← Back to list

konsep pernikahan dilihat dari pov "jalani aja dulu" vs "logika rasional"

Foto oleh Vitaliy Shevchenko di Unsplash

Adel Tiara · 2026-07-04 15:25 · 0 claps · 3.6 min read
#marriage #writing-life #personal-story #storyofmylife
Open on Medium ↗
Wiki topics: 💑 · Relationships

konsep pernikahan dilihat dari pov "jalani aja dulu" vs "logika rasional"

Foto oleh Vitaliy Shevchenko di Unsplash

Foto oleh Vitaliy Shevchenko di Unsplash

​Rasanya bener-bener plong. Kemarin, setelah berhari-hari kepala rasanya mau pecah gara-gara tumpukan teori dan revisi, akhirnya ujian S2 kami selesai juga. Untuk merayakannya, aku dan teman-teman seangkatan langsung meluncur buat makan siang bareng. Suasananya seru, penuh tawa, dan beban akademik rasanya mendadak nguap begitu aja. ​Tapi, pas lagi menikmati makan, aku iseng merhatiin sekeliling meja. Di situ aku baru ngeh ada satu pemandangan yang sangat kontras. ​Di sisi meja sebelah kanan, mayoritas teman laki-laki aku statusnya sudah menikah dan rata-rata sudah jadi bapak. Sedangkan di sisi sebelah kiri, kondisinya berbanding terbalik. Teman-teman perempuan di angkatanku mayoritas masih melajang. Yang sudah menikah baru satu orang, itu pun usianya sudah 30-an. ​Memang ya, dunia kuliah S2 tuh sering jadi tempat kumpulnya orang-orang dengan timeline hidup yang beda-beda. Dan sore itu, obrolan kami yang awalnya receh mendadak belok ke satu topik yang berat tapi selalu menarik, pernikahan. ​Semuanya berawal waktu salah satu temanku perempuan tiba-tiba nanya ke temen laki-laki yang udah menikah. Dia pengen tahu pandangan dari sudut pandang laki-laki tentang kapan sih seorang laki-laki itu bener-bener siap buat nikah? ​Nah, di sinilah keseruan dimulai. Jawaban dari mereka langsung membelah meja makan kami jadi dua kubu yang beda.

​Kubu Mas A: Pernikahan Itu Seperti Matematika ​Temanku laki-laki, sebut saja Mas A, langsung merespons dengan gaya yang super rasional. Buat dia, pernikahan itu kayak matematika: penuh perhitungan dan harus logis. ​"Kalau belum siap, jangan dipaksakan. Pernikahan itu tanggung jawabnya gede banget. Finansialnya harus jelas, mentalnya juga harus ditata dulu." ​Bagi Mas A, nekat nikah tanpa modal kesiapan finansial dan emosional yang matang itu tindakan yang kurang bertanggung jawab. Cara pandang Mas A ini realistis banget, jenis pemikiran yang nggak mempan sama romantisasi drama Korea, dan percaya kalau cinta aja nggak cukup buat bayar listrik atau beli susu anak.

​Kubu Mas B: Pernikahan Itu Modal Nekat. ​Mendengar pendapat Mas A, temanku laki-laki yang satu lagi, sebut saja Mas B, langsung geleng-geleng kepala. Pandangan dia berbeda 180 derajat. Bagi Mas B, hidup nggak bakal bisa dihitung dengan presisi di atas kertas coret-coretan. ​"Menikah itu justru harus agak 'dipaksa'. Kalau nunggu siap, sampai kapan pun kita nggak akan pernah merasa siap. Percaya deh, rezeki setelah menikah itu pasti selalu ada jalannya." ​Mas B ini mewakili prinsip keyakinan yang kuat. Dia percaya kalau tekanan dan tanggung jawab baru setelah menikah justru bakal jadi bahan bakar yang bikin kita makin kerja keras. Analoginya, kalau Mas A sibuk ngitung kecepatan angin sebelum melompat, Mas B tipikal yang milih lompat duluan sambil percaya parasutnya bakal terbuka di tengah jalan.

Berniat Cari Pencerahan, Malah Makin Bingung

​Kocaknya, setelah mendengarkan dua argumen yang sama-sama masuk akal itu, temenku yang nanya tadi malah langsung terdiam. Niatnya pengen dapet pencerahan atau diyakinkan, eh sekarang dia malah makin pusing. ​Dia terjebak di tengah-tengah. Di satu sisi, dia setuju banget sama Mas A karena omongannya cocok dengan kondisi dia dan pasangannya sekarang yang masih banyak pertimbangan. Tapi di sisi lain, ada bagian dari hatinya yang pengen percaya sama Mas B pengen punya keberanian buat nekat.

Kenapa sih nyari nasihat orang lain malah sering bikin kita makin bingung? ​Soalnya kita harus sadar satu hal bahwa Setiap nasihat yang keluar dari mulut seseorang itu sebenarnya adalah cerita masa lalu mereka sendiri. ​Mas A bicara pakai rumus matematika mungkin karena dia pernah ngos-ngosan urusan cashflow rumah tangga akibat kurang perhitungan di awal. Sementara Mas B bicara soal keajaiban "pasti ada jalan" karena dia sendiri sudah membuktikannya kalau dia bisa survive lewat kenekatan itu. Nasihat mereka dibentuk oleh pengalaman hidup masing-masing yang nggak bisa mentah-mentah kita copy-paste ke hidup kita. ​Melihat temenku yang kebingungan di meja makan kemarin, aku jadi merenungkan posisi pribadiku sendiri. Kalau dipikir-pikir, kita sebenarnya nggak perlu milih salah satu dan nyalahin yang lain. Dua prinsip itu bisa dipakai kok, asal tahu kapan harus menempatkannya. ​Secara pribadi, aku melihat idealnya tuh kayak gini: ​Sebelum kita mutusin buat ijab kabul atau tanda tangan akta nikah, kita wajib jadi Mas A. Ngitung kesiapan finansial, nyamain prinsip hidup, dan mastiin kedewasaan emosi itu bukan berarti kita nggak percaya takdir. Itu adalah bentuk tanggung jawab dan rasa hormat kita terhadap sakralnya pernikahan. Nikah modal "gimana nanti" tanpa persiapan sama sekali itu egois. Kita butuh logika rasional buat memulai. ​ ​Tapi, begitu kita udah sah jadi suami-istri dan udah tinggal bareng, kalkulatornya Mas A harus kita matikan. Kenapa? Karena dinamika rumah tangga itu nggak pernah linear. Bakal ada hari-hari di mana hitung-hitungan kita meleset, entah karena masalah ekonomi, urusan kesehatan, atau hal tak terduga lainnya. ​Di sinilah mentalitas Mas B harus diambil. Begitu udah masuk di dalamnya, kalau kita keseringan overthinking yang ada malah stres sendiri. Kita harus punya keyakinan kuat kalau "semuanya pasti ada jalannya" supaya kita punya daya tahan buat ngadepin ketidakpastian masa depan bareng pasangan.

​Sore itu, meja makan kami akhirnya kosong seiring langkah kami yang pulang ke kosan atau rumah masing-masing. ​Ujian S2 yang baru aja kami selesaikan punya kisi-kisi soal dan indikator kelulusan yang mirip seperti rumusan matematika Mas A. Tapi buat ujian hidup setelah lulus nanti? Sepertinya kita semua harus belajar mengkombinasikan dengan pinter ngitung risiko di tepi tebing, lalu ambil napas dalam-dalam, dan berani melompat.


메타데이터
post_id
95f34d5780be
slug
konsep-pernikahan-dilihat-dari-pov-jalani-aja-dulu-vs-logika-rasional-95f34d5780be
url
https://medium.com/@adeltiara29/konsep-pernikahan-dilihat-dari-pov-jalani-aja-dulu-vs-logika-rasional-95f34d5780be
canonical_url
https://medium.com/@adeltiara29/konsep-pernikahan-dilihat-dari-pov-jalani-aja-dulu-vs-logika-rasional-95f34d5780be
author_url
https://medium.com/@adeltiara29
status
ok
fetched_at
2026-07-11 17:08:33