← Back to list

FASISME RASA DEMOKRASI

“We can fool all the people some of the time, and some of the people all the time, BUT we can’t fool all the people all the time “ —…

Andreas Hutagalung · 2016-07-16 01:49 · 0 claps · 2.8 min read
#democracy #fasism #government #bandung #jakarta
Open on Medium ↗
Wiki topics: SOC · Sociology & Politics 📋 · Product Management 🏛️ · Politics

FASISME RASA DEMOKRASI

“We can fool all the people some of the time, and some of the people all the time, BUT we can’t fool all the people all the time “ — Abraham Lincoln —

  • FASISME

Dalam pengertian yang saya pahami, fasisme lahir dari opsional konsep demokrasi dan indrustialisasi. Fasisme terlahir dari perselingkuhan antara kebanggaan ( pride ) dan sifat otoritas. Berselingkuh dari siapa? Berselingkuh dari konsep demokrasi. Pada zaman Plato, fasisme lahir dari kebanggaan pada diri sendiri atau “ lingkaran pemerintahan” yang merasa jauh LEBIH PINTAR, LEBIH BISA, LEBIH MENGERTI daripada mayoritas. Dalam kasus kasus di Indonesia ,mayoritas yang di maksud adalah masyarakat.

“ Saya lebih tau, masyarakat tau apa?!”

-statement oleh salah satu pemimpin kota yang katanya peduli dengan para JOMBLO sehingga dibuatkan taman-

Statement sejenis itu yang terlontar di depan publik maupun di balik layar. Pantaskah? Sama sekali tidak dari segi apapun tidak pantas bila dilontarkan dan sampai ke telinga masyarakat. Statement seperti ini telah mengindikasikan benih benih fasisme.

Fasisme = komunisme? Tidak .

Komunisme lebih berbicara pada hilir, dimana ujungnya harus terjadi sama rasa, sama beban, sama sama sejahtera.

Sementara fasisme berbicara tentang hulu, dimana semua kebijakan berasal, dimana hal hal yang bersifat fisik maupun non-fisik diatur dan sebagainya mulai direncanakan. Memang seringkali agak susah dibedakan karena keduanya juga berbicara tentang dominasi pemerintah dalam menjalankan kebijakan.

Sekali serigala tetap serigala

Trend yang beredar sekarang pemerintah bermain dengan pencitraan dan menampilkan demokrasi hanya didepan layar kaca dan layar gadget masyarakatnya. Mereka seolah olah membuat paradigma dimana pemerintah sangat ingin membuat suatu kebijakan yang didasarkan pada preferensi rakyat ( dan merangkul banyak kawula muda labil sebagai mayoritas), dimana pemerintah tau betul bagaimana merangkul minoritas di Ibukota, dimana pemerintah seolah olah “ Berperan sebagai Tuhan”yang bisa blusukan ke seluruh penjuru. Segala kemudahan membangun citra lewat media ini membuat para pemimpin terbuai dan lupa bahwa mereka harus membuat pemerintahan dan perencanaan yang partisipatif, bukan hanya semu.

Hanya saja, masyarakat Indonesia sudah nyaman disajikan sebuah bom waktu. Kenapa bom waktu? Ya ada masanya dimana tujuan pribadi para pemimpin Indonesia harus tembus. Saat itu mereka akan menentukan banyak hal yang menyangkut hajat orang banyak lewat kepalanya sendiri bukan berdasarkan keinginan masyarakat. akhirnya kita para domba cukup terdiam dan meringis karena haknya dipangkas habis habisan.

Fenomena demokrasi yang terjadi di Indonesia bukanlah Dari Rakyat,Oleh Rakyat dan Untuk Rakyat , tetapi Dari pemimpin , Oleh Sejawatnya pemimpin Untuk rakyat. Hal ini terjadi karena 2 hal :

  1. Pemerintah sengaja me-ninabobo-kan masyarakat terhadap perencanaan dan penentuan kebijakan
  2. Mayoritas masyarakat Indonesia memang nyaman dengan status Bodohnya sehingga nurut aja dibodohi

Ya.. seperti yang terjadi di kampus saya sendiri dan beberapa kampus besar lainnya, dalam berkemahasiswaan pendapat yang ditarik pun hanya berlandaskan “ 1 pemimpin merupakan representasi dari puluhan bahkan ratusan Kepala “ haha. BODOH. Itu konsep benar saat memang ada mekanisme jelas pengumpulan dari mayoritas kepala masyarakat didalamnya.

Lalu kalau nanyain pendapat masyarakat di Indonesia kan susah soalnya banyak jumlahnya, ya kan? Saya kembali bertanya. Lalu apa fungsinya dpr, dprd, walikota dan staffnya, camat dan staff,lurah dan staff ketua RW , ketua RT ?? Masih bilang susah mengumpulkan pendapat masyarakat indonesia?

Membahas pengumpulan aspirasi, pemerintah indonesia sedang mengupayakan pemberdayaan dunia maya untuk pengumpulan aspirasi. Menurut saya semua itu hampir OMONG KOSONG. Siapa yang tau itu semua orang sungguhan yang berpendapat, siapa yang tau kalau pemdapat kita ditanggapi dan tidak hanya jadi formalitas,siapa yang tau kalau ternyata pemimpin memang sudah menentukan ini itu sebelum membuka laman web pengumpul aspirasi? Siapa? Siapa? Siapa coba?

Kita sesungguhnya sedang menuju zaman kepemimpinan otoriter, hanya saja bedanya dengan zaman Bapak Alm. Soeharto, para pemimpin Indonesia sekarang lebih main bersih menyembunyikan otoritasnya dalam memerintah.

Sesungguhnya,menanggapi hal ini gampang gampang susah. Kenapa tidak menyediakan suatu transparansi mengenai pengumpulan aspirasi? Atau mungkin ada cara yang lebih bagus agar masyarakat tidak terus berprasangka buruk terhadap keberadaannya di sistem pemerintahan Indonesia.

Dari siapa? Oleh siapa?Untuk siapa?

Untuk sebuah tatanan yang mau berdemokrasi, DARI RAKYAT OLEH RAKYAT dan UNTUK RAKYAT adalah harga mati. Pemimpin baik di Kampus,RTRW, Kota, Provinsi , Negara Jangan sekali kali sok pintar!

Kenapa sinis banget sih? Mereka kan sudah jauh lebih baik menata Indonesia orang kayak mereka bukan untuk disingkirkan. Lho.. siapa yang mau menjatuhkan mereka? Memang tak ada gading yang tak retak,tetapi menurut seorang dosen yang sangat filosofis di ITB ( Bpk. Koko Martono )

“Seorang manusia memang tidak dapat sempurna, tetapi kita dapat mengusahakan limit mendekati tak hingga” jadi mari kita perbaik kesalahan mendasar ini. Sebelum “ ke fasisme an” para pemimpin kita menjadi bom waktu sendiri untuk rakyatnya.


메타데이터
post_id
960f1056a9ca
slug
fasisme-rasa-demokrasi-960f1056a9ca
url
https://medium.com/@KantongTulisan/fasisme-rasa-demokrasi-960f1056a9ca
canonical_url
https://medium.com/@KantongTulisan/fasisme-rasa-demokrasi-960f1056a9ca
author_url
https://medium.com/@KantongTulisan
status
ok
fetched_at
2026-07-30 18:08:18