Gigi Dewasa
#26_Cuma mau ngucapin “Selamat Datang” aja
Gigi Dewasa
26_Cuma mau ngucapin “Selamat Datang” aja
Photo by Colourblind Kevin on Unsplash
Skip aja, gak penting.
Salahkan Si Bos yang malah ngelantur gak jelas gini. Padahal, tulisan yang lebih serius dari kemaren-kemaren malah dianggurin. Dasar, Si Bos!
SALAH SATU materi pelajaran IPA di bangku SD yang masih saya ingat adalah soal jumlah gigi manusia. Saat itu, entah kelas berapa, buku paket yang saya baca menuliskan bahwa jumlah gigi pada orang dewasa adalah 32 buah. Sementara gigi pada anak-anak — yang disebut dengan gigi susu — hanya sebanyak 20 buah.
Pertanyaan pun sempat muncul di benak saya — yang masih polos dan suci: kok selisihnya bisa sebanyak itu, ya? Mau tumbuh di mana lagi gigi-gigi itu? Bukannya mulut ini udah full, mana ada tempat untuk gigi baru? Apalagi sampai 12 buah!
Waktu itu, di kepala saya yang masih versi “anak SD”, gak terpikirkan bahwa ukuran mulut manusia akan bertambah besar seiring bertambahnya usia. Wajar saya bingung. Kalau 12 gigi dewasa mau dipasang di ukuran mulut saat itu, ya jelas gak muat. Gak kebayang. Tapi, ya sudahlah, namanya juga anak kecil. Maklumi saja kepolosannya. Hehe.
Rasa penasaran saya tidak bertahan lama. Bermain boneka atau masak-masak tentu lebih menarik daripada memikirkan di mana kedua belas gigi itu akan tumbuh nanti. Pertanyaan itu pun lama-lama terlupakan, tertimbun hal-hal lain yang datang belakangan.
Sampai suatu hari, bertahun-tahun kemudian, celetukan seorang kawan mengingatkan kembali saya pada persoalan gigi itu. Ini terjadi ketika saya sudah duduk di bangku perkuliahan. Di sela-sela obrolan saya dan kawan-kawan, sebuah pertanyaan random cukup berhasil membuat saya terheran-heran.
“Eh, kalian sudah tumbuh gigi dewasa, belum?”
“Lah, gigi dewasa? Memangnya ada gigi dewasa yang belum tumbuh, ya?” protes saya.
Saya kira, di usia yang sudah lebih dua dasawarsa ini, ke-32 gigi seperti yang dikatakan buku IPA itu sudah tumbuh semua. Nyatanya …
“Ada lah,” jawab kawan saya penuh percaya diri. “Coba dah, cek gusi kalian yang paling belakang. Di situ ada bagian yang kosong, kan? Nah, itu tempat buat gigi dewasa tumbuh,” lanjutnya, sudah seperti guru IPA.
Para hadirin mangggut-manggut, baru tahu (atau cuma saya yang baru tahu? Entahlah). Dan benar saja, ketika saya cek, bagian itu memang masih kosong.
“Satu lagi, tumbuh gigi dewasa itu sakit, loh …” Kawan saya bicara lagi, dengan mimik yang makin serius. “Bisa sampai demam!” serunya, mirip seperti bocah yang baru sunat dan sengaja menakut-nakuti temannya yang belum disunat. Mentang-mentang dia sudah tumbuh gigi dewasa. Huh!
Namun, alih-alih takut, saya malah penasaran dan tertantang. Masa sih sampe segitunya? Sesakit itukah? Perasaan, dulu pas gigi copot, tumbuhnya biasa aja tuh, gak kerasa sakit, pikir saya.
Meski begitu, diam-diam saya menantikan momen itu tiba. Kalaupun benar rasanya menyakitkan, tak apa. Selain ingin membuktikan testimoni kawan saya, rasanya tak afdol saja. Umur sudah bisa dibilang dewasa, tapi gigi dewasa belum lengkap. Ternyata, secara biologis saya masih semi anak-anak, hehe …
Rasa penasaran saya akhirnya terjawab. Beberapa hari lalu, ada sesuatu yang sedikit mengganjal di gusi kanan atas saya, di bagian paling belakang. Ternyata, itu gigi dewasa! Gigi dewasa saya akhirnya benar-benar tumbuh. Saya memang tidak bisa melihatnya dengan jelas, tapi saya yakin, dia ada di sana. Masih sembunyi, masih malu-malu, dan masih berusaha memberontak lapisan gusi yang menutupinya.
Rasanya memang menyakitkan, tapi ada setitik rasa bangga yang menyelusup, “Aku sudah sah jadi orang dewasa!”
Agak absurd memang, tapi biarlah begitu. Toh, sampai di titik ini dan baik-baik saja, sebuah pencapaian juga, bukan? Anggap saja begitu.
Pada intinya, rasa sakit saat tumbuh gigi dewasa itu beneran ada. Entah, mungkin karena di tempat itu awalnya tidak ada apa-apa, tiba-tiba muncul sesuatu yang sekeras itu. Mau gak mau si gusi harus terbiasa. Dan, adaptasi dengan gigi baru ternyata juga butuh waktu.
Meski tidak sampai demam, tapi rasa sakit itu cukup berhasil mengurangi nafsu makan saya ketika berbuka, lebih-lebih ketika sahur. Mau buka mulut dan mengunyah saja malasnya minta ampun. Namun, rasa lapar dan dorongan untuk hifzh al-nafs lebih mendominasi. Maka, saya tetap makan, sambil sesekali meringis. Aww!
Beberapa hari berlalu. Rasa sakit itu cukup berkurang. Kehadiran “ si gigi dewasa” sudah mulai diterima. Saya lega.
Ah, tapi, tunggu dulu. Ini … baru gusi kanan-atas kan, ya? Masih ada tiga tempat yang kosong: kanan-bawah, kiri-atas, dan kiri-bawah. Buru-buru saya mengambil cermin, memastikan. Benar saja, tiga ujung gusi yang lain masih kosong. Itu artinya, masih ada tiga kali rasa sakit yang harus saya lewati, untuk jadi dewasa yang sesungguhnya.
Saya mendengus. Harus gini amat, ya, biar “dewasa”?
Urusan gigi aja mesti sakit-sakitan dulu. Apalagi urusan-urusan yang lainnya. Seribet itu. Seharusberjuang itu. Tapi, ya mau gimana lagi? Balik jadi anak kecil? Gak mungkin. Atau, loncat saja, langsung jadi lansia pikun? Ah, gak seru.
Ya udah siii, jalani aja. Nikmati rasa sakitnya. Besok-besok kan sembuh juga.

POV: Berdamai dengan rasa sakit
메타데이터
- post_id
- 92c07124e49f
- slug
- gigi-dewasa-92c07124e49f
- url
- https://medium.com/@lilisdurotunnafisah97/gigi-dewasa-92c07124e49f
- canonical_url
- https://medium.com/@lilisdurotunnafisah97/gigi-dewasa-92c07124e49f
- author_url
- https://medium.com/@lilisdurotunnafisah97
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-26 08:21:59