← Back to list

Tepi yang Memudar: Tentang Diri, Dunia, dan Batas yang Menjaga Keduanya

Sebuah refleksi filsafat dan budaya mengenai “batas”

Suntar Jono in Channel Filsafat · 2025-10-13 09:13 · 177 claps · 6.0 min read paywalled
#filsafat #budaya #indonesia #batas #refleksi
Open on Medium ↗
Wiki topics: AI · AI · General

Tepi yang Memudar: Tentang Diri, Dunia, dan Batas yang Menjaga Keduanya

Sebuah refleksi filsafat dan budaya mengenai “batas”

Photo by Aleš Čerin on Unsplash

Photo by Aleš Čerin on Unsplash

Ada masa-masa ketika saya merasa hidup terasa begitu sesak. Pekerjaan ikut menyelinap ke atas meja makan, tanggung jawab keluarga tidak dapat dilepaskan dari tanggung jawab akademik, dan bahkan saat kita diam, pikiran masih sibuk menimbang jumlah pekerjaan yang harus diselesaikan. Dunia modern membuat semua tumpang tindih, termasuk waktu dan tanggung jawab, peran dan diri sendiri. Di tengah kekacauan ini, pertanyaan yang pelan tetapi mengusik muncul: mana bagian hidup yang benar-benar saya miliki dan mana bagian yang sudah dimiliki oleh dunia? Mungkin yang hilang dari kita bukanlah waktu, melainkan kejelasan tentang batas.

Barangkali, cara terbaik untuk seseorang memahami apa itu “batas” adalah dengan mengamati reaksinya saat batas itu dilanggar. Di sinilah gagasan mengenai “kotor” menjadi menarik untuk dipikirkan. Selama ini, kita sudah terbiasa dengan anggapan bahwa “kotor” adalah entitas yang harus dihilangkan. “Kotor” bukan hanya lawan dari “bersih”, melainkan sesuatu yang secara naluriah dijauhi atau dibuang. Namun, Mary Douglas — seorang antropolog Inggris dalam Purity and Danger — membalik cara pandang tersebut. Menurut Douglas, “kotor” bukanlah sesuatu yang memiliki nilai intrinsik. Pada dasarnya, “kotor” tidak melulu berarti jahat, menjijikkan, ataupun tidak suci. Justru, sesuatu dianggap kotor ketika tidak berada pada tempatnya.

If we can abstract pathogenicity and hygiene from our notion of dirt, we are left with the old definition of dirt as matter out of place. This is a very suggestive approach. It implies two conditions: a set of ordered relations and a contravention of that order. Dirt, then, is never a unique, isolated event. (Pádraig Belton 2017, p.27)

Dengan kata lain, “kotor” bukan persoalan keberadaan benda atau entitas, melainkan berkaitan dengan sistem klasifikasi yang kita bangun untuk menata dunia. Sepatu di kaki bukanlah sesuatu yang kotor, tetapi ketika diletakkan di atas meja makan, benda itu menimbulkan kegelisahan. Daun kering di halaman tidak mengganggu siapa pun, tetapi ketika terselip di ruang tamu, daun itu menjadi salah tempat. Bahkan kotoran manusia yang tersimpan di dalam septik tank bukanlah masalah. Hal itu baru menjadi persoalan ketika kita menemukannya di dalam kotak makan pribadi kita. “Kotor,” tulis Douglas, merupakan bukti bahwa ada tatanan yang dilanggar. Keberadaan sesuatu yang dianggap kotor menunjukkan bahwa ada sistem yang sedang berupaya menjaga keteraturannya.

Pemikiran Douglas terasa mengguncang karena membalik pengertian yang kita yakini sejak kecil. Ia mengajak kita melihat bahwa yang dianggap “najis” atau “berbahaya” bukanlah persoalan sederhana seperti moralitas, melainkan hasil dari cara kita “menyusun” dunia. Sesuatu menjadi menakutkan bukan karena substansinya, melainkan karena telah melampaui batas klasifikasi yang kita buat. Di sisi lain, dunia yang terlalu bersih justru rapuh, sebab tanpa kemungkinan pelanggaran, kita kehilangan kemampuan untuk memahami apa yang tertib. Justru kemungkinan ada pelanggaranlah yang membuat batas itu memiliki arti.

Namun, batas tidak hanya membentuk persepsi kita mengenai keteraturan dunia, tetapi juga memengaruhi cara kita berpikir tentang pengetahuan. Filsuf Karl Popper pernah menyebut bahwa ciri pernyataan ilmiah adalah falsifiability — kemampuannya untuk dibantah. Sebuah teori layak disebut ilmiah jika dapat diuji dan dapat dibuktikan salah. Batas inilah yang memisahkan sains dari pseudosains, pengetahuan dari pernyataan yang tidak ilmiah.

Beberapa waktu lalu, seorang pejabat publik menyatakan bahwa perempuan dapat hamil hanya karena berenang di kolam renang yang sama dengan laki-laki. Pernyataan itu disampaikan dengan keyakinan seolah-olah ilmiah, padahal berbahaya karena tidak berpijak pada teori ilmiah yang kokoh. Klaim semacam ini memang dapat diuji secara empiris — dan kedokteran modern mampu membuktikan kekeliruannya — namun bahaya sejatinya terletak pada hilangnya kesadaran akan batas antara pengetahuan ilmiah dan pengetahuan yang tidak teruji. Popper mengingatkan bahwa ilmu pengetahuan bukan sekadar kumpulan pernyataan yang tampak logis, melainkan teori yang dapat diuji, disanggah, dan direvisi. Tanpa batas tersebut, apa pun dapat disebut “benar”, asalkan diucapkan dengan keyakinan yang cukup kuat.

Batas bukan hanya persoalan pengetahuan, tetapi juga menentukan nasib bangsa-bangsa. Agustinus Wibowo, dalam bukunya Kita dan Mereka, menulis tentang Sungai Amu Darya yang memisahkan Afghanistan dan Tajikistan. Orang-orang di kedua sisi sungai itu dulunya merupakan satu bangsa, berbagi bahasa dan kebiasaan yang sama. Sejak Uni Soviet menegaskan garis batas di atas sungai tersebut, kehidupan mereka terbelah. Penduduk Afghanistan kini hanya dapat memandangi mobil-mobil yang melaju di seberang sungai — dunia yang begitu dekat, tetapi tak tersentuh seumur hidup mereka. Sebuah garis di peta berubah menjadi takdir; menentukan siapa yang bebas dan siapa yang dibatasi.

Pada masa yang lebih kuno, melintasi batas seperti itu memang bisa berakibat fatal. Memasuki wilayah suku lain tanpa izin dianggap pelanggaran berat yang dapat dibalas dengan kematian. Dunia kala itu diatur oleh rasa takut terhadap “yang lain”. Kini, di kota-kota modern, keadaan justru berbalik. Batas-batas fisik perlahan memudar, dan kita terbiasa berpapasan dengan ratusan orang asing setiap hari — di jalan, di stasiun, di lift — tanpa merasa ada jarak dan ketakutan yang berarti. Kedekatan semacam itu kini terasa wajar, bahkan rutin. Namun, ketika batas-batas telah lenyap sepenuhnya, dunia justru terasa datar dan tanpa poros, seolah kehilangan pusat gravitasi yang dahulu menegaskan siapa diri kita di antara sesama manusia.

Filsuf Hannah Arendt menelusuri perubahan ini dalam The Human Condition. Ia membedakan dua ranah utama dalam kehidupan manusia: ranah privat, tempat manusia mengurus kebutuhan biologis seperti makan, tidur, bekerja, dan merawat keluarga; serta ranah publik, tempat manusia menampakkan dirinya melalui tindakan dan ucapan, berpartisipasi dalam dunia bersama. Ranah publik, menurut Arendt, merupakan ruang tempat kebebasan dan makna muncul, karena di sanalah manusia berinteraksi sebagai pribadi yang unik.

Untuk menjelaskan hubungan keduanya, Arendt menggunakan metafora meja di tengah ruangan. Meja itu melambangkan dunia bersama yang dibangun manusia — sesuatu yang memungkinkan semua orang duduk berhadapan, berbicara, dan berdebat. Meja menghubungkan manusia, tetapi sekaligus menjaga jarak agar mereka tidak saling menelan.

To live together in the world means essentially that a world of things is between those who have it in common, as a table is located between those who sit around it; the world, like every in-between, relates and separates men at the same time. (Hannah Arendt 2018, p.52)

Tanpa meja tersebut, manusia akan “jatuh menimpa satu sama lain”, kehilangan jarak yang memungkinkan dialog dan kehidupan sosial berlangsung. Dunia yang sehat adalah dunia yang memiliki “meja” itu — sebuah batas simbolis antara yang pribadi dan yang bersama, antara kehidupan yang dijalani dan dunia yang dibagikan.

Akan tetapi, modernitas, menurut Arendt, melahirkan sesuatu yang baru: ranah sosial. Di sinilah batas antara publik dan privat menjadi kabur. Urusan rumah tangga, ekonomi, dan kesejahteraan kini diangkat menjadi urusan publik, sedangkan politik, yang seharusnya menjadi ruang tindakan dan wacana bersama, direduksi menjadi sekadar administrasi dan manajemen sosial. Pemerintah berubah menjadi semacam pengurus rumah tangga raksasa yang sibuk memastikan kehidupan berlangsung efisien, tetapi kehilangan dimensi kebebasan dan tindakan moral yang seharusnya menjadi inti politik.

Dalam dunia seperti ini, manusia kehilangan ruang untuk menampakkan diri secara otentik. Diskusi publik berubah menjadi laporan angka, dan keberhasilan politik diukur melalui stabilitas, bukan keberanian moral. Sebaliknya, hal-hal yang seharusnya bersifat pribadi — cara makan, tidur, atau berpakaian — dibawa ke ruang umum dan diadili dengan logika efisiensi serta produktivitas. Kita sibuk mengelola kehidupan, tetapi lupa bertanya untuk apa hidup dijalani. Arendt menyebut inilah awal dari hilangnya dunia bersama: ketika batas antara pribadi dan publik menguap, dan manusia kehilangan “meja” yang mempersatukan sekaligus memisahkan mereka.

Mary Douglas mungkin akan menyebut situasi ini sebagai bentuk baru dari kekacauan simbolik. Jika “kotor” berarti sesuatu yang tidak berada pada tempatnya, maka masyarakat modern hidup dalam kekacauan yang halus: yang sakral berubah menjadi konsumsi, yang pribadi menjadi tontonan, dan yang politis menjadi urusan teknis. Dunia kini seperti cairan yang tumpah — mengalir ke mana-mana, tetapi kehilangan bentuknya.

Itu sebabnya, batas itu sendiri bukanlah musuh kebebasan. Batas justru menjadi syarat agar kebebasan memiliki arah. Sungai dapat mengalir karena ada tepi, lukisan dapat dinikmati karena ada bingkai, dan karya fotografi dikatakan indah karena memiliki batas. Saya teringat perkataan guru saya, Dr. Ivan Kristiono, yang pernah memberikan ilustrasi bahwa perut terlihat indah karena memiliki batas, yaitu six pack. Bayangkan jika seseorang berkata kepada Anda bahwa perut Anda tak berbatas — tentu terasa menganggu dan menyebalkan, bukan? Begitu pula dengan manusia: kita hanya dapat menjadi diri sendiri sebagai individu karena ada yang bukan diri kita. Batas bukanlah tembok yang mengekang, melainkan ruang yang menjaga agar sesuatu tetap memiliki bentuknya.

Saya belajar bahwa menjaga batas bukan berarti menolak dunia, melainkan upaya untuk memastikan agar dunia tidak menelan saya sepenuhnya. Dalam kehidupan digital yang menuntut keterbukaan total — selalu aktif dan selalu terlihat — menarik diri sejenak bukanlah tanda kelemahan, tetapi cara untuk merawat kewarasan. Barangkali, di zaman yang cair ini, tindakan paling melegakan adalah berani berkata “cukup”.

Daftar Pustaka

  • Arendt, Hannah. The Human Condition. 2nd ed. Sixtieth Anniversary Edition. Chicago: University of Chicago Press, 2018.
  • Belton, Pádraig. An Analysis of Mary Douglas’s Purity and Danger: An Analysis of Concepts of Pollution and Taboo. London: Macat International Ltd; distributed by Routledge, 2017.
  • Wibowo, Agustinus. Kita dan Mereka. Bandung: Mizan, 2024.

Terima kasih telah meluangkan waktu untuk membaca artikel ini — meskipun, tentu saja, waktu itu sendiri selalu dapat dipersoalkan secara filosofis. Salam dari ruang refleksi!

Jika Anda masih ingin menelusuri jejak lain dari pemikiran filosofis, berikut beberapa coretan saya yang mungkin bisa menjadi teman perenungan kita berikutnya:

[embed]Diri yang Membungkam Diri Jalan keluar melalui refleksi filosofis atas refleksi itu sendirimedium.com

[embed]From Certainty to Complexity: The Vanishing Boundaries of Objectivity Unraveling the Complexity Behind Assumed Certainty in Objectivitymedium.com


메타데이터
post_id
96b6ed8963e2
slug
tepi-yang-memudar-tentang-diri-dunia-dan-batas-yang-menjaga-keduanya-96b6ed8963e2
url
https://medium.com/channel-filsafat/tepi-yang-memudar-tentang-diri-dunia-dan-batas-yang-menjaga-keduanya-96b6ed8963e2
canonical_url
https://medium.com/channel-filsafat/tepi-yang-memudar-tentang-diri-dunia-dan-batas-yang-menjaga-keduanya-96b6ed8963e2
author_url
https://medium.com/@SuntarJono
status
ok
fetched_at
2026-06-24 11:06:28