YPN 4: Bayangan yang Terabaikan (Pt 1)
Minuman coklat dingin menyegarkan panas teriknya kemarau kota Daeng. Menemani duduk-duduk manis sekumpulan gadis berpakaian modis dengan…
YPN 4: Bayangan yang Terabaikan (Pt 1)
Minuman coklat dingin menyegarkan panas teriknya kemarau kota Daeng. Menemani duduk-duduk manis sekumpulan gadis berpakaian modis dengan warna yang sama, seperti sudah janjian sebelumnya. Kegiatan ngumpul para gadis remaja akhir biasanya seperti apa? Bahas krisis air? kritik pemerintahan? Bisa jadi. Kalau mau gak diajak nongkrong lagi.
Umumnya, kalau bukan ngobrol gibah ngalor ngidul, paling cerita. Sama aja yak, hiks. Begitu siklusnya sampai sedikit demi sedikit cerita yang mereka kupas kulitnya menemukan kesenjangan isi. Ternyata pada seseorang itu ada bagian dagingnya sedikit yang busuk. Atau seorang lainnya, bagian busuknya sudah lebih besar. Kulitnya saja yang tampak indah. Sampai pada akhirnya seseorang memutuskan tetap dekat dengan yang bersangkutan atau menjauh karena ingin menjaga dagingnya tetap segar. Begitulah masing-masing berpikir bahwa dagingnyalah yang segar. Begitu naif dan dramatis para gadis remaja akhir ini. Baginya, dialah si protagonis, dan yang berlawanan dari dirinya adalah antagonis. Yang tidak dianggapnya penting adalah figuran semata.
Kala itu, para pemuda sedang menunaikan kewajiban setiap pekannya di masjid yaitu shalat jumat. Biasanya waktu ini kami pakailah untuk bersantai ria di teras laboratorium komputer jurusan, menunggu mata kuliah jam 1 siang nanti.
Tawa kami nyaris menutupi azan dari kejauhan. Tapi tawa itu perlahan surut ketika tak jauh dari situ, sosok yang terlihat seperti bayangan datang semakin mendekat. Tidak hanya satu, tapi lebih. Mereka berkeliaran seperti sedang mencari seseorang. Tak sedikit yang menghindar bahkan sebelum bayangan ini mendatangi mereka. Entah kenapa kehadiran mereka kerap membuat kami gelisah. Membuat suasana ceria dan santai seketika menguap.
Sekali menolak, bayangan ini tak menyerah mendatangi kami. Berbagai jurus, dari satu alasan ke alasan lain tak menghentikan mereka mengganggu waktu santai kami. Sampai kami merasa tak enak karena terus menolak.
Kain gelap yang selalu mereka kenakan. Penampilan mereka tampak depan seperti 2 potongan kain lebar dengan atasan segitiga dan bawahan persegi. Terlihat aneh bagi saya. “Adakah jurusan agama di kampus teknik? Haruskah selebar itu?” Lamun saya.
Pernah sekali saya ikut, rasa-rasanya disambut dengan baik. Entah kenapa, lalu kembali mencari berbagai alasan agar bisa santai bareng teman. Pernah sekali pula teman-teman saya ikut. Setelah itu, keberadaan mereka terasa mengganggu. “Tidak bosan apa, manggil mulu. Tidak malukah mereka, ajakannya kadang ditolak, kadang diterima”. Batin saya. Bersambung…
메타데이터
- post_id
- 97fadf2af70c
- slug
- ypn-4-bayangan-yang-terabaikan-97fadf2af70c
- url
- https://medium.com/@nurh9255/ypn-4-bayangan-yang-terabaikan-97fadf2af70c
- canonical_url
- https://medium.com/@nurh9255/ypn-4-bayangan-yang-terabaikan-97fadf2af70c
- author_url
- https://medium.com/@nurh9255
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-15 16:22:14