Pesta Babi dalam Konteks Memberi Makna Pada Tanah
Dalam durasi 1 jam 35 menit, apakah cukup bagimu untuk paham tentang secercah duka di Tanah Papua?
Pesta Babi dalam Konteks Memberi Makna Pada Ruang

Tulisan ini aku runtunkan sebagai seseorang yang berdarah campuran Papua-Sumatera, bukan termasuk Orang Asli Papua (OAP), namun diberi kesempatan Yang Maha Esa untuk lahir di sana dan mengakhiri masa perkuliahan dengan menulis tentang tanah kaya berkah ini. Segala bentuk pandangan dan pendapat yang dikisahkan merupakan sepotong keluh-kesah dan cara pikir subjektif.
Kalau satu orang Papua diberi harga 25 orang tentara, maka berapa harga satu batang sagu yang ia tebang untuk makan hari ini? Kalau puncak Nemangkawi sudah bernama lain di peta resmi, maka siapa yang berhak menyebut dirinya tuan atas tanah itu? Kalau ribuan hektar tanah adat bisa ditukar dengan selembar izin konsensi, maka berapa hektar yang dibutuhkan agar satu generasi bisa tumbuh dengan utuh?
Film Pesta Babi (2026) karya sutradara Dandhy Dwi Laksono dan Cypri Paju Dale lahir di tengah momen yang tidak bisa lebih tepat — dan tidak bisa lebih berbahaya jika ditonton tanpa bekal. Film ini memilih masuk lewat pesta, lewat tawa, lewat daging babi yang dipanggang di atas kayu panas. Sebuah pintu yang hangat. Sebuah pintu yang bisa membuat penonton bertanya: siapa yang tega membangun resah di sekitar pesta ini?
Bagi penonton yang belum pernah mengenal Tanah Papua lebih dari sekadar berita dan foto di media sosial, film ini menawarkan Papua yang bisa dicerna — yang punya ritme, warna, dan kegembiraan yang terasa universal. Namun, di sinilah justru letak jebakannya yang paling halus. Sebab yang disebut “bisa dicerna” itu sering kali berarti sudah disuling dari hal-hal yang paling sulit untuk dijelaskan, bahwa pesta itu bukan sekadar pesta.
Coba kita pandang Papua di sudut lain. Lihat Suku Amungme di Pegunungan Nemangkawi, momen seperti itu adalah ekspresi dari apa yang mereka sebut onai — sebuah konsep wilayah yang tidak bisa dipilah-pilah antara dimensi ekologis, spiritual, genealogis, dan ekonomi. Tanah bukan properti. Tanah adalah tubuh. Bagi Suku Kamoro di pesisir Mimika, kehadiran dalam ritual adalah pengakuan atas sistem taparu, pengelompokan klan yang menentukan siapa boleh mengakses kawasan mana, dan atas dasar sejarah apa. Pesta babi yang ditampilkan di layar adalah cara sebuah komunitas menegaskan bahwa mereka ada dan bahwa mereka punya hak — bukan sebagai klaim hukum di atas kertas, tetapi sebagai kenyataan yang hidup dan berdenyut.
Satu film tidak mungkin menjelaskan semua ini dalam durasi satu jam tiga puluh lima menit, dan mungkin memang bukan itu niatnya. Tapi ketika film berhenti di permukaan keindahan tanpa memberi penonton alat untuk membaca kedalamannya, yang tersisa adalah satu emosi yang paling tidak produktif dari semua emosi yang bisa ditawarkan, belas kasihan.
Sejujurnya, tanpa mengurangi rasa apapun, Papua tak butuh air matamu.
Orang Papua butuh pengakuan. Belas kasihan menempatkan penonton di posisi yang lebih tinggi, yang merasa bisa “membantu.” Pengakuan menuntut penonton turun dari kursinya, menghapus asumsi bahwa mereka tahu lebih banyak, dan menerima bahwa ada sistem pengetahuan tentang ruang dan wilayah yang valid dan setara, bahkan lebih tua. Ini yang oleh para perencana disebut inklusi epistemis, di mana kita bukan sekadar menampung suara adat sebagai masukan, tapi mengakui bahwa cara adat memberi batas, makna, dan tata kelola pada wilayah mereka adalah pengetahuan yang sah.
Masalahnya adalah negara ini belum sampai di sana. Di banyak titik di Papua hari ini, dua sistem berjalan di atas satu wilayah yang sama tanpa saling mengakui — sistem adat yang memaknai tanah secara relasional dan kosmologis, dan sistem formal negara yang menerjemahkan tanah yang sama menjadi kategori fungsional-sektoral di dalam dokumen RTRW. Dua sistem ini tidak sedang berdialog. Mereka sedang saling melewati satu sama lain, yang satu ditampilkan di festival film, yang satu lagi ditandatangani di balik pintu tertutup.
Pesta Babi bisa menjadi titik masuk yang baik, tapi hanya jika penonton mau keluar dari ruang diskusi dengan pertanyaan, bukan dengan kepuasan. Jika kamu menonton film ini dan pulang dengan perasaan “betapa kayanya budaya Papua, kasihan ya mereka menderita,” kamu telah melewatkan setengah dari cerita yang paling penting, yaitu bahwa mereka tidak meminta simpatimu. Mereka sedang, dengan segala cara yang masih tersisa, mempertahankan sebuah cara memahami dunia yang jauh lebih utuh dari yang pernah orang lain bayangkan.
Dan itu bukan objek tontonan.
Hal yang perlu digarisbawahi adalah bahwa Pesta Babi bukan film yang jahat. Dandhy Laksono dan Cypri Dale bukan orang asing terhadap isu Papua, keduanya datang dengan rekam jejak yang panjang dan niat yang tidak perlu diragukan. Namun niat baik dan efek yang dihasilkan adalah dua hal yang bisa berjalan ke arah yang sangat berbeda, terutama ketika audiensnya adalah mereka yang belum punya konteks sama sekali.
Di sinilah letak tanggung jawab yang tidak selesai hanya dengan membuat film yang indah. Penonton yang datang tanpa bekal akan menyaksikan ritual, menyaksikan kebersamaan, menyaksikan tanah yang luar biasa — lalu pada suatu titik, menyaksikan sesuatu yang terasa seperti ancaman atau kehilangan. Hingga respons yang paling mudah, paling naluriah, adalah iba. Merasa kasihan. Ingin “melakukan sesuatu.” Membagikan tautannya di Instagram dengan caption yang menyentuh hati.
Akan tetapi, iba adalah emosi yang bekerja dari atas ke bawah. Iba menempatkan yang merasakan sebagai pihak yang utuh, dan yang diibakan sebagai pihak yang kurang. Orang Papua tidak kurang. Sistem pengetahuan mereka tentang ruang dan wilayah — tentang bagaimana sebidang tanah diberi makna, dijaga, dan diwariskan — bukan warisan yang perlu diselamatkan oleh penonton dari luar. Pemaknaan mereka adalah sistem yang hidup, yang kompleks, yang selama ratusan tahun bekerja jauh lebih berkelanjutan dari sistem mana pun yang kemudian datang dari luar dan mengklaim tahu lebih baik.
Masalahnya bukan bahwa Papua lemah. Masalahnya adalah bahwa ada dua cara memandang dunia yang dipaksa hidup berdampingan di atas satu wilayah yang sama, tanpa pernah benar-benar saling mengakui. Negara membaca tanah sebagai zona fungsional yang bisa dialokasikan, dikonsesikan, dikonversi. Masyarakat adat membaca tanah yang sama sebagai organisme hidup yang punya kepala, tubuh, dan kaki — yang roh leluhurnya masih menghuni setiap pohon, setiap lekuk sungai, setiap batu di tepi hutan. Bukan metafora. Sebuah kosmologi yang utuh, yang dari sana lahir sistem tata kelola wilayah yang jauh lebih canggih dari yang tertuang dalam dokumen perencanaan mana pun.
Ketika dua cara pandang ini bertabrakan, yang kalah bukan selalu yang salah, yang kalah adalah yang tidak diakui, dan pengakuan adalah hal yang berbeda dari simpati.
Jadi kalau kamu sudah menonton Pesta Babi dan ingin melakukan sesuatu, mulailah dengan berhenti merasa kasihan, dan mulailah bertanya siapa yang selama ini punya otoritas untuk menentukan tanah itu milik siapa. Jawabannya tidak ada di dalam film ini, tapi pertanyaannya seharusnya tetap tinggal di dalam dirimu, lama setelah layar mati.
Dan aku menulis ini sebagai seseorang yang tidak sepenuhnya berhak bicara — tapi juga tidak sepenuhnya asing. Namun justru karena aku berada di garis tengah itulah aku bisa melihat betapa mudahnya orang jatuh ke dalam perangkap belas kasihan. Merasa cukup hanya dengan hadir, hanya dengan peduli, hanya dengan menonton.
Tulisan ini bukan klaim bahwa aku lebih tahu. Ini pengingat untuk diriku sendiri, dan mungkin juga untukmu, bahwa mengenal Papua bukan soal seberapa sering kamu menyebut namanya, tapi seberapa jujur kamu mau duduk dengan ketidaknyamanan bahwa aku, kamu, kita, adalah bagian dari sistem yang selama ini tidak mengakui mereka.
Papua Bukan Tanah Kosong.
메타데이터
- post_id
- 928c024a08df
- slug
- pesta-babi-dalam-konteks-memberi-makna-pada-tanah-928c024a08df
- url
- https://medium.com/@balo_oney/pesta-babi-dalam-konteks-memberi-makna-pada-tanah-928c024a08df
- canonical_url
- https://medium.com/@balo_oney/pesta-babi-dalam-konteks-memberi-makna-pada-tanah-928c024a08df
- author_url
- https://medium.com/@balo_oney
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-09 15:37:30