← Back to list

Kepik Muram Membangun Sarang Temaram

Pada senja yang lengang, seekor kepik sejenak berhenti terbang.

Foggy FF · 2026-01-26 13:14 · 0 claps · 1.4 min read
Open on Medium ↗

Kepik Muram Membangun Sarang Temaram

Pada senja yang lengang, seekor kepik sejenak berhenti terbang.

Ia menepi di sudut kamar berdebu, di antara tumpukan buku. Sayapnya terlipat rapat, sambil memeluk dirinya sendiri yang lelah, di luar sana dunia terlampau gaduh.

Ia tidak sedang sakit, tidak juga terluka. Ia cuma… ingin diam dan sendiri.

Kepik mulai mengumpulkan serpihan kecil: serat kain dari selimut, remah kertas, butir debu yang melekat di telapak kakinya. Perlahan, dengan kesabaran penuh seluruh, ia merangkai sejalin sarang tersembunyi. Bukan sarang para petelur, bukan rumah tempat berpulang. Lebih tepat tempat berlindung — sebuah ruang sunyi tempat ia mengecilkan diri, menghilang dari mata dunia.

Di luar sana, langit tetap melanglang. Suara manusia bersilang, cahaya sore berubah menjadi temaram. Kepik mengintip dari celah dinding sarangnya. Ia ingin keluar. Ia rindu merayap di dinding yang hangat, ingin kembali menelusuri garis cahaya pada dahan. Tetapi setiap kali hendak melangkah, sesuatu di dalam dirinya ketakutan, takut terinjak, takut dibiarkan sendirian di tengah langit luas.

Ada hari ketika kepik membenci sarangnya sendiri. Ia merasa terkurung, merasa tempurungnya terlalu kecil, merasa marah pada dinding rapuh yang ia bangun dengan tangannya sendiri. Dalam diam, ia menyakiti diri, merusak lapis demi lapis kulit di tubuhnya, seolah ingin menghukum dirinya sendiri. Lalu, ia menangis tanpa suara, dan tak tahu lagi harus bersembunyi di mana.

Perasaannya datang dan pergi begitu saja. Ia lelah. Pagi ia masih punya harapan, siang ia diliputi gelap, malam ia merasa kosong seperti cangkang yang ditinggalkan penghuninya. Ia sering bertanya: “Aku ini siapa, jika bukan makhluk yang selalu sembunyi?” Tapi yang ada cuma gaung dari rongga kecil dadanya.

Sesekali, ada langkah kaki manusia yang berhenti dekat sarangnya. Bayangan besar jatuh menutupi celah. Kepik menahan napas ketakutan. Ia ingin diselamatkan, ingin dipeluk, ia merasa butuh diinginkan dan dipindahkan ke tempat yang aman. Namun pada saat yang sama, ia takut bila tangan itu justru merusaknya, menyingkirkannya, menyakitinya, menghancurkannya tanpa sengaja. Maka ia tetap bergeming.

Sarang itu adalah gambaran dirinya. Yag begitu rapuh, sempit, tapi satu-satunya tempat yang bisa ia kendalikan. Di sanalah ia bertahan, meski kadang melukai dirinya sendiri. Ia belum tahu bagaimana caranya keluar tanpa ketakutan, tanpa curiga, tanpa kesakitan, bagaimana caranya agar tak merasa terancam.


메타데이터
post_id
9639a99edbd2
slug
kepik-muram-membangun-sarang-temaram-9639a99edbd2
url
https://medium.com/@FoggyFF/kepik-muram-membangun-sarang-temaram-9639a99edbd2
canonical_url
https://medium.com/@FoggyFF/kepik-muram-membangun-sarang-temaram-9639a99edbd2
author_url
https://medium.com/@FoggyFF
status
ok
fetched_at
2026-07-13 06:23:13