Jejak Waktu di Mesjid Agung Banten Lama
Episode 1 dari seri “ Jejak Waktu di Banten Lama “
Jejak Waktu di Mesjid Agung Banten Lama
Episode 1 dari seri “ Jejak Waktu di Banten Lama “

Halaman Mesjid Agung Banten Lama
Di antara riuh pasar dan langkah para peziarah, berdiri sebuah bangunan tua yang seolah tak lekang dimakan waktu.
Atapnya bertingkat lima, menjulang seperti gunung kecil yang menatap langit barat Pulau Jawa.
Dialah Mesjid Agung Banten Lama — jantung spiritual dan simbol kejayaan Kesultanan Banten.
Denyut Iman dan Kekuasaan
Masjid ini didirikan pada masa Sultan Maulana Hasanuddin sekitar abad ke-16, tak lama setelah Banten tumbuh menjadi kerajaan Islam besar.
Arsitekturnya unik: perpaduan antara gaya lokal Jawa, Tionghoa, dan sedikit sentuhan Eropa.
Menaranya — yang konon dirancang oleh seorang arsitek Tionghoa bernama Cek Ban Cut — berdiri seperti mercusuar tua, memandangi laut dan Pelabuhan yang dulu ramai oleh kapal dagang.
Di masa lalu, masjid ini bukan hanya tempat ibadah.
Ia adalah pusat kehidupan sosial, politik, dan pendidikan.
Dari sinilah kebijakan kerajaan diambil, khutbah disampaikan, dan ajaran islam disebarkan ke berbagai penjuru Nusantara.
Sebuah Ruang yang Masih Hidup
Meski usia masjid ini sudah berabad — abad, suasananya masih terasa hidup.
Azdan yang berkumandang dari menara, langkah kaki jemaah di lantai batu, hingga desir angin yang melintasi halaman makam para sultan — semuanya menciptakan irama yang membuat waktu seolah berhenti sebentar.
Ketika lu berdiri di halamannya cuy, lu bakal ngerasa ada sesuatu yang beda.
Bukan cuma karena tuanya bangunan, tapi karena getaran sejarah yang masih bernafas di setiap sudutnya.
Tempat ini seakan pengingat bahwa spiritualitas dan kekuasaan dulu pernah berjalan beriringan di tanah Banten.
Jejak yang Tertinggal
Beberapa bagian masjid telah mengalami pemugaran, tapi keasliannya masih terjaga.
Tiang — tiang kayu jati tua, ukiran pintu, hingga menara batu merah setinggi 24 meter itu masih menjadi saksi diam.
Menara itu, bagi banyak orang, bukan sekedar bangunan — tapi simbol hubungan antara laut dan darat, antara dunia spiritualitas dan dunia nyata.
Tak jauh dari masjid, terhampar kompleks makam Kesultanan Banten.
Disanalah Sultan Hasanuddin dan para penerusnya dimakamkan.
Setiap batu nisan dan kaligrafi pada makamnya seperti catatan sunyi yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini.
Suara dari Masa Silam
Ada hal yang sulit dijelaskan saat lu berjalan sendirian di pelataran masjid ini menjelang senja.
Suara azdan bercampur dengan angin laut dari arah Karangantu, dan di antara bayang pohon — pohon tua, waktu terasa menipis.
Lu seperti bisa mendengar gema langkah para peziarah dari masa lampau, dan dalam diam itu, sejarah terasa sangat dekat.
Masjid Agung Banten Lama bukan sekedar tempat ibadah — ia adalah ruang di mana masa lalu masih berdialog dengan hari ini.
Dan mungkin, disinilah Ruang Kala menemukan makna pertamanya: bahwa menelusuri sejarah bukan hanya tentang melihat reruntuhan, tapi, mendengar bisikan waktu yang masih hidup di antara kita.
Menuju Singgasana yang Terlupakan
Perjalanan Ruang Kala di Banten Lama berlanjut.
Di halaman masjid yang penuh doa, langkah kita beranjak menuju reruntuhan Keraton Surosowan — istana megah yang dulu jadi pusat kekuasaan Kesultanan, kini tinggal puing dan kisah.
Sebab setiap tembok yang runtuh selalu menyimpan cerita,
dan Ruang Kala akan terus menelusurinya — satu jejak waktu demi satu.
메타데이터
- post_id
- 9589398dfd6b
- slug
- jejak-waktu-di-mesjid-agung-banten-lama-9589398dfd6b
- url
- https://medium.com/@GKinos/jejak-waktu-di-mesjid-agung-banten-lama-9589398dfd6b
- canonical_url
- https://medium.com/@GKinos/jejak-waktu-di-mesjid-agung-banten-lama-9589398dfd6b
- author_url
- https://medium.com/@GKinos
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-24 11:06:28