Dari Keraguan Menjadi Kehangatan: Kesan dan Pesan Kelas Pendidikan Agama Islam
Pada awalnya saya mengira akan seperti apa suasana perkuliahan di semester ini. Saya membayangkan bagaimana canggungnya kelas awal dan rasa…
Dari Keraguan Menjadi Kehangatan: Kesan dan Pesan Kelas Pendidikan Agama Islam
Pada awalnya saya mengira akan seperti apa suasana perkuliahan di semester ini. Saya membayangkan bagaimana canggungnya kelas awal dan rasa takut akan kesan pertama yang mungkin membawa pandangan kurang baik. Bayangan buruk yang bahkan belum tentu terjadi itu sempat menjebak pikiran saya. Namun, setelah memasuki kelas pertama sebagai pembuka awal semester, di sinilah saya mulai merasakan hal yang berbeda. Bayangan buruk itu mulai pudar seketika.
Pagi itu saya mendatangi kelas dengan persiapan diri yang baik, mengharapkan keberuntungan baik akan datang meski ada sedikit keraguan yang mencengkram. Di balik bayangan buruk yang sempat terlintas, saya justru disuguhkan suasana yang berbeda, yaitu ramai dan hangat. Suasana inilah yang akhirnya menjembatani hubungan baik selama kegiatan belajar mengajar dalam mata kuliah Agama Islam sepanjang satu semester ini.
Kesan Baik yang Humble
Bayangan buruk yang saya pikirkan akan membuat suasana canggung di kelas justru berbalik menjadi sebaliknya. Kehadiran dosen pengampu, Bapak Faiz Badridduja, S.S.I., M.A., memberikan pembukaan dengan kesan yang hangat dan formal namun tetap santai. Itulah kesan pertama saya terhadap Pak Faiz.
Dalam menyampaikan materi, Pak Faiz selalu menyertakan contoh yang dekat dengan lingkungan sekitar kita, sehingga materi tersebut mudah dipahami tanpa berbelit dan meminimalisir kebingungan pada mahasiswanya. Cara penyampaian materinya pun sangat menarik. Selain pendekatan tersebut, penggunaan bahasa dan gaya public speaking yang digunakan juga mampu menarik perhatian saya untuk lebih fokus memperhatikan pembahasan.
Hal ini terus terjadi di setiap pertemuan. Setiap materi dan konsep yang dijelaskan tidak hanya membantu kami mengerti, tetapi melalui pendekatan tersebut kami juga jadi lebih paham dan merasakan relevansinya dengan kejadian di sekitar kami.
Bagi saya pribadi, pendekatan ini sangat membantu selama proses KBM berlangsung. Materi Agama Islam yang sebelumnya saya anggap sebagai sesuatu yang teoritis dan jauh dari kehidupan sehari-hari, perlahan terasa lebih hidup dan efektif. Saya tidak hanya sekadar menghafal atau mencatat, melainkan mulai memahami makna di balik setiap nilai yang diajarkan dan bagaimana nilai tersebut bisa saya terapkan dalam keseharian, baik sebagai mahasiswa maupun sebagai pribadi yang terus belajar menjadi lebih baik. Cara mengajar yang humble ini juga membuat jarak antara dosen dan mahasiswa terasa tidak terlalu kaku, sehingga proses belajar berlangsung dengan lebih nyaman dan terbuka.
Keterbukaan ruang berpendapat
Pak Faiz sangat memberikan ruang terbuka dan seluas-luasnya kepada kami saat sesi tanya jawab guna menyampaikan pendapat dan memberikan pertanyaan, tanpa ada diskriminasi dan tanpa menyalahkan setiap pertanyaan maupun pendapat yang disampaikan. Bagi mahasiswa yang terkadang merasa takut untuk berpendapat, kelas Agama bersama Pak Faiz secara tidak langsung menawarkan kebebasan itu tanpa harus takut hakimi.
Keterbukaan ini bagi saya, menjadi salah satu hal yang paling berkesan selama satu semester ini. Saya yang sebelumnya cenderung pasif dan ragu untuk mengangkat tangan ketika ada hal yang belum dipahami, perlahan mulai berani bertanya dan menyampaikan pandangan saya sendiri. Tidak ada nada menghakimi dari setiap jawaban yang diberikan membuat diskusi terasa lebih hidup, bahkan ketika pendapat yang muncul berbeda satu sama lain. Suasana seperti ini secara tidak langsung mengajarkan kami bahwa kegiatan diskusi tentang nilai dan ajaran agama tidak selalu harus dengan suasana yang tegang, melainkan bisa dilakukan dengan hati yang terbuka dan pikiran yang saling menghargai.
Apresiasi Kecil yang Membangun
Bagi sebagian kecil orang, mungkin apresiasi adalah bentuk sederhana yang kurang memiliki arti. Namun bagi saya pribadi, hal ini justru dapat membangun semangat dan rasa percaya diri. Pada momen ketika presentasi kelompok, saya menyampaikan materi pembuka dengan rasa sedikit gugup sambil menjelaskan materi tersebut hingga akhir. Ada beberapa bagian yang mungkin kurang penjelasan, bahkan sedikit salah penyebutan dan jeda sejenak sebelum melanjutkan penjelasan materi. Saya merasa materi yang saya sampaikan kurang baik dan sempat merasa sedikit kecewa pada diri saya sendiri. Namun, Pak Faiz memberikan apresiasi dan dukungan dengan menyampaikan bahwa materi yang dijelaskan sudah baik dan dapat dipahami.
Hal ini memberikan sedikit celah bagi saya untuk bangkit dan berusaha memberikan penampilan terbaik di kesempatan lainnya, bahkan di luar kelas Agama Islam, seperti pada mata kuliah lain maupun acara organisasi. Apresiasi sekecil itu ternyata membawa dampak yang tidak kecil bagi cara saya memandang diri sendiri dan kemampuan saya ke depannya.
Penutup, Doa, dan Harapan
Satu semester telah berlalu dengan begitu banyak pelajaran yang tidak hanya saya peroleh dari materi perkuliahan, tetapi juga dari cara Pak Faiz mendidik dengan kehangatan, keterbukaan, dan kesabaran. Saya menyadari bahwa kesan pertama yang sempat saya khawatirkan ternyata jauh berbeda dari kenyataan yang saya alami, dan untuk itu saya merasa sangat bersyukur dapat belajar di kelas ini.
Saya berharap nilai-nilai yang telah ditanamkan selama perkuliahan ini dapat terus saya bawa dan dapat saya amalkan dalam kehidupan sehari-hari, tidak hanya sebatas nilai akademik semata. Saya juga berharap suasana belajar yang hangat dan terbuka seperti ini dapat terus dirasakan oleh mahasiswa-mahasiswa di kelas berikutnya, sebagaimana yang telah saya rasakan sendiri.
Akhir kata, saya ingin menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Faiz Badridduja, S.S.I., M.A. atas segala ilmu, kesabaran, dan keteladanan yang telah diberikan selama satu semester ini. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan kesehatan, keberkahan, serta kemudahan dalam setiap langkah dan urusan Bapak, baik dalam mengajar maupun dalam kehidupan pribadi. Semoga saya harap ilmu yang telah Bapak bagikan kepada kami menjadi ladang amal yang terus mengalirkan kebaikan, dan semoga silaturahmi yang telah terjalin selama ini tidak terputus hanya karena semester telah berakhir. Terima kasih atas perhatiannya.
(Meisih Kesya Anggraeni_ 2510851028)
메타데이터
- post_id
- 97f3b48dd60e
- slug
- dari-keraguan-menjadi-kehangatan-kesan-dan-pesan-kelas-pendidikan-agama-islam-97f3b48dd60e
- url
- https://medium.com/@meisihkesyaanggraeni/dari-keraguan-menjadi-kehangatan-kesan-dan-pesan-kelas-pendidikan-agama-islam-97f3b48dd60e
- canonical_url
- https://medium.com/@meisihkesyaanggraeni/dari-keraguan-menjadi-kehangatan-kesan-dan-pesan-kelas-pendidikan-agama-islam-97f3b48dd60e
- author_url
- https://medium.com/@meisihkesyaanggraeni
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-23 21:39:52