← Back to list

(Masih) Mendengarkan Musik Baru di Usia 36 Tahun

Rasanya hampir setiap Jumat pagi, hal pertama yang kulakukan adalah membuka Spotify untuk mengecek ada rilisan baru apa saja di hari ini…

Rizkywagyu · 2026-06-24 06:30 · 0 claps · 3.2 min read
#music #popular-culture #popular-science #pschology #personal-story
Open on Medium ↗
Wiki topics: CUL · Culture & Media 🔬 · Science · General 🎵 · Music & Audio

(Masih) Mendengarkan Musik Baru di Usia 36 Tahun

Kumpulan Rilisan yang Sudah Kudengarkan Sejak Pertengahan 2000-an

Kumpulan Rilisan yang Sudah Kudengarkan Sejak Pertengahan 2000-an

Rasanya hampir setiap Jumat pagi, hal pertama yang kulakukan adalah membuka Spotify untuk mengecek ada rilisan baru apa saja di hari ini. Tak berlebihan jika disebut bahwa hari Jumat merupakan hari yang kuanggap cukup spesial, bukan karena pada hari itu adalah waktu bagi pria muslim sepertiku untuk melaksanakan ibadah salat Jumat, namun karena Jumat adalah waktu bagi banyak musisi untuk merilis lagu atau album terbaru mereka.

Pada hari itu bisa kutemui musisi yang baru kudengarkan dan memiliki lagu yang mengejutkannya sangat kusuka atau mungkin band kesukaan yang merilis album baru yang mengecewakan. Tentu saja, beberapa band atau musisi kesukaan masih merilis musik yang masih tetap kusukai walau sejumlah media dan kritikus menyebut rilisan terbaru tersebut cukup buruk atau juga band baru yang sedang naik daun namun musiknya tidak kusukai.

Mencari musik baru di hari Jumat sudah menjadi rutinitasku selama hampir sepuluh tahun ini bahkan sebelum kumulai berlangganan layanan musik secara streaming. Di masa lalu, aku melakukannya dengan berselancar di berbagai forum-forum di internet mencari link bajakan rilisan lagu dan bisa men-download banyak album dalam satu hari itu yang biasanya juga tidak semua bisa kudengarkan. Aku mengira bahwa seiring bertambahnya waktu, aku akan semakin malas mencari musik baru, ternyata kenikmatan itu masih kurasakan hingga saat ini. Perasaan excited yang aku rasakan ketika mendengar album Bambi dari Anxious pada 2025 lalu terasa sama seperti ketika mendengarkan album Everything in Transit dari Jack’s Mannequin pada 2005 lalu ketika aku masih SMA. Selisih 20 tahun dan ternyata api rasa penasaran dan perasaaan gembira mendengar hal baru masih kurasakan.

Banyak teman-temanku sudah tidak lagi merasakan hal yang sama. Mereka yang dulu sama-sama berburu rilisan baru kini lebih sering memutar lagu-lagu yang sudah akrab bertahun-tahun, seolah playlist mereka membeku di suatu titik dan enggan bergerak. Bukan berarti mereka berhenti menikmati musik, tapi rasa ingin tahu itu seperti perlahan padam. Banyak yang merasa sudah tidak relate dengan musisi-musisi baru, bahkan kadang dengan album terbaru dari band yang dulu mereka cintai sendiri. Secara psikologi Krumhansl & Zupnick menyebut kecenderungan ini sebagai reminiscence bump, yakni tarikan emosional yang kuat ke arah lagu-lagu dari masa remaja hingga awal dua puluhan, ketika identitas masih terbentuk dan setiap pengalaman terasa lebih intens dari yang seharusnya.

Musik dari periode masa muda kita memang bukan sekadar kumpulan nada yang kita sukai. Ia menempel pada momen-momen tertentu: perjalanan pulang sekolah, malam begadang sebelum ujian, atau bahkan patah hati pertama yang waktu itu terasa seperti akhir dunia. Mendengarnya kembali bukan hanya soal selera, melainkan juga sebagai mesin waktu yang membawa kita pulang kembali ke masa itu. Aku pun merasakan tarikan yang sama ketika memutar ulang lagu-lagu dari masa SMA. Bedanya, ingatan-ingatan baru juga masih terus terbentuk dari lagu-lagu yang baru kudengar belakangan. Ingatan perjalanan ke Yogyakarta di masa SMP ketika mendengar lagu Hampa dari Ari Lasso bisa sama kuatnya dari ingatan ketika aku terkena PHK dan mendengarkan Never Enough dari Turnstile.

Keengganan banyak orang mendengarkan lagu baru sebenarnya punya penjelasan yang cukup masuk akal. Glen H. Elder Jr. (1994), dalam kerangka life course-nya, menunjukkan bahwa pilihan individu selalu terikat pada fase kehidupan dan posisi sosialnya, dan ketika prioritas bergeser, ekspresi kultural ikut menyesuaikan. Ketika hidup semakin penuh dengan pekerjaan, keluarga, dan tanggung jawab, otak mulai mencari efisiensi. Musik yang sudah dikenal tidak butuh energi ekstra, ia langsung bekerja dan menimbulkan perasaan nyaman yang familiar. Sementara itu, musik baru butuh perhatian, perlu beberapa kali dengar sebelum mulai masuk, dan itu terasa seperti investasi yang tidak selalu ada tenaganya. Robert Zajonc (1968) sudah menggambarkan mekanisme ini lewat teori mere exposure yaitu semakin sering kita bertemu sesuatu, semakin kita condong menyukainya. Musik yang sudah dikenal terasa lebih tenang bukan karena nadanya lembut, melainkan karena kejutannya sudah habis.

Di tingkat pengambilan keputusan, Rui Mata dan koleganya (2013) menemukan bahwa orang yang lebih tua cenderung mengurangi eksplorasi dan memilih memaksimalkan pilihan yang sudah terbukti dalam konteks musik, ini berarti lebih sering memutar playlist lama daripada memberi kesempatan pada artis baru yang belum tentu cocok. Tentu saja, aku tidak kebal dari logika itu. Di usia 36, aku sudah tidak lagi menghabiskan malam untuk menggali forum musik dan menghabiskan terlalu banyak waktu. Tapi setiap Jumat pagi aku tetap menyisakan sedikit ruang untuk mendengar sesuatu yang belum pernah kudengar karena mencari sebuah musik atau pengalaman baru ini ternyata merupakan hal yang kusukai.

Tidak semua rilisan Jumat yang kutemukan bertahan lama di playlist. Banyak yang lewat begitu saja, kudengarkan sekali, atau bahkan berhenti pada lagu pertama saja. Tapi sesekali ada lagu yang berhasil masuk ke tempat yang tidak terduga dan kumasukkan playlist di sebelah lagu-lagu lama, seolah memang sudah dari dulu seharusnya ada di sana. Sama seperti kisah hidup kita yang secara otomatis akan terus bertambah, masuknya musik baru setiap hari jumat juga merupakan sebuah hal yang akan terus kualami.


메타데이터
post_id
948b1e8ba0bc
slug
masih-mendengarkan-musik-baru-di-usia-36-tahun-948b1e8ba0bc
url
https://medium.com/@rizkywagyu/masih-mendengarkan-musik-baru-di-usia-36-tahun-948b1e8ba0bc
canonical_url
https://medium.com/@rizkywagyu/masih-mendengarkan-musik-baru-di-usia-36-tahun-948b1e8ba0bc
author_url
https://medium.com/@rizkywagyu
status
ok
fetched_at
2026-07-09 13:13:48