← Back to list

Perhaps, Again

Chapter I — I Met a Guy

unspokenfeelings · 2026-08-16 12:06 · 0 claps · 3.6 min read
#thoughts-and-feelings #someone-special #emotions
Open on Medium ↗

Perhaps, Again

Chapter I — I Met a Guy

Somewhere between leaving what I knew and arriving at something unfamiliar, I had no idea that I was about to meet someone I would remember this way.

Aku bertemu seseorang, seorang laki-laki biasa dan secara sederhana. No dating app, no mutual friends trying to set us up. No dramatic first encounter that made me go home thinking, like, oh I think I’m going to like this guy.

I met him in a classroom, in a place that somehow always felt a little slower, a little quieter than the other places I had known. At that time, we were both stepping into a new chapter of our lives. New routines, new faces, new things to learn, new people to figure out. At first, he nothing felt special. He was just someone from my class. Seseorang yang kebetulan akan kulihat hampir setiap hari. Seseorang yang keberadaannya ada, tetapi belum berarti apa-apa bagiku. Tidak ada alasan bagiku untuk berfikir bahwa suatu hari aku akan mengingatnya sedetail ini. Namun, aku menyukai ini. Hal yang ku sukai dari bagaimana takdir mempertemukan kamu. It was classic. Very old-fashioned, actually. In a time when almost everything begins with a screen, I still have a soft spot for the old way of meeting someone. No profile to scroll through, no carefully selected pictures, no bio telling me what kind of person he was before I even knew how he talked. We simply happened to be in the same place. Again and again. And that give us something that I think people don’t get enough of anymore: time. Time to observe. Time to notice. Time to slowly understand someone without having to rush into defining what they mean to us. I like the kind of knowing someone in slowly.

Dimulai dari ketika kita tidak mendapatkan seluruh cerita seseorang dalam satu percakapan, hanya dimulai dari potongan-potongan obrolan kecil. Kemudian disusul dengan caranya berbicara ketika sedang bersemangat, dari mendengarkan orang lain, dari bagaimana ia bereaksi akan sesuatu yang tidak berjalan sesuai dengan keinginannya, dari jokes yang mungkin sebenernya tidak terlalu lucu, but somehow tetap membuat aku tersenyum, dati kebiasaan kecil yang tidak ia sadari. Bukankah justru dari hal-hal semacam itu yang membuat kita benar-benar mengenal seseorang? Bukan dari apa yang sengaja ia tunjukan namun dari apa yang keluar begitu saja, yang tidak dibuat-buat, yang hadir begitu saja tanpa disadari. And maybe without realizing it, that’s what happened to me. Aku tidak langsung menyukainya, namun aku hanya mulai memperhatikannya. Sedikit. Lalu sedikit lagi.

Kadang kami berbicara sebentar, tetapi entah bagaimana percakapan itu masih tinggal di kapalaku beberapa jam kemudian. Kadang aku menyadari satu kebiasaan kecil darinya saat ia sedang berpikir, ia memainkan rambutnya bagian atas, that’s very him. Hal-hal kecil, tidak ada yang benar-benar istimewa. Nothing significant, really. Setidaknya pada waktu itu haha

Tetapi mungkin memang begitulah cara seseorang perlahan menjadi familiar, kita menyimpan satu detail kecil, lalu satu lagi, lalu satu lagi. Hingga tanpa kita sadari, seseorang yang tadinya sama sekali asing mulai terasa seperti wajah yang bisa dikenali bahkan dari kejauhan. Dan aku rasa, ada sesuatu yang indah dari proses itu. Ketika seseorang yang awalnya hanya salah satu dari banyaknya wajah, perlahan menjadi wajah yang selalu kita cari di dalam sebuah ruangan. Ketika kehadirannya mulai terasa sedikit berbeda, meskipun sebenarnya ia tidak pernah melakukan sesuatu yang luar biasa. Mungkin begitulah rasa tumbuh, tidak selalu datang sebagai sesuatu yang besar, tidak selalu dengan butterflies atau grand gestures. Kadang ia hanya berupa akumulasi dari one ordinary moment after another. Satu percakapan. Satu tawa. Satu kebiasaan. Satu perhatian yang mungkin tidak pernah dimaksudkan sebagai apa-apa. Lalu suatu hari, kita berhenti sebentar dan bertanya pada diri sendiri — oh, I notice him.

Ia bukan lagi sekedar seseorang yang kebetulan ada di ruangan yang sama. Somehow, I had started remembering little things about him. Cara dia berbicara, suara beratnya yang khas itu, cara dia bercanda dan hal-hal kecil yang mungkin tidak ia sadari. Somewhere between noticing and remembering, I started to admire him. And it’s not in my plan, it just happened without permission.

Maybe admiration is enough. Mungkin tidak semua perasaan harus menjadi sesuatu untuk menjadi nyata. Tidak semua rasa membutuhkan hubungan, kepastian atau sebuah akhir. Aku hanya ingin mengenalnya sedikit lebih jauh. Who is he, really? Seperti apa dirinya ketika lelah? Apa yang membuatnya tertawa sungguh-sungguh? Apa yang ia pedulikan ketika tidak ada yang melihat? Bukan karena aku sedang mencari seseorang, not because I was imagining a future with him. I was simply curious.

Rasa ingin tahu itu terasa begitu jujur. Sometimes I think this is how we were meant to know people. Bertemu. Berbicara. Bertemu lagi. Memperhatikan. Sampai seseorang yang awalnya biasa saja perlahan menjadi familier, lalu mengambil sedikit ruang di pikiran.

Dan aku tidak akan menyangka bahwa ia akan menjadi seseorang yang ingin kutulis sedetail ini. Maybe he will never know. And perhaps, that’s okay. Some feelings are simply meant to be felt. Untuk dikenang. Untuk disimpan. Untuk ditulis, ketika apa yang dihati terlalu sulit untuk dilisankan. Mungkin itulah alasan aku menulis semua ini. Not to ask for anything. Not to create an ending. Just to give a voice to something that has quietly lived in my heart. And this is where it began.

I met a guy.


메타데이터
post_id
94e511cf6092
slug
perhaps-again-94e511cf6092
url
https://medium.com/@unspokenfeeling__/perhaps-again-94e511cf6092
canonical_url
https://medium.com/@unspokenfeeling__/perhaps-again-94e511cf6092
author_url
https://medium.com/@unspokenfeeling__
status
ok
fetched_at
2026-08-18 04:16:49