Adu Fisik Antar Negara
#175: Ulasan Physical: Asia (2025)
Adu Fisik Antar Negara
#175: Ulasan Physical: Asia (2025)

Poster Physical: Asia dari IMDb
“Korea Selatan seperti sedang menantang atletnya dengan atlet dari negara lain.” Kalimat itu muncul dalam pikiran setelah menyelesaikan Physical: Asia 24 November lalu. Sebuah tontonan yang cukup menghibur sekaligus menegangkan. Ini bukan cerita horor, bahkan tidak ada naskah sama sekali, tapi sebuah dokumentasi, lebih tepatnya reality show, untuk mengukur kekuatan manusia.
Saya menantikannya sejak Fina Phillipe menjadi bintang tamu di Podhub. Mendengar nama Indonesia menjadi bagian dari suatu acara yang terdengar megah memantik rasa penasaran.
Begitu tayangannya rilis di Netflix, tanpa menonton musim-musim sebelumnya — Physical 100 — saya langsung menonton Physical: Asia. Baru setelah selesai, saya menyempatkan mengintip beberapa bagian dari musim pertama dan kedua. Ternyata tekanan dan tegangan yang dirasakan sangat berbeda ketika beraksi sebagai individu dengan kelompok.
Physical: Asia, yang menjadi musim ketiga acara ini sekaligus musim pertama kompetisi tim, berhasil membuat saya meremas sesuatu yang ada di sekitar. Dari satu permainan ke permainan memberikan sensasi berdebar yang makin intens. Menonton dari layar saja sudah terasa, apalagi mereka yang bermain langsung di arena.
Setiap anggota yang melakukan kegagalan tidak hanya berdampak pada diri mereka, tapi juga seluruh anggota tim. Kegagalan benar-benar menjadi pisau bermata dua, sebab peluang untuk melanjutkan ke babak berikutnya hampir tidak ada jika mengalami kekalahan besar. Jika gagal dan tidak bangkit, sudah pasti menimbulkan perasaan sebagai beban tim, tapi jika gagal dan bersedia bangkit, itu bisa menjadi dorongan kuat pada permainan berikutnya.
Semua tim berpeluang melakukan kegagalan, termasuk tim dengan komposisi terkuat. Kalau menonton langsung, mungkin pilihan tim terkuat kita bisa sama dengan memperhatikan latar belakang, penampilan fisik, dan aksi mereka di layar kaca. Namun, kesalahan mereka sebagai tim terkuat terjadi pada permainan yang cukup menggiurkan.
Pada permainan itu, tim dengan posisi pertama dijanjikan langsung lolos ke babak selanjutnya tanpa mengikuti permainan lain di babak itu. Tentu itu sangat menggiurkan, apalagi dengan beratnya rintangan yang telah mereka lalui. Semua berusaha mengerahkan anggota terbaik demi imbalan tersebut, tapi begitulah, tim terkuat versi saya gagal dan tereliminasi di babak ini.
Oh iya, hampir lupa, peserta acara ini terdiri dari delapan tim dari delapan negara, yaitu Indonesia, Korea Selatan, Mongolia, Australia, Thailand, Filipina, Jepang, dan Turki. Saya sebutkan anggota dari tim Indonesia saja, ada I Gede Dharma Susila (Igedz Executioner), Marcus Fernaldi Gideon, Fina Phillipe, Glenn Victor, Jeremiah Lakhwani, Maria Selena, dan Isai Kesek.
Dalam satu tim terdiri dari enam orang, tapi boleh mengganti anggota tim. Contohnya, Tim Indonesia sempat mengganti M. F. Gideo dengan Isai Kesek dan bermain.
Komposisi anggota bukan satu-satunya faktor keberhasilan dalam acara ini. Strategi dan pemilihan anggota yang mewakili suatu permainan juga sangat penting. Peserta tidak mengetahui keseluruhan permainannya hanya dengan mengandalkan penjelasan di awal setiap permainan. Ada terlalu banyak variabel tidak terduga yang bisa terjadi.
Kondisi fisik dan mental kontestan benar-benar sulit ditebak. Komposisi anggota yang kuat tidak selalu menguntungkan. Ada permainan yang menguntungkan satu tim tertentu, tapi juga merugikan satu tim lainnya, Setiap tim memiliki jenis permainan yang menjadi bidang terbaik mereka sehingga cukup sulit menebak pemenang akhir dari acara ini — setidaknya bagi saya.
Pemenang kontes akan mendapatkan hadiah uang tunai sebesar 1 miliar Won atau setara Rp 11.590.300.000 berdasarkan nilai kurs Won ke Rupiah tanggal 28 Oktober 2025, saat serialnya rilis.

Tangkapan layar pribadi dari Wise.com
Jujur, setelah melihat permainan pertama, muncul keraguan bahwa Indonesia akan bertahan lama dalam permainan. Bukan karena tim kita lemah, tapi memang tim lawan yang tergolong lebih kuat dari tim kita. Latar belakang anggota tim-tim lawan ada yang juara bela diri, strong man, mantan atlet UFC kelas menengah, atlet parkour, juara sie reum, pemenang Physical 100, dan lainnya.
Meski demikian, tim Indonesia sudah mengerahkan kemampuan terbaik masing-masing. Pada laga tambahan, ketika menentukan tim yang akan tereliminasi, satu kesalahan fatal dilakukan oleh Jeremiah Lakhwani. Saat itu Jepang menjadi lawan tim Indonesia dan lawan dari Jeremiah adalah Yushin Okami, seorang atlet MMA, lawannya terlalu tangguh.
Harus diakui, penampilan Fina Phillipe di permainan ini sangat memukau. Rasa kesalnya ketika anggota timnya terluka membakar semangatnya, meski melawan pria bertubuh besar, Yoshio Itoi — pemain baseball — cengkramannya sangat kuat untuk menahan bola.
Sejak awal, tim Indonesia menjadi tim yang paling diremehkan. Hampir semua tim memandang tim Indonesia sebagai senjata aman menuju babak berikutnya. Itulah alasan tim Turki langsung memilih Indonesia sebagai lawan ketika mendapatkan keuntungan memilih lawan. Sad, but it’s true.
Setelah beralih ke babak-babak berikutnya, sejujurnya saya pun ragu tim kita akan mampu bertahan. Tantangan-tantangannya terlalu berat, bahkan sejak babak pertama. Ketahanan fisik, stamina, strategi, pengalaman, dan lainnya masih perlu banyak diasah dan dikembangkan lagi. Bisa dikatakan, ajang ini adalah peluang untuk mengukur batasan masing-masing individu sebagai bahan evaluasi. Ini jelas menjadi pengalaman berharga bagi setiap kontestan.
Yang menyenangkan dari acara ini bagi saya adalah keunikan masing-masing tim menyelesaikan tantangan. Tiap tim punya cara berbeda menanggapi satu tantangan yang sama. Bagaimana mereka menentukan pilihan, urutan, atau memutuskan sesuatu menjadi ruang belajar bagi kita dalam menyelesaikan suatu masalah tertentu. Ini referensi belajar yang menarik secara tidak langsung.
Meski sedih menyaksikan tim negara sendiri tidak mencapai akhir, acara ini tetap layak dituntaskan hingga akhir. Tayangannya tidak punya naskah sama sekali, dibuat serealistis mungkin, lalu disusun dengan memuaskan oleh tim produksi, tapi saya puas dengan hasil akhirnya. Benar-benar sebuah pertarungan yang adil dari setiap tim.
메타데이터
- post_id
- 94513fc471df
- slug
- adu-fisik-antar-negara-94513fc471df
- url
- https://medium.com/maratonton/adu-fisik-antar-negara-94513fc471df
- canonical_url
- https://medium.com/maratonton/adu-fisik-antar-negara-94513fc471df
- author_url
- https://medium.com/@frdi
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-10 08:17:25