Panggilan di Sore Hari
Merajut Hati di Sepanjang Jalan Pulang
Panggilan di Sore Hari
Merajut Hati di Sepanjang Jalan Pulang

Ilustrasi: Unsplash by K Munggaran
Sore itu jalanan mulai padat. Lampu kendaraan menyala satu per satu ketika matahari perlahan turun di balik deretan pertokoan.
Dari pengeras suara sebuah masjid, suara azan magrib terdengar memecah kebisingan jalan.
Tangannya tetap menggenggam setang motor.
Jempol kirinya beberapa kali menyentuh saklar lampu sein.
Lampu itu sempat berkedip, lalu mati kembali.
Beberapa ratus meter kemudian, hal yang sama terulang lagi.
Jarak ke rumah tinggal beberapa kilometer.
Di kepalanya, langkah-langkah kecil itu sudah berbaris: turun, parkir, melepas sepatu, wudu, lalu antre . Sementara perutnya sudah mulai minta diisi.
Hari itu terasa cukup panjang. Seharian di kantor, ia berpacu dengan pekerjaan yang padat, berpindah dari satu urusan ke urusan lainnya tanpa banyak jeda. Senja itu, yang ia inginkan hanyalah segera sampai di rumah dan menikmati makan malam dengan tenang.
Motor tetap melaju.
Dari kejauhan, suara azan masih terdengar.
Suara itu mengingatkannya pada peristiwa pagi tadi.
“Bapak dipanggil bos. Urgent.”
Saat itu, kopi di mejanya bahkan belum sempat habis diminum. Ia langsung berdiri dan berjalan cepat menuju ruang manajer.
Sebuah mobil di depannya menyalakan lampu sein kanan.
Lalu ingatannya melompat ke beberapa bulan sebelumnya.
“Pak, kalau bisa hari ini saja. Saya perlu keputusan sekarang.”
Suara pelanggan di telepon terdengar mendesak. Padahal hujan sedang turun deras. Namun, satu jam kemudian ia sudah duduk di lobi kantor pelanggan.
Motornya tetap melaju.
Beberapa ratus meter kemudian muncul lagi satu ingatan.
“Mas, bisa pulang sekarang?”
Suara istrinya terdengar pelan.
“Kayaknya aku harus ke dokter.”
Sore itu ia langsung menutup laptop dan meminta izin pulang lebih cepat.
Untuk semua panggilan itu, ia selalu menemukan waktu.
Selalu menemukan tenaga.
Selalu menemukan alasan untuk segera datang.
Memikirkan panggilan-panggilan yang selama ini datang terasa lebih mudah. Pekerjaan, pelanggan, keluarga, semuanya tampak jelas alasannya. Jika diabaikan, ada urusan yang tertunda, ada hubungan yang bisa terganggu, ada masa depan yang terasa dipertaruhkan.
Namun sore itu, di tengah kemacetan yang merayap pelan, muncul pertanyaan yang tidak biasa singgah dalam benaknya. Jika untuk begitu banyak panggilan ia selalu menemukan waktu, mengapa untuk panggilan yang satu ini ia justru sering menundanya?
Sore itu kemacetan tetap merayap pelan.
Suara azan masih terdengar dari kejauhan.
Untuk beberapa saat, ia hanya mengikuti arus kendaraan di depannya.
Tangannya bergerak ke saklar lampu sein.
Lampu sein kiri mulai berkedip.
메타데이터
- post_id
- 98ab7e0cac2f
- slug
- panggilan-di-sore-hari-98ab7e0cac2f
- url
- https://medium.com/berbagi-berdampak/panggilan-di-sore-hari-98ab7e0cac2f
- canonical_url
- https://medium.com/berbagi-berdampak/panggilan-di-sore-hari-98ab7e0cac2f
- author_url
- https://medium.com/@heripurnomodsc
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-09 15:37:30