Film Pesta Babi: Refleksi Kolonialisme dalam Sistem Kampus UIN Walisongo
Sumber: Dokumen Pesta Babi
Film Pesta Babi: Refleksi Kolonialisme dalam Sistem Kampus UIN Walisongo

Sumber: Dokumen Pesta Babi
Secara etimologi, kolonialisme berasal dari bahasa latin “colonus”, yang berarti petani, pemukim, atau tanah. Bahasa sederhananya kolonialisme adalah sistem di mana suatu negara menguasai wilayah lain untuk mengeksploitasi sumber daya alam dan manusia. Penulis merasa bahwa tatanan sistem di kampus UIN Walisongo dirasa kolonial sekali. Kampus yang seharusnya menjadi tempat pertarungan pemukiran atas kesetaraan golongan namun pada realitasnya penulis seperti melihat ada suatu hal yang sedang telanjang atas sistem kolonialisme di kampus UIN Walisongo. Kampus bukan sekadar tempat menimba ilmu, tetapi juga wadah sebagai pembentukan karakter dan nilai-nilai kebangsaan. Di lingkungan akademik pertarungan gagasan merupakan hal yang sangat lumrah, namun sering kali pemikiran kritis lagi dan lagi ditemukan pemikiran kolot. Dalam artian, pemikiran yang tidak terbuka, stagnan, dan tertutup. Kemampuan analisis seorang mahasiswa yang telah sadar akan situasi lingkungannya merasa gateli.
Proker Serasa Proyek Program Kerja (Proker) merupakan suatu rencana kegiatan yang dibuat untuk mencapai tujuan dalam organisasi, kelompok, maupun perusahaan. Namun dalam hal ini terkadang pelaku dalam sistem yang ditugaskan untuk menjalankan tugas dan kewajibannya kadang seringkali tidak bisa membedakan (buta) antara proker dan proyek. Jahatnya kolonial kampus sebuah anggaran yang turun untuk kepentingan mahasiswa dilahap habis oleh oknum kolonial yang rakus. Sebuah anggaran yang dikeluarkan oleh kampus seharusnya dikelola sebaik-baiknya, bukan malah membagi beberapa persen anggaran untuk masuk ke dalam kas yang tidak menjadi haknya. Proker yang ideal seharusnya dibuat karena menjawab kebutuhan mahasiswa jangan menjadikan proker sebagai ladang proyek demi menimbun kas yang tidak jelas akan dialokasikan ke mana. Sebab antara proker dan proyek di sistem kolonialisme kampus kadang kala menjadi bias seluruh civitas akademika. Ketika aksi berkoar menentang sebuah keadilan namun dalam sistem kolonialisme kampus menjadi alat untuk mencari pundi-pundi uang untuk dimasukkan ke dalam kas suatu organisasi. Keterpurukan sebuah organisasi secara perlahan akan tercium oleh mahasiswa yang telah sadar akan realitas lalu membuka matanya secara telanjang bahwa tidak hanya negara yang menjalankan sistem kolonialisme terhadap warganya sendiri, melainkan sebuah unit miniatur negara telah mencerminkan miniaturnya secara gamblang.
Inkompetensi Kader dalam Tubuh Miniatur Negara Jujur, penulis merasa adanya inkompetensi seorang kader yang ditempatkan jabatan strategis di dalam tubuh miniatur negara. Penyakit akut yang setiap tahun diidap oleh penghuni organisatoris ketika struktur yang megah tidak ditopang dengan kepemimpinan, management, dan organisasi yang baik dan benar. Sebab, penulis melihat sebuah celah dalam tubuh miniatur negara yang senang sekali memelihara orang yang inkompetensi. Jebakan jargon mahasiswa yang berproses di organisasi acap kali fasih meneriakkan ketidakadilan ditambah teori-teori kolonial namun gagap menjalankan tata kelolaorganisasi yang paling mendasar. Inkompetensi dalam tubuh miniatur negara sering kali menyamar di balik kumpulan rapat yang berakhir hingga adzan shubuh. Rapat berjam-jam bukan untuk mencari titik tengah atas persoalan melainkan ketidakmampuan seorang kader organisatoris untuk memetakan masalah secara taktis. Kepiawaian kader organisasi acap kali lantang suaranya ketika turun ke jalan, namun bobroknya sebuah inkompetensi kader yang menduduki tatanan pemerintah kampus sangat disayangkan bahwa mereka duduk bermodalkan formalitas training yang menjual akte kelahirannya demi mendapatkan jabatan dalam organisasi. Inkompetensi seorang kader bisa terjadi karena sistem kaderisasi yang disfungsi. Miniatur negara ini meniru secara telanjang tabiat buruk negara aslinya dalam urusan perebutan kekuausaan. Bahkan orang yang berbeda dengan koloninya dilibas habis aksesnya untuk berproses.
Penjajahan di Ruang Akademik Dampak penjajahan yang sangat nyata dari inkompetensi kader ketika pengurus miniatur negara itu sibuk bersilat lidah dengan narasi-narasi besar yang tidak membumi. Mereka lupa akan ketidakadilan, kesetaraan, dan kemajuan raung akademik tidak akan bisa diraih selama penjajahan di ruang akademik masih terus berjalan. Kader yang merasa dijajah atas kompetensinya akan cenderung melakukan penolakan atas dirinya sendiri. Sebab seorang kader yang inkompeten cenderung defensif dan fanatis. Mereka yang inkompeten pasti merasa cenderung defensif terlebih mendapatkan lontaran kritik atas kinerja-kinerja organisasi yang dinilai tidak pro dengan mahasiswanya. Bahkan tak jarang mahasiswa yang kompeten namanya dijadikan daftar hitam, sampai ada seorang kader yang yang menyerang balik si pengkritik yang inkompeten dengan tuduhan apatis. Begitulah bentuk kolonialisme yang diperlihatkan para pejabat di tatanan pemerintah pusat. Jika tatanan internal organisasi dikelola secara amatiran dan penuh dengan pola lama, maka miniatur negara sedang mencetak mahasiswa yang pandai berorasi namun lupa untuk mengisi kapasitas keilmuannya. Penjajahan di ruang akademik itu terjadi ketika tatanan sistem kolonial yang sangat amat kolot ini masih dipelihara. Ruang akademik yang seharusnya menjadi wadah kebebasan berpikir malah kerap menjadi kolonialisasi gaya baru. Menguak kolonialisme di kampus UIN Walisongo disuguhkan bagi mereka yang memiliki kepercayaan bahwa kebenaran akan menemukan jalannya sendiri.
Penulis: Rahmat Setiawan (Kabid PTKP HMI Korkom Walisongo Semarang)
메타데이터
- post_id
- 96b9e7db3f32
- slug
- film-pesta-babi-refleksi-kolonialisme-dalam-sistem-kampus-uin-walisongo-96b9e7db3f32
- url
- https://medium.com/@rahmatsetiawan111219/film-pesta-babi-refleksi-kolonialisme-dalam-sistem-kampus-uin-walisongo-96b9e7db3f32
- canonical_url
- https://medium.com/@rahmatsetiawan111219/film-pesta-babi-refleksi-kolonialisme-dalam-sistem-kampus-uin-walisongo-96b9e7db3f32
- author_url
- https://medium.com/@rahmatsetiawan111219
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-24 18:57:25