu saya inipun juga orang biasa — adalah dengan naik bus antarkota. Senin sore, tanggal 11 Mei 2026 saya kembali menaiki bus untuk pulang. Sore itu, saya diantar teman ke Terminal Sukun, Banyumanik. Kok ya, ndilalah bus P.O Muncul lagi yang saya dapatkan. Tanpa berpikir panjang, saya langsung naik bus tersebut. Suasana sedikit lenggang. Baru ada sedikit penumpang. Saya jadi leluasa memilih tempat duduk.

Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, saya senang duduk di dekat jendela sebelah kiri. Untungnya saya mendapatkan posisi favorit itu. Masih di area belakang bus, tetapi bukan kursi paling belakang. Saya tepat di atas ban belakang bus tersebut.

Duduklah saya dengan tenang. Di luar tampak sibuk kondektur bus mencari penumpang tambahan. Terbukti, bus ini ngetem sekitar setengah jam sendiri demi memenuhi kursi-kursi busa. Kalau belum banyak penumpang, para awak bus enggan berangkat. Di celah-celah ‘masa tunggu’ itu pun, banyak pengasong yang kembali membajingloncat. Penjual aqua, pedagang tahu baso, dan penjaja oleh-oleh khas Semarang kembali berlomba-lomba menggaet hati pembeli.

“Tahu asin, tahu asin!”

“Aqua, Le Minerale, Mizone. Aqua, Le Minerale, Mizone!”

Dari sekian banyak pengasong yang timbul tenggelam di dalam bus, ada satu orang — saya tidak tahu bisa disebut pengasong atau bukan, mungkin lebih tepatnya pengemis — yang unik. Pertama kali dalam hidup saya menjumpai modus seperti ini. Ada wanita muda sekitar umur 30-an awal masuk dari pintu depan bus. Ia berjalan di sepanjang lorong dengan agak tergesa. Tangannya sibuk membagi-bagikan sesuatu. Suatu benda itu pun mendarat di pangkuan saya. Kecil dan berwarna putih. Amplop. Ya, sesuatu yang dibagikan oleh wanita muda itu adalah amplop. Pada bagian depan amplop tersebut tertulis sebuah kalimat. Kalimat tersebut tidak terlalu terbaca jelas, sebab tintanya sudah agak pudar. Kertas amplopnya pun tampak kusam. Kalimat tersebut berbunyi,

Tolong bantuannya untuk biaya makan anak.

Terbelalak mata saya, seperti mau loncat. Saya masih melekatkan pandangan pada amplop itu. Wanita muda itu tampak masih hilir mudik mengumamkan sesuatu yang samar terdengar. Apa ini? Taktik mengemis macam apa ini? Mengapa sudah ‘canggih’ seperti ini? Apa saya saja yang ketinggalan zaman?

Pengemis itu mengemis dengan cara yang unik. Amplop kosong ia bagi-bagikan dengan harapan orang-orang akan mengisinya dengan uang. Barang seribu duaribu.

Melihatnya masih bagas dan waras, saya tetap membiarkan amplop itu seperti keadaan sebelumnya. Kosong. Saya berharap agar wanita itu segera mendapatkan pekerjaan.

Karena sudah lelah, saya mangkel dan gelisah. Salah satu hal yang saya benci adalah menunggu. Bus tidak segera bergerak. Namun, saya juga tahu kejengkelan tidak membantu keadaan menjadi baik. Maka, saya mencoba berdamai. Saya keluarkan buku kumpulan cerpen “Mata Yang Enak Dipandang” karya Ahmad Tohari. Saya mencoba menghanyutkan diri dalam fiksi. Namun, dari balik jendela bus ada pemandangan yang lebih enak untuk dipandang.

Dari balik jendela tempat saya duduk, saya menyisir mata melihat dunia di luar bus. Kebetulan, bus yang saya tumpangi ini mandeg di depan kawasan strategis Terminal Sukun. Ramai orang dengan kesibukannya masing-masing. Kondektur yang berteriak-teriak menawarkan kursi bus, orang-orang yang bingung memilih bus, pedagang angkringan yang sibuk melayani pembeli, hingga pemandangan yang berhasil menarik perhatian saya. Jarak sekitar satu meter dari bus, saya melihat anak perempuan berusia sekitar kelas 3 SD tengah berjinjit-jinjit menggunting Nutrisari dari sebuah gantungan. Minuman saset rasa jeruk itu tergantung bersama kawan-kawannya yang lain, seperti kopi, jahe, minuman rasa buah, susu, dan sebangsanya.

Nutrisari itu milik seorang wanita paruh baya yang berjualan gorengan dan minuman di dekat situ. Sehabis berhasil membuka kemasan minuman serbuk tersebut, anak itu dengan cekatan menyulapnya menjadi es. Minuman dingin berwarna kuning cerah. Tampak sangat segar. Anak itu seperti sudah terbiasa melakukan ‘ritual’ penyegaran tenggorokannya itu secara mandiri.

Kemudian, ia duduk pada bangku yang berada tak jauh dari meja penuh gelas plastik dan termos. Di depannya tersedia meja, nasi bungkus di atas meja itu segera dilahapnya. Dimasukkannya ke mulut mungilnya. Suap demi suap. Setiap kunyahanya bak kenikmatan duniawi yang harus ia rasakan secara perlahan. Tak lupa, di sela-sela kunyahannya, satu dua kali ia sedot cairan kuning sedingin es di samping nasi bungkusnya.

Di sisi lain, ibu pemilik Nutrisari sedang melayani pembeli. Ia juga harus terus mengamati adonan bakwan yang terendam dalam wajan yang berisi minyak panas. Lalu, saya melihat ibu itu meninggalkan pekerjaannya sejenak. Ia menghampiri anak perempuan yang asyik makan sendiri itu, demi membelai rambutnya. Sembari mengusap-usap rambut sebahu anak itu, si ibu tampak menggumamkan sesuatu di telinganya. Saya agak terkejut dan menerka-nerka hubungan mereka berdua. Rasa keterkejutan saja pun makin menjadi-jadi ketika manusia lain bergabung dalam adegan mengharukan itu. Wanita muda yang baru beberapa menit mengemis di bus, turut duduk di samping anak kecil tersebut. Bercakap-cakap sebentar dengan si ibu paruh baya, kemudian sepenuhnya perhatian ia curahkan pada manusia kecil yang sedang makan itu. Wujud cinta dan kasih sayang, kembali saya temukan dari balik jendela bus antarkota.

Tentulah, dari adegan demi adegan yang saya lihat tersebut, saya menyimpulkan bahwa si adik adalah anak dari wanita muda yang tadi mengemis. Sedangkan, si ibu penjual gorengan adalah nenek dari anak kecil itu. Makin diamati mereka memang tampak seperti keluarga. Dari sorot mata kedua wanita dewasa itu, seperti ada harapan besar yang dibebankan pada pundak si adik yang sedang asyik nyruput Nutrisari itu. Sebuah keluarga kecil yang mengandalkan hidup dari pinggiran terminal. Mengandalkan hidup satu sama lain.

Perasaan bersalah pun mulai menggelitik hati, lantaran tadi amplop putih saya biarkan kosong. Lagi dan lagi, saya hanya bisa memanjatkan doa kecil pada gusti. Doa untuk orang-orang biasa dari orang biasa pula.

….

Saya percaya bahwasannya di setiap perjalanan pasti membawa pelajaran. Itulah yang saya dapatkan ketika melakukan perjalanan Solo-Semarang dan sebaliknya via bus antarkota. Dari kursi belakang dan di balik jendela bus, saya temukan serpihan atau kisah-kisah kecil orang-orang biasa. Orang-orang yang merasa cukup akan kehidupannya, orang-orang berprinsip “nrimo ing pandum”, tiyang-tiyang alit, yang terkadang ceritanya kita lewatkan begitu saja.

Dan dua hal besar yang saya serap dari kursi belakang bus itu adalah kerasnya kehidupan dan wujud cinta yang sederhana. Kerasnya hidup yang tersirat dari sopir bus, kernet, pedagang asongan, pengemis, dan orang-orang biasa lainnya. Orang-orang yang bekerja hari ini, mendapat uang hari ini, dan menghabiskannya hari ini juga untuk makan.

Namun, ada pula cinta dan kasih yang juga melekat pada orang-orang biasa. Walaupun romansanya terkesan kecil, tetapi dapat menimbulkan efek yang besar bagi siapapun yang melihatnya. Sebut saja seperti, betapa bahagianya anak kecil yang melonjak-lonjak kegirangan ketika melihat bus lewat, sepasang suami istri melepas kepergian dengan peluk dan cium, serta sebuah keluarga kecil yang masih percaya akan cerahnya masa depan. Tak luput, orang-orang biasa lainnya yang selalu memiliki kisah yang ingin ia bagi.

Di sana, di kursi belakang bus itu saya mengamini diri menjadi manusia biasa. Manusia lemah. Namun, di balik kerasnya kehidupan dan dunia selalu saya temukan hal-hal sederhana yang setidaknya membuat saya berpikir bahwa hidup memang terdiri dari apa-apa yang keruh dan bening. Dalam pada itu, selalu ada yang bisa disyukuri.


메타데이터
post_id
922a4d02ca81
slug
menilik-kehidupan-orang-orang-biasa-dari-kursi-belakang-bus-antarkota-922a4d02ca81
url
https://medium.com/@majassinestesia/menilik-kehidupan-orang-orang-biasa-dari-kursi-belakang-bus-antarkota-922a4d02ca81
canonical_url
https://medium.com/@majassinestesia/menilik-kehidupan-orang-orang-biasa-dari-kursi-belakang-bus-antarkota-922a4d02ca81
author_url
https://medium.com/@majassinestesia
status
ok
fetched_at
2026-06-24 18:57:25