← Back to list

POV: Merayakan Dirgahayu NKRI dari Belakang Bangku Tuan Puan Berdasi

Malam ini saya memandang manusia-manusia berdasi berkumpul saling menyapa satu sama lain. Tidak melihat kami yang duduk di bawah dan…

Khanifah · 2024-08-17 15:52 · 0 claps · 2.7 min read
#dirgahayu-indonesia #79 #nkri
Open on Medium ↗

POV: Merayakan Dirgahayu NKRI dari Belakang Bangku Tuan Puan Berdasi

Malam ini saya memandang manusia-manusia berdasi berkumpul saling menyapa satu sama lain. Tidak melihat kami yang duduk di bawah dan jalanan. Memang kita tersekat kata asing. Lantas apakah pemimpin harus selamanya merasa asing tanpa bertanggung jawab sedikitpun? Rasanya saya mau mencaci keras. Lantaran sirkel berdasi ini tidak Serapi bagaimana kerja-kerja yang belum tuntas. Ditambah hal sepele, sudah dikasih kursi masih saja berdiri. Dikira kursinya kan direbut, mereka berdiri sambil bersiap membawa kabur beberapa kursi. Bagian-bagian mentereng jelas dibuat makin jelas. Agar dilihat banyak mata. Lucunya, saya baru saja menuliskan kata “Mungkin”, yang jelas bagi mereka adalah kemustahilan. Sebagian diantara kami yang duduk mungkin pengangguran, tapi benar-benar bukan karena bermalas-malas. Jelas ada tahta yang menutup pekat jalan kami. Lainnya yg berdesakan mungkin belum makan malam, tapi hampir yg berdasi bersiul dengan menjepit rokok pada hari tengah dan telunjuk. Berseragam, berpeci, bersepatu mengkilat, lengkap dengan asap rokok yang mengepul bebas di tengah kerumunan rakyat, yang barangkali diantaranya sedang merasa kesakitan pada bagian paru-parunya. Sial, hati saya tidak mau mengalah. Tidak ingin memuji sama sekali. Tidak berprasangka baik sama sekali. Terus-terusan menebak, bau busuk mana yang makin semerbak ketika ada yang tertawa lepas.

POV: Merayakan Dirgahayu NKRI dari Belakang Bangku Tuan Puan Berdasi

POV: Merayakan Dirgahayu NKRI dari Belakang Bangku Tuan Puan Berdasi

Bahkan dibawa gedung dengan warna suci ini, saya tidak sanggup membaca harmoni. Sejak awal terbaca seperti kapitalis harga mati. Dinamisasinya berkedok pada branding “Madinah”. Sehingga harta kekayaannya nampak halal dalam membangun kota.

Sialab! Manusia-manusia berdasi depan mata sekarang ini menyesakkan diri kecil nanar pengetahuan soal peraturan kedaerahan. Tidak membawa kritik konkrit. Belum membaca kitab-kitab penyembelih jabatan nahas. Akhirnya saya tertawa kecil atas tingkah dua bocah yang sedang menari-nari ini. Lebih nyaman. Lebih tidak merusak mata.

Degup jantung saya makin menjadi jadi. Ada suara dari masing-masing pengeras suara. “Tanah Air” berkumandang. Saya menjerit, rasanya tidak pantas lagu seindah dan semurni ini dilanggengkan di ruang para manusia berdasi merah ini. Nasionalismenya tidak terbaca sama sekali. Buram. Hitam. Tidak berbentuk. Semakin banyak yang berjalan sambil berkacak pinggang. Berlalu lalang. Rasanya kata “permisi” terdengar, “proletar ya?” Lagi! Ada lagu “Ibu Pertiwi” dikumandangkan. Di depan manusia-manusia pengeruk sumber daya alam berkedok membuka ruang-ruang terbuka Hijau. Yang berdatangan makin berwarna-warni. Jasnya, dasinya, senyum kapitalisnya. Satu mengangkat alis, maksudnya menyapa. Bagi saya justru minta dimaki habis-habisan. Meskipun saya tidak tahu bagaimana bentuk ruang kerja dan ladang keringat sehari-harinya Ada penandatanganan prasasti rumah dinas ketua DPRD? Rasanya tepuk tangan saya malam ini hanya untuk tim vendor dan adik-adik yang melantunkan ayat persembahan untuk negara. Saya tidak berfokus sedikitpun pada lagu-lagu kebangsaan. Mudah saja menebaknya, perangkat pemersatu bangsa dengan seragam kokohnya itu berdiri lantang berteriak; “Indonesia!!!” Sedang dalam waktu-waktu dekat ini banyak sekali manusia yg tidak mampu berteriak sebab nasi di rumah kurang.

Padahal yg teriak paling keras adalah kami proletar yg duduk dibawah. Tapi dalam monitor hanya terpampang manusia-manusia berseragam. Aneh! Kali ini hadiah paling indah barangkali, Al-Balad dari 30 siswa perwakilan. Bukan sebab ada adik laki-laki saja. Eh, barangkali itu termasuk. Haha. Ingin sekali Tuhan menyaksikan wajah-wajah berseragam yang bersumpah. Meskipun memang diwakili oleh anak-anak. Dalam penghormatan, tidak ada kata “warga” atau “rakyat”. Hanya hadirin. Dikira ini tanah milik mereka. Kepunyaan yang nahas. Pengecualian hanya bagi “Indonesia Raya”, sisanya kami hanya menyaksikan pagelaran dan geal-geol tuan puan. Sambil tertawa kecil-kecilan. Senang ada yang berkata “Alay”. Mewakili proletar yg duduk sambil melongo menahan malu.

Akhirnya saya menyerah dengan sumpah-sumpah Tuhan. Pada kelayakan sebuah negeri yang dirahmati. Agar Tuhan mengerti, saya juga bersaksi dibalik punggung tuan puan yang ada diatas kursinya bahwa hati saya cukup tercabik dengan tangan-tangan yang berkacak pinggang, gemrincing tangan bercincin giok, serta puing-puing rokok dijalanan hasil isapan mulut-mulut manusia berdasi merah. Semoga Dirgahayu tanah tumpah darah tetap menjadi momen refleksi, bukan hanya saja pesta pora. Segala maaf saya haturkan atas diksi dan visualisasi pengambilan gambar dari POV penulis. Merdeka rakyatku! Setelah ini akan ada prasasti untuk rakyat atas nama rakyat :)


메타데이터
post_id
97b5a4e917fc
slug
pov-merayakan-dirgahayu-nkri-dari-belakang-bangku-tuan-puan-berdasi-97b5a4e917fc
url
https://medium.com/@khanifah/pov-merayakan-dirgahayu-nkri-dari-belakang-bangku-tuan-puan-berdasi-97b5a4e917fc
canonical_url
https://medium.com/@khanifah/pov-merayakan-dirgahayu-nkri-dari-belakang-bangku-tuan-puan-berdasi-97b5a4e917fc
author_url
https://medium.com/@khanifah
status
ok
fetched_at
2026-07-23 02:58:18