Mengapa Orang Bisa Sangat Bodoh Ketika Sedang Jatuh Cinta?
#1 — Satu Hari Satu Tulisan
Mengapa Orang Bisa Sangat Bodoh Ketika Sedang Jatuh Cinta?
#1 — Satu Hari Satu Tulisan
Photo by Everton Vila on Unsplash
Cinta Itu Buta
Istilah tersebut kerap kali digaungkan saat zaman masih ramainya khalayak bermain facebook, atau bahkan mungkin kerap didengar hingga sekarang?
Ternyata istilah demikian tidaklah sekadar kalimat biasa, cinta buta memanglah benar-benar nyata adanya.
Lalu, apa yang terjadi dibalik itu semua?
Pra-Jatuh Cinta
Dalam #KelasPakar MALAKA, dr. Ryu Hasan menjelaskan beberapa fase yang terjadi sebelum seseorang mengalami jatuh cinta.
Pertama, yakni terjadinya “Gempa Testosteron” pada seseorang. Pada umumnya, testoteron disebut sebagai hormon pria. Namun, pada wanita juga terdapat, tetapi dalam kadar yang berbeda.
Fase ini bukanlah sesuatu yang bisa kita rencanakan dan kita kendalikan sebelumnya, ia adalah naluri nenek moyang kita (meskipun dalam jangka waktu panjang mengalami evolusi, tetapi secara biologis, otak kita tetaplah sama).
Lalu, apa yang memicu terjadinya “Gempa Testoteron”?
Tanpa sadar, otak kita memiliki daftar list pasangan-pasangan idaman, mudahnya kita sebut “selera”. Hal ini juga merupakan bentuk perwujudan perilaku yang belum berubah sampai saat ini terhadap nenek moyang kita.
“Ini bukan tipeku”
“Ini mah tipeku banget”
Seringkah kita menyebut kalimat semacam demikian?
Nah, ketika kita bertemu individu yang kebetulan ada di dalam daftar list yang ada di otak kita, itulah yang menyebabkan terjadinya “Gempa Testoteron”.
Ketika kamu dan individu tersebut terdapat dalam satu list dari masing-masing list yang ada pada otak. Pun, jikalau salah satu atau kedunya saling follow-up, inilah yang nantinya akan menyebabkan terjadinya fase-fase berikutnya.
Masa Jatuh Cinta
Ketika jatuh cinta, VTA (Ventral Tegmentel Area) memproduksi hormon yang kerap kali kita kenal sebagai “Dopamin”. Hormon dopamin ini menyebabkan rasa kenyaman, kebahagiaan, bahkan perasaan impulsif.

Sumber: storymd.com
Seiring berjalannya waktu, semakin kedekatan itu intens, kamu akan merasakan sesuatu hal yang berbeda — rasa nyaman juga keterikatan yang lain. Hal ini disebabkan oleh hormon Oksitosin dan Vasopressin. Kedua hormon ini mengirimkan rasa percaya, dukungan sosial, juga kasih sayang.
Produksi oksitosin ini akhirnya menghambat perkembangan kortisol (hormon stres), oksitosin juga berkembang dengan ikatan pertemanan atau keluarga.
Inilah mengapa pada saat kita mempunyai masalah, cenderung kita begitu nyaman ketika menghabiskan waktu (baik untuk bercerita maupun beraktivitas) dengan orang yang kita sayang.
Kembali ke kinerja VTA, Dopamin yang diproduksi oleh VTA ini ternyata menimbulkan efek negatif bagi bagian otak yang lain, salah satunya: Prefrontal Cortex.

Sumber: shampireneuro.com
Sebuah penelitian dari University College London, Inggris melakukan pemindaian pada otak orang yang sedang jatuh cinta menggunakan alat yang bernama Magnetic Resonance Imaging (MRI).
Pada saat pemindaian, bagian prefrontal cortex ini tidak aktif atau sedang diistirahatkan oleh otak ketika orang tersebut diberi foto atau gambar orang yang mereka cintai.
Apa hubungannya non-aktifnya prefrontal cortex dengan bodohnya seseorang?
Prefrontal cortex berfungsi terhadap fungsi kognitif, yang bertanggung jawab terhadap intelektualitas, pengambilan keputusan, kemampuan berpikir kritis, juga menilai suatu hal berdasarkan rasionalitasnya.
Ketika prefrontal cortex ini tidak berfungsi dengan baik, tentu seseorang akan sulit memandang juga menilai batas hal-hal di antara garis rasional juga irrasional, termasuk aksi-aksi konyol yang kerap terjadi saat jatuh cinta.
Misalnya, ketika kita terjaga, 80% waktumu akan kamu gunakan untuk memikirkan seseorang yang sedang kamu cintai, baik ketika makan, cuci baju, mandi, cuci piring, bermain, ataupun sebelum tidur.
Atau, contoh konyolnya: ketika melewati rumahnya, bahkan untuk melihat pintu atau gentengnya saja rasanya sudah bahagia tak terkendali.
Dopamin yang diproduksi berlebihan juga berimbas pada penipisan hormon yang lain, yakni: Serotonin.
Serotonin yang menipis berimplikasi pada mood yang seringkali tidak stabil (tak bakunya: moody-an), rasa cemas yang tiba-tiba muncul, juga emosi yang kerap kali tidak stabil, bahkan bisa menimbulkan perasaan obsesif.
Ketika sampai di tahap obsesif, itulah di mana terjadi titik buta pada fase jatuh cinta. Akhirnya, seseorang bisa saja melakukan hal-hal gila, dari membenarkan hal yang salah, hingga menghiraukan dan menerobos batas wajar yang sebelumnya telah dibuat.
Saya yakin teman-teman juga mempunyai satu atau lebih, sudah atau masih yang mengalami keobsesifan terhadap cinta.
Hal ini saya dapati ketika salah satu teman saya mengalami fase obsesif ini. Ia sadar ketika malam tiba; bercerita panjang lebar mengenai kebapukan perlakuan pasangannya terhadap dirinya, dan kembali gila menjelang pagi, seolah kemarin hari tidak terjadi apa-apa. Dan hal-hal demikian berlanjut hingga menciptakan suatu loop yang tiada hentinya.
Beribu nasihat terlontar dari mulutku yang kecil, beretorika seolah saya paling pengalaman dalam hal demikian padahal tidak sama sekali. Bak peribahasa “Masuk lewat telinga kanan, keluar lewat telinga kiri”, saya sudah bisa menebak endingnya bagaimana: besok akan terulang kembali.
Berkali-kali disakiti, berkali-kali dikecewakan, bahkan berkali-kali juga ditinggalkan. Ketika semua rasa sakit itu terjadi, selanjutnya akan mengaktifkan bagian otak yang kerap disebut Insular Cortex.
Ketika bagian otak tersebut diaktifkan, seseorang (dalam kasus ini teman saya) mengalami sesuatu yang sangat tidak nyaman sekali, seperti perasaan kegalauan dan kecemasan yang begitu luar biasa.
Kemudian, saat kegalauan dan kecemasan menghantuinya, otak kembali memasak dopamin yang dapat mengingat masa-masa indah ketika bersama pasangannya dahulu: awal pertemuannya, bagaimana perlakuan baiknya, dan lain hal sebagainya.
Kerinduan-kerinduan itu berimbas pada kinerja VTA yang kembali meningkat, dan ia kembali memproduksi dopamin lagi dan lagi. Hal inilah yang nantinya dapat menimbulkan ketidaknyamanan yang luar biasa.
Di sinilah titik racun itu menyebar, seseorang akan cenderung menikmati sekali (meskipun sedikit) perhatian dan perlakuan baik dari orang yang pernah menyakitinya, kemudian ia akan membuat alasan-alasan yang tidak masuk akal:
“Mungkin aku yang salah”,
“Yang ngertiin aku hanya dia” ,
“Dia baik kok, aku aja yang kurang perhatian”,
dan hal lain sebagainya.
Sehingga, ia terjebak pada lingkaran racun itu. Maka dari itu, ketika seseorang berada pada hubungan yang toxic, kita tidak dapat menilai dari satu sudut pandang begitu saja (judul hanyalah hook), karena kita tidak dapat merasakan apa yang mereka rasakan.
Jadi ketika teman-teman mempunyai teman yang sekiranya terjebak di hubungan yang toxic dan teman-teman ingin mencoba peduli, satu hal yang dapat membantu mereka bukanlah nasihat yang keras, menampar, juga masuk akal; tetapi bantu mereka mencari distraksi, mencari kenyamanan lain, dan ketenangan.
Mungkin itu saja tulisan di awal bulan ini, sedikit banyaknya semoga teman-teman dapat mengambil intisari maupun benang merah dari apa yang telah saya rangkum dan terangkan.
메타데이터
- post_id
- 94b8fa127ee4
- slug
- mengapa-orang-bisa-sangat-bodoh-ketika-sedang-jatuh-cinta-94b8fa127ee4
- url
- https://medium.com/berbagi-berdampak/mengapa-orang-bisa-sangat-bodoh-ketika-sedang-jatuh-cinta-94b8fa127ee4
- canonical_url
- https://medium.com/berbagi-berdampak/mengapa-orang-bisa-sangat-bodoh-ketika-sedang-jatuh-cinta-94b8fa127ee4
- author_url
- https://medium.com/@aldootok
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-08 21:34:33