← Back to list

Yang Ditinggalkan, Yang Ditemukan

Tentang mimpi yang tidak tercapai, Semarang yang akhirnya menjadi rumah, dan seorang pria Minang yang hadir di antaranya.

nafamanahil · 2026-06-06 05:33 · 0 claps · 4.5 min read
#ranah-minang #undip #fk-ugm
Open on Medium ↗

Yang Ditinggalkan, Yang Ditemukan

( Darmawisata, 2017 )

( Darmawisata, 2017 )

Tentang mimpi yang tidak tercapai, Semarang yang akhirnya menjadi rumah, dan seorang pria Minang yang hadir di antaranya.

Sejak SMA, saya selalu memiliki gambaran yang sangat jelas tentang masa depan yang saya inginkan. Saya ingin menjadi seorang dokter. Entah bagaimana, setiap kali mencari informasi tentang kuliah, kota yang selalu muncul di hadapan saya adalah Yogyakarta. Dari sana saya mulai mengenal Universitas Gadjah Mada, lalu perlahan jatuh hati pada kampus yang bahkan belum pernah saya pijak. Saya membaca banyak hal tentang kehidupan mahasiswanya, tentang atmosfer akademiknya, tentang Fakultas Kedokteran yang menjadi tujuan begitu banyak anak muda, termasuk saya. Semakin banyak saya mencari tahu, semakin besar pula keinginan saya untuk menjadi bagian dari tempat itu.

Saya belajar dengan sungguh-sungguh untuk UTBK. Saya menghabiskan banyak waktu untuk memahami materi, memperbaiki kekurangan, dan membayangkan bagaimana rasanya jika suatu hari benar-benar mengenakan jaket almamater UGM. Namun, seiring berjalannya waktu, saya juga semakin mengenal diri sendiri. Saya menyadari bahwa ada kemampuan yang tidak saya miliki sebaik orang lain. Saya bukan seseorang yang unggul dalam menghafal, sementara jalan yang saya impikan menuntut banyak hal yang membuat saya ragu pada diri sendiri. Dan seperti banyak mimpi lain dalam hidup, ada kalanya kita harus menerima bahwa keinginan terbesar kita tidak selalu menjadi tempat tujuan.

Semesta membawa saya ke arah yang berbeda. Saya diterima di Program Studi Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro, Semarang. Awalnya saya mengira saya akan terus membandingkan tempat ini dengan mimpi yang gagal saya raih. Namun ternyata hidup memiliki caranya sendiri untuk membuat seseorang bertumbuh. Di semester-semester awal, saya bertemu teman-teman yang baik. Mereka hadir di masa ketika saya sedang belajar beradaptasi dengan kehidupan baru. Mereka membuat saya merasa diterima, membuat kota yang asing terasa lebih hangat, dan perlahan membantu saya memahami bahwa tidak semua hal harus berjalan sesuai rencana agar bisa menjadi sesuatu yang baik.

Meski demikian, masih ada bagian kecil dalam diri saya yang belum sepenuhnya berdamai dengan mimpi lama. Saya masih sering mencari hal-hal baru di internet, membaca banyak cerita, dan membiarkan rasa penasaran membawa saya ke berbagai tempat yang bahkan belum pernah saya kunjungi. Sampai suatu waktu, tanpa alasan yang jelas, saya mulai menemukan banyak tulisan tentang Sumatera Barat. Awalnya hanya satu atau dua artikel, lalu semakin banyak. Saya membaca tentang budaya Minangkabau, tentang adat yang begitu kuat dijaga, tentang rumah gadang, tentang alam yang hijau dan perbukitan yang seolah tidak pernah habis untuk dikagumi. Semakin saya membaca, semakin besar rasa kagum yang tumbuh. Ada sesuatu tentang ranah Minang yang membuat saya merasa dekat meskipun belum pernah berada di sana.

Ketika memasuki semester tiga, pemerintah membuka Program Pertukaran Mahasiswa Merdeka. Program itu langsung menarik perhatian saya. Bagi saya, itu bukan hanya kesempatan untuk belajar di tempat baru, tetapi juga kesempatan untuk mengenal dunia yang selama ini hanya saya lihat melalui layar. Lalu, di tengah semua proses dan pertimbangan itu, sesuatu yang tidak pernah saya rencanakan terjadi.

Suatu hari, seseorang menghubungi saya.

Sederhana sekali awalnya. Sebuah pesan yang mungkin akan saya lupakan jika tidak berkembang menjadi percakapan panjang setelahnya.

“Halo, apakah kamu tertarik mendaftar?”

Saat itu saya bahkan menganggapnya lucu. Namun percakapan kami terus mengalir. Dari urusan kampus, tugas kuliah, kehidupan sehari-hari, hingga cerita tentang tempat asal masing-masing. Dari situlah saya mengetahui bahwa ia lahir di Sumatera Barat, tepatnya di Solok.

Saya masih ingat bagaimana reaksi saya saat itu. Rasanya seperti menemukan sebuah kebetulan yang terlalu tepat untuk disebut kebetulan. Di saat saya sedang dibuat kagum oleh budaya, alam, dan cerita tentang Sumatera Barat, justru hadir seseorang yang berasal dari tanah yang sama. Saya tertawa sendiri memikirkannya.

Karena rasa kagum saya terhadap Sumatera Barat semakin besar, saya bahkan sempat membulatkan tekad untuk mengikuti Program Pertukaran Mahasiswa Merdeka ke Universitas Andalas. Saya sudah berdiskusi dengan dosen wali. Saya sudah meminta izin kepada orang tua. Semuanya terasa mungkin. Untuk pertama kalinya saya merasa akan benar-benar melihat tanah yang selama ini hanya saya kenal dari cerita.

Namun ternyata rencana tidak selalu berakhir menjadi kenyataan.

Mata kuliah saya tidak dapat dikonversi. Sederhana, tetapi cukup untuk menghentikan semuanya. Saya tidak jadi berangkat. Impian kecil yang baru saja tumbuh itu harus saya simpan kembali bersama banyak hal lain yang pernah gagal saya genggam.

Tetapi ada satu hal yang tetap tinggal.

Dia.

Meskipun perjalanan ke Sumatera Barat tidak pernah terjadi, percakapan kami tidak ikut berhenti. Ia masih hadir dengan cerita-ceritanya, dengan cara bicaranya yang hangat, dan dengan matanya yang seolah selalu berbinar ketika membicarakan kehidupan. Ia adalah tipe orang yang mampu menemukan hal baik di tempat-tempat yang sering luput dari perhatian orang lain. Ia tidak pelit memberikan apresiasi, bahkan untuk hal-hal sederhana.

“Wah, jepretan di Instagram-mu cantik sekali.”

Kalimat yang mungkin terdengar biasa bagi sebagian orang, tetapi entah mengapa terasa begitu istimewa bagi saya. Mungkin karena tidak semua orang terbiasa melihat kebaikan dalam hal-hal kecil. Mungkin juga karena tidak semua orang mampu membuat orang lain merasa dihargai hanya dengan beberapa kata sederhana.

Saya sering berpikir, siapa yang tidak suka berada di dekat orang seperti itu?

Orang yang hidupnya tidak selalu mudah, tetapi tetap memilih untuk bersikap baik. Orang yang dunianya terlihat keras, tetapi tidak kehilangan kelembutan dalam memandang orang lain. Orang yang tetap menyimpan semangat meskipun kehidupan tidak selalu berjalan sesuai keinginannya.

Yang paling membuat saya kagum bukanlah apa yang ia miliki, melainkan cara ia menjalani hidup. Cara ia memandang dunia dan manusia yang mengisinya. Cara ia menerima keadaan tanpa kehilangan harapan. Cara ia menemukan alasan untuk bersyukur bahkan ketika hidup sedang tidak berpihak.

Tanpa saya sadari, dari dirinya saya belajar sesuatu yang selama ini sulit saya lakukan: menerima.

Menerima bahwa saya tidak berada di Fakultas Kedokteran UGM.

Menerima bahwa jalan hidup saya ternyata membawa saya ke Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro.

Menerima bahwa beberapa keinginan memang tidak ditakdirkan untuk menjadi kenyataan.

Dan yang paling penting, menerima bahwa hidup tidak selalu tentang mendapatkan apa yang kita inginkan, melainkan belajar mencintai apa yang telah diberikan.

Hari ini saya masih menjadi orang yang sama yang senang meromantisasi kehidupan. Saya masih percaya bahwa Tuhan selalu memiliki cara yang indah untuk mempertemukan seseorang dengan pelajaran yang perlu ia pahami. Kadang pelajaran itu datang dalam bentuk tempat. Kadang datang dalam bentuk kegagalan. Dan kadang datang dalam bentuk seorang manusia.

Seorang pria dari ranah Minang yang saya temukan di waktu yang tidak pernah saya rencanakan.

Karena itu, sampai hari ini Sumatera Barat masih menjadi salah satu impian terbesar yang saya simpan. Bukan hanya karena alamnya yang indah atau budayanya yang memikat, melainkan karena di sanalah semesta, dengan caranya yang sederhana, pernah memperkenalkan saya pada seseorang yang membuat saya memahami bahwa tidak semua hal baik harus datang sesuai rencana.

Beberapa di antaranya justru datang setelah kita berani melepaskan apa yang pernah kita kira sebagai tujuan utama.

Dan mungkin, itulah cara semesta mengajarkan saya bahwa apa yang ditinggalkan tidak selalu berarti hilang. Kadang, ia hanya sedang memberi ruang bagi sesuatu yang lebih tepat untuk ditemukan.


메타데이터
post_id
97cfb5260a9d
slug
yang-ditinggalkan-yang-ditemukan-97cfb5260a9d
url
https://medium.com/@nafamanahil/yang-ditinggalkan-yang-ditemukan-97cfb5260a9d
canonical_url
https://medium.com/@nafamanahil/yang-ditinggalkan-yang-ditemukan-97cfb5260a9d
author_url
https://medium.com/@nafamanahil
status
ok
fetched_at
2026-07-10 05:19:05