Buat Kamu yang Sudah Lelah dengan Ketidakjelasan Hubungan
Ketika Dua Orang Dewasa Saling Jatuh Cinta
Buat Kamu yang Sudah Lelah dengan Ketidakjelasan Hubungan
Ketika Dua Orang Dewasa Saling Jatuh Cinta

Pernah kah kamu merasa hidup seketika kembali membaik di saat kamu menemukan cerita yang begitu menyenangkan?
Saya merasakannya saat bertemu dengan novel ini.
Ulasan kali ini mungkin akan begitu berbeda (sekaligus lebih panjang) dengan ulasan buku atau novel saya yang sebelumnya. Karena alih-alih menguraikan jalan cerita, saya akan lebih banyak menyorot seputar pelajaran (khususnya terkait percintaan) yang saya dapatkan dari novel ini.
Saya membaca cerita ini versi Wattpad. Bukan yang telah dibukukan. Sejauh membaca ulasan orang lain, cerita versi Wattpad konon lebih detail dan panjang ketimbang versi buku. Karena keterbatasan jumlah kata yang dapat dimuat, penerbit meminta untuk memangkas banyak adegan yang dinarasikan di Wattpad.
Namun, jujur saya begitu tergoda saat menonton reels berisi unboxing novel versi cetak ini dari para Bookstagram. Sebab memuat banyak ilustrasi mengemaskan yang membuat ceritanya jadi lebih terasa nyata, tokoh-tokohnya seakan sungguhan ada, dan bikin pembaca lebih terserap ke dalam kisah.
Saling Berdua
Pelajaran pertama yang dapatkan dari novel ini ialah: Bila memang beneran mau serius, ya sama-sama saling effort. Sama-sama saling menunjukkan pengen serius. Sama-sama saling berusaha agar hubungan yang dibangun itu bisa berhasil.
Di awal cerita, tokoh cowok memang terlihat lebih banyak berkorban dan berusaha. Tapi itu memang untuk menyakinkan si perempuan kalau dia benar-benar menginginkannya. Tanpa keseriusan yang ditunjukkan bagaimana kita bisa berharap orang lain akan bersedia melakukan hal yang sama?
Dari Mbak Airi (tokoh wanita dalam novel ini) saya belajar bahwa dibutuhkan satu orang untuk berinisiatif atau bergerak lebih dulu untuk mendorong orang lain ikutan bergerak.
Kesetaraan
Ternyata yang namanya sekufu dari bibit dan bobot itu penting banget, ya. Supaya tidak jadi bahan kecomplangan dalam sebuah hubungan.
Memang benar ada beberapa hubungan yang berhasil meski kedua pihak punya latar belakangan yang amat berbeda — bagai langit dan bumi. Terlihat bagai kisah dongeng atau fiksi — tapi tentu saja itu tidak berlaku untuk semua orang.
Kenapa? karena menikah ya bukan cuman menyatukan dua orang saja, tetapi juga dua keluarga.
Pada akhirnya memang yang akan menjalani hubungan pernikahan tersebut pasti si yang berhubungan. Namun, menikah dengan orang yang setara ibaratnya telah menyingkirkan sebagian besar potensi pemicu konflik atau masalah di kemudian hari, karena tidak ada pihak yang merasa tidak pantas atau kurang percaya diri dengan nilainya sendiri.
Cerita ini seolah menyadarkan saya untuk napak tanah. Bukan seakan dilarang untuk berharap lebih atau mencari pasangan yang latar belakangnya lebih baik dari saya. Tetapi belajar untuk mengangkat derajat keluarga sendiri, supaya tidak perlu mempertanyakan diri apakah dengan latar belakang keluarga yang saya punya, saya berhak disayangi, diterima, dan dicintai dengan layak juga.
Semua hubungan ada enggak cocoknya
Setiap hubungan pasti akan ada tidak cocoknya. Akan adanya pertentangan keinginan. Jadi, yang diperlukan bukanlah mencari orang yang bisa pas dan cocok di segala hal, tetapi melihat siapa yang bersedia berkompromi sama kita.
Ketidakcocokan dikomunikasikan dengan baik, lalu dicari jalan tengahnya. Keduanya mau dan tidak maunya seperti apa? Tidak ada yang menang atau lebih diprioritaskan. Keduanya sama-sama tidak dapat apa yang diinginkan, dan keduanya pula sama-sama tidak mengganggapnya masalah.
Sebuah hubungan adalah tentang dua orang. Jangan hanya fokus pada apa yang diinginkan dan dibutuhkan diri sendiri. Tetapi juga harus peduli dan belajar mendengarkan apa yang diinginkan dan dibutuhkan orang yang akan kita nikahi.
Belajar memahami dan memantaskan diri sendiri
Saat kita sudah lebih memperjelas dan memahami hubungan seperti apa yang kita mau dan pasangan seperti apa yang kita butuhkan segalanya akan lebih mudah.
Kita tidak lagi kebingungan dan membingungkan orang lain. Lebih yakin dalam mengambil keputusan. Ditolak dan menolak terasa lebih mudah dan tidak personal.
Belajar memantaskan diri bukan karena dicintai dan diterima itu membutuhkan berbagai standar, tetapi supaya kita tidak lagi mudah rendah diri karena kita telah tau nilai apa yang kita bawa dan tawarkan ke pasangan kita.
Belajar memantaskan diri bukan soal menyamakan kuantitas, tetapi kualitas. Dengan SDM yang berkualitas, kita dapat membantu untuk mensukseskan dan memudahkan sebuah hubungan. Komunikasinya menjadi lebih lancar, konflik jadi mudah diselesaikan, dan kita dapat jadi partner tukar pikiran yang seimbang.
Jatuh cinta itu hanya untuk orang yang berani
Kebanyakan orang, termasuk saya, sih — menginginkan hubungan yang selalu manis dan mulus saja.
Padahal tidak ada hubungan tanpa ujian. Jadi, seharusnya saat memutuskan untuk menjalin sebuah hubungan, kita harus turut menyadarkan diri bahwa yang namanya terluka dan saling melukai, baik dengan atau tanpa intensi itu pasti akan sangat mungkin terjadi.
Sebab menumbuhkan sebuah hubungan itu juga soal menumbuhkan dua orang. Membangun sebuah hubungan itu tentang mendewasakan dua orang, dua kepala yang punya jalan pikir yang berbeda, sehingga tentu saja pasti akan ada gesekan.
Konflik sebenarnya hadir bukan untuk dihindari. Tapi dijadikan bahan evaluasi dan refleksi: dari konflik ini, masing-masing kami bisa belajar apa?
Jatuh cinta pasti akan selalu sepaket dengan sakit hati. Jadi, pastikan untuk terikat dengan seseorang yang lebih banyak membuat kita merasa cinta daripada jatuh. Pastikan bahwa orang yang kita cinta dan perjuangkan ini sangat layak atas segala jatuh bangunnya kita. Pastikan bahwa saat mencintai seseorang, logika dan akal kita ikutan jalan. Pastikan risiko-risiko mana yang berani kita hadapi.
LDR itu bukan untuk semua orang
Menjalin hubungan yang hanya ditopang oleh internet itu bikin banyak salah paham dan distraksinya. Sangat rawan untuk kita sering berasumsi. Karena komunikasinya cenderung berjalan satu arah dan tidak maksimal serta mendalam.
Komunikasi itu tidak hanya soal mendengar suara atau membaca teks, tetapi kita butuh melihat faktor lain seperti perilaku, mimik, gesture dan lain-lain supaya tidak mudah salah tafsir.
Alasan Mbak Airi yang tidak mau menjalin hubungan jarak jauh itu valid. Mbak Airi menyadarkan saya bahwa ternyata saya juga sama seperti dia: tidak mau berpasangan dengan seseorang yang tidak dapat saya raih dan sering temui.
Memang sudah ada internet dan teknologi yang dapat memudahkan. Namun, dua hal itu penuh dengan keambiguan dan misinformasi. Kalaupun pada akhirnya ada momen-momen di mana saya dan pasangan harus LDR, itu dikarenakan suatu hal mendesak memang memaksa itu. Bukan karena saya dan pasangan dengan kerelaan mengharuskannya.
Menjalin hubungan jarak jauh seolah tidak ada bedanya di saat saya masih sendiri.
Saling mendukung mimpi masing-masing
Saya begitu terharu menyaksikan kegototan Ranu (tokoh laki-laki) agar Airi mengambil kesempatan-kesempatan baik yang tidak mungkin datang dua kali itu.
Lucunya, imbauan yang ramai disuarakan di media sosial soal betapa kami perempuan harusnya lebih mengejar pendidikan dan karier ketimbang fokus sama laki-laki (because education is forever man is not) itu malah direalisasikan sama si laki-lakinya langsung.
Ranu berusaha untuk tidak membiarkan Airi menjadikan dia sebagai alasan untuk mengorbankan peluang karier yang Airi dapatkan. Malah, Ranu sendiri yang rela untuk menyesuaikan: dia berjuang untuk bisa satu tempat dengan perempuan yang dia cintai.
Ranu membimbing Airi berpikir logis. Mengedepankan akal sehatnya ketimbang perasaannya sendiri — yang lagi mengebu-gebu supaya at the end of the day, Airi tidak menyesali keputusannya sendiri. Apalagi bila nantinya berpotensi menyalahkan rasa cintanya kepada Ranu atas keputusan yang dia ambil.
Di momen ini, Ranu menunjukkan kedewasaannya. Sebab dia tidak memanfaatkan perasaan Airi buat keuntungan dia semata. Tapi malah mengarahkan Airi untuk memilih keputusan dengan memaparkan langsung plus minus-nya. Ranu yang bantu Airi buat mikir lebih jernih. Dia tidak pernah memaksa keputusan apa pun, tapi dia mendampingi terus sampai pasangannya akhirnya bisa mikir sendiri.
Memperjelas segalanya dari awal
Airi belajar dari kesalahannya pada hubungannya yang lalu. Dia akhirnya bikin standar dan aturan tentang hubungan yang dia mau.
Alasan yang bikin hubungan mereka berdua berjalan dan berhasil itu bukan sekadar kesamaan tempat terja atau keluarga mereka berdua yang sudah saling kenal dekat dan dukung. Tapi karena Airi dan Ranu sudah memperjelas semuanya dari Awal. Jadi, baik Airi dan Ranu bisa lebih mudah ambil keputusan karena tau hubungan mereka mau dibawa ke mana arahnya.
Membiarkan pasangan dengan kesenangannya masing-masing
Biarkan pasangan kita menjalani hobinya selama itu adalah hal yang tidak merusak atau berlebihan buat dia. Sebab setiap orang punya kesenangan. Dan apa yang menyenangkan buat pasangan kita tidak harus menyenangkan versi kita.
Apa yang seru dan penting buat pasangan kita, tidak harus sama dengan apa yang seru dan penting buat kita. Pasangan kita tidak harus 100% cocok atau mengikut dengan diri kita sendiri.
Mengomel boleh. Mengingatkan tentu perlu kalau mereka sudah keluar batas. Tapi usahakan jangan sampai melarang-larang. Karena tentu kita sendiri akan merasa sedih dan kesal bila dilarang melakukan sesuatu yang kita sukai.
Menyiapkan dana lebih awal
Kata Mbak Airi dan Ranu,
“Menyiapkan dana lebih awal tuh supaya jadi gak berat dan kaget kalau tiba-tiba dapat jodohnya. Gak hanya buat kita tapi buat pasangan kita juga. Jika ada keinginan untuk menikah sebaiknya segera menabung sebagai persiapan. karena menikah juga butuh uang, tidak hanya cinta."
Kalau saya pribadi, sejak dulu, punya pemikiran bahwa berpasangan itu adalah tentang saling. Bukan paling. Nggak ada peran yang berat sebelah. Semuanya ditanggung berdua. Saling kerja sama.
Contoh Airi dan Ranu menguatkan tekad saya untuk mulai mengumpulkan dana dingin sendiri untuk pernikahan. Supaya saya tidak serta merta menyerahkan segala tanggung jawab soal dana acara pernikahan hanya kepada pasangan saya kelak.
Sepertinya ini salah satu bentuk patriarki juga, di mana seakan sudah jadi tugas laki-laki untuk membiayai segalanya. Padahal kalau menurut pandangan saya pribadi, perempuan bisa ikut bekerja sama supaya bisa lebih meringankan pihak pria. Apalagi bila si perempuan juga bekerja. Sebab acara kan dibuat berdasarkan kepentingan berdua. Bukan hanya salah satu saja.
“Uang aku buat yang tersier, uang kamu buat yang hidup sekeluarga.”
Kalimat dari Airi itu bikin saya jadi makin termotivasi untuk tetap bekerja dan punya finansial meski sudah berkeluarga.
Walau saya masih percaya bahwa nafkah itu tanggung jawab laki-laki, tapi saya tidak mau berharap dan jadi bergantung sepenuhnya hanya dari penghasilan suami. Karena saya tidak tau apa yang akan terjadi di depan.
Dengan tetap berpenghasilan (bagaimanapun jalan dan cara yang dipilih) itu bisa jadi safety net.
Saya tetap memilih bekerja bukan karena meragukan kemampuan suami untuk mencari uang atau tidak akan mencukupi.
Tapi bekerja itu sebagai bentuk saya dalam berkarya dan menjadi manusia. Maka fokus utamanya bukan cari uang, tapi merasa berdaya dan produktif.
Dari hubungan Airi dan Ranu saya belajar kalau mau dapat pasangan berkualitas minimal kita juga harus berkualitas. Kalau mau dapat pasangan yang setara, kita juga harus berusaha untuk menyetarakan diri.
Pilihan Airi tepat untuk memulai kedekatan mereka hanya sebagai teman. Karena status teman menjadi batasan, penahan dan tameng untuk tidak berbuat dan berharap lebih dari semestinya. Status teman membuat hubungan terasa lebih tulus dan berjalan perlahan-lahan tanpa dipaksa dan diburu-buru untuk segera berkembang menjadi sesuatu.
Mereka berdua tahu bahwa mereka saling menyukai dan menginginkan kebersamaan. Jadi, meski berstatus sebagai teman, keduanya tetap berkomitmen untuk saling menunggu dan menjaga diri untuk masing-masing.
Meski begitu, mereka berdua tak hanya diam di tempat, tetapi tetap bergerak dan saling mengusahakan untuk segera bersama, seperti berkerja sama menyelesaikan berbagai masalah dan kendala untuk memuluskan jalan mereka berdua.
Touchpoints adalah gambaran hubungan dua orang yang sudah saling dewasa, tau apa yang mereka mau dan butuhkan, serta saling mengkomunikasikannya sehingga hubungannya bisa lebih ringan dan lancar tanpa ada drama yang tidak penting. Penulis berhasil memvisualisasikan hubungan impian saya.
Konon, setiap buku akan menemukan diri kita di waktu yang tepat. Saya percaya ini, karena saya bertemu dengan Touchpoints ketika saya sedang begitu lelah berada dalam kedekatan yang membingungkan dengan seseorang. Membaca Touchpoints, menjadikan saya lebih mantap dalam mengambil keputusan. Buku ini rasanya jadi guide dari orang dewasa berusia 30-an buat saya yang saat ini masih umur 25 dan banyak hilang arahnya soal hubungan romansa.
Yaitu selesailah dengan diri sendiri, perjelaslah apa yang kita mau dan butuhkan, baru memutuskan untuk berhubungan dengan orang lain. Karena orang yang bingung akan menarik orang yang bingung lainnya. Begitu pula orang yang sudah matang dan selesai dengan dirinya akan menarik orang yang telah selesai dan matang pula.
Jadi, mau memilih menarik orang yang mana?
Punya tulisan tentang buku? Terbitkan di Booknotations. Daftar sekarang dan cek panduannya!
[embed]*Submission Guideline — Booknotations *Panduan mengirim tulisan ke Booknotations medium.com
메타데이터
- post_id
- 976bb14ba991
- slug
- buat-kamu-yang-sudah-lelah-dengan-ketidakjelasan-hubungan-976bb14ba991
- url
- https://medium.com/booknotations/buat-kamu-yang-sudah-lelah-dengan-ketidakjelasan-hubungan-976bb14ba991
- canonical_url
- https://medium.com/booknotations/buat-kamu-yang-sudah-lelah-dengan-ketidakjelasan-hubungan-976bb14ba991
- author_url
- https://medium.com/@rezacahyakamila
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-14 11:28:49