← Back to list

Gambar Pohon Hijau di Atas Tisu Dapur

Misi heroik pria modern yang berani menjadi Ayah

Stepanus BP in Berbagi & Berdampak · 2026-06-22 06:46 · 201 claps · 5.9 min read paywalled
#berbagi-dan-berdampak #hari-ayah #bahasa-indonesia #keluarga #refleksi
Open on Medium ↗

Gambar Pohon Hijau di Atas Tisu Dapur

Misi heroik pria modern yang berani menjadi Ayah

“Menjadi ayah di era modern mungkin adalah pertaruhan mental terbesar seorang pria, namun melihat anak tumbuh dan memeluk kita tanpa syarat adalah satu-satunya upah yang membuat seluruh lelah itu menguap tanpa sisa.”

Pendar keemasan sunset Solstice d’été di langit Quebec, Kanada. Photo by Nunzio Guerrera on Unsplash

Pendar keemasan sunset Solstice d’été di langit Quebec, Kanada. Photo by Nunzio Guerrera on Unsplash

Hari ini, 21 Juni 2026, warga di Quebec sedang menyambut Solstice d’été. Ini adalah penanda hari pertama musim panas. Di belahan bumi utara ini, waktu siang sering kali jauh lebih panjang daripada malam, dan hari ini adalah siang terpanjang dalam setahun.

Menariknya, Solstice d’été jatuh bersamaan dengan perayaan Fête des Pères — Hari Ayah yang juga dirayakan secara internasional.

Jadi, sejak pagi, kehangatan sudah terasa di rumah kami. Istriku, putriku, dan cucu-cucu memberikan selamat Hari Ayah. Tentu dengan pelukan yang erat.

“Daddy mau makan apa hari ini?” Putriku bertanya.

Saya tersenyum. Di usiaku sekarang, hadiah yang muluk-muluk atau hidangan tertentu tidak lagi terasa penting. Lingkaran pelukan mereka pagi ini sudah lebih dari cukup untuk membuatku merasa menjadi pria paling bahagia di dunia.

Perasaan gembira selalu menemukan jalannya untuk dibagikan. Melalui tulisan ini, saya ingin berbagi rasa dengan kalian, para ayah yang menjadi tetanggaku di beranda Medium.

Di Indonesia, Hari Ayah jatuh setiap 12 November. Namun, kita juga merayakan Hari Ayah versi internasional pada 21 Juni ini.

Tak mengapa! Dua kali merayakan pun tidak akan pernah cukup jika kita merenungkan betapa krusial dan beratnya peran seorang ayah.

Peringatan itu sendiri sekadar pengingat universal bahwa esensi cinta seorang ayah tetaplah jangkar bagi sebuah keluarga.

Realitas yang Bergeser

Di Quebec, Solstice d’été adalah momen yang sangat ditunggu-tunggu setelah musim dingin yang panjang dan membeku. Tiga hari lagi, kemeriahan akan berlanjut dengan perayaan hari nasional Quebec, Fête Nationale du Québec.

Hari ini matahari baru akan terbenam pukul 20.47 waktu Montreal. Uniknya, langit tidak langsung gelap. Karena sudut kemiringan bumi, senja berjalan sangat lambat. Sisa cahaya jingga dan ungu baru benar-benar meredup sekitar pukul 21.30 malam.

Teh untuk menikmati sunset panjang. Foto diambil pukul 20.05 hari ini. Foto oleh penulis.

Teh untuk menikmati sunset panjang. Foto diambil pukul 20.05 hari ini. Foto oleh penulis.

Sembari memandangi sunset yang terlambat, kami berdiskusi apa makna di balik sinkronisasi waktu yang magis ini, terutama dalam konteks Kanada di mana angka kelahiran terus menurun.

Kami mengambil kesimpulan bahwa anak-anak muda sekarang lebih pesimis terhadap masa depan.

Nilai-nilai keluarga dirasa tidak lagi menjadi pondasi yang kuat di dunia semakin chaotic dan serba tidak pasti.

Apakah masih tersisa nilai menjadi ayah yang tak lekang waktu? Coretan polos dari cucuku pagi ini, rasanya memberi jawaban.

Saya ingin berbagi ceritanya dengan para ayah.

Esensi di Balik Coretan Tisu

Jumat kemarin, Kei dan Zwen membawa pulang kartu ucapan selamat Hari Ayah dari sekolahnya. Guru-guru mereka memandu proses pembuatannya di kelas. Tetapi di rumah, mereka tahu mereka juga punya seorang Grandpa.

Seperti kebiasaan keluarga kami, mereka pasti menyiapkan sesuatu yang spesial.

Pagi tadi Kei dan Zwen bangun lebih awal. Usai minum susu, mereka mengunci diri di dalam ruang belajar dan emoh diganggu.

“Aku mau buat surprise buat Grandpa,” kata Kei diikuti anggukan takzim Zwen.

Saya terpekur lama,ketika keduanya menyerahkan buah kreativitasnya. Yang unik adalah punya Kei. Ia tidak menggambar di atas kertas gambar seperti Zwen. Kei menggunakan selembar tisu dapur.

Kei menggambar pohon hijau besar, matahari berwarna kuning cerah, bintang-bintang ungu, dan figur orang-orang yang katanya: “Aku, Grandma, Grandpa, dan Papa-Mama.” Di tengah-tengahnya, ada coretan hati merah yang agak mencong.

Selembar tisu gambar dari Kei. Anak-anak merekam kehadiran kita lewat rasa aman, bukan materi. Foto oleh penulis.

Selembar tisu gambar dari Kei. Anak-anak merekam kehadiran kita lewat rasa aman, bukan materi. Foto oleh penulis.

Melihat kembali gambar itu, saya termenung. Anak kecil seperti Kei jelas tidak tahu apa-apa tentang teori psikologi perkembangan. Saya pikir metafora pohon hijau besar dengan akar kuat dan daun teduh itulah yang sebenarnya dibutuhkan dari sosok ayah. Anak-anak butuh kehadiran ayah yang konsisten dan dengan rasa aman.

Bukankah ayah sering diharapkan menjadi pohon, pelindung yang tenang? Di tengah badai kehidupan, seorang ayah berdiri tegak memberikan perlindungan.

Kasih seorang ayah, serupa solstice ini. Kasih yang “paling panjang”. Kasih sayang yang bertahan melampaui waktu, bahkan ketika raganya nanti sudah tiada.

Cara anak-anak memandang kita hari ini akan menjadi cetak biru mereka memandang dunia di masa depan. Anak-anak yang tumbuh di bawah “pohon yang teduh” akan tahu cara menghargai cinta dan lebih berani melangkah karena mengetahui ada punggung kokoh ayah yang selalu mendukung mereka saat goyah.

Sebuah Kemewahan Pilihan

Konsep menjadi ayah memang telah berubah drastis seiring zaman. Di generasi kami dulu, menjadi ayah adalah jalur otomatis. Bahkan dipandang sebagai kodrat. Polanya linier saja. Menjadi dewasa, bekerja, menikah, punya anak, menua, lalu mati.

Jika seorang pria belum memiliki anak di usia tertentu, ia harus siap menerima gunjingan tetangga di ujung gang atau desakan bertubi-tubi dari keluarga besar.

Generasi sekarang mungkin sedikit banyak masih merasakan tekanan itu, tetapi tidak lagi sekuat dulu.

Menjadi ayah memang tidak pernah mudah dari generasi ke generasi. Namun saat ini, dibutuhkan keberanian (courage) yang jauh lebih besar untuk berkomitmen sebagai orang tua, ketika dunia hari ini terus menuntut terlalu banyak hal dari peranmu sebagai seorang ayah.

Tantangan itu dimulai dari tekanan ekonomi yang hari ini terasa luar biasa berat di pundakmu. Biaya membesarkan anak di kota-kota besar dunia telah melonjak tidak masuk akal, mulai dari urusan hunian yang layak, jaminan kesehatan, biaya childcare, hingga tabungan pendidikan yang kian melambung.

Inflasi dan ketidakpastian global membuat satu sumber gaji yang kamu miliki sering kali tidak lagi cukup untuk menopang isi rumah. Akibatnya, kamu — seperti banyak ayah muda hari ini — terjebak dalam lingkaran hustle culture; terpaksa mengambil kerja sampingan atau lembur habis-habisan demi mengamankan masa depan.

Namun, di sinilah letak ironisnya. Demi menghidupi keluarga, kamu justru terpaksa mengorbankan waktu berkualitas bersama anak itu sendiri. Ketika batas antara pekerjaan dan rumah menjadi semakin kabur, burnout hebat pun tidak lagi bisa kamu hindari.

Bebanmu kian berlapis ketika kamu juga harus berhadapan dengan pergeseran ekspektasi peran yang membingungkan. Saya menyaksikan sendiri bagaimana struktur sosial hari ini menuntutmu untuk terlibat aktif dalam setiap urusan domestik. Kamu harus sigap menggendong bayi, mengelola emosi anak yang sedang tantrum, bahkan ikut mencuci piring di dapur.

Ini adalah perubahan yang sangat baik, namun transisinya berdarah-darah. Banyak pria didera rasa “tidak cukup” dan cemas karena mereka tidak memiliki role model dari sosok ayah tradisional mereka.

Sekarang muncul fenomena fatherless yang terselubung — ayahnya ada secara fisik di dalam rumah, tetapi absen secara emosional karena jiwanya telah habis diperas oleh tuntutan pekerjaan.

Menjadi ayah di zaman sekarang adalah sebuah kemewahan pilihan. Dan karena dipilih secara sadar oleh pria-pria yang berani berkorban, berani menghadapi kegagalan parenting, dan berani menolak ego individualisme demi membangun sebuah legacy keluarga, peran ini bagiku terasa menjadi sebuah misi yang heroik.

Waktunya Berkaca

Jika hari ini kamu memikul beban sebagai kepala keluarga, hormatku untukmu.

Mari kita ingatkan diri kita lagi malam ini, bahwa esensi seorang ayah adalah tentang presence — kehadiran yang utuh — bukan kesempurnaan tanpa cela. Anak-anak kita ingin merasa aman didekap dan didengar. dunianya.

Jagalah kesehatan mental kalian, karena anak-anak membutuhkan ayah yang sehat dan bahagia, bukan ayah yang layu karena burnout.

Dan untuk kamu, pembaca yang saat ini masih menimbang-nimbang di persimpangan jalan, ragu apakah akan mengambil peran ini atau tidak, aku ingin membisikkan sesuatu dari lubuk hati:

Tidak ada tempat yang lebih baik untuk menguji, membangun, dan mengasah kadar tanggung jawab serta kepemimpinan seorang pria selain menjadi seorang ayah.

Keterampilan taktis mungkin cukup untuk membuatmu sukses memimpin sebuah tim di dunia kerja. Namun, untuk membimbing jiwa anak-anakmu agar tangguh menghadapi dunia yang kian riuh, yang kamu butuhkan adalah keteguhan karakter dan kedalaman rasa.

Memilih untuk menjadi seorang ayah akan mengubah kompas hidupmu sepenuhnya.

Peran ini memaksamu melatih kesabaran tingkat tinggi, membuatmu lebih membumi. Dan, pada gilirannya akan membentukmu menjadi pemimpin yang jauh lebih bijaksana dan memiliki empati dalam setiap lini kehidupanmu.

Jangan takut. Menjadi ayah tetap merupakan salah satu pengalaman paling bermakna dalam hidup manusia. Tantangannya besar, tapi reward-nya juga tidak ada bandingannya.

Siang yang panjang di Quebec hari ini memberi kami lebih banyak waktu untuk berkaca di depan cermin kehidupan. Izinkan saya menyapa para tetangga dan para ayah yang luar biasa di Medium kita: Rudi Widiyanto, Ivan Lanin, Bagus Ramadhan, Yasir Fuadi, Ihda Soduwuh, Donny Kurniawan, Herry Susanto, Sukron Tajudin, Amril Taufik Gobel atau siapa pun kamu yang kebetulan sedang singgah membaca tulisan ini.

Selamat Hari Ayah.

Terima kasih karena telah memilih untuk hadir, sadar, dan bertahan menjadi pohon yang teduh bagi keluargamu masing-masing di tengah dunia yang bising ini.

“Sebagai sesama pengembara di jalan ini, apa momen paling membahagiakan atau tantangan spesifik yang paling membuat Anda bersyukur telah memilih jalan hidup sebagai seorang ayah?”

Terima kasih kepada para editor B&B yang memungkinkan tulisan ini terbit dan mencapai pembaca.


메타데이터
post_id
98fa59e8f6de
slug
gambar-pohon-hijau-di-atas-tisu-dapur-98fa59e8f6de
url
https://medium.com/berbagi-berdampak/gambar-pohon-hijau-di-atas-tisu-dapur-98fa59e8f6de
canonical_url
https://medium.com/berbagi-berdampak/gambar-pohon-hijau-di-atas-tisu-dapur-98fa59e8f6de
author_url
https://medium.com/@stepanuskapoda
status
ok
fetched_at
2026-06-23 19:38:28