← Back to list

NEGARA UNTUK SIAPA?

Dialog Arya & Alan

Athifa Huda · 2026-07-11 14:58 · 0 claps · 4.4 min read
#otoritas #negara #rakyat #indonesia #pajak
Open on Medium ↗

NEGARA UNTUK SIAPA?

Dialog Arya & Alan

Edisi 4

Sebelumnya: Alan mengajukan pertanyaan paling berat sejauh ini. Kalau standar legitimasi kekuasaan seluruhnya buatan manusia, ia bisa ditulis ulang siapa pun yang berkuasa. Tapi kalau ada standar di luar manusia, sejarah menunjukkan itu pun bisa dibajak untuk melanggengkan kekuasaan. Arya, untuk pertama kalinya di eedisi ini, tidak punya jawaban cepat.


Tanda yang Tidak Bisa Dipalsukan

Kami bertemu lagi seminggu kemudian. Kali ini aku yang datang lebih dulu, dengan sesuatu yang sudah kupikirkan matang-matang.

Arya

Aku sudah temukan sesuatu yang menurutku bisa menjawab pertanyaanmu minggu lalu. Bukan jawaban sempurna. Tapi ini titik terang yang aku percaya.

Alan

Aku dengar.

Arya

Coba kita bandingkan dua jenis klaim otoritas. Yang pertama, otoritas yang dipakai penguasa untuk membenarkan dirinya. Yang kedua, otoritas yang justru membatasi penguasa itu sendiri.

Alan

Maksudmu?

Arya

Coba perhatikan pola sejarahnya. Ketika agama dibajak untuk melanggengkan kekuasaan, polanya hampir selalu sama. Raja atau penguasa mengklaim dirinya kebal dari aturan yang sama yang berlaku untuk rakyatnya. Ia menempatkan dirinya di atas hukum, bukan di bawahnya.

Tapi coba lihat kisah-kisah para nabi dalam berbagai tradisi. Polanya justru terbalik. Mereka datang untuk menegur penguasa, bukan melayaninya. Musa menghadap Firaun, bukan untuk mengukuhkan kekuasaannya, tapi untuk menuntutnya melepaskan Bani Israil. Nabi-nabi Israel menegur raja-raja mereka sendiri, bukan hanya musuh mereka.

Alan

Jadi bedanya ada pada siapa yang tunduk pada aturan itu?

Arya

Tepat. Otoritas yang sungguhan cenderung mengikat semua orang tanpa kecuali, termasuk penguasa yang sedang berkuasa. Otoritas yang dibajak untuk kekuasaan cenderung mengecualikan penguasa dari aturan yang ia paksakan kepada orang lain.

Alan

Tapi bukankah penguasa yang licik bisa saja berpura-pura tunduk juga, di depan umum, sambil diam-diam melanggarnya?

Arya

Bisa. Dan di situlah ujian kedua masuk. Konsistensi lewat waktu, bukan sekadar pernyataan sesaat. Klaim yang sungguhan biasanya bertahan meski tidak menguntungkan siapa pun yang sedang berkuasa saat itu. Ia tidak bisa diubah seenaknya oleh penguasa yang baru, hanya karena aturan lama merepotkannya.

Bandingkan dengan hukum buatan manusia murni. Undang-undang bisa direvisi kapan saja oleh mereka yang memegang kekuasaan legislatif. Tapi ada nilai-nilai tertentu (larangan membunuh tanpa alasan, larangan mengambil hak orang lain secara paksa, tuntutan keadilan) yang bertahan lintas zaman, lintas budaya, lintas rezim, meski seringkali merepotkan penguasa yang sedang berkuasa.

Alan

Berarti ujiannya bukan cuma “siapa yang mengklaim,” tapi “apakah klaim itu tunduk pada pengujian sejarah, konsistensi, dan keberanian menegur kekuasaan, bukan melayaninya.”

Arya

Persis. Dan menurutku, ini kembali ke sesuatu yang pernah kita bahas jauh sebelum dialog ini (cara menguji klaim kenabian). Bukan dengan percaya buta. Tapi dengan menguji sejarahnya, konsistensinya, karakter pembawanya, dan isi ajarannya. Apakah ajaran itu membebaskan atau memperbudak. Apakah ia menuntut pertanggungjawaban dari yang kuat, atau hanya dari yang lemah.

Alan diam, mencerna semuanya.

Alan

Oke. Aku mulai melihat arahmu. Tapi ini semua masih terasa abstrak. Bagaimana ini nyambung ke soal pajakku?

Aku tersenyum. Pertanyaan itu yang sejak awal kutunggu.


Kembali ke Pajak

Arya

Coba kita pakai kerangka yang sama untuk menilai PP 20/2026 yang membuatmu kesal itu.

Alan

Silakan.

Arya

Pertanyaan pertama, apakah aturan itu mengikat semua pihak setara, atau justru mengecualikan mereka yang membuatnya?

Alan

Setahuku, berlaku untuk semua konten kreator dan profesi bebas lainnya, termasuk yang dekat dengan kekuasaan sekalipun. Tidak ada pengecualian khusus untuk pejabat atau kroninya.

Arya

Itu satu tanda legitimasi yang sehat. Pertanyaan kedua, apakah aturan ini bisa diuji dan dikoreksi lewat mekanisme yang sah?

Alan

Ya. Bisa digugat lewat uji materi ke Mahkamah Agung kalau dianggap bertentangan dengan undang-undang di atasnya. Bisa juga dikritik terbuka, diprotes, dibahas di media, bahkan dievaluasi ulang oleh pemerintah sendiri kalau terbukti merugikan secara luas.

Arya

Itu tanda kedua. Bandingkan dengan tirani yang menghapus semua jalur koreksi itu. Pertanyaan ketiga, apakah keputusan ini keluar dari proses yang sudah disepakati sebelumnya sebagai proses yang sah. Meski kamu secara pribadi tidak dimintai suara di setiap pasalnya?

Alan

Ya. PP dikeluarkan lewat kewenangan konstitusional pemerintah, berdasarkan undang-undang yang sudah lebih dulu disahkan lewat DPR (yang anggotanya dipilih lewat pemilu).

Arya

Nah, di sinilah kita kembali ke pertanyaanmu yang paling pertama. Kamu memang tidak menandatangani persetujuan pribadi untuk PP 20/2026. Tapi kamu hidup dalam sistem yang, secara keseluruhan, dirancang agar kekuasaan bisa dikoreksi, diuji, dan dibatasi. Bukan sistem di mana penguasa bisa memutuskan apa pun sesuka hatinya tanpa risiko dikoreksi.

Itu tidak membuat setiap keputusan di dalamnya otomatis benar atau adil. Kamu tetap berhak menilai PP ini secara substansi. Apakah tarif progresifnya adil, apakah masa transisinya cukup, apakah kreator kecil dilindungi. Itu perdebatan kebijakan yang sah dan penting.

Tapi itu perdebatan yang berbeda dari pertanyaan legitimasi otoritas itu sendiri. Dan menurutku, keduanya sering tercampur ketika orang marah pada sebuah kebijakan.

Alan menghela napas panjang, lalu tertawa kecil.

Alan

Aku datang minggu lalu karena kesal soal pajak. Sekarang aku pulang membawa pertanyaan tentang bagaimana membedakan nabi sejati dari penipu, dan penguasa sah dari tiran.

Arya

Begitulah biasanya percakapan kita berjalan.


Jendela, Bukan Tembok

Alan menatap cangkirnya yang sudah lama dingin.

Alan

Aku belum sepenuhnya damai dengan cara PP ini diumumkan. Rasanya tetap aneh, aturan sebesar ini keluar lewat peraturan pemerintah, bukan lewat undang-undang yang dibahas terbuka di DPR sejak awal. Itu perdebatan yang menurutku masih layak kita bahas lain kali. Apakah semua jenis aturan negara punya bobot legitimasi yang sama, atau ada yang lebih berat daripada yang lain.

Arya

Itu pertanyaan bagus. Dan aku tidak akan buru-buru menjawabnya malam ini.

Alan

Aku juga belum sepenuhnya setuju bahwa sistem kita sekarang sudah cukup baik dalam mengoreksi kekuasaan. Banyak celahnya, aku yakin itu.

Arya

Aku juga percaya begitu.

Alan

Tapi aku mengerti sekarang, kenapa pertanyaanku “kenapa aku harus taat pada aturan yang tidak pernah kusetujui” ternyata bukan pertanyaan yang sesederhana kelihatannya.

Aku tersenyum.

Arya

Dan itu sudah cukup bagiku. Malam ini kita bukan sedang mencari siapa yang menang. Kita sedang belajar membedakan pertanyaan yang tepat dari pertanyaan yang terburu-buru.

Alan mengangguk, lalu menutup laptopnya.

Alan

Lain kali, aku ingin membahas sesuatu yang sudah lama mengganggu pikiranku. Bukan tentang negara sekarang. Tapi tentang sejarah. Kenapa peradaban bisa naik, lalu runtuh, lalu ada yang bangkit lagi setelah berabad-abad tenggelam.

Aku menatapnya, sedikit terkejut mendengar ke mana arah rasa ingin tahunya berikutnya.

Arya

Kedengarannya, itu akan jadi percakapan yang panjang.

Alan

Selalu begitu, dengan kita.

Kami berdua tertawa. Malam itu berakhir tanpa satu pun dari kami merasa kalah. Yang kami bawa pulang bukan jawaban final tentang negara. Melainkan cara berpikir yang lebih jernih tentang apa yang sebenarnya kami pertanyakan setiap kali kami merasa marah pada sebuah aturan.


Selesai untuk Tema 2. Serial “Dialog Arya & Alan” akan berlanjut ke Tema 3 menelusuri sejarah peradaban, dan pertanyaan yang sudah lama mengganggu Alan: apakah sejarah hanya rangkaian kebetulan, atau ada hukum-hukum yang bekerja di baliknya.


메타데이터
post_id
97474e375ca5
slug
negara-untuk-siapa-97474e375ca5
url
https://medium.com/@athifahuda/negara-untuk-siapa-97474e375ca5
canonical_url
https://medium.com/@athifahuda/negara-untuk-siapa-97474e375ca5
author_url
https://medium.com/@athifahuda
status
ok
fetched_at
2026-07-13 06:23:13