Ku Tunggu Kau di Telaga
Pernahkah kita membayangkan matahari yang begitu terik, dimana matahari bukan lagi benda langit yang jauh, melainkan bola api yang yang…
Ku Tunggu Kau di Telaga

Pernahkah kita membayangkan matahari yang begitu terik, dimana matahari bukan lagi benda langit yang jauh, melainkan bola api yang yang digantung tepat hanya sejengkal diatas kepala kita? Pada hari itu di muka bumi, tanah bukan lagi tempat ternyaman kita untuk berpijak, melainkan seperti hamparan perak panas yang sangat amat panas tanpa sebuah naungan apapun. Tidak ada pohon, tidak ada gedung, atau bahkan hanya tempat untuk berteduh.
Itulah Padang Mahsyar. Hari ketika keringat manusia menenggelamkan tubuh mereka sendiri sesuai dengan kadar dosa. Ada yang keringatnya sampai kaki, sepinggang, bahkan ada yang tenggelam dalam peluh ketakutannya sendiri. Tenggorokan terasa kering kerontang, seolah pasir gurun menyumbat napas. Rasa haus di hari itu bukanlah haus biasa, ia adalah dahaga ribuan tahun yang menyiksa jiwa.
Di tengah kekalutan massal itu, setiap insan berkata “Nafsi, nafsi…” (Selamatkan diriku, selamatkan diriku), justru di waktu yang bersamaan ada sosok yang justru sangat gelisah mencari orang lain. Wajahnya cemas, yang menggambarkan kekhawatiran, namun penuh kasih. Matanya yang indah menyapu lautan manusia yang tak bertepi.
Siapakah manusia tersebut? Dialah Muhammad shallalahu ‘alaihi wa sallam. Ayah bagi ruh kita, seseorang yang secara tidak langsung mengajarkan kita arti dari sebuah cinta yang tak pernah memandang. Kekasih yang cintanya melampaui batas waktu…
Dia tidak sedang memikirkan istananya di surga. Dia tidak sedang memikirkan bidadari surga. Dia tidak sedang memikirkan kenikmatan-kenikmatan surga. Dia hanya berdiri tegak di tepian sebuah telaga yang agung yaitu telaga Al-Kautsar.
Diriwayatkan, telaga Al-Kautsar luasnya sejauh perjalanan sebulan. Airnya lebih putih dari susu, lebih sejuk dari salju, lebih manis dari madu, dan wanginya lebih harum dari minyak kasturi. Di sekelilingnya, bertebaran cawan-cawan emas emas dan perak yang jumlahnya sebanyak bintang gemintang di langit malam yang cerah. Dan seseorang yang meminum dari cawan indah tersebut tidak akan pernah merasakan yang namanya haus selama-lamanya.
Lantas siapakah yang beliau tunggu? Bukan para raja, bukan para saudagar kaya, bukan para penguasa, bukan orang-orang yang terkenal. Beliau menunggumu.. Beliau menunggu kita… umatnya yang penuh dosa ini. Bayangkan beliau berseru dengan yang suara yang lembut tetapi tegas, “Kemarilah! Kemarilah wahai umatku!”. Namun, bagaimana beliau mengenali kita? Bukankah beliau tidak pernah melihat kita, ataupun sebaliknya. Karna kita hidup ribuan tahun setelah kepergiannya.
Beliau pernah bersabda: “Aku akan mengenali mereka dari bekas air wudhu yang bercahaya di wajah, tangan, dan kaki mereka”.
Beliau akan melihat cahaya itu. Cahaya dari keningmu yang sering bersujud di sepertiga malam. Cahaya dari tanganmu yang bergetar menahan dinginnya air di waktu subuh. Cahaya yang menghapuskan make-up duniamu. Beliau akan tersenyum melihat cahaya itu, lalu melambaikan tangan dan memanggilmu untuk mendekat, isyaratnya :
“Minumlah dari tanganku, agar engkau tidak akan pernah merasakan haus lagi selamanya”.
Maka, pantaskah kita membiarkan beliau menunggu seorang diri, sementara kita disini sibuk menukar sunnahnya dengan trend dunia? Pantaskah kita mengharap tegukan air dari tangan mulianya, sementara lisan kita enggan mengucap nama yang begitu mulia? yaitu nama Muhammad shallalahu ‘alaihi wa sallam.
Karena sungguh, tidak ada pertemuan yang lebih indah selain pertemuan di tepian telaga itu. Dimana lelah dunia yang kita rasakan saat ini akan terhapus dan bisa menatap wajah yang sangat elok tersebut, lalu seperti berbisik lirih:
“Ya Rasulullah, kami datang. Maafkan kami yang datang terlambat. Maafkan kami yang datang dengan membawa banyak dosa. Namun inilah kami, yang kau sebut-sebut saat detik-detik kepergianmu. Namun inilah kami, yang berusaha mencontoh secuil dari luasnya tata cara kehidupanmu. Namun inilah kami, umat yang engkau rindukan, yang pula sangat merindukanmu…”
메타데이터
- post_id
- 93cc4edafd0a
- slug
- ku-tunggu-kau-di-telaga-93cc4edafd0a
- url
- https://medium.com/@hariaguswidakdo/ku-tunggu-kau-di-telaga-93cc4edafd0a
- canonical_url
- https://medium.com/@hariaguswidakdo/ku-tunggu-kau-di-telaga-93cc4edafd0a
- author_url
- https://medium.com/@hariaguswidakdo
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-14 19:39:34