← Back to list

Dua Jenis Kebenaran

Disclaimer: tulisan ini sepenuhnya adalah opini dari saya, dan saat menulis tulisan ini saya menempatkan diri sebagai pengamat pola pikir…

Bagas Adam · 2022-10-06 20:37 · 0 claps · 7.0 min read
#kebenaran #alamiah #buatan #filsafat
Open on Medium ↗

Dua Jenis Kebenaran

Disclaimer: tulisan ini sepenuhnya adalah opini dari saya, dan saat menulis tulisan ini saya menempatkan diri sebagai pengamat pola pikir logis masyarakat Indonesia pada umumnya, bukan sebagai pelaku maupun korban dari pola pikir ini.

Apa itu kebenaran? Kebenaran adalah kata yang mungkin bagi saya selalu dilekatkan pada sesuatu hal yang suci atau sakral, terkadang juga menjadi alasan untuk menjatuhkan hukuman oleh manusia kepada manusia lain. Nyatanya, kebenaran ini sangat abstrak dan tidak berbentuk. Bahkan dalam suatu kelompok orang yang bernaung pada ‘kebenaran sejati’ terkadang sering melekuk-lekukkan kebenaran itu dengan berbagai alasan. Misalkan, pada masyarakat kita, adab yang benar untuk menyantap makanan adalah dengan menggunakan tangan kanan, dan hal yang tidak benar adalah dengan menggunakan tangan kiri. Namun, pada beberapa kondisi tertentu akan terjadi proses makan menggunakan tangan kiri, entah karena tangan kanan yang sakit, kelumpuhan, amputasi, ataupun mungkin karena beberapa kondisi lain yang menyebabkan terhambatnya tangan kanan untuk digunakan sebagai alat makan. Hal semacam ini perlu kita fikirkan, apakah memaafkan seseorang untuk makan menggunakan tangan kiri sah untuk dilakukan? lalu lebih ekstrim lagi, lantas apakah setiap kebenaran perlu dibelokkan untuk kepentingan manusia, dan siapakah yang menentukan benar atau tidaknya sesuatu? Sebelum membahas mengenai kebenaran, kita perlu memahami bahwa kebenaran, secara hakikatnya dibagi menjadi dua.

Kebenaran Alamiah (Natural Truth) Kebenaran alamiah adalah kebenaran yang ada di alam. Kebenaran ini tidak terusik oleh manusia, dan merupakan sistem alamiah dari alam semesta. Sebagian orang menganggap kebenaran alamiah sebagai kebenaran universal. Manusia hanya bisa menyimpulkan dan menebak-nebak bagaimana alam bekerja, namun tidak akan pernah bisa mencapai kebenaran tersebut 100%. Seperti halnya hakekat ilmu pengetahuan yang hanya dapat mendekati kebenaran alam, bukan mencapai kebenaran alam.

Contoh premis: Semua atom secara efisien akan bergerak mendekati inti atom lain yang lebih berat, sehingga bumi secara relatif berbentuk bulat.

Bentuk bumi menjadi perdebatan umat manusia selama hampir setengah milenium. Dahulu, bentuk bumi dipercaya sebagai sebuah lembaran, datar. Kepercayaan ini terawetkan dalam berbagai literatur budaya maupun agama, dan berhasil diteruskan dari generasi ke generasi. Bagi para pemeluknya, bumi ini memanglah datar, dengan berbagai alasan non-saintifik, yang tentunya tidak pernah teruji benar dengan metodologi sains. Namun demikian, seiring perkembangan ilmu pengetahuan, saat ini kita telah dapat menyimpulkan bahwa bumi berbentuk bulat, dengan memperhatikan hukum-hukum alam, dan pola-pola alami di alam semesta. Kita dapat menentukan bentuk bulat bumi dengan pendekatan fisika dan astronomi. Bahkan orang bodoh di abad ini dapat memahami, bagaimana mungkin bumi, salah satu dari 8 planet di galaksi Bimasakti, memiliki bentuk datar, sementara tujuh lainnya berbentuk bola. Bahkan bulan dan matahari pun berbentuk bola. Hal ini pun disokong oleh fisika kuantum, bahwa atom-atom saling tarik menarik dan mendekat pada masa yang atom yang lebih berat. Karena sifat itulah, setiap atom yang tertarik akan mencari jarak terdekat dengan inti atom yang lebih besar sehingga akan membentuk bola. Meskipun ilmu pengetahuan memang tidak akan pernah dapat mencapai kebenaran alami, dan hanya dapat mendekatinya saja, namun konsep bumi bulat adalah pendekatan yang paling dekat terhadap kebenaran alamiah mengenai bentuk bumi daripada konsep bumi datar.

Namun demikian, terlepas dari percekcokan selama berabad-abad mengenai bentuk bumi ini, sebenarnya bumi pun tidak akan berubah bentuknya, meskipun seluruh umat manusia menganggap bentuknya datar, bola, maupun piramida sekalipun. Bentuk bumi tidak akan pernah terpengaruh oleh opini manusia.

Kebenaran alamiah adalah kebenaran alam yang tidak akan berubah oleh manusia. Meskipun suatu saat mungkin saja, dengan pengetahuan dan sumberdaya yang telah dikumpulkan manusia, bentuk bumi diubah oleh manusia, misalkan menjadi bentuk spiral, namun tentu saja hal tersebut sangat tidak efisien dan membuang banyak sumber daya. Sayangnya, bumi spiral hanya akan terjadi dengan bantuan ilmu pengetahuan.

Kebenaran Buatan (Artificial Truth) Kebenaran buatan adalah kebenaran yang hadir dari pikiran manusia. Kebenaran ini bersifat subjektif, sehingga setiap orang mungkin memiliki definisi kebenaran yang berbeda-beda. Suatu fakta atau realitas dapat memiliki nilai kebenaran yang berbeda, tergantung pada siapa yang mengamatinya. Terkadang, kebenaran buatan ini tidak selalu berkaitan dengan sesuatu yang berwujud fisik, namun juga dapat melekat pada suatu ide, gagasan, fenomena, ataupun bentuk-bentuk pikiran lainnya.

Contoh premis: Membunuh manusia adalah tindakan keji, menghilangkan nyawa manusia adalah hal yang harus dihindari.

Sebagian orang mempercayai bahwa membunuh manusia adalah hal yang buruk, dan terkadang dianggap sebagai hukum paling universal dimana tidak mungkin ada manusia lain yang menolak, dengan dalih tiada manusia di bumi ini yang ingin dibunuh. Mungkin anda juga berfikir demikian. Maka, larangan untuk membunuh manusia adalah suatu kebenaran. Namun, pernahkan anda berfikir bahwa, membunuh manusia itu juga diperlukan. Bagaimana bisa suatu negara dapat bertahan dari serangan negara lain, apabila militernya tidak membunuh musuh. Tentu saja hal ini memunculkan banyak perdebatan, namun bukankah bagi para tentara di medan perang, membunuh adalah suatu hal yang dibenarkan? Maka dari itu, membunuh manusia pun adalah suatu kebenaran. Dari sini anda dapat melihat bahwa, kebenaran tentang membunuh manusia pun secara sederhana dapat bercabang menjadi benar dan tidak benar, bagaimana dengan hal-hal lain disekitar kita yang lebih kompleks, ataupun hal-hal sederhana yang kita hadapi setiap hari?

Kebenaran buatan ini, apabila dipercayai oleh suatu kelompok baik kecil maupun besar, sering disebut dengan kebenaran komunal (communal truth). Biasanya, beberapa orang menempatkan kebenaran komunal pada jenis kebenaran ke-3, namun saya pribadi lebih nyaman menempatkan kebenaran komunal ini sebagai cabang dari kebenaran buatan yang personal. Mengapa demikian? karena baik dipercaya oleh seseorang maupun kelompok, kebenaran buatan didasarkan pada hasil khayal manusia. Kebenaran komunal biasanya memuat mengenai kepercayaan terhadap suatu kebenaran buatan yang disetujui oleh kelompok manusia. Kebenaran komunal ini biasanya menciptakan pemikiran komunal, kebiasaan komunal, budaya komunal, bahkan hingga menciptakan hukum komunal. Dalam hal ini, tiap kelompok manusia dapat melahirkan kebenaran komunal mereka masing-masing. Kebenaran komunal tiap kelompok manusia bisa jadi memiliki kesamaan satu sama lain, atau jelas berbeda satu sama lain.

Kebenaran komunal ini lebih kompleks daripada kebenaran buatan yang terkesan berurusan pada individu seseorang saja. Kebenaran komunal dapat tercipta dari berbagai proses. Bisa jadi seseorang menyebarkan hasil pikirnya tentang kebenarannya kepada suatu kelompok, yang lalu kebenaran itu diakui oleh kelompok tersebut. Bisa jadi juga ketika suatu kelompok mengalami suatu hal yang sama, kemudian dari kejadian tersebut mereka menemukan ataupun merumuskan suatu kebenaran kolektif. Banyak kemungkinan penyebab terciptanya kebenaran komunal, apalagi tiap individu dalam kelompok tersebut bisa jadi memiliki gagasan yang berbeda dan terus berkembang mengenai kebenaran komunal kelompok tersebut itu sendiri.

Contoh kasus 1: Suku A percaya bahwa dewa hujan paling berperan dalam menumbuhkan padi. Suku B lebih percaya bahwa dewa tanah lah yang paling berperan dalam menumbuhkan padi. Sementara Suku C percaya bahwa dewi padi lah yang paling berperan dalam menumbuhkan padi.

Dari ketiga kasus tersebut, bagi tiap suku apa yang mereka percayai menjadi kebenaran komunal bagi suku mereka masing-masing, dengan hubungan yang saling menolak mengenai dewa atau dewi mana yang paling berperan dalam menumbuhkan padi. Namun demikian, ketiganya memiliki kesamaan dalam kepercayaan bahwa ada sosok yang berkuasa yang berperan dalam penumbuhan padi.

Contoh kasus 2: Kelompok saintis A percaya bahwa perubahan iklim terjadi karena proses alamiah, dan manusia adalah katalis laju perubahan iklim tersebut. Kelompok saintis B percaya bahwa peubahan iklim adalah proses alamiah, dan merupakan siklus alami bumi selama seratus tahun.

Anda mungkin terkejut bahwa ada perdebatan dalam ilmu sains, yang mana berusaha untuk mendekati kebenaran alamiah. Namun perlu juga diingat bahwa sains itu sendiri merupakan hasil dari pengamatan manusia, sehingga ilmu sains itu sendiri merupakan kebenaran buatan yang berusaha mendekati kebenaran alamiah. Dalam contoh kasus ini, untuk mengetahui mana yang lebih mendekati kebenaran alamiah, dibutuhkan uji metodologi berfikir atau cara-cara berfikir sehingga dapat mempercayai suatu kebenaran tersebut. Yang lebih masuk akal, dianggap lebih benar.

Kebenaran Alamiah VS Kebenaran Buatan Pada dasarnya, kebenaran alamiah ini terlalu jauh untuk digapai sepenuhnya oleh manusia, namun, dalam rangka untuk memahami kebenaran alamiah, manusia menciptakan alur-alur berfikir yang dianggap teruji, sehingga manusia dapat lebih menggapai sedekat mungkin terhadap kebenaran alamiah. Namun demikian, nyatanya, dalam rangka mendekati kebenaran alamiah tersebut, manusia membatasi dan menganalisa segala sesuatunya dengan batasan-batasan, logika-logika, proses-proses berfikir yang merupakan bagian dari kebenaran buatan. Sehingga menurut saya, apapun hal yang ditemukan manusia, merupakan hasil dari kebenaran buatan manusia sendiri. Namun terlalu naif pula apabila kita hanya menganggap bahwa dunia ini bukan realita, sehingga kita bertanya-tanya, apakah dunia ini nyata atau tidak nyata? Dengan begitu, kebenaran alamiah yang memuat fenomena-fenomena alamiah, benda-benda alamiah, proses-proses alamiah dapat digunakan untuk menguji kebenaran buatan.

Contoh 1: Sebagian orang percaya bahwa tidak akan ada suatu makhluk hidup yang mampu bertahan hidup di area yang sangat panas, karena makhluk hidup itu pasti akan terbakar.

Faktanya, terdapat makhluk hidup yang dapat tinggal dan berkembang biak di area yang sangat panas, misalkan saja beberapa bakteri thermophilia.

Contoh 2: Sebagian orang percaya bahwa bencana banjir terjadi karena tingkah laku manusia disekitar sungai yang suka melakukan kejahatan, sehingga manusia-manusia tersebut diberi ganjaran oleh alam atas perbuatannya tersebut.

Hal ini bisa jadi benar, tergantung bagaimana kejahatan itu didefinisikan. Apabila menebang hutan di sekitar sungai dianggap sebagai hal jahat, maka memang benarlah bahwa banjir yang melanda manusia di sekitar sungai itu merupakan ganjaran dari alam, yang terjadi akibat hilangnya resapan air di sekitar sungai.

Kesimpulan Pada akhirnya, kesimpulan saya kembalikan pada pembaca. Namun, menurut saya, kebenaran alamiah dan kebenaran buatan ini tidak dapat dipisahkan, keduanya saling mengontrol satu sama lain. Dua kebenaran ini sering ditabrakkan, sebagian orang hanya mempercayai kebenaran alamiah yang tidak akan pernah bisa dijangkau manusia, dan sebagian orang hanya mempercayai kebenaran buatan. Hal seperti itu hanya akan menimbulkan permasalahan. Keduanya penting untuk diletakkan dalam alam pikir kita, namun kita tetap harus dapat memilah keduanya.

NB: semua gambar tidak diketahui lisensinya, apabila ada pihak yang keberatan, mohon beritahu saya untuk mencopotnya dari artikel ini.


메타데이터
post_id
92e080662b60
slug
dua-jenis-kebenaran-92e080662b60
url
https://medium.com/@kakreyhanu/dua-jenis-kebenaran-92e080662b60
canonical_url
https://medium.com/@kakreyhanu/dua-jenis-kebenaran-92e080662b60
author_url
https://medium.com/@kakreyhanu
status
ok
fetched_at
2026-07-26 14:24:40