← Back to list

Belenggu Fantasi Kebudayaan

Sehari sebelum postingan ini tayang di beranda Facebook, saya membagikan flyer public lecture ramadhan masjid kampus UGM di kolom story…

Uppi · 2025-05-15 08:38 · 0 claps · 1.5 min read
#kebudayaan #belenggu #indonesia-emas-2045 #kampus-ugm #ramadhan
Open on Medium ↗

Belenggu Fantasi Kebudayaan

Sehari sebelum postingan ini tayang di beranda Facebook, saya membagikan flyer public lecture ramadhan masjid kampus UGM di kolom story beberapa sosial media. Sebetulnya, acara itu adalah mimbar ceramah pra-tarwih. Namun, betapa kota ini ruang ibadah difungsikan idealnya seperti yang di fatwahkan rosul Tuhan bahwa “masjid tidak hanya menjadi sarana ibadah ritual seperti shalat dan membaca Al-Qur’an, tetapi juga memakmurkannya sebagai ruang untuk menumbuh-nentangkan pengetahuan, mendidik ummat, bermusyawarah, dan berbagai kegiatan sosial lainnya, termasuk membincangkan kebudayaan yang bahkan kerap mencoba mencairkan narasi keagamaan yg baku dan tidak dapat dipertanyakan, tetapi di ruang “kebudayaan” coba ditinjau kembali bahkan digugat beberapa diantaranya.

Sehari ini juga, saya menghabiskan waktu di lantai 1 perpu-pusat kampus, selain beberapa kerja-kerja akademik yang terus digarap, saya memang merencanakan berbuka puasa dan tarwih dikampus serta yang paling saya bayangkan adalah duduk menyaksikan Prof Aprinus Salam menguraikan public lecture yang telah dibagikan di story sosmed itu: Visi Kebudayaan Emas 2045.

Sehari ini, saya menerka-nerka apa isi ceramah yang akan beliau sampaikan. Apakah semacam langkah-langkah, hitung-hitungan ilmiah yang basisnya berbagai data atau mungkin indikator-indokator yang akan menentukan dan mengantarkan Indonesia pada posisi kebudayaan emas 2045, situasi kebangsaan terkini hingga prediksi sosial-masyarakat dimasa mendatang. Ternyata, prakiraan itu melesat jauh dari dugaan.

Prof Aprinus malam ini mengantarkan pada kesadaran betapa selama ini, kita (atau mungkin hanya saya) memandang Indonesia emas 2045 hanya sebagai sesuatu yang akan datang dimasa depan bahwa akan tiba masa bangsa ini mengalami semacam kejayaan di tahun ke-100 kemerdekaanya. Tolak ukur dan koridor berpikirnya dalam poros ekonomi: statistik pertumbuhan pendapatan masyarakat, menguatnya daya beli dan berbagai indikator tingkat kesejahteraan masyarakat. Pun disisi lain gejala demikian tanpak dari kerangka pikir politik. Sehingga dengan begitu kita memiliki kecenderungan dan berada pada masa apa ia sebut sebut sebagai belenggu fantasi kebudayaan emas 2045.

Terbelenggu karena kita membayangkan kebudayaan juga hanya akan menemui keemasannya ditahun 2045. Sedangkan ia memiliki dimensi yang berbeda ia berada pada pusaran apa yang Prof Aprinus sebut sebagai ‘kepantasan’ pada tataran yang paling sederhana bahwa kita akan menentukan pakaian yang dikenakan karena ‘pantas, elok, beradab’ bukan karena berapa materi yang dihabiskan untuk mendapatkannya. Kebudayaan emas bukanlah konsepsi yang dibayangkan akan terjadi dimasa depan, namun, apa yang hari-hari ini dilakoni, dimaknai, terlepas dan tidak terbelenggu oleh ideologi ekonomi maupun politik. Ia hadir sebagai kesadaran kultural.

Yogyakarta, 2025


메타데이터
post_id
97260cd0db16
slug
belenggu-fantasi-kebudayaan-97260cd0db16
url
https://medium.com/@uppii1304/belenggu-fantasi-kebudayaan-97260cd0db16
canonical_url
https://medium.com/@uppii1304/belenggu-fantasi-kebudayaan-97260cd0db16
author_url
https://medium.com/@uppii1304
status
ok
fetched_at
2026-08-03 06:43:40