Sindikat Murtad Wajah
Sebab di kota ini, bergabung dengan jaringan kemunafikan massal jauh lebih hemat daripada mempertahankan kemanusiaan.
Sindikat Murtad Wajah
Sebab di kota ini, bergabung dengan jaringan kemunafikan massal jauh lebih hemat daripada mempertahankan kemanusiaan.
Foto oleh Andrew Lvov di Unsplash
Toko paman bermata juling itu berbau minyak tanah dan karet terbakar. Di etalase kaca yang buram oleh bekas sidik jari, lusinan ekspresi digantung menggunakan benang nilon. Di pojok kanan, topeng Senyum Korporat berbahan fiberglass tipis dijual obral; jenis yang biasa dibeli buruh pabrik agar tidak dipecat mandornya. Aku tidak punya cukup uang untuk membeli kepura-puraan semahal itu.
Jemariku yang berlumur oli bergeser ke sudut paling berdebu, memungut sekeping topeng Masa Bodoh dari tanah liat yang retak tepat di sudut mata kirinya. Bagiku, menjadi apatis adalah satu-satunya cara terbaik untuk mengistirahatkan kepala yang lelah. Pemilik toko meludah ke lantai saat aku menyodorkan dua lembar uang lecek. “Pakai itu,” gerutunya tanpa melihatku, “dan kau tidak akan pernah dipromosikan seumur hidup.”
Aku tidak peduli. Aku tidak butuh dipromosikan.
Begitu tali karetnya mengikat bagian belakang kepalaku, sensasi dingin tanah liat langsung mengunci rahang. Mataku dipaksa lurus menatap aspal. Sudut bibirku terkunci, tidak bisa naik pun tidak bisa turun. Aku berjalan keluar ke trotoar, menyatu dengan lautan manusia yang wajahnya mengkilap oleh resin dan cat akrilik mahal.
Namun, paman juling itu lupa memberi tahu satu hal: retakan di sudut mata kiriku adalah sebuah kecacatan yang fatal. Filter topengku bocor.
Baru beberapa langkah, aku harus menepi. Di sudut jembatan penyeberangan, seorang gadis muda dengan topeng Altruisme — sejenis topeng kaca bening yang memancarkan pendar cahaya hangat, ia sedang membagikan kotak makan siang kepada seorang gelandangan. Kamera ponsel menyala di depannya. Orang-orang yang lewat berbisik kagum. Namun, lewat celah retakan tanah liatku, pendar cahaya itu hilang. Wajah asli si gadis ternyata sekaku tripleks, matanya melotot kosong, tidak sekali pun menatap si penerima makanan. Pandangannya terkunci pada lensa kamera, menghitung angka-angka imajiner yang berkejaran di sana. Sisi kiriku menangkap bau anyir dari ketidaktulusan yang telanjang.
Aku bergegas naik ke bus kota yang sesak untuk melarikan diri, tapi di dalam sana tidak ada tempat bersembunyi. Lewat mata kiriku, dunia kehilangan seluruh warnanya. Di bangku belakang, sepasang remaja memakai topeng Mabuk Cinta yang merona merah jambu. Mereka saling merapat, tapi lewat celah retakan ini, wajah asli mereka sebenarnya saling membelakangi — kosong, datar, dan membusuk oleh rasa bosan yang akut.
Di sebelah mereka, seorang pria paruh baya mengenakan topeng Wibawa bermaterial kulit premium yang tebal. Namun, di balik kulit tebal itu, daging wajah aslinya sedang berkedut panik, pucat pasi seperti manekin yang kehabisan udara. Dia sedang menangis ketakutan di dalam kepalanya sendiri.
Bus melaju, melemparkan pandanganku ke luar jendela. Di perempatan jalan, sebuah baliho raksasa berdiri tegak menjelang musim pemilihan. Gambar seorang politikus tersenyum megah dengan topeng Nasionalis yang dicat merah-putih tebal. Namun, retakan tanah liatku tidak bisa ditipu. Di balik senyum kenegaraan itu, wajah aslinya menyerupai lintah raksasa yang sedang menjulurkan lidah kelaparan, mengendus-endus saku celana para pejalan kaki di bawahnya.
Tepat di samping baliho, seorang pemuka agama bertopeng Kesalehan putih bersih sedang dikerumuni jemaatnya. Di balik topeng suci itu, wajah aslinya hitam legam, keropos, dan jemarinya yang tanpa kulit sedang menghitung kepingan koin dengan sangat serakah.
Dusta, kesedihan, kejahatan, dan kepalsuan berputar-putar di kepalaku seperti blender. Napas kotor kota ini mendadak terasa berat di paruku. Jantungku berdetak terlalu kencang, menghantam rusukku hingga ngilu. Rasa mual naik ke tenggorokan bersamaan dengan pusing yang membuat pandanganku kabur. Dunia ini terlalu telanjang untuk dilihat sendirian.
Aku turun di halte berikutnya dengan tubuh gemetar, setengah berlari menyusuri gang menuju rumah kontrakan sepetakku. Begitu pintu tertutup dan kunci berputar, aku ambruk di lantai kamar mandi yang dingin.
Aman. Di sini gelap. Tidak ada orang lain.
Aku merangkak, menegakkan tubuh di depan cermin wastafel yang berkerak. Jemariku yang gemetar meraih pinggiran topeng tanah liat di pelipisku. Aku butuh melepasnya sekarang. Aku harus kembali menjadi diriku yang dulu, yang tidak perlu melihat apa-apa. Aku menarik tali karet di belakang kepalaku kuat-kuat.
KREK.
Tali karet itu putus, tapi topengnya tidak bergerak semili pun. Kulit di pelipisku terasa perih luar biasa, seperti ditarik paksa. Aku mencoba mencongkel sudut rahangku dengan kuku, tapi rasa sakit yang menusuk langsung menghantam tulang tengkorakku. Cairan hangat— darah— mulai merembes dari batas antara kulit dan tanah liat.
Aku mendekatkan wajah ke cermin, menatap lekat-lekat lewat celah retakan di mata kiriku yang bebas dari filter. Di balik sela-sela tanah liat yang mengelupas itu, tidak ada lagi daging manusia yang kemerahan. Yang tersisa di sana, yang tumbuh dari balik pori-poriku, hanyalah semen abu-abu yang sudah mengeras dan membatu.
Tanah liat ini tidak sedang menyembunyikan wajahku. Pikiranku yang terlalu lama menolak rasa sakit telah mengizinkan topeng ini memakan seluruh kemanusiaanku. Dan kini, di depan cermin, aku menyadari fakta paling getir: aku telah menjadi topeng itu sendiri.
Tulisan ini termasuk bagian dari Writing Challenge Meja Sajak. Tema untuk Juli adalah Topeng. Ayo ramaikan tantangannya dengan menuliskan interpretasi terbaikmu mengenai tema Topeng dalam kehidupan sehari-hari atau dari ruang imaji. Tulisan dapat berupa karya fiksi mulai dari: cerpen, cermin (cerita mini/flash fiction), puisi hingga prosa.
[embed]*July Writing Challenge Meja Sajak *Agenda bulanan baru kami medium.com
메타데이터
- post_id
- 95043e5959ea
- slug
- sindikat-murtad-wajah-95043e5959ea
- url
- https://medium.com/meja-sajak/sindikat-murtad-wajah-95043e5959ea
- canonical_url
- https://medium.com/meja-sajak/sindikat-murtad-wajah-95043e5959ea
- author_url
- https://medium.com/@elodisini
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-08 17:17:42