← Back to list

Mengapa Lelucon Gelap Banyak Tidak Disukai oleh Hampir Semua Kelompok Usia?

Lelucon gelap sering dipasarkan sebagai bukti “selera humor tinggi”. Katanya, kalau tersinggung berarti kurang santai, kurang hiburan…

Andika Prtm · 2026-06-12 15:50 · 0 claps · 4.7 min read
Open on Medium ↗
Wiki topics: 😂 · Humor & Satire

Mengapa Lelucon Gelap Banyak Tidak Disukai oleh Hampir Semua Kelompok Usia?

https://bigthink.com/hard-science/you-can-stop-apologizing-for-your-dark-sense-of-humor/

https://bigthink.com/hard-science/you-can-stop-apologizing-for-your-dark-sense-of-humor/

Lelucon gelap sering dipasarkan sebagai bukti “selera humor tinggi”. Katanya, kalau tersinggung berarti kurang santai, kurang hiburan. Kalau tidak tertawa berarti tidak paham ironi. Kalau protes berarti terlalu sensitif. Logika semacam ini sering ditemukan di berbagai forum, sampai kita sadar bahwa yang dijadikan bahan tertawa biasanya bukan pengalaman netral, melainkan sudah menjorok ke arah ras, disabilitas, penyakit, yatim piatu, kemiskinan, kematian, atau kelompok sosial yang sudah lama menanggung stigma. Jadi, pertanyaannya bukan kenapa orang terlalu mudah tersinggung, tetapi dirubah jadi mengapa sebagian orang mengira luka orang lain adalah panggung komedi gratis?

Secara ilmiah, lelucon gelap berada di wilayah yang rumit karena humor selalu melibatkan penilaian sosial. Sesuatu dianggap lucu jika ada ketidaksesuaian, kejutan, pelanggaran ekspektasi, atau jarak psikologis tertentu. Namun, ketika pelanggaran itu menyasar kelompok rentan, otak pendengar tidak hanya memprosesnya sebagai “humor”, tetapi juga sebagai sinyal ancaman moral. Sebuah studi tentang disparagement humor menunjukkan bahwa humor yang merendahkan individu atau kelompok sosial tetap membawa sisi ofensif, meskipun dibungkus dalam format lelucon. Artinya, label “bercanda” yang dicantum tidak otomatis menghapus sifat menyerang dari pesan tersebut.

Lelucon Gelap Sering Menyasar Identitas, Bukan Situasi

Masalah utama lelucon gelap terletak pada targetnya. Humor yang menertawakan situasi absurd berbeda dari humor yang menertawakan identitas seseorang. Ketika bahan lelucon adalah ras, penyakit, disabilitas, atau kondisi keluarga seperti yatim piatu, yang diserang justru tidak jarang adalah sesuatu yang melekat, diwarisi, atau tidak sepenuhnya dapat dikendalikan. Di titik ini, pendengar dari berbagai usia bisa merasa tidak nyaman karena lelucon tersebut menyentuh wilayah martabat manusia. Hal ini menunjukkan adanya nir empati dari orang yang melontarkan jokes tersebut dengan dalih sebagai hiburan. Namun apa benar demikian?

Penelitian tentang penilaian moral terhadap racist, sexist, homophobic, dan religion-disparaging jokes menemukan bahwa fondasi moral kepedulian dan keadilan sangat berkaitan dengan penolakan terhadap lelucon yang merendahkan kelompok sosial. Sederhananya, orang tidak menyukai lelucon semacam itu karena mereka membaca adanya ketidakadilan dan potensi melukai pihak lain. Jadi, rasa tidak suka tersebut bukan bukti “baper massal”, namun sebagai reaksi atau respons moral yang cukup masuk akal dan humanis.

Empati, Status Sosial, dan Pengalaman Hidup

Lelucon gelap sering gagal diterima karena penonton membawa pengalaman hidup yang berbeda. Katakanlah satu orang mungkin mendengarnya sebagai permainan kata, atau dekontekstualisasi saja. Namun, orang lain yang mendengarnya tentu menjadi terperanjat karena alarm pengingat atas pengalaman diskriminasi, kehilangan, sakit, atau penghinaan sosial. Humor tidak pernah mendarat di ruang kosong. Ia selalu jatuh ke dalam tubuh, ingatan, kelas sosial, pengalaman keluarga, dan posisi seseorang dalam masyarakat.

Schmid dalam studi tentang humorous hate speech di media sosial menjelaskan bahwa humor yang menyerang kelompok tertentu dapat beroperasi sebagai bentuk ujaran kebencian yang tersamar. Ia terasa lebih “aman” bagi pelaku karena memakai wajah komedi, namun tetap dapat memperkuat stereotip dan menormalisasi penghinaan. Ini menjelaskan mengapa banyak orang dari berbagai usia menolak lelucon gelap, terutama ketika lelucon itu terasa seperti celah dalih untuk membangkitkan prasangka lama dengan gaya baru.

Faktor usia juga berpengaruh. Studi van der Wal dan kolega tentang preferensi humor remaja dalam media menunjukkan bahwa pada awal masa remaja, khususnya pada laki-laki, preferensi terhadap humor yang merendahkan dan slapstick dapat lebih tinggi dibanding jenis humor coping. Namun, preferensi ini berubah seiring perkembangan usia, norma sosial, dan kemampuan membaca dampak pada orang lain. Jadi, jika banyak remaja terlihat lebih toleran pada humor kasar, itu tidak berarti humor tersebut baik-baik saja. Bisa jadi mereka masih sedang belajar bahwa tertawa bersama teman tidak selalu sama dengan tidak melukai siapa pun.

Normalisasi Prasangka dan Kelelahan Sosial

Lelucon gelap dapat berdampak buruk karena ia membuat kekerasan simbolik terlihat ringan. Misalkan, sebuah kelompok seperti kelompok ras berkulit hitam, terus dijadikan bahan candaan, masyarakat akan perlahan belajar melihat penderitaan kelompok itu sebagai sesuatu yang biasa. Di sinilah humor berubah menjadi alat normalisasi. Ia membuat penghinaan seperti kata N-words justru terdengar santai, lalu orang mulai mengulanginya tanpa merasa sedang melanggengkan stigma. Hal yang sama juga berlaku untuk jokes homoseksual yang sedang hangat belakangan ini a.k.a meme jomok.

Dalam studi meta-analisis ditemukan pula bahwa affiliative dan self-enhancing humor berkaitan positif dengan peningkatan kesejahteraan, sedangkan aggressive dan self-defeating humor berkaitan dengan unsur negatif. Temuan ini penting karena lelucon gelap yang menyerang kelompok lain sering dekat dengan aggressive humor. Dalam relasi sosial, humor agresif dapat merusak kedekatan, memicu defensif, dan membuat percakapan terasa tidak aman.

Dampak lain muncul di ruang digital. Voisey dan Heintz menemukan hubungan antara dark humour, online trolling, dan dark personality traits seperti sadism serta Machiavellianism. Studi ini tidak berarti semua penikmat lelucon gelap adalah orang jahat. Dunia tidak sesederhana itu, sayangnya. Namun, riset tersebut menunjukkan bahwa sebagian penggunaan dark humour di internet memang dekat dengan motivasi mengganggu, memancing reaksi, dan menikmati ketidaknyamanan orang lain.

Solusi: Bedakan Humor Gelap, Kritik Sosial, dan Penghinaan Murahan

Lelucon gelap tidak harus selalu dilarang. Dalam beberapa konteks, dark humour bisa menjadi mekanisme coping, terutama bagi orang yang sedang menghadapi sakit, kehilangan, atau trauma. Brigaud dan kolega menunjukkan bahwa dark humour dapat memunculkan kondisi emosi positif, meskipun juga dapat memengaruhi permisivitas dalam penilaian moral. Artinya, humor gelap punya fungsi psikologis, tetapi tetap perlu dibaca hati-hati.

Ukuran paling sederhana adalah arah pukulannya. Apakah humor itu meninju ke atas, mengkritik struktur kuasa, atau justru meninju ke bawah kepada orang yang sudah rentan? Apakah lelucon itu membuka refleksi, atau hanya menjadikan identitas orang lain sebagai bahan tertawa? Apakah yang tertawa adalah orang yang mengalami luka itu sendiri, atau orang luar yang sedang memanfaatkan luka tersebut demi terlihat edgy?

Kesimpulannya, lelucon gelap banyak tidak disukai oleh berbagai kelompok usia karena ia sering menyentuh wilayah moral, identitas, pengalaman luka, dan relasi kuasa. Penolakan terhadap lelucon semacam ini tidak selalu lahir dari sensitivitas berlebihan. Sering kali, penolakan itu muncul karena orang menangkap adanya penghinaan yang dipoles menjadi humor.

Kalau kita ingin bercanda dengan lebih matang, kita perlu berhenti memakai penderitaan kelompok rentan sebagai jalan pintas menuju tawa. Coba mulai bertanya sebelum melempar lelucon: apakah ini benar-benar kritik yang cerdas, atau cuma kemalasan berpikir yang menyamar sebagai dark humour?

Referensi

Bartolo, A., Benuzzi, F., Nocetti, L., Baraldi, P., & Nichelli, P. (2021). Uncover the offensive side of disparagement humor: An fMRI study. Frontiers in Psychology, 12, 645674.

Brigaud, E., Blanc, N., & Audrin, C. (2021). When dark humor and moral judgment meet in sacrificial dilemmas: Preliminary evidence with females. Europe’s Journal of Psychology, 17(4), 276–286.

Jiang, T., Li, H., & Hou, Y. (2020). Does the relation between humor styles and subjective well-being vary across culture and age? A meta-analysis. Frontiers in Psychology, 11, 2213.

Koszałkowska, K., & Wróbel, M. (2019). Moral judgment of disparagement humor. Humor: International Journal of Humor Research, 32(4), 619–641.

Schmid, U. K., Kümpel, A. S., & Rieger, D. (2025). Humorous hate speech on social media: A mixed-methods study. New Media & Society.

van der Wal, A., Valkenburg, P. M., & van Driel, I. I. (2022). “Just a joke?” Adolescents’ preferences for humor in media entertainment and real life. Journal of Children and Media, 16(4), 564–580.

Voisey, S., & Heintz, S. (2024). Do dark humour users have dark tendencies? Relationships between dark humour, the Dark Tetrad, and online trolling. Behavioral Sciences, 14(6), 493.


메타데이터
post_id
97b2c10859cd
slug
mengapa-lelucon-gelap-banyak-tidak-disukai-oleh-hampir-semua-kelompok-usia-97b2c10859cd
url
https://medium.com/@ap523401/mengapa-lelucon-gelap-banyak-tidak-disukai-oleh-hampir-semua-kelompok-usia-97b2c10859cd
canonical_url
https://medium.com/@ap523401/mengapa-lelucon-gelap-banyak-tidak-disukai-oleh-hampir-semua-kelompok-usia-97b2c10859cd
author_url
https://medium.com/@ap523401
status
ok
fetched_at
2026-06-17 08:20:12