Pertama
Menulis sudah lama kuingin, tapi baru kali ini kubikin. Terasa tenang saat menulis, imajinasi membuncah, otak mengembara kemana-mana, tanpa…
Pertama
Menulis sudah lama kuingin, tapi baru kali ini kubikin. Terasa tenang saat menulis, imajinasi membuncah, otak mengembara kemana-mana, tanpa reservasi, tanpa booking dan yang paling penting tanpa duit. Tak terasa kata mengalir lancar, kalimat berebutan untuk berbaris dan paragraf — paragraf terbentuk rapi menjadikan mata senang dan puas.
Setelah setengah jam menulis ditemani bunyi hujan yang merembes di dinding ruang makan, aku perhatikan ternyata diantara semua tombol, tombol delete yang paling banyak dihentak. Kalo aku teruskan seperti ini, dua tahun ke depan tombol ini yang pertama memudar dan harus dilapis kertas kecil dengan tulisan kecil di atasnya. Atau mungkin malah tidak perlu ditempeli kertas, saking hafal dan lancarnya aku menghentak tombol ini berulang-ulang saat ada yg salah.
Ternyata nggak semudah itu menulis. Tadinya kupikir kalo sudah ada ide, maka tulisan akan jadi dengan cepat, sempurna dan enak dibaca. Sembilan bulan sepuluh hari aku lakukan ini tiap hari, aku bisa dapat Pulitzer! Minimal nominasi sudah di tangan. Ternyata, salah besar saudara-saudara! Hukum 10.000 jam berlaku, bahkan untuk menulis ini rasanya hukumnya jadi 20.000 bahkan 25.000 jam. Jadi kagum (baca: iri) sama teman-teman penulis. Kok bisa-bisanya mereka nulis dengan santai, nyeruput kopi, nyomot gorengan di piring tapi tulisannya bikin yang baca gak mau lepas, bahkan untuk melepas hajat. Luar biasa!
Tapi mau tidak mau, ini yang harus dilakukan. Ini jalan yang kupilih. Menjadi penulis di dunia maya yang tidak berujung, tidak berbentuk dan yang terpenting tidak perlu tampilkan identitas asli. Lumayan untuk menyelamatkan muka kalo ternyata yang baca tulisanku cuman aku dan istriku. Yang pasti, isinya gak akan mengenai science — karena aku bukan orang yang ahli dalam ilmu eksakta; gak akan mengenai religi — karena aku bukan ustad, malah lebih ke seorang pendosa yang tidak pernah taubat. Isinya paling hal-hal remeh tentang kehidupan ini, terutama setelah aku bukan lagi seorang karyawan. Jadi jangan mengharap aku membahas hal-hal yang berat, tapi yakinlah kalo tulisanku berikutnya hal-hal ringan hasil jeritan hati atau otakku yang udah mulai sering pikun ini. So… selamat membaca teman…
메타데이터
- post_id
- 92be7e14933d
- slug
- pertama-92be7e14933d
- url
- https://medium.com/@sidik.berjejak/pertama-92be7e14933d
- canonical_url
- https://medium.com/@sidik.berjejak/pertama-92be7e14933d
- author_url
- https://medium.com/@sidik.berjejak
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-13 08:49:10