Pancasila di Ujung Jari, Etika di Ujung Tanduk
Perkembangan teknologi memang membuat hidup manusia jadi lebih mudah. Semua hal sekarang bisa dilakukan lewat handphone, mulai dari…
Pancasila di Ujung Jari, Etika di Ujung Tanduk
Perkembangan teknologi memang membuat hidup manusia jadi lebih mudah. Semua hal sekarang bisa dilakukan lewat handphone, mulai dari belajar, belanja, mencari hiburan, sampai berkomunikasi dengan orang lain. Media sosial juga sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, terutama bagi anak muda. Namun di balik kemajuan tersebut, ada satu hal yang perlahan mulai hilang, yaitu etika.
Sekarang ini, orang semakin gampang menghina, menghakimi, bahkan menyerang orang lain hanya karena berbeda pendapat. Kolom komentar media sosial sering dipenuhi kata-kata kasar, ejekan, dan ujaran kebencian. Sehingga banyak orang merasa bebas bicara apa saja karena tidak bertatap muka secara langsung. Padahal kenyataanya apa yang ditulis di media sosial tetap bisa menyakiti orang lain.
Fenomena seperti ini sebenarnya menunjukkan bahwa masyarakat mulai melupakan nilai-nilai Pancasila. Selama ini Pancasila hanya dianggap sebagai hafalan yang dipelajari saat sekolah dan tidak sedikit juga orang yang bisa menyebutkan lima sila dengan lancar, tetapi penerapannya dalam kehidupan sehari-hari justru semakin jarang terlihat. Padahal, Pancasila bukan hanya dasar negara, melainkan juga pedoman bersikap dan berperilaku.
Kalau diperhatikan, hampir semua masalah sosial yang terjadi sekarang berkaitan dengan hilangnya nilai Pancasila, contohnya saja bullying. Kasus perundungan sekarang tidak hanya terjadi di sekolah, tetapi juga di media sosial. Banyak orang dengan sengaja membuat komentar yang merendahkan fisik, menghina penampilan, bahkan menjadikan penderitaan orang lain sebagai bahan candaan. Ironisnya, hal seperti itu sering dianggap normal dan banyak juga yang fomo. Padahal, tindakan tersebut jelas bertentangan dengan sila kedua, yaitu “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab”. Dalam sila itu diajarkan bahwa setiap manusia harus diperlakukan dengan baik dan saling menghargai. Kalau nilai itu benar-benar diterapkan, seharusnya masyarakat bisa lebih menjaga ucapan dan memahami perasaan orang lain.
Selain bullying, penyebaran hoaks juga menjadi masalah besar di era digital. Banyak orang langsung percaya dan menyebarkan informasi tanpa mencari tahu apakah berita tersebut benar atau tidak. Akibatnya, muncul fitnah, perpecahan, bahkan permusuhan antarmasyarakat. Pada akhirnya akan banyak orang yang saling membenci hanya karena terpengaruh informasi palsu di internet tanpa tahu kebenarannya.
Bukankah hal tersebut bertentangan dengan sila ketiga, yaitu “Persatuan Indonesia”? Tentu saja bertentangan. Seharusnya media sosial bisa digunakan untuk mempererat hubungan antarwarga, bukan malah. menjadi tempat menyebarkan kebencian. Sayangnya, sekarang banyak orang lebih suka memperkeruh suasana demi konten dan popularitas semata.
Kemudian masalah lainnya adalah semakin hilangnya sikap menghargai pendapat orang lain. Lihat saja kenyataanya, disaat ada seseorang yang mengeluarkan pendapat yang berbeda, banyak orang langsung emosi dan merasa paling benar. Perdebatan di media sosial sering berubah menjadi ajang saling hina, bukan diskusi yang sehat. Padahal, dalam kehidupan demokrasi, perbedaan pendapat adalah hal yang wajar.
Sila keempat sebenarnya sudah mengajarkan pentingnya musyawarah dan menghargai pendapat orang lain. Namun kenyataannya, masih banyak orang yang belum bisa menerima perbedaan dengan dewasa. Sedikit-sedikit tersinggung, sedikit-sedikit menyerang orang lain. Kalau terus seperti ini, rasa persatuan dalam masyarakat bisa semakin hilang.
Tidak hanya itu, masalah korupsi juga menjadi bukti bahwa nilai Pancasila belum benar-benar diterapkan. Banyak pejabat yang seharusnya bekerja untuk rakyat justru menyalahgunakan jabatan demi keuntungan pribadi. Akibatnya, masyarakat kecil yang menjadi korban. Padahal, sila kelima mengajarkan tentang keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Menurut saya, masalah terbesar saat ini bukan karena Pancasila sudah tidak relevan, melainkan karena banyak orang hanya menjadikannya sebagai simbol dan formalitas. Pancasila dihafal saat upacara atau ujian saja, tetapi tidak diterapkan dalam kehidupan nyata. Akibatnya, moral masyarakat perlahan menurun. Oleh karena itu generasi muda punya peran penting untuk memperbaiki keadaan ini. Anak muda sekarang hidup berdampingan dengan teknologi setiap hari, jadi mereka juga punya tanggung jawab untuk menggunakan media sosial dengan bijak. Hal sederhana seperti tidak menyebarkan hoaks, menjaga ucapan di internet, dan menghargai statement orang lain sebenarnya sudah termasuk bentuk penerapan Pancasila.
Selain itu, pendidikan tentang Pancasila juga seharusnya tidak hanya fokus pada teori dan hafalan. Siswa/i perlu diajarkan bagaimana cara menerapkan nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, karena kan percuma kalau hafal lima sila, tetapi masih suka menghina orang lain, menyebarkan kebencian, atau tidak peduli terhadap sesama. Kita semua tau bahwa di tengah perkembangan zaman yang semakin modern, masyarakat memang dituntut untuk mengikuti teknologi. Namun kemajuan teknologi seharusnya tidak membuat manusia kehilangan etika dan rasa kemanusiaan. Justru di era digital seperti sekarang, nilai-nilai Pancasila semakin dibutuhkan agar masyarakat tidak mudah terpecah dan tetap memiliki rasa saling menghormati.
Indonesia bisa saja maju secara digital, tetapi kalau masyarakatnya kehilangan etika, maka nilai kemanusiaan perlahan juga akan hilang. Karena pada akhirnya, kemajuan sebuah bangsa bukan hanya dilihat dari teknologi yang dimiliki, tetapi juga dari sikap dan moral masyarakatnya.
메타데이터
- post_id
- 92eebdbdb1a1
- slug
- pancasila-di-ujung-jari-etika-di-ujung-tanduk-92eebdbdb1a1
- url
- https://medium.com/@nataverazefa/pancasila-di-ujung-jari-etika-di-ujung-tanduk-92eebdbdb1a1
- canonical_url
- https://medium.com/@nataverazefa/pancasila-di-ujung-jari-etika-di-ujung-tanduk-92eebdbdb1a1
- author_url
- https://medium.com/@nataverazefa
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-23 17:05:31