← Back to list

Menggandrungi “Planetarium” dan Krisis Eksistensi dari Sudut Ruang 3X4

Dua pagi di tengah himpitan sepi, terlelap kembali hilang untuk menjadi opsi.

Daniet Dhaulagiri · 2023-03-30 16:11 · 1 claps · 2.7 min read
#krisis-eksistensial
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🔭 · Astronomy & Space

Menggandrungi “Planetarium” dan Krisis Eksistensi dari Sudut Ruang 3X4

Dua pagi di tengah himpitan sepi, terlelap kembali hilang untuk menjadi opsi.


Semua berawal dari ketidaksengajaan jari yang terpeleset memutar satu repertoar dari Jirapah, mungkin semenjak rilis albumnya pada 2019, lalu menjadi amunisi utama mereka, selain menjadi tajuknya itu sendiri. “Planetarium” merupakan yang paling digemari sehingga menempati urutan cukup/paling populer di profil platform musik digital mereka. Sangat masuk akal.

Saya yakin sebagian dari kita terlahir dan hadir diikat eksistensi dengan halus, pelan diiringi suka cita yang sedang dirayakan tangisan haru dari individu-individu yang kelak mereka dekat, juga tak menutup keungkinan bisa membuatmu seolah sekarat. Sementara kita? Sedang sibuk menyambutnya dengan tangisan, keras. Entah mengapa kebaikan dan keselamatan harus ditandai oleh tangisan.

Terdengar bagaimana Jirapah mengawali trek tersebut dengan dua karakter gitar yang dipetik secara seksama, terdengar hampir sama, meski sesungguhnya berbeda. Formulasi ilusi indra pendengar yang menghanyutkan mereka tawarkan. Dingin, tapi menenangkan. Sebelum akhirnya pedal drum dan hi-hat mengetuk sebagai aba-aba menghadapi yang nyata.

Bagi saya, hidup hingga belasan tahun rasanya ringan dan cepat. Ya, memiliki keluarga yang berkecukupan membuatnya mudah. Namun memasuki dan menjalani kepala dua mengapa rasanya seperti terseok-seok? Tunggu dulu, ke mana perginya sinar yang sebelumnya mengiringi? Menjadi saya mengapa membebani diri sendiri? Apa memang terang adalah tipu daya optik tersendiri? Menuntun dan pergi. Meninggalkan beban atau permasalahan-permasalahan pada pundak ini. Sesaat kembali, tak lama pergi lagi.

Rasanya malam ini gelap sekali, lampu yang sudah saya nyalakan seolah meredup pelan, ketika saya mencoba mengingat kembali ke mana langkah harus berpijak untuk berjalan ke depan, semua memudar menjadi hitam pekat kehampaan. Kegelapan mengiringi perlahan pada ketiadaan. Ya, rasanya dingin ketika menerka masa depan.

Oh.. memiliki angan-angan bisa jadi menyenangkan. Tapi kini untuk saya, hal tersebut menjadi sebuah perjalanan panjang yang cukup sulit dipastikan, walau pernah ditetapkan. Menitinya dengan rintihan, tanpa henti dihantui sepi di pojokan ruangan. Melelahkan, bukan?

Surya hanya terpaksa menyinari saya dua belas jam saja lamanya, cahayanya masih terasa dingin, karena tak lama bergulir kelam. Siapa yang sebelumnya mengaku kuat? Dan kini memohon rehat dari sakit yang kesumat? Sesaat 3x4 habis melumat saya, secepat kilat.

Cahaya tersebut kembali sesaat, menyemburatkan beberapa keping memori yang berisi wajah-wajah penuh harapan, merasakan kebahagiaan, menghasilkan simpul senyuman. Saya tak bisa kembali, hanya diizinkan untuk mengarungi ironi. Hingga pikiran tersungkur tak berdaya lagi, mengakibatkan badan kehilangan harmonisasi dari sinkronisasi. Telak, gelap menyelimuti. Petikan-petikan gitar tadi mengapa rasanya berubah menjadi sayatan yang menyakitkan?

Matahari, apa masih sudi menemani? Akankah semua yang menghilang kembali? Gambaran dari tujuan dan harapan berganti menjadi pertanyaan-pertanyaan yang rasanya menyesakkan hanya untuk dipikirkan. Tempurung kepala sesaat menjadi panggung untuk teater ketakutan, meneror saya hingga meringkuk. Saya masih ingin diselamatkan oleh kehangatan, tak apa kan?

Insecurity dan overthinking tahi kucing. Jika kalian bisa bertukar posisi dan memahami, sama sekali tidak ada kesengajaan untuk meletakkan unsur dramatisasi. Paranoia menjadi garam, ditaburi oleh gelap pada luka yang kian menganga, bernanah dengan tanya, “Saya ini sebetulnya akan dibawa ke mana? Setelah kelam bagaimana?”

Saya coba meyakini dalam hati, jika tak apa malam ini terjaga namun redup kembali. Tidak ada ruang untuk selamanya dalam kehidupan, bahkan untuk hidup itu sendiri. Kecepatan, kekacauan, kegelapan, kebisingan, ketakutan, mungkin memang sudah seharusnya dihadapi sekuat tenaga lalu dirayakan, selama itu hanya sesekali, bukan? Bergulir sesuai rotasi. Kembali dan pergi. Kembali dan pergi. Kembali dan pergi.


Puncaknya pada pukul empat pagi, rubuh, bergulat dengan kelam milik hitam membuat saya kehabisan energi. Sampai jumpa lain kali.

“Sinar jutaan surya

Yang berbinar

Hanya dijamah mata

Dan menghilang

Gelapnya masa depan yang menunggu

Mungkin di suatu saat

Kita bertemu

Dan semua hilang

Terbakar cahaya

Kembali menjadi

Gelap

Mentari akan lelah

Dan menghilang

Malam pun akan sirna

Dan tenggelam

Dinginnya masa depan yang menanti

Ketika sinar lenyap

Kita kan berakhir

Semua hilang

Merintih dan tiada

Kembali menjadi

Gelap”

Jirapah — Planetarium

(Lirik ditulis oleh: Ken Jenie dan Mar Galo). Semoga kalian berdua sehat selalu. Hugs.


메타데이터
post_id
96ea6399a9e1
slug
menggandrungi-planetarium-dan-krisis-eksistensi-dari-sudut-ruang-3x4-96ea6399a9e1
url
https://medium.com/@dhaulagg/menggandrungi-planetarium-dan-krisis-eksistensi-dari-sudut-ruang-3x4-96ea6399a9e1
canonical_url
https://medium.com/@dhaulagg/menggandrungi-planetarium-dan-krisis-eksistensi-dari-sudut-ruang-3x4-96ea6399a9e1
author_url
https://medium.com/@dhaulagg
status
ok
fetched_at
2026-07-25 23:01:09