← Back to list

Kabar Buruknya, Pesta Babi Terjadi Karena Kita. Kabar Baiknya–

Kabar baiknya belum ada.

Narendri Prameswari · 2026-05-29 15:28 · 4 claps · 2.4 min read
#pesta-babi #papua #masyarakat-adat #hidup-berkesadaran
Open on Medium ↗

Kabar Buruknya, Pesta Babi Terjadi Karena Kita. Kabar Baiknya–

Kabar baiknya belum ada.

Yang ada hanyalah kesedihan, kemarahan, dan kekecewaan yang aku rasakan setelah menonton dokumenter Pesta Babi. Film itu memperlihatkan betapa arogan manusia dalam keinginannya menguasai alam. Padahal Tuhan menciptakan bumi beserta isinya untuk ditinggali bersama — selaras, seimbang. Bukan untuk dikuasai satu makhluk saja, yaitu manusia.

Mengapa aku menggunakan diksi “kita” pada judul?

Karena kehancuran ini, secara tidak sadar, terjadi karena aku, kamu, mereka, dan kita semua.

Hal-hal sehari-hari yang rasanya “ah, tidak mungkin menyebabkan kerusakan sebesar itu” ternyata jika dikalikan jutaan orang dengan pola pikir yang sama, akhirnya benar-benar menjadi kerusakan yang nyata.

Hal sesederhana: “Shade barunya lucu banget. Harus beli sih.” Padahal masih ada puluhan lip product di rumah yang bahkan belum dibuka plastiknya.

Atau saat ada kolaborasi spesial botol tumbler dengan artis favorit kita, lalu tanpa berpikir panjang buru-buru mengamankannya agar punya satu di rumah. Padahal botol minum di rak dapur sudah lebih dari cukup.

Overconsumption perlahan mulai kita normalisasi. Terlebih dengan adanya media sosial yang terus memperlihatkan kehidupan influencer dengan gaya hidup yang makin tidak realistis — baju yang terus berganti, barang baru yang datang tanpa henti, dan kebiasaan konsumtif yang lama-lama terlihat wajar.

Padahal ternyata ada harga mahal yang harus dibayar.

Dan sering kali, yang membayarnya bukan kita.

Melainkan saudara-saudara kita yang hidup selaras dengan alam. Masyarakat adat di Papua yang kehidupannya bergantung pada hutan. Hutan yang bagi mereka bukan hanya tempat tinggal, tetapi juga sumber makanan, tempat bermain, tempat pulang, kulkas, dan supermarket mereka.

Kini hutan-hutan itu ditebang demi memenuhi kebutuhan masyarakat kota. Demi rak-rak supermarket di gedung pencakar langit. Demi memenuhi gaya hidup yang rasanya tidak pernah selesai.

Eyeshadow palette di meja rias kita yang bahkan tidak pernah habis, ternyata membutuhkan kelapa sawit sebagai salah satu bahan bakunya. Sawit yang sering kita kritik karena pembukaannya yang masif dan mengorbankan hutan. Padahal jika dipikir lagi, alasannya sederhana: karena ada demand. Dan demand itu… ya kita.

Namun semakin kupikirkan lagi, rasanya juga tidak adil jika seluruh beban kesalahan hanya ditaruh pada masyarakat. Karena pada akhirnya ada pihak yang memiliki kuasa lebih besar untuk menentukan arah semua ini: pemerintah dan para pemegang kebijakan.

Keinginan untuk terus menciptakan proyek baru, produk instan, dan pembangunan cepat sering kali terasa lebih besar daripada keinginan untuk benar-benar membuat kebijakan yang berkelanjutan. Padahal berkali-kali kita melihat proyek gagal, proyek mangkrak, lahan yang sudah terlanjur dibuka lalu ditinggalkan begitu saja, sementara hutan yang ditebang tidak bisa tumbuh kembali dalam waktu singkat.

Yang menyedihkan, alih-alih memperbaiki atau mengevaluasi proyek lama, yang terjadi justru membuka lahan baru lagi. Menebang hutan baru lagi. Dan di tengah semua itu, masyarakat adat lagi-lagi menjadi pihak yang paling pertama merasakan dampaknya.

Mungkin pada akhirnya kita memang tidak bisa sepenuhnya berharap pada pemerintah. Tidak bisa terus menunggu kebijakan yang benar-benar berpihak pada alam, pada masyarakat, dan pada masa depan yang lebih panjang daripada sekadar proyek beberapa tahun ke depan.

Namun mungkin justru karena itu, kita perlu mulai berharap pada diri sendiri. Karena mungkin perubahan besar memang tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar.

Aku jadi sadar, mungkin yang paling hilang dari hidup kita hari ini adalah kata “cukup”.

Kata yang sebenarnya sangat familiar, tetapi akhir-akhir ini terasa kehilangan tempatnya.

Mungkin sudah waktunya kita mulai menggunakan kata itu lagi. Mengingatkan diri sendiri bahwa tidak semua hal harus dimiliki. Tidak semua keinginan harus dipenuhi.

Karena sebetulnya, apa yang kita miliki hari ini mungkin sudah lebih dari cukup.


메타데이터
post_id
96ba7d958cd2
slug
kabar-buruknya-pesta-babi-terjadi-karena-kita-kabar-baiknya-96ba7d958cd2
url
https://medium.com/@prameswarim.mp/kabar-buruknya-pesta-babi-terjadi-karena-kita-kabar-baiknya-96ba7d958cd2
canonical_url
https://medium.com/@prameswarim.mp/kabar-buruknya-pesta-babi-terjadi-karena-kita-kabar-baiknya-96ba7d958cd2
author_url
https://medium.com/@prameswarim.mp
status
ok
fetched_at
2026-08-22 01:30:53