DESA #2 : ALAM DAN FENOMENA KONTEMPORER DESA
Tidak sedikit orang menilai Desa sebagai suatu ruang asri, damai dan indah. Desa menjadi mimpi bagi orang-orang kota untuk menyinggahinya…
DESA #2 : ALAM DAN FENOMENA KONTEMPORER DESA
Tidak sedikit orang yang menilai Desa sebagai suatu ruang asri, damai dan indah. Desa menjadi mimpi bagi orang-orang kota untuk menyinggahinya, sebagai tempat berlibur, atau kemudian menetap disana. Pandangan terhadapnya dulu terletak jauh di belakang alasan ketertinggalan. Tetapi, pada dekade ketiga abad 21 ini, Desa semakin jauh di depan, sebagai ruang penuh mimpi dan imajinasi — meski posisinya belum sepenuhnya.
Tentu penyebab perubahan pandangan merupakan dampak perkembangan teknologi. Agenda globalisasi mencakup salah satu proyek penyebaran teknologi digital — sampai ke seluruh penjuru dunia. Nicholas Carr dalam buku “The Shallows” terbitan Mizan 2011, menulis tentang dirinya yang kehilangan kemampuan untuk tetap fokus membolak-balik berlembar-lembar prosa (Hal dan Saya, bab 1). Dalam tulisan itu Dia mengaku “Selama lebih dari satu dekade belakangan ini saya menghabiskan banyak waktu untuk Online ”. Internet berdampak besar pada perubahan cara pandang atau aktivitas manusia.
Di Indonesia, sekitar dekade kedua tahun 2000-an, muncul iklan-iklan “Internet masuk Desa”. Lalu, keadaan (yang dianggap ketertinggalan) Desa sempat menguak dalam berita nasional saat wabah Covid -19 mengisolasi masyarakat Indonesia. Perihal kebijakan pemerintah melakukan aktivitas masyarakat, menunculkan sebuah kerja sosial baru seperti Daring , WFH , Sosial Distancing , dan sebagainya. Hal ini menjadi peluang bagi perusahaan telekomunikasi untuk memperluas kapitalisasi pasarnya. Mau tidak mau, masyarakat Desa pun harus menjadi konsumen internet untuk tetap melakukan aktivitasnya. Terutama pelajar, sangat merasakan dampak kondisi ini — waktu itu — sekarang menjadi hal lumrah. Apalagi Daring atau Zoom menjadi alasan siswa pemalas agar tidak berangkat ke sekolah. Sebab, pembelajaran Daring , dapat Disambi dengan aktivitas lain, atau tidur bahkan.
Perkembangan teknologi, khususnya internet, banyak mengubah cara pandang masyarakat Desa terhadap kenyataan hidup. Internet menjadi sekaligus narasi bahwa Desa tidak sepenuhnya tertinggal. Melalui internet Desa dapat menunjukkan jati dirinya, dengan membagikan kondisi alam indahnya kepada masyarakat luas dari hasil Jepretan telepon genggam. Sawah, sungai, tepi hutan, menjadi objek dalam bingkai foto atau video di beranda media sosial.
Adanya fitur Posting pada media sosial membuat orang mudah membagikan berbagai aktivitasnya dan dapat ditonton oleh Warganet (pengguna internet) yang jauh keberadaannya. Kebiasaan itu memunculkan hal baru bagi kalangan muda-mudi — Gen-Z ataupun Milenial. Tempat-tempat alami di ruang Desa menjadi daya tarik untuk dijadikan tempat Nongkrong. Tepian Sawah, bantaran Sungai, atau tempat-tempat rindang disulap menjadi warung kopi dadakan. Pagi dan sore adalah waktu yang tepat untuk mengunjunginya. Di waktu seperti itu, musik-musik Folk atau Indie melantun bersama kiacau burung kala pagi, dan akan lengser disapu Qiroah Magrib.
Bagi seorang petani, Sawah (tanah) adalah sumber penghidupan. Berbagai komoditas pangan berusaha dihasilkan dari sistem pengolahan tanah. Antara Sawah (tanah) dan petani memiliki hubungan horizontal untuk menghasilkan suatu komoditas pangan. Wiliiam Petty dalam buku “Asal-Usul Kekayaan” karya Martin Suryajaya, berpendapat “Kerja adalah Ayah dan prinsip aktif kemakmuran, sebagaimana tanah ialah Ibunya”. Artinya, sebagaimana kerja adalah tindakan manusia, dan tanah adalah alam yang diolah oleh kerja manusia, keduanya tidak bisa dipisahkan untuk menghasilkan suatu komoditas pangan.
Pandangan serupa juga dimiliki oleh Gunretno, dalam terbitan Jurnal Perempuan pada 29 Oktober 2016. Tulisan yang dibuat oleh Anita Dhewy, mengungkap pandangan Gunretno tentang alam, terbaca “Sikap dan tindakan Gunretno yang mengedepankan empati, menumbuhkan kesadaran kritis dan rasa keberpihakan terhadap alam atau yang disebutnya sebagai ibu bumi dan masyarakat petani dapat dikatakan sebagai pendekatan feminis”. Tidak hanya Gunretno, masyarakat di pegunungan Kendeng juga menyepakati pandangan tersebut. Terbukti dalam aksi penolakan pembangunan pabrik semen di Rembang, Pati, dan daerah Jawa. Bahwa Alam adalah Ibu Bumi.
Apa yang telah dialami Gunretno dan masyarakat pegunungan Kendeng mengingatkan kita pada masa kolonial di Jawa. Tanah memunculkan berbagai tipe manusia atas hubungan keduanya. Dalam konteks kolonial di Jawa, tanah mejadi mimpi indah bagi para kolonial, melalui tebu misalnya. Sedangkan, bagi masyarakat Jawa adalah mimpi buruk. Fenomena ini terekam jelas dalam kegiatan Tanam paksa yang dilakukan oleh kolonial era penjajahan.
Pada sektor pertanian tepatnya, Tanah dapat memunculkan sistem kerja masyarakat. Pengolahan tanah dalam sektor pertanian setidaknya memperkenalkan pada kita sistem bagi hasil, sistem sewa, sistem gadai dan perburuhan. Jurnal Bhumi Vol. 4 №1, Mei 2018, menerbitkan tulisan dari Versanudin Hekmatyar dan Fentiny Nugroho, tentang hasil penelitian mereka di pedesaan Jawa Timur dengan judul “Pola Penguasaan Tanah Dan Distribusi Kesejahteraan Rumah Tangga Di Pedesaan Jawa Timur”.
Tulisannya di beberapa babnya membahas tentang pengolahan Tanah — sistem kepemilikan dan kerja pertanian atas Tanah. Sistem kepemilikan dituliskan pada bab kedua sub-bab pertama. Sedangkan sistem kerja — sistem bagi hasil, sistem sewa, sistem gadai — pada sub-bab kedua. Lalu, perburuhan di bagian sub-bab ketiga. Layaknya seorang Ibu, Tanah rupanya mendidik manusia untuk mencipta suatu sistem kerja.
Ketika ruang Desa diolah manusia, ketika itu pula muncul fenomena baru. Kalimat itu mungkin dapat mewakili munculnya fenomena-fenomena baru di Desa. Atas semua kejadian sebagaimana pembahasan dari awal tadi. Yang belum disebutkan sedari tadi adalah “Wisata Desa”, yang juga tidak luput didalamnya memunculkan sistem kerja masyarakat. Hari ini dapat kita potret misalnya manajerial dari “Wisata Desa”, mulai tata letak supaya Estetik , tarif tiket masuk, desain poster, pedagang sekitar wisata, hingga perputaran uang Desa. Ahh, tentu masih banyak lagi hal-hal lainnya yang belum ter- Jepret oleh kita.
Semarang, 9 Oktober 2024
Jangan menganggap semua ini serius. Aku tak pernah menginginkannya. Sebab, serius tak membuatku memiliki banyak teman.
*Petani Aksara
메타데이터
- post_id
- 94f9b10e5048
- slug
- desa-2-alam-dan-fenomena-kontemporer-desa-94f9b10e5048
- url
- https://medium.com/@PetaniAksara/desa-2-alam-dan-fenomena-kontemporer-desa-94f9b10e5048
- canonical_url
- https://medium.com/@PetaniAksara/desa-2-alam-dan-fenomena-kontemporer-desa-94f9b10e5048
- author_url
- https://medium.com/@PetaniAksara
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-22 14:22:45